Penantian Di Musim Semi

Penantian Di Musim Semi
Episode 2


__ADS_3

“Siapa wanita itu?”


Ujar seseorang yang datang sembari mengambil asal bangku disebelah tempat duduk Naoki.


“Tidak kenal.” Naoki mengangkat bahu tak peduli.


“Ada perlu apa?”


Ryuji Wakamiya.


Laki-laki tidak kalah tampan dengan Naoki adalah anak yayasan sekolah ini dan ia merupakan penerus perusahaan terbesar di Tokyo. Meski bisa dibilang ketampanannya standar ketampanan laki-laki jepang pada umumnya.


Ryuji menatap Naoki penuh selidik. Naoki terlihat baru saja memperbaiki posisi duduknya. Earphone yang terpasang, serta napas yang tidak teratur, membuat Ryuji bisa membayangkan apa yang baru saja terjadi pada seseorang dihadapannya. Pertemanan yang terjalin diantara mereka selama beberapa tahun membuat Ryuji tahu tentang kepribadian Naoki.


Bahwa ia terlihat muak dengan perempuan.


“Akan ada murid baru hari ini,”


Ujar Ryuji tenang sambil meletakkan map di atas meja. Naoki membuka map di hadapannya. Alisnya mengerut ketika melihat foto tertempel di sudut kertas.


“Bisakah kau pindahkan dia ke kelasmu?”


Naoki seolah tak percaya.


“Kamu tidak bisa mengelak.”


Ryuji mengindahkan wajah Naoki yang terlihat tidak suka.


“Sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang dipindahkan ke kelasku, gara-gara dirimu.”


“Karena mereka akan merepotkan jika berada di kelasku! Semua perempuan cenderung tidak punya otak!”


Naoki makin terlihat tidak sabar.


“Bukan!”


Ryuji bangkit dari kursi dengan tergesa. Menatap lekat orang yang sudah ia kenal sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

__ADS_1


“Kau memang seperti itu. Membenci perempuan lebih besar daripada dunia dan isinya. Aku tidak mengerti mengapa kau selalu membenci perempuan. Lalu bagaimana kau akan menikah dan punya anak?”


Kali ini Ryuji menekankan setiap kata kuat-kuat. Berusaha menunjukkan bahwa Ia adalah biang kerok.


Belum sempat Naoki membuka mulutnya, Ryuji memotong.


“Jangan minta macam-macam.”


Desisnya yang kemudian terdengar bel berbunyi. Itu tandanya bahwa ia harus kembali ke kelasnya.


“Terserah.”


Naoki sedang malas berdebat. Ia hanya berdecak dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran.


Semua orang pasti bertanya, mengapa Ryuji sampai memberitahu Naoki tentang siswa pindahan dan urusan lainnya. Karena meskipun mereka berdua berteman, Ryuji tidak akan melupakan stratifikasi sosial bahwa Naoki lah yang paling berkuasa. Ia merupakan pendonor saham terbesar baik di perusahaan maupun sekolah ini.


Itulah sebabnya Naoki dapat melakukan semua hal tanpa larangan. Dan semua keputusan dapat saja bergantung hanya dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.


*****


Reina merapikan rambutnya gugup. Untuk pertama kalinya ia melangkahkan kaki ke sebuah sekolah multinasional yang menjadi incaran banyak orang. Kalau bukan karena ayahnya, mungkin tempat ini hanya akan menjadi bunga tidur saja.


Wakil kepala sekolah memintanya menunggu di lantai dua. Ia duduk dengan gesture kaku dan jemari yang saling bertaut itu menghangat.


“Reina Asha Nadine?”


Reina tersentak mendengar sapaan mendadak itu.


Seorang perempuan dengan rambut hitam pekat tersenyum tipis ke arahnya. Ia mengenakan kacamata berbingkai keemasan melingkari mata dengan warna senada.


“I-iya” balasnya gugup.


“Saya Hiromi Kurosawa.”


Reina berusaha tersenyum seramah mungkin. Namun ia tahu, rasa gugupnya melebihi apapun dan yang pasti terlihat konyol.


Hiromi Kurosawa adalah seseorang yang akan menjadi wali kelasnya. Perempuan yang berumur 30-an itu masih terlihat muda sebagai seorang guru sekaligus wali kelas. Bagaimana tidak, ia terlihat begitu Fashionable dan trendi. Bahkan sekadar berjalan pun terlihat seperti model Victoria Secret.

__ADS_1


Mereka beriringan dalam diam. Menyadari Reina yang masih berusaha menenangkan diri, Hiromi sensei memutus jarak keheningan.


“Kamu cukup hebat untuk berada disini. Tidak perlu cemas.”


Suara denting menandakan pintu lift akan terbuka lebar di lantai teratas. Hiromi mempersilahkan Reina untuk keluar terlebih dahulu. Satu tarikan napas panjang, Reina melangkahkan kaki keluar dengan mantap.


Setelah bel berbunyi semua siswa duduk di bangku masing-masing dan menunggu wali kelas untuk masuk memberikan beberapa pemberitahuan atau apapun itu untuk mengisi waktu sebelum memberi kesempatan kepada guru pelajaran untuk mengajar.


“Minna-san, Ohayou Gozaimasu!”


Ujar Hiromi sensei dengan aroma parfum yang memenuhi sampai ujung ruangan.


Tetapi diluar dugaan, tak ada yang menjawab sapaan wali kelas itu. Semuanya sibuk dengan buku pelajaran yang ada di hadapannya. Reina yang melihat hal itu merasa sedikit kesal.


“Seperti yang kalian lihat bahwa kita kedatangan murid baru.”


Mendadak suasana kelas menjadi berisik. Semua orang berbisik-bisik tanpa alasan yang jelas.


“Butuh waktu berapa lama untuk menjaga lilin agar kau bisa masuk ke kelas ini?”


“Berapa banyak om tajir yang telah memesanmu?”


Celetuk yang lain kemudian diikuti tawa seisi kelas. Reina mengepalkan tangan menahan emosi.


Woah, bagaimana bisa sekolah impian banyak orang ini berisikan para iblis!


“Silahkan memperkenalkan diri.”


Hiromi sensei mempersilahkan Reina yang berdiri disampingnya.


“Halo semuanya, perkenalkan nama saya Reina Asha Nadine. Yoroshiku onegaishimasu.”


Ucapnya lancar dengan badan yang sedikit membungkuk.


“CUPU!”


Ujar seseorang disaat suasana kelas hening. Semua orang tertuju kepada lelaki tampan yang duduk di bangku paling belakang dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

__ADS_1


__ADS_2