
Beberapa siswa laki-laki dari kelas lain masuk ke dalam kantin. Melihat Reina sontak membuat mereka semua terkejut melihat kecantikan yang dipancarkan Reina. Bahkan dari mereka ada yang mengabadikan dan berbisik di belakang.
"Apakah aku terlihat aneh?"
Reina mencondongkan badannya lebih dekat kepada laki-laki dihadapannya.
Ryuji menggeleng.
"Bisakah kita kembali?"
Reina memelas.
"Baiklah."
Tepat ketika Reina hendak melangkah untuk meletakkan nampan makanannya, beberapa anak perempuan mendekat kepadanya.
Reina menatap seksama tiga perempuan dihadapannya. Riasan tebal yang begitu pas di wajah mereka dengan badan tidak kalah sempurna dibandingkan dengan tubuhnya adalah perpaduan yang menakjubkan.
"Apakah kau murid baru?"
"I—"
"Tidak. Aku ubah pertanyaannya. Apakah kau sedang berusaha menggoda Naoki dengan memegang tangannya? berita itu sudah menyebar ke penjuru sekolah ini."
Ujar perempuan dengan rambut coklat Indah yang dibiarkan terurai. Reina begitu yakin bahwa ia adalah pemimpin diantara mereka bertiga.
"Aku tidak mengerti."
"Berhenti bersikap polos! Tidak kusangka kau serendah ini."
Pertengkaran di kantin itu tidak terelakkan, menjadi tontonan gratis semua orang. Naoki melangkah dengan tenang sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Ia terlihat tidak peduli dengan beberapa perempuan yang terus mengikutinya.
"Hei Naoki, Aku—"
Belum selesai Ryuji menyapa, Naoki menggelengkan kepalanya tanda agar Ryuji tidak mengubah suasana yang sedang tegang ini.
"Aku tidak menggodanya, hanya saja —"
Perempuan itu langsung menampar Reina dilanjutkan dengan mendorong tubuh Reina kasar. Beberapa makanan yang tersisa berhamburan ke lantai. Karena dentuman yang keras, sikutnya mengenai sudut meja dan alhasil mengeluarkan darah segar.
"Apa yang kamu lakukan?"
Suara berat Naoki terdengar. Refleks membuat Reina mendongak dalam posisi yang terduduk persis di depan Naoki. Mata mereka bertemu.
__ADS_1
Reina beringsut menjauh dan berusaha menjaga jarak dari Naoki sambil meringis menahan sakit di tangannya.
Naoki terpana.
Pancaran bola mata yang terlihat khawatir dan napasnya yang memburu mengalihkan perhatiannya. Ia melirik sekilas darah yang mengalir segar dan wajah ketakutan dari perempuan yang menjadi tersangka dalam kasus ini.
"Maaf Naoki, ini tidak seperti yang kau pikirkan. aku hanya—"
"Aku tidak berbicara denganmu!"
Ujar Naoki menatap perempuan itu dengan tatapan tajam.
Naoki kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Reina berdiri.
"Apa-apaan dengan sikapnya ini?"
Reina berpikir keras tentang apa yang telah membuat laki-laki dihadapannya bersikap seperti itu.
"Apa yang sedang Naoki lakukan?"
"Apakah Naoki akan menolong gadis itu?"
"Bukankah Ia membenci perempuan? bagaimana bisa dia—"
"Lagian tidak ada salahnya menerima uluran tangannya. Bisa saja dia mau membantuku karena merasa bersalah atas sikapnya tadi pagi."
Reina berusaha percaya dan kemudian mengulurkan tangan kananya pelan meraih tangan Naoki. Ketika hendak berdiri, dengan badan yang tidak seimbang Naoki kembali menjatuhkan Reina.
"Apakah kau berharap aku melakukan hal itu?
Di mana keberanian yang tadi pagi kau tunjukkan padaku?"
Suara serak itu menggema di telinga Reina. Mata Reina memerah menahan amarah dan terlebih karena rasa malu atas apa yang telah Naoki lakukan padanya.
Naoki meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh beberapa orang lainnya yang kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi, meninggalkan Reina dan Ryuji yang masih berada di kantin.
"Hey, tunggu!"
Ujar Reina menghentikan langkah lebar Naoki.
"Kau juga seperti ini sebelumnya. Apa aku terlihat seperti barang bagimu? Kupikir kau harus meminta maaf juga."
Kali ini Reina tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kau ini siapa?"
"Aku? Aku siapa? Reina! Aku Reina Asha Nadine."
"Aku tidak menanyakan namamu. Apa posisimu sampai bertingkah seperti itu di depanku?"
"Kubilang minta maaf. Kenapa kau menanyakan pangkatku seolah aku ini ada di sekolah militer? Apa kau akan mengabaikanku jika aku seseorang dari kalangan biasa dan minta maaf jika aku seorang putri? Aish, ini memang lingkungan yang aneh!"
Ujar Reina mendengus kesal.
"Jadi, kau mau mendengarkanku meminta maaf?"
"Ya! Dan bukan hanya dirimu. Tapi juga dari perempuan-perempuan itu yang telah membuatku seperti ini! Aku akan mendapatkan permintaan maaf dari mereka juga!"
Naoki berdeham kecil, smirk tersungging di bibirnya.
"Semakin tinggi posisimu, kau harus semakin peduli dengan keadilan. Bukankah begitu?"
Naoki perlahan mendekati Reina. Jarak mereka tidak ada 1 meter. Bahkan Reina bisa mendengar deru napas Naoki yang sudah mulai tidak teratur.
"Jika kau mau mendengarkan permintaan maaf, kau harus keluar dari sekolah ini. Apa itu tak masalah bagimu?"
Reina terdiam sejenak mencerna perkataan laki-laki dihadapannya. Bahkan ia bisa melihat tatapan tajam Naoki.
"Baiklah, aku minta ma—"
"Reina, apakah kau baik-baik saja?"
Ucap Ryuji yang berlari panik.
"Aku tidak apa-apa."
Reina berusaha mengontrol nada bicara. Naoki berjalan pergi meninggalkan Reina dan Ryuji.
"Kau tadi mencari Naoki kan? pergilah. Aku bisa kembali ke kelas sendiri."
ujar Reina dengan suara bergetar.
"Baiklah kalau begitu."
Ujar Ryuji menyusul Naoki yang sudah menghilang dibalik dinding kantin.
Reina masih terdiam di posisinya. Ia kesal dengan dirinya yang tidak bisa apa-apa dan menyesal karena telah mencoba percaya dengan laki-laki itu.
__ADS_1
NAOKI ARATA.