Penunggu Asrama

Penunggu Asrama
Si Manis


__ADS_3

الٓمّٓ ...تَنۡزِيۡلُ الۡكِتٰبِ لَا رَيۡبَ فِيۡهِ مِنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِيۡنَؕ


Suara lantunan surah As-Sajadah yang di baca oleh seluruh santri merupakan salah satu surah untuk wirid malam. Mereka membaca secara berjamaah yang di pimpin oleh santri yang telah di jadwal kan oleh pengurus organisasi santri atau yang biasa di sebut OSIS oleh sekolah pada umum nya.


Mereka membaca tidak ada yang mendahului yang memimpin, jika yang memimpin baca nya cepat maka santri yang lain nya lega hati karena tidak lama-lama untuk segera makan malam, jika kena jadwal santri yang baca nya santai tapi suara nya merdu para santri masih tidak menggerutu dalam hati, akan tetapi jika yang membaca nya santai nada nya tidak karuan para santri mulai menggerutu dengan kata-kata.


"Aiihh lama nya, gak tau kah sudah lapar gini"


Ada juga yang menggerutu dengan,


"Ngantuk sudah cepat coba bacanya"


Untuk malam ini yang memimpin wirid malam bacaan nya bagus dan juga tidak terlalu lambat yang membuat seluruh santri khidmat dan khusyu' membaca setiap ayat-ayat wirid malam.


اِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِّرُوۡا بِهَا خَرُّوۡا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوۡا بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ۩‏


Ayat sajadah pun telah mereka baca, di sunah kan ketika membaca ayat sajadah untuk sujud sahwi. Para santri sujud sahwi semua. Mereka meneruskan bacaan wirid malam hingga selesai.


Setelah selesai wirid seperti biasa para santri beranjak menuju ke dapur untuk makan malam dengan masakan yang lezat di buat oleh ibu-ibu dapur.

__ADS_1


Setelah makan malam selesai seluruh santri menuju ke asrama termasuk Ahmad yang kebetulan jalan sendirian tidak bersama teman-teman lainnya.


Jarak dapur dan asrama lumayan jauh kurang lebih seratus meter dan jalanan nya menanjak kalau dari arah dapur sehingga ada beberapa santri yang mengeluh.


"Lapar lagi kalo begini caranya, baru makan di suruh jalan jauh nanjak lagi". ucap salah seorang santri


Jalur menuju ke dapur melewati gedung Madrasah Ibtidaiyah atau biasa di singkat dengan MI. Saat Ahmad melewati gedung MI, Ahmad melihat ada wanita berbaju merah dibawah pohon beringin di depan kantor guru MI. Karena Ahmad sering di ganggu, melihat dan mendengar suara makhluk ghaib maka Ahmad sudah bisa mengontrol rasa takutnya karena sudah terbiasa.


Ahmad yang melihat wanita baju merah ini terus memperhatikan dan kebetulan ada temannya lewat, Ahmad memberi tahu sosok wanita baju merah itu ke salah satu santri yang bernama Yusran.


"Yus, coba kamu lihat itu, ada cewek pake baju mera". ucap Ahmad memberi tahu Yusran yang sejati nya dia adalah anak warga Pondok Pesantren juga sehingga dia paham siapa wanita baju merah ini.


"Kamu bisa melihat ya Mad, berarti kamu di sukai sama dia, karena dia itu akan nunjukkan diri ke manusia jika si manusia itu mirip dengan suaminya yang juga meninggal dunia". Yusran menjelaskan tentang Si Manis sama Ahmad.


"Kata ustad Irwan dia baik ya?" tanya Ahmad.


"Iya dia baik dan akan melindungi orang yang mirip sama suaminya". ucap Yusran menjelaskan ke Ahmad.


"Ayo dekatin, mumpung santri sudah di asrama semua". ajak Ahmad.

__ADS_1


"Kamu aja, aku disini ngeliatin". jawab Yusran yang tidak berani mentalnya seperti Ahmad.


Ahmad pun menghampiri Si Manis, Si Manis hanya merunduk tersenyum kepada Ahmad


"Si Manis..." panggil Ahmad


Si Manis hanya tersenyum dan sedikit mengeluarkan ketawa cekikikan. Dan perlahan menghilang entah kemana.


Ahmad mencari dengan melihat ke depan kelas, atas pohon, dan ke tempat gelap lainnya namun Si Manis tidak nampak lagi.


Ahmad segera menghampiri Yusran.


"Kayak mana Mad". tanya Yusran


"Gak apa-apa dia senyum aja tadi terus ketawa dan menghilang gak tau kemana". Ahmad menjelaskan apa yang terjadi tadi.


"Ya sudah ayo ke asrama siap-siap istirahat". ajak Yusran yang dari tadi sebenarnya ketakutan cuma tidak mau menampakkan rasa takut itu.


Mereka berdua pun ke asrama dan kembali ke asrama untuk siap-siap tidur karena nanti jam setengah tiga dini hari mereka di bangunkan lagi untuk solat lail.

__ADS_1


Ahmad tidak merasakan takut seperti biasanya, melainkan dia ingin tau lebih jauh tentang Si Manis ini, wajahnya memang sangat cantik ketika Ahmad dekati namun kulitnya sangat pucat. Ahmad penasaran Si Manis ini bisa dia sentuh atau tidak. Ahmad pun ketiduran di bawa dengan hayalan nya tentang Si Manis. Si Manis tersenyum melihat Ahmad yang tertidur pulas di dalam kamar.


__ADS_2