
“Yah, itu sudah sewajarnya, Tuan Geiur dan Nyonya Vierra. Tidak akan ada yang mau dengan gadis cacat sepertinya. Sudah cacat, tidak berguna juga. Mana ada yang mau.”
‘Hah?’ Zeyn terkejut dengan perkataan Ibunya Charlotte, bahkan saudara-saudari nya tidak berempati, justru tersenyum senang dan menyetujui makian tersebut.
“Tidak dengan Charlotte, tetapi bagaimana dengan Melles, Tuan Muda Zeyn? Dia sangat cantik dan sempurna, sangat cocok dengan Anda.”
Gadis seusianya yang dipanggil Melles, berjalan mendekati Zeyn dan menunduk hormat. Tapi Zeyn justru sangat muak dan langsung tidak suka dengan Melles, karena aura yang dipancarkan Melles sangatlah busuk dan tak menyenangkan.
“Nyonya Tie, Anda terlalu berlebihan berkata seperti itu pada Charlotte.” Ucap Geiur.
“Tidak, tidak, Tuan Geiur. Charlotte memang cacat, mungkin saat ini dia sedang memaksakan dirinya untuk berjalan, berdiri saja dia saat ini pasti sudah gemetaran. Bahkan dia tidak bisa menggunakan Sihir, seekor kadal saja paling tidak bisa memuntahkan bola api.”
Mendengarnya, Geiur menggelengkan kepalanya sambil mendesah kecil, menatap Zeyn dan menunggu jawaban dari tawaran yang diberikan Tie, Ibunya Charlotte.
“Saya Melles, Tuan Muda. Saya akan sangat senang jika And—”
“Tidak.”
“Hah? A-Apa maksudnya, Tuan Muda?”
“Aku menolak pertunangan. Sudah kubilang bukan sebelumnya?”
“T-Tapi, Tuan, bagaimana kalau Melles tinggal di sini selama sebulan seperti Charlotte?! A-Anda pasti akan tertarik dengan Melles. Selain cantik, Melles juga pintar merawat. Anda pasti senang!”
"Hmm... Ya, aku tertarik!”
"Ya! Kalau begitu, Melles—”
“Maksudku, aku tertarik dengan Charlotte. Bukan Tunangan, aku ingin menjadikan kekasihku. Lalu setelah kita dewasa, ya langsung merayakan pernikahan saja.”
“!!!”
Jelas terkejut. Kalimat itu keluar dari seorang bocah yang bahkan belum mempunyai bulu ********, berani-beraninya ingin mengambil tanggung jawab seorang gadis. Jelas membuat mereka sangat terkejut.
Namun, ini adalah dunia para Bangsawan, terlebih lagi ada perbedaan tradisi dan budaya di dunia ini dengan Bumi. Makanya Zeyn berani berkata demikian, selain dia sadar bahwa keluarganya cukup kaya, dia juga sadar kalau dia mempunyai kekuatan super.
Zeyn sangat mengingat ucapan 'suara pria misterius' itu, yang memberikannya kekuatan. Tapi mungkin setelah melewati kegilaan itu,...
__ADS_1
‘Apa aku sinting, ya?’
“A-Apa Anda sinting, Tuan Muda?! Gadis cacat sepertinya! Gadis sepertinya—” Melles seketika emosi.
‘Dia mengatakannya juga!’
“Hah? Apa maksudnya sinting? Kau menghinaku!?!” Zeyn berekspresi begitu dingin dengan nada bicara seolah akan menerkam Melles di depannya.
“B-B-Bukan begitu, Tuan Muda...” Melles langsung gemetar ketakutan.
“Intinya itu saja! Aku tidak mau bertunangan, aku mau Charlotte menjadi kekasihku! Begitu!”
“...” Tie dan saudara-saudari Charlotte tak berkata-kata.
“Sudah, kan? Kalau begitu, kalian bisa pergi dari sini. Urusan selesai dan aku ingin cepat-cepat makan siang.”
“Khhrrr...” Tie sangat kesal, dia benar-benar kesal dan sangat marah. Tapi dia tetap pergi dari sana, ada Pelayan yang menunggunya dan mengantarnya pulang.
*Brak*
“Semuanya baik-baik saja, Charlotte. Kamu tidak perlu menahan diri lagi.” Vierra mendekati Charlotte dan memeluk dengan penuh kasih sayang tubuh kecil Charlotte.
Seketika Charlotte menangis, merasa senang dan lega. Geiur hanya bisa tersenyum melihat Vierra yang sangat akrab dengan Charlotte, tapi yang membuatnya lebih senang dan terkejut adalah.. Zeyn saat ini.
“Sejujurnya, Ibunda agak terkejut, loh.” Ucap Vierra.
“Apanya?”
“Pengakuanmu. Ibunda kira kamu benar-benar mau menyetujui hubungan dengan Melles, tapi tak disangka kamu memilih Charlotte, bahkan ingin menjadikannya Istri. Kyaa~!! Ibunda sangat senang sekali!”
“...”
“Sepertinya genetik Ayahmu mengalir deras di dalam tubuhmu.”
“Ayahanda..?”
“Fufufu... Dulu, dia juga begitu. Tanpa ragu-ragu langsung mengajukan proposal pernikahan di depan Kakek dan Nenekmu, Zeyn. Bahkan sampai saat ini, dia tidak berubah, dan genetiknya mengalir ke anaknya.” Vierra tersenyum senang dan menatap Geiur, tapi Geiur menatap ke arah lain seolah tidak mau mendengarkan.
__ADS_1
‘Serius..? Dia tidak punya malu, ya... Ya, aku juga tadi begitu sih. Untunglah semuanya baik-baik saja. Tapi... Emosi anak-anak memang tidak stabil dan gampang terpengaruh, ya.’
Zeyn menggelengkan kepalanya, tapi setelah itu, sebuah layar tipis muncul di hadapannya. Dia sangat mengenal layar seperti ini, meskipun dia melihatnya di ponsel saja, tapi dia jelas tahu apa artinya ini.
[ Nama : Zeyn Leonardo ]
[ Umur : 10 Tahun ]
[ Ras : Manusia (mungkin) ]
[ Kemampuan : - ]
[ Keahlian : - ]
[ –Anda mendapatkan 1 Tiket Pemanggilan– ]
[ –Ingin digunakan sekarang?– ]
[ Ya ] [ Tidak ]
Untuk beberapa saat, otak Zeyn harus memahami situasinya. Siapa sangka hal yang sewaktu dulu pernah dia tonton di layar ponselnya, benar-benar terjadi di hadapannya saat ini. Sebuah keajaiban!
‘Tidak, tidak. Seharusnya aku lebih terkejut dan histeris ketika mengetahui fakta bahwa aku hidup kembali di sebuah dunia yang berbeda. Itu lebih keajaiban, bukan.’
‘Ya! Waktunya mengadukan keberuntungan!’
[ –...– ]
[ –...– ]
[ –...– ]
[ –...– ]
[ –...– ]
[ –Anda mendapatkan...– ]
__ADS_1