Perfect Last God

Perfect Last God
Again - Ch : 15


__ADS_3

“Bisakah kau memberitahu apa yang terjadi?”


“Ah. Apakah kau tidak tahu sebelumnya?”


“Makanya aku bertanya. Kenapa kau dianggap jijik...”


“Itu adalah ajaran Agama di Kota ini. Kasta kami adalah yang paling rendah, bahkan lebih buruk dari kotoran. Seharusnya aku tidak ada di tempat ini..”


“Agama? Apa-apaan itu... Mendiskriminasi orang-orang, disebut ajaran dari Agama? Dewa benar-benar bodoh jika mengajarkan cara mendiskriminasi sekumpulan orang tidak berdaya.”


“Ehh... Ya, aku setuju. Tapi jika orang-orang mendengar apa yang kau katakan, mereka pasti akan menggantung kau di tengah Kota.”


“Siapa peduli. Katakan, dimana orang-orang seperti dirimu berada?” Tanya Zeyn.


“Ikuti aku..”


Zeyn setuju untuk mengikuti Lui, lagian dia juga penasaran dengan diskriminasi yang ada di Kota ini.


Selama berjalan mengikuti Lui, Zeyn bertanya-tanya tentang Kota ini dan Agama yang ada di sini. Lui menjawab setiap pertanyaannya, dari jawabannya, Kota ini menganut ajaran Bari, sebuah Agama yang dibentuk sejak ratusan tahun yang lalu.


Awalnya, Agama tersebut memang tidak mendiskriminasi kaum apapun, sampai suatu saat seorang Pemimpin membuat atau mengubah alirannya. Sejarah ini dihapus, dengan kata lain para Pemimpin Agama ini memang dalang dari semua kejahatan diskriminasi terjadi.


Orang-orang tidak akan mengetahui hal ini, tetapi Kaum Yal yang didiskriminasi mengetahui kebenarannya. Mereka mewarisinya secara turun-temurun, sehingga anak cucu mereka tahu bahwa Kaum mereka memang tidak bersalah dan menjadi sebuah alasan untuk mereka hidup tanpa rasa bersalah.


Sayangnya mereka tidak bisa membela diri mereka dengan fakta ini, karena bagaimanapun juga mereka dikucilkan dan dianggap yang terendah, jadi apapun yang mereka katakan layaknya seekor tikus yang mendecit.


Mereka dibiarkan begitu saja, dikucilkan oleh orang-orang di Kota ini selama puluhan tahun. Oleh karena itu, para Pemimpin ingin menolong mereka atau memanfaatkan mereka untuk bekerja dengan upah yang sangatlah kecil.


Mereka dibuatkan sebuah tempat bagi para Kaum Yal yang didiskriminasi, tempatnya dekat dengan sebuah Pabrik Kota ini.


“Inilah.. tempatnya..”


Seperti yang Zeyn duga, tempatnya benar-benar buruk dan kotor. Banyak sekali orang-orang yang sedang tidur kelelahan di jalanan bahkan terlihat seperti mayat-mayat tak terurus.


Mereka berjalan sebentar, sampai di sebuah gubuk kecil. Lui langsung masuk ke dalam, diikuti oleh Zeyn.


Saat memasuki gubuk tersebut, sebuah bau busuk langsung menyengat hidung Zeyn, yang membuatnya harus menutup hidungnya. Tetapi, Lui tidak seolah-olah sudah terbiasa, dan Lui duduk di dekat seorang wanita yang terkapar tidak berdaya.


Wanita itu hanya dilapiskan kain saja. Zeyn bisa melihat jelas bahwa kulit wanita tersebut terpapar sebuah penyakit, menyebabkan tubuhnya lemah dan juga menghasilkan aroma tak sedap, belum lagi wanita tersebut benar-benar kurus.


“Ini kakakmu?” Zeyn berjongkok, melihat lebih jelas wanita tersebut.


“Yah.... Kakak, bagaimana keadaanmu?” Lui menggenggam tangan kakaknya dengan erat.


Wanita itu tidak menjawab, hanya mengangguk dengan lemas, lalu dia melirik ke arah Zeyn dengan tatapan penasaran seolah bertanya siapa yang dibawa oleh Lui ke sini.


“Kakak, jika kamu merasa sesuatu, katakan saja. Aku mempunyai uang untuk membeli obat.”


Zeyn melirik ke arah Lui, dia menghela nafas saat Lui mengatakan kebohongan itu. “Kakakmu terkena penyakit apa?” Tanyanya.


“Penyakit yang disebabkan oleh laut. Ini penyakit yang biasa bagi kami yang tinggal di dekat laut, tapi penyakit ini semakin parah jika dibiarkan. Kakakku.. selama dua tahun terus menahan penyakit ini, tidak ada yang selama dirinya bertahan dari penyakit ini..”


“Begitu, ya... Jika kau bisa merampok uangku, kenapa kau tidak merampok saja obat untuk Kakakmu?”


“Jika bisa, maka akan sudah kulakukan sedari dulu. Tapi obat untuk penyakit ini, harus dibuat langsung setelah kita memesannya, dan harus hati-hati membawanya atau obat itu akan bereaksi.”


“Bereaksi? Seperti.. mengeluarkan gelembung dan muncrat keluar?”


“Ya, seperti itu... Kau tahu?”


“Ahh, ya. Setidaknya ada minuman yang sama seperti itu.” Zeyn langsung mengingat soal Cola.


“Minuman seperti apa itu?”


“Itu tidak penting. Lebih penting, apa kau akan membiarkan Kakakmu begitu saja?”


“Tentu saja tidak! Selama ini aku berjuang untuk membelikannya obat, tapi... seperti yang sudah kukatakan, pendapatanku dari bekerja saja tidak cukup...”


“Jadi untuk itu kau merampok? Sudah berapa kali?”


“Itu.. karena aku terpaksa keadaan. Aku sudah melakukannya berkali-kali.. dan selalu gagal.”


“Hah? Kau bercanda...” Zeyn merasa bahwa bocah itu memang benar-benar bodoh. “Jika kau terus gagal, mengapa kau masih melakukannya?” Tanyanya.


“Bukankah aku tadi sudah bilang! Itu karena keadaannya!”


“Meski gagal, kau tetap terus melakukannya. Jadi itulah mengapa kau bilang kalau dilaporkan kepada para Penjaga atas tindakanmu sudah menjadi makanan sehari-hari... Sekarang aku mengerti.”


Zeyn menghela nafas panjang, menatap bocah itu. “Mungkin aku sudah tahu kenapa kau selalu gagal...” Ucapnya.


“Kenapa..?! Apa kau tahu sesuatu?!”


“Ya...” Zeyn melihat kondisi Kakaknya Lui yang sangat memprihatinkan. “Kau bukannya tidak bisa, tapi tidak mau... Kau dipaksa oleh keadaan, jadi dalam lubuk hatimu kau tidak mau melakukan tindakan kriminal seperti itu...”


“A–Aku mau melakukannya! Makanya aku nekat merampok! Melakukan tindakan kriminal hanya demi Kakak!”

__ADS_1


“Seseorang pernah mengatakan padaku, ‘kalau melakukan sesuatu secara setengah-setengah, hasilnya tidak akan pernah memuaskan’. Kau ragu dan tidak tahu apa-apa karena dipaksa oleh keadaan. Itulah penyebabnya.”


“...” Lui terdiam, merasa bahwa apa yang diucapkan Zeyn memang sebuah kebenaran. Meski dia tidak berpikir demikian, tapi dia tidak berani membantahnya karena.. dia merasa ragu.


“WOYYY!!!!”


Teriakan seseorang yang sangat berisik dan mengganggu datang dari luar gubuk.


Zeyn melirik ke belakang, melihat seorang pria dengan wajah tak menyenangkan datang berkunjung ke gubuk tua ini.


Dengan kata lain, ada tamu tak diundang dengan cara yang tidak sopan tiba-tiba saja datang dan membuatnya merasa kesal. Padahal dia baru saja ingin mengucapkan beberapa kata lagi untuk menyadarkan Lui.


“Bocah, akhirnya aku menemukanmu! Sialan! Kau membuatku berkeliling seperti orang bego seharian ini!”


“Hii!!!” Lui seketika ketakutan, tapi entah karena nalurinya atau apa, dia tetap berdiri di depan Kakaknya seolah ingin melindunginya.


“Cepat! Berikan uangnya! Aku tak mau lama-lama di sini!” Preman itu merasa marah, lalu menutupi hidungnya. “Bau sekali! Kau tahu, wanita ****** itu benar-benar membuatku ingin muntah sekarang juga! Inilah alasan aku lebih memilih bertemu denganmu di luar. Sangat menjijikkan!”


Pria itu.. atau preman itu terlihat sangat arogan dan seolah paling berkuasa. Lalu matanya melirik ke arah Zeyn. “Hoho, apa kau salah satu teman bocah brengsek itu? Kau pastinya punya uang, kan? Berikan padaku!!” Ucapnya dengan nada arogan.


“Hei, Paman... Apa kau tahu penyebab penyakit yang diderita oleh wanita itu? Aku penasaran.” Zeyn dengan santai justru malah bertanya kepada pria itu.


“Kenapa kau malah bertanya?! Berik–”


“Aku akan memberikanmu uang jika kau menjawab pertanyaanku. Itu saja..” Zeyn memperlihatkan kantung dan menggoyangkan sehingga menghasilkan bunyi khas koin.


“Hahaha, ternyata kau pandai bernegosiasi.”


“Ya. Jadi katakan... Aku penasaran.”


“Penyakit seperti itu sudah wajar, bocah tolol. Yang tidak wajar darinya, adalah sudah berapa lama dia menderitanya. Dia tidak cukup uang untuk membeli obat. Hahaha! Sayang sekali. Padahal saat masih sehat, aku sering membuatnya tak berdaya di kasur.” Preman itu tersenyum bangga sambil merendahkan kakaknya Lui.. sekali lagi.


“Hoohhhh... Jadi kau pernah menggunakannya?”


“Tentu saja! Aku menggunakannya bersama kawan-kawanku. Bwahahahaha! Dia adalah ****** paling murah yang pernah kusewa, jadi aku tidak akan ragu-ragu untuk membayarnya. Hahahaha!” Pria itu tertawa dengan bejat, merasa bangga dengan apa yang dia lakukan.


“Hei, apa itu temanmu, Paman?” Zeyn menunjuk ke arah belakang Preman itu.


Preman itu berbalik, ternyata memang benar ada temannya. “Hoi, dasar bodoh! Kemari!” Dia memanggil temannya dengan nada kasar juga.


“Hei, apa kau sudah mendapatkan uangnya?”


“Belum! Kau juga harus memeriksa bagian sana! Aku akan mengambil bagian ini.”


“Baiklah.” Temannya ingin pergi, tapi Zeyn menghentikannya.


““Hah?”” Mereka menatap Zeyn seperti orang bodoh.  “Ya! Tentu! Kenapa, hah?” Salah satu dari mereka menjawab dengan cara yang tidak menyenangkan.


“Tidak..”


“..Oleh karena itu, bocah.. bisa berikan uangmu? Atau tidak, kau akan bernasib sama seperti orang-orang yang pernah kupukuli.” Kini Pria itu mengancam Zeyn.


“Wihhhh! Aku jadi takut. Merinding. Lihat! Sebentar lagi aku akan mengompol! Aku benar-benar takut!” Zeyn tersenyum main-main ke arah kedua Preman itu.


“Bocah brengsek! Apa kau main-main denganku!?!”


“Tidak. Tapi.. apa kau tahu hal yang lebih menakutkan dari semua ini?”


“Hah? Apa yang ka–”


Aura kebiruan secara perlahan mulai terlihat bersinar di sekeliling Zeyn, membuat yang lain terkejut. Zeyn tersenyum simpul, berjalan mendekati mereka dan menatap mereka dengan seksama.


“Kenyataan adalah hal yang sangat menakutkan.


BAAAAMMMM!!!!


Tubuh kedua Preman itu terpental ke belakang, begitu kuat dan cepat, menabrak barang-barang di belakang mereka hingga hancur lebur.


“.. Kenyataannya kalian adalah sebutir keberadaan tak berguna di alam semesta, lemah dan tak berdaya. Tetapi, kalian yang sudah dibutakan oleh kekuasaan tidak akan pernah mengerti posisi kalian. Manusia yang bodoh adalah yang tergoda oleh kekuasaan mereka sendiri, membuat mereka lupa bahwa kalian hanyalah satu dari banyaknya nyawa tak berdaya yang bisa dihancurkan kapanpun.”


Zeyn berjalan mendekati mereka, yang saat ini sedang ketakutan melihat seorang bocah dengan aliran darah tubuhnya bersinar berwarna biru, perlahan-lahan mendekati mereka.


“Aku membencinya...”


Zeyn memukul kepala salah satu dari mereka hingga pingsan, menyisakan satu orang lagi yang masih sadar dan ketakutan. Dia mencengkram kepala pria di depannya dengan sangat-sangat kuat, bahkan wajah pria itu memerah seakan-akan akan hancur sebentar lagi.


“Kenyataan adalah hal yang sangat menakutkan, membuatmu menggila di dalamnya sampai-sampai kau berpikir harus bunuh diri saat itu juga. Tapi lebih menakutkannya lagi, kau harus menerima kenyataan itu. Kau hidup di dalamnya.”


“RGHHAAKKKKGGHHHHHHHHKKKKKK!!!!!!!”


Seolah tanpa moral, Zeyn membuat pria itu sangat-sangat kesakitan saat ini. Pria itu berteriak, tangan dan kakinya meronta-ronta sambil berusaha melepaskan cengkraman Zeyn dari kepalanya, tetapi justru cengkraman itu semakin menguat.


“Mengapa keberadaan seperti kalian tidak mati saja!”


[ "Kau yang seharusnya mati, KEPARATTT!!!!" ]

__ADS_1


“Ap...” Zeyn langsung melepaskan cengkeramannya dari kepala pria itu.


Cengkeramannya yang amat sangat kuat membuat kepala pria itu memerah, hidungnya mengeluarkan darah dan bahkan dari matanya hingga telinganya mengeluarkan darah. Pria itu terbatuk-batuk, mengeluarkan darah juga...


“Haaahhhhh.... Haaaahhhhh.... Haaaahhhhh...” Nafas Zeyn menjadi tidak teratur, dia melihat telapak tangannya dengan tatapan ngeri dan ketakutan.


‘Suara siapa?’ Zeyn memegang kepalanya dengan kedua tangannya, seolah-olah ada yang salah dengan kepalanya.


‘Apa-apaan ini....!’


“Yhwach, kuserahkan sisanya padamu...”


Tanpa berkata apa-apa, sesosok bayangan melesat hebat melintasi mereka, seketika memotong-motong kedua tubuh manusia di depan Zeyn layaknya sedang memotong sayuran, rapih dan... kecil.


Bayangan itu berhenti di depan Zeyn, perlahan-lahan menjadi jelas bahwa itu adalah Yhwach.


“Anda baik-baik saja, Tuan?”


“Ya...... Kupikir begitu....” Zeyn menyentuh wajahnya, lalu menghela nafas.


Setelah merasa lebih tenang, Zeyn menatap mayat tak berbentuk di depannya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia jauh lebih santai saat melihatnya dan.. menjadi lebih tidak peduli.


“Lui!”


“Y–Ya!”


“Kemarilah...”


Meskipun takut dan ragu, Lui memilih untuk tetap bergerak mendekati Zeyn. Dia benar-benar ketakutan, terlihat jelas kalau kedua kakinya bergetar tak karuan, ekspresi wajahnya yang takut dan pucat.


“Lui... Aku bukan orang baik... tapi.....” Zeyn mengambil beberapa koin emas dari kantungnya, memberikannya pada Lui.


“Ini... Ini terlalu banyak! K–Kenapa kau memberikannya padaku..?”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa aku harus memberikan ini padamu. Sesuatu membuatku ingin memberikannya padamu.”


“Itu aneh.”


“Benar. Sangat aneh.”


“Lui..” Zeyn menepuk-nepuk kepala bocah yang lebih pendek darinya itu. “Jika tidak ada orang baik yang memperlakukanmu baik, bahkan jika tidak ada orang baik, aku berharap kau bisa menjadi salah satunya..”


“Orang baik..?”


“Semua kekosongan yang gelap harus ada sebuah cahaya harapan bagi orang-orang.”


“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan..”


“Aku juga tidak. Tapi intinya.. jadilah seorang yang memberikan harapan bagi orang-orang.”


“Mengapa kau mengatakan itu padaku?”


“Entah. Hanya ingin saja..”


Setelah berkata demikian, Zeyn berjalan perlahan-lahan menjauhi gubuk dan Lui. Dia merasa.. sesuatu yang hebat akan terjadi, membuat langkah kakinya menjadi berat.


“Kakak!!”


‘Dia memanggilku.. kakak?’ Zeyn berbalik melihat Lui. ‘Ini pertama kalinya dia menunjukkan kesopanan.’ Zeyn tersenyum saat berbalik melihat Lui.


“Jika kita dipertemukan lagi suatu saat nanti, aku akan memperlihatkan sebuah cahaya! Kau terlalu gelap!”


“Terlalu gelap? Apa maksudnya itu? Hahaha...”


“Entah. Kupikir cukup keren untuk kuucapkan!”


“Jangan menjadi orang bodoh di masa depan!”


Zeyn pergi meninggalkan tempat kotor itu dengan perasaan rumit tetapi juga lega pada saat yang bersamaan. Agaknya, dia seperti diikuti sesuatu, sebuah hal yang akan menjadi bayang-bayangnya dan menghantuinya.


“Yhwach, apakah menurutmu... Aku berubah..?”


Yhwach menatap Tuannya dengan tatapan senang dan senyum simpul. “Ya. Sejak pergi, Anda sudah banyak berubah.” Jawabnya.


“Begitu, ya...”


“Terlalu banyak hal yang dipikirkan, memang tidak baik, tapi juga tidak ada salahnya. Tidak ada salahnya juga Anda berubah. Bagi manusia, justru perubahan adalah hal yang penting. Terakhir kali Saya melihat perubahan manusia, adalah saat-saat terakhir dimana manusia setengah malaikat maut membelah Saya menjadi dua.”


“Ah... Aku tahu apa yang kau maksud.” Zeyn jelas tahu seorang pria bernama Ichigo berhasil membelah Raja Quincy ini. “Tapi... Yah, benar juga. Perubahan memang penting. Justru akan aneh jika aku tidak berubah setelah apa yang aku alami.”


Zeyn mengingat bagaimana dirinya tiba-tiba berkhayal melihat seorang bocah yang membunuh ratusan nyawa dengan tangannya sendiri, dicekik oleh tubuhnya sendiri, lalu dia kembali dari khayalannya itu. Semuanya terasa sangat nyata...


Zeyn tidak tahu mengapa dirinya berubah begitu cepat setelah mengalami hal itu, emosinya menjadi tidak stabil, tetapi dia menganggap bahwa itu wajar karena dia masih dalam tahap perkembangan...


Tapi alasan itu adalah alasan untuk menyembunyikan kebenaran tentang kekhawatirannya.

__ADS_1


‘Sangat buruk.’


__ADS_2