Pengawal Penjaga Hati

Pengawal Penjaga Hati
Chapter 10. SERET DIA!!


__ADS_3

Saat ini Natasya sedang duduk terlelap di dalam ruangan Adan.


Beberapa saat kemudian Natasya bangun ia kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Hoaam, sudah jam berapaya?" Ucap Natasya kemudian matanya melek sepenuhnya.


Saat Natasya melihat kearah kasur Adan, ia tak melihat tubuh pria tersebut.


"Adan?? Adan kemana?" Tanya Natasya dengan panik saat ia akan keluar dari ruangan Adan tuan Wilson datang dan menghampiri Natasya.


"Natasya tenang dulu" ujar sang ayah menenangkan putri semata wayangnya.


"Ayah bagaimana Acha mau tenang Adan kemana?" Panik Natasya.


Tuan Wilson kemudian menenangkan anaknya yang kini sudah mulai meneteskan air mata.


Sedangkan tuan Wilson kemudian menyuruh Natasya duduk kemudian menceritakan keadaan Adan saat ini.


"Saat ini Adan sedang dirawat di markasnya, Licard telah menelpon ayah bahwa dokter yang mereka miliki tidak kalah hebat dengan dokter kelas dunia saat ini" ujar sang ayah.


Natasya sedikit tenang mendengar haturan sang ayah, namun tetap saja ia merasa sedikit kesal bagaimana tidak Adan diambil tanpa membangunkan Natasya.


"Tapi kenapa ayah dan paman Licard ngga bangunin Acha!!" Seru Natasya tidak terima.


Wanita tersebut kemudian mengembangkan pipinya lalu membuang muka dengan mendengus kesal.


Disisi lain Adan saat ini sedang dirawat didalam markas rahasia prajurit Dragon.


Hanya elit daripada elit yang mengetahui lokasi markas ini.


"Rawat ia dengan baik, aku tidak ingin menerima kabar buruk tentangnya" tegas Licard dengan mata serius.


Licard telah menghubungi Tuan Wilson bahwa ia akan mengambil Adan.


Lalu ia sendiri yang akan turun tangan mengganti peran Adan sebagai pengawal Natasya.


"Aku akan pergi sekarang, jaga lone wolf baik-baik jika aku mendengar kabar buruk tentang Lone wolf, jika tidak kau akan tahu sendiri akibatnya" ujar Licard kemudian pergi dari ruangan tersebut.


………


"Acha bosan ngga ada Adan" Ujar Natasya dengan wajah muram.

__ADS_1


Wanita tersebut kemudian membuka ponselnya lalu memutar musik kesukaannya.


Beberapa saat kemudian tuan Wilson masuk ke dalam kamar Natasya.


"Acha, ayah ingin bahas sesuatu yang penting" ujar Tuan Wilson.


Tuan Wilson kemudian menjelaskan bahwa untuk sementara Licard lah yang akan mengganti peran Adan sebagai pengawal Natasya saat ini.


Natasya hanya mengangguk dengan patuh ia masih trauma akan kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu.


"Baiklah ayah" hanya itu yang diucapkan oleh Natasya.


.............


Kriing


Alarm Natasya berbunyi membuat wanita tersebut terganggu lalu kemudian ia meraba raba ke arah alarm yang sedari tadi berbunyi dan mengganggu tidur paginya.


Kemudian Natasya kembali menarik selimutnya bersiap untuk tidur kembali.


Namun


"Argggh alarm nyebelin" ujar Natasya kemudian membanting alarmnya hingga tak bisa berbunyi lagi.


"Acha malas, ngga ada Adan, ngga mau sekolah" ucap Natasya dengan nada manja.


Sedangkan disisi lain status Adan dan Natasya disekolah adalah BOLOS.


Kemudian wanita tersebut mencoba untuk tidur kembali.


Namun matanya seakan akan tak bisa terlelap kembali.


"Arghhhh nyebelin, semua nyebelin kecuali Adan seorang hehe" ujar Natasya dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.


Tok tok tok...


"Nona apa nona tidak berangkat ke sekolah? Sekarang sudah hampir pukul 10 loh" ucap Licard dibalik pintu berusaha membujuk Natasya untuk berangkat ke sekolah.


"Paman Acha lagi ngga enak badan, mau istirahat dulu" ucap putri semata wayang tuan Wilson.


Natasya merasa tanpa kehadiran Adan seakan akan sesuatu telah menghilang dari dunianya.

__ADS_1


…………


Di markas rahasia tempat Adan dirawat kini pemuda tersebut telah menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Sepertinya tuan Lone wolf sudah akan sadar nona mawar" ucap dokter yang merawat Adan saat ini.


"Baiklah kalau begitu kau boleh keluar saat ini aku akan berbicara dengan Lone wolf" ucap gadis yang dipanggil mawar tersebut.


Setelah kepergian sang dokter Adan kemudian membuka matanya.


"Kau? Kenapa kau berada disini? PERGI DARI DISINI SEKARANG JUGA!!!" perintah Adan dengan suara yang begitu tinggi.


"Au apa kau begitu tega mengusir kekasih mu ini hmm? Ujar wanita tersebut dengan nada genit.


"PERGI!!" perintah Adan.


Wanita tersebut kemudian bukannya menjauh malahan ia semakin bergerak mendekat menuju ke arah Adan.


"Adan, maafkan aku, aku dulu begitu buta karena aku begitu saja setuju untuk kita putus" ucap wanita tersebut.


Adan tersenyum sinis mendengar hal tersebut.


"Kau bilang aku yang memutuskanmu? Haha bukankah kau yang pergi meninggalkan ku dengan pria yang telah membuatmu rela membunuh kedua orang tuamu" ucap Adan dengan nada sinis.


"Orang tua yang telah membesarkanmu saja kau rela membunuh mereka, wajar jika kau rela meninggalkan ku" ucap Adan.


"Aku, aku benar-benar menyesal, aku telah mengetahui semua sifat pria busuk itu, aku memang yang buta karena rela meninggalkanmu demi dirinya"


Adan seakan sudah muak dengan wanita ini jangankan melihatnya saja mendengar suaranya saja membuat pria tersebut muak.


"DOKTER!! DOKTER!!" seru Adan memanggil dokter.


"Iya tuan?" Ucap sang dokter yang telah datang.


"SERET WANITA INI JIKA DIA MELAWAN BUNUH SAJA IA, AKU YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB" ucap Adan.


Sang dokter meskipun takut dengan wanita yang dipanggil mawar ia masih lebih takut dengan Adan.


Kemudian Sang dokter menyeret wanita tersebut meski wanita itu meronta-ronta.


"Wanita sepertimu memang cocoknya hanya mendekam di neraka saja cih" ujar Adan berdecih.

__ADS_1


__ADS_2