Perfect Last God

Perfect Last God
Starting Point - Ch : 1


__ADS_3

“Sial... Dimana sekarang aku berada?”


Dia mati, kesal dengan kematiannya sendiri karena dibunuh oleh seorang ******* yang menyamar menjadi Polisi. Singkatnya, dia kesal karena lengah dan tak curiga terhadap apapun di sekitarnya.


Padahal dia hebat dalam bela diri, reflek-nya sangat cepat dan kuat, namun peluru yang cepat dan kecil memang diluar batas kemampuannya, yang akhirnya mengenai tubuhnya. Tidak hanya satu peluru, tapi dia dihujani banyak peluru sekaligus.


[ "Ingin hidup kembali..?" ]


“Suara? Apa aku baru saja mendengar suara!?!”


Meskipun dia menerima kenyataan bahwa dia mati, tetapi dia tidak terlalu terkejut menyadari kondisinya saat ini, yang sangat sadar dan bisa melihat sekitarnya, walaupun semuanya gelap gulita seakan tidak ada ujungnya.


Tapi... Dia memang sadar bahwa dia baru saja mendengar sebuah suara... Seorang Pria!


[ "Ya. Apa kau menginginkan kehidupan yang kejam?" ]


“Siapa kau!?! Bisakah kau menunjukkan sosokmu di hadapanku!”


[ "Aku sudah berada di dekatmu, sejak tadi. Namun, kau tidak akan pernah bisa melihat wujudku. Tidak akan pernah. Dimensi kita berbeda, posisi kita tak sama, sadarilah hal itu, Jiwa hampa." ]


Suara Pria itu memang terdengar sangat jelas, seolah-olah berada dimana-mana. Membuat dia bingung, apa yang dimaksud Pria itu. Perkataannya membingungkan. Tetapi, diantara kegelapan tak berujung, kegelapan dimana-mana seolah-olah dirinya buta...


Dia bisa merasakan, semakin kuat perasaan itu, seakan dia bisa melihat sedikit... sedikit wujud dari suara itu.


Sosoknya sangat besar, menutupi apapun yang dipandang, membuat siapapun merinding ketakutan, gemetar akan kekuatan maha kuasa tersebut.


[ "Katakan padaku, Jiwa! Apa kau menginginkan kehidupan, kekejaman, kehancuran, malapetaka?!" ]


“Berikan aku sebuah Permainan!”


[ "Apa kau siap memulainya?! Katakan padaku, Jiwa hampa! Apa kau takut!?!" ]


“Aku Zeyn! Dan berikan kepadaku apa yang kau inginkan!”


Zeyn seakan ditarik oleh waktu, ruang, dan kegelapan tanpa ujung, membawanya mengarungi tempat yang sangat berbeda dan apa yang menurutnya diluar akal sehat manusia.


Semakin cepat, semakin lama, semakin panjang, semakin Zeyn bisa melihat sosok besar dari suara yang berbicara kepadanya. Sosok yang besar dan tidak bisa dijelaskan, membuat Zeyn membeku, terus melihat sosok besar tersebut.


[ "Lakukan sampai kau ke tahap... Game Over!" ]













{ - Quit - } { - Continue - }


“Ayo lakukan itu!”


 

__ADS_1


Terbangun, dia membuka matanya, melihat sesuatu yang normal kembali setelah kegilaan tadi. Zeyn bangun dari kasur yang lembut dan nyaman, tubuhnya berkeringat tak karuan dengan nafas terengah-engah.


Dia menunduk dan meringis, masih terbayang-bayang perasaan gila yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Rambut berwarna hitam menutupi pandangannya, yang membuatnya kembali sadar bahwa...


“Aku hidup.. kembali?”


Zeyn merapihkan poni rambutnya yang agak panjang ke belakang, dan dia menyadari bahwa tangannya mengecil. Tangan yang kecil yang rapuh, halus dan lembut, membuatnya bertanya-tanya berapa usianya di kehidupannya saat ini.


“Aku perlu cermin.”


Dia melihat-lihat sekitarnya, yang ternyata sebuah kamar cukup luas dengan berbagai furnitur dan dekorasi layaknya Bangsawan Eropa. Matanya terpaku pada meja rias dengan cermin.


Zeyn beranjak dari kasur menuju cermin, untuk pertama kalinya melihat dirinya sendiri dengan identitas berbeda. Dan, dia merasa aneh dengan penampilannya, karena menjadi kecil kembali rasanya... ada sesuatu yang hilang.


Rambut berwarna hitam sedikit keabu-abuan yang lumayan panjang, warna matanya seperti emas yang bersih, wajahnya yang lumayan tampan untuk anak seusianya, dan pakaian mewah seperti Bangsawan.


Zeyn mengikat rambutnya kebelakang menjadi sanggul, merapihkan pakaiannya dan berjalan ke arah pintu. Dia keluar dari kamar, melihat lorong kanan dan kiri, tetapi dia tidak tahu harus kemana.


“Rumah besar memang merepotkan.”


Dia berjalan ke kanan, menyusuri lorong dengan banyak jendela yang memperlihatkan pemandangan taman cukup besar. Tak berapa lama, seorang wanita dengan pakaian Pelayan terlihat sedang membawa alat bersih-bersih seperti sapu atau semacamnya.


Pelayan tersebut membungkuk hormat ke arah Zeyn dan berkata. “Selamat siang, Tuan Muda.”


“Ya..” Hanya itu tanggapannya, kemudian dia melihat Pelayan itu pergi.


‘Tuan Muda, ya... Aku tidak tahu apa-apa soal kehidupanku ini.’


Zeyn terus berjalan dan berharap menemukan sesuatu. Tapi, sejujurnya dia agak menikmatinya, karena terasa sunyi dan nyaman, bahkan terdapat suara desiran angin dari luar jendela yang sangat menenangkan.


“Hei!” Ada seseorang memanggilnya.


Zeyn menghentikan langkahnya, berbalik kebelakang hanya untuk melihat seorang gadis seumuran dengannya dengan pakaian Tuan Putri.


Gadis itu lebih pendek darinya, sedikit... Rambutnya berwarna kuning keemasan yang indah, warna matanya yang coklat keemasan, wajahnya yang cantik dan akan semakin cantik ketika tumbuh besar nanti.


“Tuan Geiur menunggumu di ruangannya, bersama Nyonya Vierra di sana. Bukankah sudah kubilang sebelumnya untuk menunggu di kamar? Mengapa kamu keluar?”


Dari ekspresi gadis di depannya ini, yang terlihat dingin bahkan nadanya saat berbicara pun datar, lalu terdapat nada kesal dan benci pada saat yang bersamaan mengarah kepadanya, membuat Zeyn semakin bingung dengan identitasnya di dunia ini.


“Aku.. mencari udara segar.”


“Betapa bodohnya. Huft... Tapi, terpenting kamu sudah bersiap-siap. Ikuti aku.”


“Ya.” Zeyn mengangguk pelan.


Zeyn mengikuti gadis tersebut tepat di belakangnya, tapi hal yang membuatnya penasaran adalah... Siapa gadis ini? Namanya? Identitasnya? Umurnya? Dan urusan apa Tuan dan Nyonya yang dimaksud olehnya dengan Zeyn?


“Huft... Sudahlah.” Zeyn semakin bingung dengan semua ini.


“Ada apa?” Gadis itu bertanya tanpa menoleh ke arah Zeyn.


“Tidak. Tidak ada apa-apa.”


Tak berapa lama, mereka sampai di depan pintu yang besar dengan ukiran mewah berlapis emas. Ukiran simbol dan gambar hewan terlihat jelas, seolah si pembuatnya ingin memberitahu makna hebat.


*Tok* *Tok* *Tok*


“Selamat siang. Saya Charlotte, datang kemari bersama Zeyn untuk menemui Anda, Tuan dan Nyonya besar.”


‘Ah. Jadi namanya Charlotte. Juga.. namaku di dunia ini sama dengan namaku sebelumnya. Kebetulan?’


“Masuklah, Charlotte.”


“Baik, Nyonya.”


Gadis itu, Charlotte, membuka pintu besar di depan mereka, memperlihatkan ruangan besar di dalamnya yang tak kalah mewah. Zeyn terkagum sesaat ketika melihatnya, karena dia belum pernah melihat sesuatu yang mewah seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


“Hmm...” Langkah kaki Zeyn terhenti saat menyadari bahwa gadis di depannya terlihat.. aneh.


‘Apa ini..? Dia.. gemetar?’


Charlotte terlihat jalan seperti biasa dan tampak tak terjadi apa-apa, tetapi apa yang Zeyn lihat berbeda. Suasana takut, kecewa, dan gentar mengelilingi sekitar Charlotte, membuat Zeyn sedikit bingung.


Tatapannya beralih ke depan, di sana terdapat seorang Pria gagah dan bijaksana sedang duduk di kursinya yang terlihat seperti kursi milik Raja, dan disampingnya ditemani wanita cantik dan rupawan yang sepertinya adalah Istrinya.


Pria itu mempunyai rambut persis seperti Zeyn, wajahnya juga agak persis dan juga tatapannya. Sementara si Wanita, mempunyai warna rambut kuning cerah, cantik dan elegan. Zeyn sepertinya tidak perlu menebak lagi siapa mereka, pastinya orang tuanya di dunia ini.


Tidak hanya kedua orang itu, di tempat lain, terdapat wanita lain yang duduk bersama ketiga anak kecil seusianya. Berbeda dengan Ibunya, wanita itu justru memancarkan aura tak menyenangkan yang diarahkan ke arah Charlotte.


Ciri-cirinya sama seperti Charlotte, dan sepertinya wanita itu adalah Ibunya. Juga, ketiga anak kecil yang memiliki aura yang sama seperti Ibu mereka, adalah saudara-saudari Charlotte.


‘Apa Charlotte dengan keluarganya ada masalah..? Dia sampai ketakutan begitu.’


Charlotte mendekati mereka semua, tepat berada di depan mereka, lalu berhenti dan membungkuk hormat ke arah Ayah, Ibu Zeyn dan keluarganya yang terlihat membencinya.


Zeyn menyusul Charlotte, mengikuti apa yang dilakukan Charlotte. Membungkuk hormat tetapi dengan gerakan berbeda, seingat dan yang dia tahu soal cara menghormati seperti seorang Bangsawan.


Ketika dia selesai menunduk hormat, justru dia disambut oleh ekspresi terkejut dari mereka semua.


“Ada apa..?” Tanya Zeyn dengan bingung.


“Tidak. Sejak kapan kamu belajar sopan santun begitu, Nak?" Tanya Pria atau Ayahnya.


“Hah?” Zeyn bingung dengan pertanyaan Ayahnya yang seolah-olah dirinya tidak tahu sopan santun.


“Aku... Aku mengikutinya.” Karena tidak tahu harus menjawab apa, Zeyn menunjuk Charlotte saja.


“Ah... Kamu belajar darinya?” Kali ini Ibunya yang bertanya.


“Um.. Umm..” Zeyn mengangguk-angguk saja.


“Hihihi... Baguslah.” Dan sepertinya entah kenapa Ibunya terlihat senang.


Sementara Charlotte, kebingungan dan sangat kebingungan, menatap Zeyn dengan ekspresi aneh di wajahnya seakan berkata "Sejak kapan aku mengajarimu!?!", begitulah.


“Jadi, Ayahanda, Ibunda, ada apa memanggil kami kemari?” Tanya Zeyn.


Lagi-lagi, Ayah dan Ibunya terkejut mendengarnya, Charlotte pun bereaksi sama dengan mereka. Zeyn menepuk dahinya, bertanya-tanya apakah pemilik tubuh ini sebelumnya memang nakal atau tidak punya sopan santun sedikitpun.


Ayah dan Ibunya saling bertatapan, mereka tersenyum, lalu menatap Zeyn kembali.


“Apa itu juga dari ajaran Charlotte..?” Tanya Ibunya.


“Um.. Um..”


“Fufufu... Baiklah.”


“Nak, Ayah dan Ibumu memanggil kalian ke sini untuk persetujuan.” Ayahnya berbicara dengan suara sedikit tegas.


“Persetujuan?”


“Ya. Pertunanganmu..”


‘Pertunangan?! Yang benar saja. Tradisi bodoh dan menyebalkan seperti itu, aku tidak suka.’ Zeyn tidak suka karena menurutnya, seseorang berhak memilih seseorang yang dia suka dan tidak boleh seseorang ikut campur. Intinya kebebasan.


“Aku tidak mau.”


“Ah... Yahh... Ayah sudah menduga ini sebelum semuanya dilakukan. Bagaimanapun, kamu adalah seorang yang keras.”


‘Apa maksudnya itu?! Tapi ya melihat reaksi mereka saat aku bertindak sopan, memang jelas sekali kalau pemilik tubuh ini sebelumnya adalah anak yang nakal.’


Zeyn merasakan suasana di sekitar Charlotte tadi semakin kental dan banyak, Charlotte mencengkram roknya dengan erat, wajahnya sedikit pucat dan berkeringat dingin. Gemetar dan gentar.


‘Apa-apaan ini?! Aku baru saja hidup beberapa saat yang lalu, loh. Kenapa langsung dihadapkan situasi yang tak kumengerti??’

__ADS_1


__ADS_2