
Semenjak obrolanku dengan mas Yusuf malam itu,aku sudah tak berminat untuk meneruskan hubungan ini.
Mas Yusuf pun seakan sudah tak sanggup mengembalikan sikapku padanya.
Mas Arya tak menemui ku lagi,entah kemana,tapi aku merasa ada yang memperhatikanku saat aku sedang tidak di rumah.
Dua hari lagi setahun sudah, berarti aku dan mas Yusuf akan mengajukan gugatan cerai, tapi kejadian tak terduga terjadi.
Malam itu mas Yusuf mendapat telpon, dia buru buru mengetuk pintu kamarku.
" dek ,ayo kita ke rumah sakit, ayah sakit" kata mas Yusuf panik.
"Astagfirullohal Adzim, kenapa mas?" tanyaku
"aku pun tak tau,hanya ibu menelpon agar aku ke rumah sakit"
Aku pun buru buru berganti baju, dan ku kenakan hijab sambil berjalan ke arah luar.
Sekitar 1 jam ,kami berdua sudah sampai di Rumah sakit, kami menyusuri lorong rumah sakit dan bertemu ibu di depan ruang ICU.
"Ayah kenapa bu?" tanya mas Yusuf
"Ayahmu kena serangan stroke dan sekarang masih belum sadar" jawab ibu sambil menangis.
Aku menjabat tangan ibu dan ku cium, aku memeluknya, ibu memelukku sangat erat.
"sabar bu, kita berdoa semoga ayah segera sadar" kataku
Kami bertiga menunggu di depan ruang ICU, ku lihat ibu sangat lelah.
Aku menawarkan ibu untuk beristirahat,sementara aku dan mas Yusuf yang menjaga ayah.
Pikiranku campur aduk, antara bingung dan kuatir.
Ibu menganggukkan kepala, lalu beliau beristirahat di kursi yang ada di lorong rumah sakit.
Aku dan mas Yusuf berjaga di depan ICU. Sampai adzan subuh berkumandang.
"Mas Yusuf sholat subuh dulu, biar aku di sini,kita gantian sholat?"
"baik dek"
Mas Yusuf berjalan ke arah musolla, aku menghela napas panjang, bukankah hari ini aku dan mas Yusuf rencana mengajukan cerai.
Beberapa saat kemudian ku lihat mas Yusuf berjalan ke arahku, dia berjalan sambil memandangku.
Mas Yusuf,entah mengapa aku semenjak awal pernikahan sudah memiliki rasa cinta, tapi kamu memupuskan semua rasa ini.
Ku tatap wajahnya, wajah mas Yusuf lebih mengarah ke arab, dengan hidung yang mancung, bibir merah alami, alis tebal dan jambang yang tipis.
Melihatku menatapnya,tiba tiba mas Yusuf sudah di depanku lalu berjongkok.
"kenapa dek, lama tak memandang wajah mas mu ini ya" sambil tersenyum.
Senyuman itu lama tak ku dapat darimu mas.
" emmm... Aku sholat subuh dulu" jawabku menghindari tatapannya.
Aku bergegas berjalan ke arah musolla. Aku sholat subuh dan berdoa
" Ya Alloh,Ya Rohman Ya Rohim,berikanlah petunjuk jalan yang Engkau ridhoi, berikanlah bapak mertuaku kesembuhan sehat dan panjang umur yang Barokah, Aamiin"
setelah sholat subuh, aku melihat koperasi di depan musolla buka, aku berjalan ke koperasi untuk membeli teh panas dan Roti, karena semalam aku tak sempat makan malam dan aku membelikan untuk mas Yusuf serta ibu.
Aku melangkah ke arah ruang ICU, aku menghampiri ibu yang terlelap dan membangunkan perlahan agar beliau sholat subuh.
ibu perlahan bangun.
" ya Alloh aku tertidur lama, bagaimana ayahmu Isya?" tanya ibu.
"belum ada kabar bu, lebih baik ibu sholat subuh dulu dan berdoa"
ibu menganggukkan kepala dan beranjak ke musollah. aku berjalan ke arah mas Yusuf, ku berikan teh panas, dan mas Yusuf menerimanya.
aku duduk agak jauh dari nya.aku tak.ingin rasa yang sudah hilang ini muncul lagi.
" Keluarga Bapak Abdulloh" panggil perawat.
aku dan mas Yusuf berdiri. dan menghampiri perawat.
"bapak sudah sadar,tapi hanya satu orang yang boleh masuk" kata perawat.
" mas Yusuf masuk saja ,aku akan menemani ibu di luar" kataku.
"ya dek"
mas Yusuf masuk ke ruangan ICU, di lihatnya ayahnya sudah sadar dengan selang oksigen di hidungnya.
__ADS_1
"Ayah"
"Yusuf, kamu di sini dengan Isya kan, di mana dia?" tanya ayahnya.
" iya yah, kami gantian masuk, karena di ruangan ini hanya satu orang yang boleh masuk,ibu tadi masih sholat subuh" jawabku.
" suf, jaga istrimu baik baik, jangan sakiti hatinya, dia adalah perempuan yang baik" kata ayahnya.
"Insha Alloh yah, ayah istirahat dulu, agar segera sembuh"
ayah menganggukkan kepala, tak lama ayahnya terlelap lagi, Yusufpun keluar ruangan.
"Bagaimana ayahmu Suf?"tanya ibu
" sudah sadar bu. tapi sekarang ayah sedang tidur".
ku lihat jam sudah pukul 6.30.
"Bu, Isya beli sarapan untuk ibu ya?"
" kemana nak?" tanya ibu.
"Biasanya di depan rumah sakit ada bu" kata ku.
"Ya sudah ,hati hati"
aku melangkah ke arah luar.
"aku akan menemanimu dek?" kata mas Yusuf.
"Tidak usah mas, lebih baik mas menemani ibu di sini" jawabku.
"ibu tidak apa apa kok Isya,kamu sama Yusuf keluarlah" jawab ibu.
aku tak menjawab, mas Yusuf pun menemaniku.
kami berjalan tanpa obrolan, ada rasa canggung di hatiku.
"dek"
"mas"
aku bersamaan berkata dengan mas Yusuf.
"mas Duluan?" kata ku
"bukannya mas yang mau bicara"
"kamu juga mau bicarakan dek?"
lirik mas Yusuf
"tidak jadi" jawabku kesal
mas Yusuf tergelak, hingga aku menoleh kearahnya,lama tak ku lihat tawa itu.
"kamu cantik kalau lagi kesal, ingin rasanya aku men..." mas Yusuf belum sempat meneruskan omongannya.
"ndak usah gombal mas" jawabku.
tak sadar kita sudah sampai di warung nasi.
aku dan mas Yusuf sarapan langsung, dan membungkus untuk ibu.
setelah selesai membayar, kami berdua kembali ke dalam Rumah sakit, ketika melewati taman rumah sakit, tiba tiba tangaku di raih mas Yusuf dan di gandeng menuju taman.
"Ada yang mau ku bicarakan dek"
aku tak menjawab hanya menurut saja.
sesampai di sudut taman,aku di ajak mas Yusuf duduk di kursi taman, di bawah pohon kamboja.
"dek, hari ini adalah setahun pernikahan kita"
" ya mas, aku tahu dan aku sudah siap" jawabku
"Siap untuk apa?" tanya mas Yusuf.
" bukankah mas Yusuf yang bilang pernikahan kita ini hanya sampai setahun,kemudian kita bercerai" jawabku
" apa itu yang kamu mau dek?" tanya mas Yusuf.
" kenapa mas Yusuf balik bertanya?"
" aku tak ingin berpisah dek, maafkan aku akan semua kesalahanku padamu"
mas Yusuf pun memegang tanganku , aku bingung apa yang harus ku lakukan. bukankah mas Yusuf yang tak ada rasa cinta kepadaku.
__ADS_1
"dek,aku mohon maafkan aku, kita mulai dari awal dek" pinta mas Yusuf.
aku pun mencoba menyadari, karena jujur aku masih ada rasa cinta.
aku pun menganggukkan kepala.
"Trima Kasih dek" kata mas Yusuf sambil memelukku.
kami pun beranjak ke arah Ruang ICU sambil mas Yusuf memeluk pundakku.
setiba di depan ruangan,aku melihat ibu sedang membuka gawainya.
"Ibu sarapan dulu ya" aku menawarkan sarapan.
"ibu nggak lapar Isya" jawab ibu
"kalau ibu tidak sarapan, Isya kuatir ibu nanti sakit,ayah butuh ibu,kalau ayah sudah sadar trus ibu sakit pasti beliau akan bertambah sedih bu, makan ya,walau sedikit bu" pintaku.
akhirnya ibu mau menerima, dan memakan sarapannya.
aku duduk di samping ibu, dan mas Yusuf ada di sampingku.
tangan mas Yusuf mengamit pinggangku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Yusuf itu manja Isya, kamu yang sabar ya" kata Ibu.
aku pun tersenyum, tangan kiriku di genggamnya.
smoga ini awal yang baik.
siang itu ayah di pindahkan ke kamar inap, karena kondisinya sudah stabil.
untung penyakit ayah segera di tangani sehingga tidak terlalu fatal.
sore itu ibu pulang sebentar untuk mengambil ganti baju.
aku dan mas Yusuf yang berjaga.
sampai jam 7 karena aku merasa perutku lapar, aku meminta ijin membeli makan ke depan,tadinya mas Yusuf keberatan aku pergi sendiri, tapi karena ayah tidak ada yang menjaga maka aku pun di ijinkan keluar sendiri.
aku membeli makanan di depan Rumah sakit, tak lama tiba tiba hujan pun turun. setelah aku selesai membayar makanan yang ku beli. aku pun berlari menerobos hujan.
aku berjalan buru buru karena mas Yusuf sendiri.
setiba di ujung lorong ketika aku hendak berbelok,ku dengar suara wanita menangis sambil berkata.
"Jangan tinggalkan aku mas, aku tak mau putus darimu. Maafkan semua kesalahanku mas"
aku berjalan berbelok, di depan mataku, mas Yusuf sedang memeluk wanita itu.
bungkusan yang kubawa pun terjatuh dari tanganku. aku berbalik dan berlari, tak ku hiraukan panggilan mas Yusuf.
aku berlari keluar rumah sakit dan menerobos hujan , entah seberapa jauh langkahku,sampai aku dipenghujung jalan, aku terduduk di kursi taman yang ada di pojok jalan.
" Ya Alloh, aku tak sanggup lagi"
aku tak peduli dengan hujan yang turun sangat deras.
entah mengapa aku merasa ada yang menatapku.
aku tak peduli.
sampai beberapa saat, aku menyetop taksi yang kebetulan lewat, dan aku memutuskan untuk pulang.
sesampai di depan rumah,aku membayar ongkos taksi.aku pun turun dengan lunglai, ku ambil kunci di dalam tas kemudian aku masuk
masuk ke dalam rumah.
aku masuk ke kamar mandi,untuk mandi dan berganti pakaian.
aku memutuskan untuk bercerai, aku tak ingin hidupku di bayang bayangi perempuan lain.
melihat mas Yusuf memeluk perempuan itu membuatku jijik.
di tempat lain.
"Tuan, saya tadi melihat nona Aisyah sedang menangis di pinggir jalan padahal saat itu hujan sangat deras"
seseorang yang sedang menyempurnakan dirinya,langsung membuka mata.
"Dek Aisyah" tubuhnya ingin beranjak,tapi emban berkata.
"tuan kurang sedikit lagi pertapaanmu,jangan tuan gagalkan,atau tuan mengulangi dari awal"
"ahhhhh...sial"
"maafkan aku dek ,saat ini aku tak bisa melindungi dan menjagamu, tunggu aku sayangku. Aku sangat merindukanmu" Kata Arya sambil mengambil posisi semula.
__ADS_1
Bersambung