Penunggu Asrama

Penunggu Asrama
Kucing Hitam


__ADS_3

 


Saat awal perintisan pertama pondok pesantren ini. Banyak sekali para santri awal menemukan kerangka serta tengkorak manusia, baik yang berserakan maupun yang terkubur dalam tanah, ada juga santri awal menemukan mayat yang sudah tinggal tulang belulang berhambur di bawah pohon besar, di pohon itu terdapat tali yang melingkar, bisa di kira-kira bahwa dia bunuh diri atau sengaja di gantung oleh penjajah Jepang.


Santri awal juga sangat sering melihat penampakan-penampakan hantu berbagai macam model. Karena di bekali dengan ilmu agama dan keyakinan yang kuat maka ia mampu melawan rasa takut itu sampai Pondok Pesantren besar dan megah seperti saat ini.


Hujan deras campur angin kencang membuat pohon-pohon bergoyang hebat. Jam menunjukkan pukul 01.45 yang dimana para santri sudah tidur lelap di tambah dengan hujan campur angin maka santri pun semakin nyenyak tidurnya karena hawa dingin yang mulai menusuk ke kulit-kulit yang selalu terbasuh dengan air wudhu.


Hanya beberapa santri yang piket malam yang berteduh di depan kantor asrama, ada yang duduk, ada juga yang jongkok sambil melingkarkan tangan di kedua kakinya, ada pula yang sempat lari ke kamar hanya untuk ambil selimut dan kembali ke kantor langsung baring di sofa menarik selimut menutupi tubuhnya.


Dua orang santri yang piket malam terjebak hujan di lantai atas jadi tidak bisa turun ke bawah karena tangga buat turun berada di luar gedung, kedua santri ini bernama Amri dan Rizky. Mereka duduk di depan kamar santri sambil menutupi tubuh mereka dengan sarung yang selalu mereka pakai ketika piket malam, yang aslinya mereka pakai untuk menghindari gigitan nyamuk tapi malam hari ini untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.


 


"Derasnya ya anginnya?" tanya Amri pada Rizky.


"iya deras banget, sampai air hujannya masuk ke beranda nih, nyata dah besok di suruh pengasuh ngepel lagi yang piket harian hahahaha..." canda Rizky.


"Coba lihat petirnya kayak akar sudah di langit, ngeri banget hujan malam nih. Tuh...tuh... lampu di jalanan aja mau tekipay gara-gara ketiup angin hehehe." ucap Amri setengah becanda.


"iya eh ngeri banget angin nya. Nyata dah masjid juga basah di bagian tempat halaqoh nya, kan air bisa masuk tuh lewat ventilasi." kata Rizky.


 


Mereka berdua pun terus ngobrol sampai tak terasa satu jam lebih hujan belum reda juga malah kayak semakin deras aja. Mereka berdua sudah mulai mengantuk, Amri bersandar di tembok depan pintu kamar santri, Rizky baring di lantai beralas sarung.


 


"Pinjam kasur santri aja yo biar gak begitu dingin." ajak Rizky


"Ayo dah." jawab Rizky, ia langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar mencari kasur kosong. Tak lama kemudian Rizky keluar bawa dua kasur, dua bantal, sama satu selimut.

__ADS_1


"Nih..." ucap Rizky sembari memberikan kasur dan bantal ke Amri.


 


Mereka pun langsung mencari tempat aman untuk menghampar kasur. Setelah mendapatkan tempat yang cocok mereka berdua langsung menghampar kasur, mereka langsung baring.


 


"Jangan tidur lo ya, habis besok kita di marahi kepala asrama." ucap Amri memperingati Rizky agar jangan tidur.


"Siap, aman aja." jawab Rizky sambil memainkan rubik yang selalu ada di kantongnya.


 


Mereka kembali asik ngobrol ngalor ngidul entah apa yang mereka berdua bahas. Pembicaraan mereka di potong dengan meongan kucing hitam yang langsung menghampiri mereka berdua minta di elus, Amri yang pecinta kucing langsung menggendong si kucing hitam dan mengelusnya sampai si kucing merem ke enakan.


 


"Dia datang dari mana kalau dari kamar santri gak mungkin kan di tutup semua, kalau dari lantai bawah juga gak mungkin kok dia gak basah." gumam Rizky dalam hati dan terus memperhatikan si kucing hitam.


 


Kucing hitam merasa di perhatikan sama Rizky hingga mereka saling bertatapan dan si kucing tersenyum pada Rizky. Rizky mengucek mata nya dan memperhatikan si kucing, jelas banget di matanya kalo si kucing tersenyum.


 


"Amri taro kucing itu, gak beres kucingnya. Cepaat taroo." ucap Rizky yang sudah gemetar ketakutan.


"Ada apa sih Ky?" tanya Amri bingung dengan tingkah laku Rizky yang ketakutan.


"Itu kucing senyum sama aku." jawab Rizky sambil memukul kucing hitam dengan sarungnya hingga membuat kucing itu lari menjauh dari mereka berdua.

__ADS_1


Amri si pecinta kucing marah-marah sama Rizky karena memukul kucing.


"Eh jangan gitu, itu kucing. Jahat betul kamu." kata Amri setengah membentak.


"Itu bukan kucing beneran, dia lo senyum sama aku Ri aku gak bohong Demi Allah." ucap Rizky yang ketakutan.


 


Ditengah perdebatan mereka, mereka di kaget kan dengan suara meongan lagi.


 


"Meoong...Meeoongg...Meeoonngg."


 


Amri dan Rizky langsung menoleh ke arah sumber suara kucing itu. Mereka melihat kucing hitam sudah di lorong berdiri dengan kedua kakinya dan melambaikan tangan ke arah Amri dan Rizky. Rizky yang dari awal memang ketakutan langsung lari mengambil sapu mengejar kucing itu, di susul sama Amri yang awalnya tidak percaya menjadi sangat percaya. Kucing hitam langsung lari masuk ke dalam kamar santri. Amri dan Rizky langsung mendorong pintu kamar dan menyalakan lampunya hingga membuat beberapa santri kaget dengan suara pintu yang berdencit di lantai. Amri dan Rizky langsung mencari kucing hitam tadi di kamar tersebut namun tidak ada sedikitpun si kucing meninggalkan jejak.


 


"Dah mau solat lail kah." tanya salah satu santri.


"Iya sebentar lagi, tidur aja lagi gak apa-apa masih hujan juga." jawab Rizky yang langsung keluar kamar di ikuti Amri.


 


Ketika sudah di luar Rizky melihat si kucing ada di atas kasur mereka baring tadi, kembali lagi mereka kejar. Kucing hitam lari mengarah ke tangga lantai bawah Amri dan Rizky mengikutinya lagi-lagi kehilangan jejak.


Tanpa pikir panjang mereka berdua turun dan bergabung sama teman-temannya di depan kantor asrama yang beberapa sudah tertidur. Amri sama Rizky tidak menceritakan kejadian tadi kepada teman piket malam nya mereka langsung duduk dan tak lama ketiduran karena memang sudah mengantuk.


Hujan masih belum berhenti, tapi angin deras sudah tidak ada. Hujan deras berlanjut sampai subuh, sehingga seluruh santri tidak dibangunkan solat lail, dibangunkan ketila mau solat subuh saja, dikarenakan petugas piket malam tertidur semua dibawa oleh belaian suhu dingin di malam itu.

__ADS_1


 


__ADS_2