
Teng...teng...teng... 12X
Suara tiang listrik dipukul sebanyak dua belas kali oleh warga yang mendapat tugas berjaga malam di lingkungan pondok pesantren. Piket jaga malam warga pesantren dibagi menjadi beberapa pos jaga agar pesantren tetap aman tidak di masuki orang dari luar.
Asrama mulai gaduh dikarenakan piket malam membangunkan seluruh santri untuk melaksanakan solat lail berjama'ah. Ahmad bangun lebih awal di karenakan mendapat mimpi buruk yang membuat dia susah untuk memejamkan mata lagi.
Pukul setengah empat solat lail di tegakkan secara berjamaah oleh seluruh santri pondok pesantren ini. Namun ada juga beberapa santri yang mencoba untuk sembunyi-sembunyi untuk mencari tempat tidur agar tidak mengikuti solat lain.
Santri-santri ini bernama Fatih, Arul, Zulkifli, dan Dendi. Mereka berempat sangat sering kabur dari kegiatan solat lail mereka sembunyi di sembarang tempat asalkan mata mereka bisa terpejam lagi alias tidur. Ketika seluruh santri solat lail mereka berempat sengaja lambat-lambat menuju ke masjid, mereka jalan santai. Ketika merasa aman mereka berbelok ke arah yang berbeda bukan ke arah masjid melain kan ke arah gedung madrasah.
Sesampainya di gedung madrasah mereka menyusun rak sepatu yang terbuat dari besi dan tidur di atasnya.
"Disini aja sudah kita tidur." ucap Dendi kepada teman-temannya.
"Sembarang ajalah sudah ngantuk banget nih." jawab Fatih yang sudah berbaring di atas rak sepatu dengan sarung sudah menutupi tubuhnya bersiap-siap tidur.
__ADS_1
Teman-teman yang lain pun ikut tidur hingga terdengar pengumuman dari masjid untuk solat subuh.
Waktu solat subuh kurang sepuluh menit...
Zulkifli terbangun dan langsung membangun kan teman-teman nya juga untuk segera menuju ke masjid.
"Ayoo eh bangun nanti ada pengasuh patroli habis kita." ajak Zulkifli sambil membangunkan teman-temannya.
Mereka berempat mengendap-ngendap menuju ke masjid takut jika ketahuan oleh pengasuh atau ustad yang sedang menuju ke masjid juga.
Sesampainya di masjid mereka tidak langsung siap-siap melainkan belok dulu ke gudang yang ada di bawah tangga masjid. Mata mereka masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.
"Di gudang aja." ajak Dendi sembari memimpin teman-temannya untuk masuk ke dalam gudang. Lagi dan lagi mereka berempat melanjutkan tidurnya sampai pukul setengah tujuh pagi, mereka tidak solat lail, tidak solat subuh, dan tidak tadarrus.
Mereka terbangun dan mengendap-endap menuju ke asrama, kemudian bersiap-siap menuju ke madrasah. Seperti biasa seluruh santri belajar dengan khidmat mendengarkan penjelasan dari setiap ustad yang memberikan penjelasan.
__ADS_1
Sore hari nya seluruh santri kembali ke tempat ekstrakulikuler masing-masing ada yang ekstrakulikuler bola, volly, basket, bulu tangkis, tennis meja, berkebun, renang, dan lain sebagainya. Esktrakulikuler santri dilakukan dari jam empat hingga jam lima lewat empat puluh menit, setelah itu santri di persilahkan dan beristirahat untuk melaksanakan solat magrib berjamaah di masjid.
Malam ini adalah malam jum'at yang dimana seluruh santri di pondok pesantren ini wajib mengikuti kegiatan MABIT (Malam Bina Taqwa).
Arul, Dendi, Zulkifli, dan Fatih sebagai mana biasa nya mereka yang hobi melanggar dan malas mengikuti kegiatan mereka bersembunyi di wc masjid sedangkan santri yang lain sedang mengikuti kegiatan mabit di dalam masjid. Di wc mereka asik bercerita hingga ada suara berdehem.
Eheemmm...
Sangat jelas sekali terdengar di telinga mereka, mereka berempat terdiam dan saling bertatapan hingga mereka kaget dengan suara bantingan pintu wc yang sangat keras.
Dhuaaarr...
"Siapa itu?" tanya Zulkifli.
Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan nya, hingga membuat mereka berempat bersama-sama menghampiri ruangan toilet. Mereka sangat kaget semua pintu terbuka tidak ada yg tertutup dan tidak ada tanda-tanda orang masuk ke wc atau keluar wc.
__ADS_1
Mereka berempat mulai merinding. Mereka berniat untuk kembali mengikuti kegiatan. Tiba-tiba ada orang yg mau wudhu, mereka berempat cuek saja dan melewati si orang yang wudhu ini. Orang ini berdehem dan sama persis seperti suara orang yang berdehem tadi hingga membuat mereka berempat menoleh ke orang yang berdehem tadi.
Mereka berempat sangat syok ternyata orang yang wudhu ini tidak memiliki wajah alias rata, mereka lari terbirit-birit ke dalam masjid mengikuti kegiatan dan tidak bercerita ke siapa-siapa. Alhamdulillah mereka tobat dan berjanji pada diri mereka sendiri tidak akan nakal dan malas mengikuti kegiatan lagi.