Perfect Last God

Perfect Last God
The Port City of Tera! - Ch : 13


__ADS_3

“Kau serius? Bwahahahahahaha!!”


“Ya. Hari itu benar-benar menjadi mimpi burukku. Aku benar-benar tidak mau memakan itu lagi.”


“Apakah makanan itu benar-benar buruk?”


“Ya bagi lidah, tapi sangat disarankan bagi tubuh. Rasanya akan benar-benar membuat lidah Anda mati rasa untuk beberapa hari, Tuan Muda.”


“Hahaha! Piuer, kau benar-benar bodoh. Aku pernah diajak untuk memakan itu, tapi karena makanan itu mengeluarkan aroma tidak sedap, aku langsung membuangnya.”


“Kau yang bodoh, Leiun. Makanan itu seharga 70 Perak, dan kau membuangnya?! Sangat sayang sekali!”


“Daripada harus merasakan lidah mati rasa, membuangnya jauh lebih baik.”


“Wask, apakah memang seburuk itu?”


“Ah. Ya, Tuan Muda. Memang dikenal oleh banyak orang karena mengandung banyak khasiat bagi tubuh, seperti meningkatkan metabolisme, mengeluarkan zat buruk di dalam tubuh, atau sebagai obat, makanan itu benar-benar banyak sekali manfaatnya.”


“Tapi rasanya...”


“Ya. Sejujurnya bisa saja seseorang mengolahnya menjadi lebih enak, tapi rasa pahit dan asamnya benar-benar kuat sampai lidah seperti mati rasa. Terlebih lagi, jika memang mau khasiat penuh dari makanan itu, memang harus dimakan mentah-mentah tanpa diolah atau dimasak.”


“Jadi, itu yang dilakukan Piuer?”


“Yap.”


“Tuan Muda, Tuan Geiur pernah membawa satu ke rumah Saya, dan memberikannya kepada Saya secara cuma-cuma. Jujur, setelah demam tinggi berhari-hari, keesokannya langsung sembuh. Tapi ya, jika Anda mengabaikan rasanya, makanan itu tidak seburuk itu.”


“Jhon, bukankah itu terdengar jauh lebih buruk? Kalian benar-benar merasakannya, berarti rasanya memang seburuk itu.”


“Yap. Bahkan orang-orang yang sudah sering memakannya, tidak akan pernah bisa terbiasa dengan rasanya. Sekalipun dijadikan Ramuan Penyembuh yang cair, rasanya tetap ada dan begitu kuat.”


“Itu.. makanan yang buruk untuk dimakan mentah-mentah.”


Tujuan mereka kali ini adalah Pelabuhan, karena mereka ingin menyebrang ke Benua sebelah, Benua Llum. Untuk ke sana mereka harus menaiki Kapal yang menyebrangi lautan selama kurang lebih 2 hari 2 malam.


Pelabuhan berarti dekat dengan laut, dan ada beberapa kenangan buruk soal laut bagi Jhon dan yang lainnya. Makanan bernama Sik adalah sebuah tumbuhan yang sering tumbuh di dekat pesisir pantai dan dibudidayakan oleh orang-orang karena khasiatnya yang tinggi.


Kata Jhon dan yang lainnya, tumbuhan itu seperti rumput tapi di dalam air laut dan memiliki akar yang panjang dan tebal. Akar itulah yang dinamakan Sik, dimakan mentah-mentah agar mendapatkan khasiatnya yang lebih baik.


Dari yang Zeyn dengar, rasanya sangat buruk dan kuat. Bahkan sekalipun dimasak dan dijadikan Ramuan, rasa khas dari Sik benar-benar terasa hingga membuat lidah seperti mati rasa.


Orang-orang di Pelabuhan sering menjualbelikan Sik dengan harga cukup tinggi mengingat khasiat yang diberikan makanan ini. Cukup terkenal, tapi jarang dibeli karena yahh.. seperti yang sudah dijelaskan.. karena rasanya.


“Terro, apa kau pernah memberikan Sik kepada Kakakmu sebelumnya?”


“Sudah, Tuan. Sayangnya.. efek dari Sik hanya sesaat saja, kemudian Kakak akan kembali seperti biasa. Lemah dan tidak berdaya.”


“Begitu, ya...”

__ADS_1


Sik memang terkenal karena khasiatnya dan bisa dijadikan Ramuan Penyembuh, tapi Sik bukan berarti bisa mengobati berbagai hal. Jika di dunia ini hanya membutuhkan satu obat untuk berbagai penyakit, maka seharusnya akan jauh lebih mudah tapi juga bencana pada saat yang bersamaan.


Zeyn menunduk ke bawah sambil memikirkan sesuatu, melamun dan tenggelam ke dalam pikirannya sendiri. Hembusan angin yang sejuk membuatnya sadar, dia mendongak dan melihat sebuah pemandangan indah dari ketinggian.


“Apa.. inikah Kota Pelabuhan, Tera....”



(A/N : Mungkin seperti itulah kira-kira, lebih luas lagi, jadi bayangkan sesuai imajinasi kalian.)


 


“Ayo! Dibeli! Murah dan enak! Hanya 2 koin perak saja!”


“Ini harganya 1 koin perak... Yang ini 2 dan–”


“Makanan laut yang segar! Ikan segar! Jaram yang segar dan baru diambil pagi ini! Dibeli!!”


Pasar yang ramai, penuh dengan orang, penuh dengan bau amis dan laut. Zeyn tak menyangka akan ada banyak orang di Pelabuhan, terutama untuk jual-beli di sini.


Wask tidak pernah menyebut kalau Kota ini terkenal dengan ramainya aktivitas jual-beli di sini, karena semua orang tadi di kereta kuda sibuk membahas soal makanan Sik. Tapi sejak tadi, Zeyn belum menemukan makanan tersebut.


“Tuan, ke sini! Kita harus memesan sebelum menaiki kapal!”


Zeyn mengikuti Jhon dan yang lainnya, menuju sebuah bangunan cukup besar, terlihat mirip seperti Stasiun kereta api. Banyak orang yang sedang mengantri untuk bisa masuk ke dalam Kapal, menyebrangi lautan untuk sampai ke Benua seberang.


Matanya terpaku pada orang-orang yang mempunyai ciri-ciri seperti binatang, mereka adalah Manusia setengah binatang atau Ras Binatang. Ada berbagai macam, tapi ciri-ciri yang paling menonjol adalah ekor dan telinga mereka.


“Biasanya sih 10 sampai 15 koin perak saja, tapi karena kita akan memesan Kapal yang cukup besar dan cepat, biayanya akan lebih mahal lagi.” Wask menjawab sambil melihat-lihat kantung uangnya.


“Begitu, ya... Biar aku yang membayar semuanya.” Zeyn merogoh ke dalam tasnya, tetapi dia tak merasakan kantung uang miliknya. Dia memeriksanya dengan sedikit panik tetapi kantung miliknya itu tak kunjung ketemu.


“Hilang.....”


“Hah? Apanya yang hilang, Tuan?”


Zeyn menoleh ke samping, melihat seekor hewan kecil yang mirip seperti monyet membawa sebuah kantung, yang dia yakini adalah kantung uang miliknya.


“Pencuri kecil sialan!!” Zeyn tanpa pikir panjang langsung berlari mengejar pencuri kecil itu.


“H-Hei! TUANNN!!!”


Menggunakan ‹Blut Vene›, Zeyn meningkatkan kemampuan fisiknya pada kakinya sehingga meningkatkan kecepatan larinya. Dia berhati-hati agar tidak kehilangan keseimbangannya dalam kecepatannya ini, sambil memperhatikan pencuri kecil yang berada di depannya.


“Sial! Hewan itu benar-benar mirip seperti monyet!”


Hewan kecil itu membawa kabur uangnya, menaiki kotak-kotak kayu untuk mencapai atas atap rumah dan terus berlari menjauhi kejarannya. Zeyn tidak menyerah dan tetap mengikutinya dari bawah sambil menghindari orang-orang yang berlalu-lalang.


Terlalu sulit mengejar hewan itu sambil menghindari orang-orang yang berlalu-lalang, jadi Zeyn mengikuti cara hewan itu naik ke atap dengan menggunakan kotak-kotak kayu dan melakukan parkour sederhana.

__ADS_1


Karena tubuh kecilnya dan ‹Blut Vene›, Zeyn lebih lincah dan cepat dari hewan itu. Mereka melewati dari atap ke atap lainnya, melewati kerumunan di bawah mereka, sampai jarak antara Zeyn dengan hewan itu cukup dekat.


“Kena kau!”


Namun, hewan itu menggunakan ekornya untuk menghentikan lajunya dengan cara mengaitkan ekornya di cerobong asap. Sementara Zeyn terus bergerak dengan kecepatan tinggi, tidak bisa berhenti secara tiba-tiba seperti hewan itu.


Zeyn terkejut, lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa di depannya sudah tidak ada lagi bangunan ataupun daratan, melainkan lautan biru yang dalam dan jurang.


“Sial.”


Zeyn terjatuh, dia akan terjatuh ke laut. Tetapi, seseorang menangkap kakinya, dia datang di saat yang tepat.


“Apa Anda baik-baik saja, Tuan?”


“Huft... Terima kasih, Yhwach.”


Orang itu adalah Yhwach, datang untuk menyelamatkannya. Zeyn ditarik ke atas olehnya, melihat dirinya dengan seksama. Tapi Zeyn langsung mencari pencuri kecil tadi yang hampir menenggelamkannya.


“Hewan itu...!” Ternyata hewan tersebut sudah kabur lagi dari jangkauannya.


“Yhwach, lemparkan aku ke arah hewan itu!”


“Hah? Tapi, Tuan–”


“Cepat!”


“Baiklah...” Permintaan Tuannya adalah kewajiban bagi Yhwach. Jadi, ia tanpa ragu sedikitpun mencengkram kerah belakang baju Zeyn dan dengan kekuatannya, ia melempar tubuh Zeyn.


Zeyn melesat dengan begitu cepat, sangat cepat dan mendekati hewan itu. Dia hampir tidak bisa memposisikan dirinya saat di udara, tetapi untungnya dengan refleknya dia bisa menangkap pencuri kecil itu.


Kemudian, dia mendarat di tanah dengan selamat, terseret beberapa meter ke depan untuk menghentikan kecepatannya yang diakibatkan oleh kekuatan fisik Yhwach yang begitu luar biasa kuat.


Tapi, hal ini justru membuat Zeyn menjadi pusat perhatian dadakan karena aksinya yang sangat mencolok. Apalagi, dia berada di tengah kerumunan manusia-manusia yang sedang beraktivitas, jelas sangat menarik perhatian orang-orang.


“Ahaha...” Zeyn menunduk-nunduk dengan senyum getir, lalu pergi ke tempat sepi sambil membawa pencuri kecil itu dalam pelukannya.


“Lepaskan, hewan sialan!!” Zeyn menarik paksa kantung uangnya yang dicengkeram sangat erat oleh hewan itu, pada akhirnya hewan itu tidak bisa memenangkan adu fisik yang terpaut begitu jauh dari Zeyn.


Zeyn melempar hewan itu dengan penuh rasa kesal, tidak mempedulikan hewan itu yang menghantam tanah dengan ekspresi kesakitan. Bagaimanapun, mencuri memang tidak baik dan Zeyn tidak perlu memberi rasa kasihan pada hewan yang mencuri uangnya.


“Win!!”


Saat Zeyn hendak pergi meninggalkan semua apa yang terjadi, dia tiba-tiba menoleh ke belakang, melihat seorang bocah yang lebih muda darinya sedang mengkhawatirkan pencuri kecil tadi.


“Oi..”


“..!! A....” Bocah itu tersentak, menatap Zeyn dengan rasa takut.


“Apa kau.. pemilik hewan tak sopan itu..?” Zeyn berbalik, menghadap bocah itu dan berdiri tepat di depannya.

__ADS_1


“Aku....” Bocah tidak bisa berkata-kata saking takutnya, melihat sosok Zeyn berdiri dihadapannya begitu mengintimidasi, yang terlihat dari bawah karena dia sedang memeluk hewannya.


Namun, tatapan dari sosok Raja Quincy yang berdiri di belakang Zeyn saat ini, membuat bocah itu bergetar hebat, merasakan aura intimidasi yang diarahkan kepadanya.


__ADS_2