Penunggu Asrama

Penunggu Asrama
Pocong Merah


__ADS_3

"Seluruh santri baru hitungan ke sepuluh sudah berkumpul di depan asrama." ucap panitia ospek (orientasi siswa sepekan).


Seluruh santri baru tidak memperdulikan belum pakai sepatu, baju terbalik, celana belum selesai di pakai yang penting berbaris dulu dari pada harus di hukum oleh kakak-kakak panitia. Sebenarnya kakak-kakak panitia ini baik sekali, namun ketika lagi serius atau lagi memimpin, tidak ada kata becanda buat santri baru.


"Sore ini kita bersih-bersih empang (sebutan santri pondok pesantren ini) mencabut teratai dan memungut sampah-sampah dedaunan atau sampah plastik yang di buang sama orang ke dalam empang." ucap panitia menjelaskan agenda kegiatan sore itu.


Seluruh santri baru menuju ke empang untuk membersihkan empang dari kotoran-kotoran termasuk plastik. Mereka langsung terjun ke empang dengan pakaian lengkap serta sepatu. Karena dilarang oleh panitia untuk membukanya.


Selesai membersih kan empang seluruh santri baru di persilahkan untuk bersih-bersih diri dan sekalian mandi di empang.


Setelah bersih mereka kembali ke asrama untuk siap-siap melaksanakan solat magrib secara berjama'ah. Karena masih santri baru, mereka tidak solat di masjid melainkan solat di pendopo sekaligus belajar solat dan dzikir yang benar agar ketika di masjid tidak mengganggu ke khusyu'an warga dan ustad yang solat di masjid.


Selepas solat magrib seluruh santri baru di ajar kan cara wudhu yang benar sedangkan panitia mengadakan rapat untuk melaksanakan kegiatan malam yaitu jurit (uji nyali).

__ADS_1


"Malam ini kita berkumpul mau membahas tentang kegiatan jurit ini, bagaimana baiknya agar berjalan dengan lancar." ucap ustad yang mendampingi rapat.


"Kami sudah membagi ustad pos-pos dan tempat-tempat untuk menguji nyari santri baru." ucap ketua panitia.


"Bagus lah kalau sudah terbagi job nya semoga sukses malam ini. Dan ingat yang menggunakan kostum kuntilanak atau pocong jangan lupa memperkuat wiridnya, takut kalau ada yang ikut kalian." pesan ustad kepada panitia yang ingin memakai kostum hantu.


"Itu ya temen-temen yang ingin menakuti santri, kalian harus lebih membentengi diri karena kalian yang melakukannya." ucap ketua panitia menambahi pesan dari ustad.


Dalam hitungan menit seluruh santri baru sudah terlelap dalam tidurnya karena faktor kelelahan hingga membuat tubuh mereka lelah dan mudah sekali tidur.


Jam dua belas malam santri baru dibangun kan satu persatu, mereka di persilahkan jalan ke arah hutan yang ada di belakang areal pondok pesantren, di hutan sana sudah banyak panitia yang siap untuk menguji nyali santri baru ini. Jarak antara santri sekitar lima belas menit baru jalan lagi santri baru. Mereka berjalan di tengah hutan hanya berbekal satu lilin yang harus mereka jaga agar api nya tidak padam.


Ada beberapa santri yang teriak, menangis karena takut, ada juga yang berani hingga membuat mereka memukul panitia yang menyamar jadi hantu dan itu membuat mereka di hukum karena sudah memukul panitia. Santri sangat merasa seram serta bulu kuduk berdiri ketika melewati pocong merah yang berdiri di bawah pohon karet. Santri yang melewati pocong merah tersebut ada yang lari, baca ayat kursi, dan ada yang santai aja karena mereka yakin itu hanya panitia hingga membuat mereka tidak ketakutan.

__ADS_1


Jurit selesai pukul empat dini hari, seluruh santri baru berkumpul kembali di asrama dan panitia mulai berdatangan ikut berkumpul di asrama bersama santri baru. Santri baru mencari-cari sosok panitia yang menjadi pocong merah namun tidak ada yang ada hanya panitia yang pakai kostum pocong warna putih.


Setelah semua berkumpul mereka istirahat sambil menunggu waktu subuh. Ada yang bersih-bersih diri, ada yang tidur tidak ingin membuang waktu istirahat, dan ada yang berceritaan pengalaman jurit mereka masiny-masing.


Keesokan hari nya santri bertanya sama panitia tentang siapa yang jadi pocong merah. Panitia yang di tanya ini menjelaskan kalau tidak ada yang memakai kostum pocong merah. Santri baru ini ketakutan dan menceritakan kepada teman-temannya bahwa yang mereka lihat itu bukan manusia melainkan pocong beneran. Berita itu tersebar hingga sampai ke telinga ustad yang menjadi pendamping ospek.


"Jadi benar nih kalian melihat pocong merah?" tanya ustad kepada seluruh santri baru.


"Iya ustad." jawab mereka kompak.


"Panitia tidak ada yang menjadi pocong merah, kalian harus lebih banyak lagi wirid dan baca qur'an agar Allah senantiasa memberi perlindungan kepada kita semua." ucap ustad memberikan nasehat kepada santri baru untuk rajin baca Al-qur'an dan tidak meninggalkan wirid pagi, petang, dan malam sebelum tidur.


Wallahu a'lam bish shawwab.

__ADS_1


__ADS_2