Perfect Last God

Perfect Last God
Afraid - Ch : 11


__ADS_3

Zeyn berkeliling di Kota, sambil menikmati setiap gigitan dari buah yang dia beli tadi di salah satu Penjual. Entah itu buah apa, tapi segar dan manis, tekstur nya pun lembut sehingga menjadikan buah ini buah kesukaannya.


Setelah melihat beberapa tempat, bisa dibilang Kerajaan ini sangat teratur dan rapih. Ada beberapa Distrik di Kerajaan ini, tapi sejauh ini yang Zeyn tahu hanyalah Distrik hiburan dan tempat perbelanjaan.


Pasar sangat lah ramai, begitu juga dengan Distrik hiburan. Zeyn tidak mau ke sana, dia ingin mencari tempat yang tenang dan juga jarang dilewati orang-orang.


Dia mengikuti sungai yang lumayan panjang, ada juga alat semacam turbin air yang fungsinya mengaliri air ke persawahan. Pemandangan yang dia lihat sekarang berbeda dari yang tadi.


Sekarang hanyalah kedamaian. Angin yang bertiup, suara dari binatang kecil yang bersuara layaknya burung, membuat semuanya sempurna.


“Hmmm....?”


Meski kecil dan jauh, tetapi Zeyn bisa mendengar suara.. suara pertarungan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, jelas membuat Zeyn penasaran dan ingin menghampirinya.


Melewati jalan sebelumnya, dia melihat ke salah satu rumah.. satu-satunya rumah di dekat sini. Dari dalam memang terdengar suara adu pedang yang berisik.


Zeyn mendekati rumah tersebut sambil meletakkan tangannya di pedangnya, bersiap jika sewaktu-waktu ada serangan tiba-tiba dari dalam. Secara perlahan tapi pasti, langkahnya tidak terdengar dan berhasil mendekati rumah tersebut.


“Tidak ada jendela ataupun celah untuk bisa melihat ke dalam. Sial... Kalau begini, harus dari pintu juga ujung-ujungnya.”


BOOM!


Sebelum Zeyn bergerak ke pintu, pintu tersebut sudah terbuka dengan sendirinya... Atau lebih tepatnya hancur dan mengeluarkan seorang pria tanpa kepala, lebih tepatnya lagi sebuah mayat yang masih segar.


“Sialan! Gara-gara pria ini, misi kita hampir gagal!”


Seorang pria yang masih hidup, si pembunuh itu keluar dari dalam dengan ekspresi marah. Dia menendang-nendang mayat di depannya dan membuang ludah ke mayat tersebut.


“Ayo! Setelah ini, kita akan sel...le...sai.....” Pembunuh itu memasang wajah tak menyenangkan ketika menoleh ke samping.

__ADS_1


Zeyn tersenyum kaku dan melambaikan tangannya. “Ah, halo. Selamat siang. Aku tidak melihat apapun barusan. Sungguh. Percaya lah. Jadi biarkan aku pergi dari sini, ya.” Ucapnya dengan polos.


“Mana mungkin aku akan percaya, bocah!!!”


Pria itu menarik sebuah rantai, diujung rantai tersebut terikat sebuah bola baja berduri yang sangat tajam dan kuat. Tanpa ragu sedikitpun, pria itu mengayunkan bola berduri tersebut dengan kuat.


BOOMM!!


Zeyn dengan reflek monsternya langsung menundukkan tubuhnya, melompat menjauhi pria tersebut. Dia berkeringat dingin saat melihat dinding rumah seketika hancur saat menerima serangan pria itu.


‘Jika aku telat sepersekian detik saja, mungkin kepalaku sudah hancur berkeping-keping.’


Tetapi, hal yang membuatnya tidak bisa langsung menyerang balik adalah.. dia merasa mual. Sungguh mual. Ini pertama kalinya dia melihat sebuah mayat tanpa kepala yang menjijikan.


“Kecepatan yang bagus, Bocah. Selanjutnya.. apa kau masih bisa menghindarinya..? Hahaha..”


BOOMM!!!


“Kau bahkan bisa menghindari yang itu, ya!”


Zeyn berkeringat dingin, bukan karena takut tetapi karena ragu. Meskipun dia sudah pernah melihat monster terbunuh jelas di depan matanya dan bahkan membunuh monster itu sendiri, tetapi melihat mayat manusia adalah hal yang berbeda.


Dia adalah manusia, dan melihat sesamanya dibunuh dengan cara yang kejam, sudah jelas membuatnya mual bukan main. Dia ingin muntah, tapi juga tidak. Dia ingin kabur, tapi kakinya tidak bergerak. Dia ingin melawan, tapi hatinya bimbang.


“Buahahahaha!! Apa kau akan mengompol, Nak?! Hahahaha! Lihat. Kau ketakutan!”


Pria itu dan kawan-kawannya tertawa melihat Zeyn yang terdiam. Salah satu dari mereka menghunuskan anak panah, menembakkannya ke arah Zeyn yang penuh kelengahan.


Mereka berpikir panah itu akan langsung mengenainya, tapi.. tidak.

__ADS_1


KRKK!


Anak panah itu patah di udara ketika sebuah energi Reishi biru mengenainya. Semua orang terkejut, tapi lebih terkejut lagi mereka saat sadar bahwa Pria yang membawa bola berduri tajam tadi tiba-tiba menghilang, hanya menyisakan noda darah dengan organ-organ dalam manusia.


Di atas noda darah itu, berdiri seorang Pria tua yang memegang sebuah Pedang bercahaya biru yang menyilaukan. Pria tua itu menginjakkan kakinya ke tanah kuat-kuat, meluncur dengan kecepatan penuh.


SHSSSHHHH!!!


Semua orang tidak bisa bereaksi sama sekali dengan kecepatan itu, seolah level mereka pada tahap yang berbeda. Pria tua itu berhasil mencincang tubuh mereka dengan cepat dan sempurna tanpa kesulitan.


“Jika kalian mempunyai waktu untuk mengatakan sesuatu, lebih baik memohon maaf kepada Tuanku atas apa yang kalian lakukan tadi..”


Yhwach menyarungkan Pedangnya kembali, meletakkan ke tempatnya. Dia menatap mayat tak berbentuk dengan tatapan menghina.


“Apa Anda baik-baik saja, Tuan?” Yhwach mendekati Zeyn dan melihat kondisinya.


“Ah... Ya.. kurasa. Terima kasih, Yhwach..”


“Tidak perlu berterima kasih. Sudah tugas Saya untuk melindungi Anda. Seharusnya, Saya meminta maaf karena datang lebih lambat..”


“Tidak, tidak. Kau datang di saat yang tepat.” Zeyn memegang kepalanya dan melihat mayat-mayat penuh darah di depannya.


“... Anda masih perlu beradaptasi untuk hal-hal seperti ini. Hidup di dunia seperti ini.. memang menyakitkan. Tapi.. jika Anda menjadi Manusiawi di dunia yang menyakitkan seperti ini, Anda tidak akan pernah merasakan kehidupan lagi.”


“...” Zeyn menarik pedangnya keluar, berjalan menuju kepala pria yang menembakkan anak panah kepadanya tadi. Dia menusukkan pedang tajam itu ke kepala pria tersebut, langsung menembus tulang tengkorak yang keras.


“Aku akan terbiasa dengan ini...”


(A/N : Maaf karena tidak update untuk waktu yang lama. Banyak kesibukan di luar akhir-akhir ini. Lumayan sulit buat menyempatkan untuk nulis, karena setelah beraktivitas memang enaknya rebahan tidak jelas. Jadi lupa... ^⁠_⁠^)

__ADS_1


__ADS_2