
Ada alasan mengapa Zoe tetap mempertahankan Haruka disisinya. Zoe bahkan masih merahasiakan alasan itu kepada siapapun, tanpa terkecuali sahabat-sahabatnya. Jika urusannya dengan Haruka selesai, maka Haruka tidak lebih dari sampah yang ia buang dengan sukarela.
Selepas pulang dari mall, Zoe memutuskan untuk bersih-bersih. Ia merasa lelah secara fisik dan mental hari ini. Ia melangkah menuju kamar mandi. Menyalakan bathub yang berisi air hangat. Berjalan ke arah samping untuk menyalakan lilin aroma terapi dan meneteskan beberapa tetes minyak esensial beraroma lavender.
Zoe berendam tenang, menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. Sesekali ia meneguk wine yang sudah disiapkan pelayan sebelumnya. Alunan musik klasik membuat rileks otak dan otot-otot ditubuhnya.
Waktu 30 menit sudah cukup untuknya berendam dan bersih-bersih. Ia keluar kamar mandi dan disambut oleh beberapa pelayan wanita yang siap untuk melaksanakan tugasnya melayani Zoe.
Zoe kemudian duduk di meja rias. Ia membiarkan pelayan menyentuh rambut dan wajahnya untuk mengoleskan beberapa warna dan polesan menawan di sana.
Sembari membiarkan pelayan melaksanakan tugasnya, tatapannya mulai fokus terhadap layar ponsel dan jemarinya dengan lincah menari serta menekan beberapa tombol di sana. Ia sibuk membalas pesan dari grup chatt yang beranggotakan Tamara dan Risa.
__ADS_1
Entah apa yang mereka bahas, namun sepertinya itu adalah sesuatu yang penting. Hal itu terlihat jelas dari cara jari Zoe yang mengetik dengan cepat dan sudut bibirnya yang sedikit tersungging.
"Sudah selesai nona," ujar salah satu pelayan membuat pandangan Zoe teralihkan. Zoe menatap pantulan dirinya di cermin. Melihat dengan lekat hasil kerja dari pelayannya. Senyum manis tersungging di bibirnya. Kerja keras pelayannya memang tidak pernah mengecewakan. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuknya.
"Kalian boleh pergi," ucap Zoe membuat semua pelayannya membungkuk dan perlahan meninggalkan kamar majikannya itu.
Zoe kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Mengamati setiap sudut wajahnya. Jika diperhatikan kembali, wajahnya berbeda jauh dengan Reina. Gadis baru yang membuat masalah dengannya hari ini. Ia sangat tidak suka dengan cover muka polos Reina.
Lagi-lagi senyum yang tersungging di bibirnya itu seketika pudar ketika memikirkan kejadian tadi di sekolah. Jujur saja, ia membenci gadis yang ia temui di kantin.
Zoe mengernyitkan dahinya ketika membayangkan wajah Reina yang kelewat menyebalkan. Bagaimana bisa ia berani macam-macam dengannya. Untuk meredam sedikit emosinya, ia memejamkan mata perlahan dan menarik napas panjang.
__ADS_1
Jujur saja, Ia paling tidak suka jika ada seorang perempuan yang mengambil alih perhatian satu sekolah dengan kecantikannya. Ia tetap harus menjadi yang paling cantik bagaimanapun caranya. Terlebih, perempuan itu berada satu kelas dengan seseorang yang ia sukai, Naoki.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, murid baru" ujarnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuatnya menoleh.
"Masuk,"
"Maaf nona, makan malam sudah siap."
"Oke, aku akan turun sekarang juga" selepas mengatakan hal tersebut, ia kemudian bangkit dari kursi menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.
sesampainya di sana, beberapa makanan sudah tersedia di atas meja makan. Mulai dari makanan ringan, berat hingga dessert sudah tersedia lengkap di sana.
__ADS_1
Ia melenguh pelan, kemudian menarik salah satu kursi di sana. Ia merasa kesal sekaligus sedih ketika makanan yang melimpah dan enak seperti ini, harus ia makan seorang diri.