
“... Tinggal lurus ke depan, kita akan sampai.”
“Baiklah.”
Dengan bantuan Charlotte, Zeyn akhirnya tahu dimana letak Perpustakaan di Mansion besar ini berada. Tapi memang tempatnya agak jauh dan paling pojok, makanya wajar jika Zeyn tidak menemukan perpustakaan.
Jika Charlotte selalu berjalan ke perpustakaan, maka akan membutuhkan banyak waktu dikarenakan kondisinya yang lemah. Zeyn agak kasihan dan merasa ingin membantunya, tapi dia belum terpikirkan cara yang efesien untuk hal ini.
Charlotte juga sempat bertanya dengan heran mengapa Zeyn tidak tahu dimana perpustakaan berada, padahal bagaimanapun juga Mansion ini secara tidak langsung adalah milik Zeyn.
Zeyn beralasan bahwa dirinya sudah lupa karena tidak pernah mengunjungi Perpustakaan lagi setelah sekian lama, dan jawabannya berhasil memuaskan rasa heran Charlotte.
“Akhirnya sampai.”
Charlotte turun dari punggung Zeyn, lalu merapihkan pakaiannya dan mencoba berdiri dengan seimbang.
“Langsung saja masuk ke dalam.” Charlotte membuka pintunya.
Ketika Zeyn masuk ke dalam, matanya melihat dengan takjub apa yang ada di dalamnya. Sebuah Perpustakaan pribadi yang besar dan banyak sekali buku di sana-sini, tersusun rapih dan bersih.
“Nyonya Vierra, Anda di sini ternyata.”
Vierra tersenyum saat melihat Charlotte yang berjalan mendekatinya. "Hmm... Bukankah sudah kubilang, jangan memanggilku begitu. Panggil saja aku 'Ibunda' seperti Zeyn.” Katanya.
“Tidak sopan bagi Saya untuk memanggil Anda seperti itu.”
“Heehhh... Kenapa tidak? Lagipula, suatu saat kamu juga akan secara resmi menjadi bagian dari keluarga Leonardo, karena telah menjadi Istri dari Putraku.”
“A–A–..!” Charlotte merasa sangat malu digoda oleh Vierra, dia langsung menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
“...” Zeyn pura-pura tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan, fokus melihat-lihat Perpustakaan yang menurutnya menakjubkan ini.
“Tapi yang lebih membuatku terkejut adalah.. kamu, Zeyn. Tidak biasanya kamu datang ke sini, atau bahkan hampir mustahil untuk datang ke sini.”
“Aku cuma bosan saja, Ibunda.”
“Ya, justru itu. Biasanya ketika kamu jenuh, kamu akan selalu ke Kamp Latihan tempat para Prajurit berlatih, ikut berlatih di sana atau terkadang mencari masalah dengan Prajurit.”
‘Ghh... Apa memang anak ini senakal itu sebelum tubuhnya kuambil alih? Sial.’ Pikir Zeyn sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku ingin mengganti suasana saja. Aku letih.”
“Ah, begitu. Baiklah.” Vierra meletakkan buku yang dia baca di meja, lalu berdiri dan mendekati Zeyn.
“Lalu buku seperti apa yang kamu cari di sini? Harap tidak membuat keributan, ya.”
“Aku tidak akan macam-macam. Kalau buku... Aku ingin mencari buku soal Sihir.”
‘Hmm..?’
Zeyn merasa bingung dan heran saat ini, melihat Ibunya dan Charlotte juga menatapnya dengan ekspresi seolah tak percaya apa yang mereka dengar.
“Kenapa..?”
“T–Tunggu, Zeyn. Apa kamu tidak sedang mengigau?”
“Hah? Tentu saja tidak. Kalian kenapa?”
“Terkejut.”
“Terkejut..? Soal apa?”
“Kamu tertarik soal Sihir.”
“Hah?”
“Dulu, berkali-kali Ibunda membujukmu untuk setidaknya sekali saja membaca buku tentang Sihir, atau cerita legenda soal Penyihir. Tapi setiap kali Ibunda melakukannya, kamu menolak dengan keras. Lebih memilih soal Pedang dan Seni Bertarung.”
__ADS_1
“...”
“Makanya Ibunda terkejut, lebih tepatnya terharu karena akhirnya kamu mau melakukannya.”
‘Yang benar saja... Apa-apaan?!’
Keesokan harinya, Zeyn dari pagi-pagi buta sudah terbangun dan melatih fisiknya. Dia berolahraga, mengayunkan pedang, push up, melatih fokusnya, dan beristirahat.
Dia berlatih di taman belakang rumahnya, yang sangat luas dan nyaman. Dia tidak ingin terlalu melatih fisiknya untuk hari ini, karena dia ingin mencoba menggunakan Sihir lagi, tapi kali ini dia juga ingin berlatih Reishi.
Yhwach akan membimbingnya dan melihat perkembangannya.
“Hmmm...” Zeyn membaca buku dari perpustakaan sambil beristirahat.
Banyak buku yang telah dia baca, soal Sihir, apa itu Sihir, sejarah, Mantra dan lain sebagainya yang bersangkutan dengan Sihir. Seperti yang diduga, Sihir sangatlah abstrak dan tidak menentu, begitu banyak jenisnya yang membuatnya sangat luar biasa.
“Tapi memang sangat merepotkan.”
Sejujurnya Zeyn sangatlah malas, berlatih, beraktivitas seperti ini, apalagi dia tidak mempunyai tujuan yang pasti untuk apa dirinya bersusah payah menjadi kuat di dunia ini, yang membuatnya tidak bersemangat.
Namun, hal yang membuatnya memiliki kemauan untuk bisa melakukan hal-hal baru seperti ini adalah.. karena dia merasa penasaran! Penasaran apa yang akan terjadi kedepannya!
“Untuk itu aku harus banyak-banyak berlatih agar siap!”
Zeyn langsung berdiri dengan semangat tinggi, menunjukkan senyumannya seakan ingin menantang dirinya sendiri. Pada saat itu juga, Yhwach muncul di sana untuk melatih Zeyn.
“Apakah Anda sudah siap, Tuan?”
“Ya! Dengan semangatku!”
“Bagus sekali. Senang melihat Anda bersemangat untuk menjadi kuat. Kalau begitu, mari kita mulai pelatihannya.”
Zeyn terengah-engah, dia berdiri sempoyongan dengan keringat membasahi tubuhnya. Banyak sekali luka dan darah yang keluar dari luka tersebut, tatapannya seolah berkata bahwa dia hampir mati, tenggorokannya kering karena tadi terus berteriak.
“Untuk seseorang yang baru saja memulai mengenal Reishi dan mencoba menggunakannya, Anda memang sangat berbakat. Mampu mengendalikannya dan langsung menggunakan salah satu Teknik Quincy yang saya kembangkan, Anda harus berbangga diri dan lebih bersemangat lagi.”
Yhwach jelas sangat senang saat ini, dia tersenyum seolah tidak melihat penderitaan Zeyn sekarang. Yhwach senang karena Tuannya mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa orang lain lakukan, dan pastinya Tuannya akan tumbuh menjadi sosok yang sangat kuat melebihi dirinya di masa depan.
Membayangkannya saja, sudah membuat Yhwach ingin berlutut hormat setiap saat kepada Tuannya tersebut.
‘Keparat! Aku bisa saja mati jika setiap hari dilatih seperti ini!’ Sementara Zeyn sudah tidak bersemangat lagi.
Tidak hanya dilatih fisiknya, tetapi Yhwach melatih mental dan roh Zeyn, sehingga membuat Zeyn sangat terbebani dan membuatnya sangat kelelahan. Bagaimanapun, sebelum dia ke sini, dia hanyalah manusia biasa, tapi tiba-tiba sudah menjalani latihan seperti neraka seperti ini...
Zeyn sangat memasalahkan cara Yhwach melatihnya seperti itu! Tetapi, dia tidak bisa protes karena harus dia akui bahwa apa yang Yhwach lakukan padanya agar membuatnya kuat, dan memang terbukti, dia cukup berkembang pesat dari sebelumnya.
"Haahhhhhh.... Biarkan aku beristirahat sejenak.”
“Saya mengerti, Tuan. Jika boleh menyarankan, lebih baik Anda berbaring dan tidur, tapi jangan sampai tertidur lelap. Anda tetap fokus untuk mengenal dan mengendalikan kekuatan Roh Anda.”
‘Bahkan istirahat pun harus berlatih, ya.’ Zeyn hanya mengangguk saja.
Dia berbaring di rerumputan hijau, menghadap langit yang sudah berwarna oranye, menandakan bahwa malam hari akan datang. Zeyn mengatur nafasnya, mencoba menenangkan pikiran dan tubuhnya saat ini.
‘Aku sangat haus. Aku tidak mau mati dehidrasi. Lebih baik cepat-cepat cari minum.’
Zeyn membuka matanya, tetapi sesaat dia membuka matanya, dia sudah berada di tempat lain, bukan di taman belakang rumahnya. Dia tidak berbaring di rerumputan tetapi saat ini tubuhnya melayang di kehampaan yang sangat dia kenali.
“Apa aku mati lagi..?”
‘Sial! Jika memang aku benar-benar mati lagi dan terkirim ke sini, aku ingin menyalahkan Kakek Tua itu yang melatihku dengan cara tidak manusiawi! Keparat kau Yhwach!!’
[ "Tenanglah, Jiwa bodoh." ]
__ADS_1
“Huh?”
[ "Aku yang memanggilmu ke sini. Kau tidak mati, kau masih hidup. Jangan menggerutu di ruang ini!" ]
Zeyn sangat mengenal suara ini. Matanya melebar ketika merasakan kehadiran luar biasa agung dan menakjubkan di hadapannya. Meski tidak jelas dan samar-samar, tapi dia bisa melihat sosok besar dan menyeramkan yang pernah dia lihat sebelumnya.
“A–Apa yang terjadi? Mengapa kau memanggilku ke sini?”
[ "Jika kau masih mempunyai kewarasan, berbicaralah dengan sopan santunmu, wahai Jiwa bodoh! Kau sedang berhadapan dengan siapa saat ini!?!" ]
“M–M–Maafkan Saya. Lantas, kenapa Anda memanggil Saya kemari?”
[ "Biar kuberi kau peringatan, Jiwa bodoh. Beberapa utusan Dewa telah datang, mereka disebut Pahlawan yang datang dari dunia lain." ]
“T–Tunggu! Mereka sama sepertiku?”
[ "Tidak. Mereka dipanggil, sedangkan kau memanggil dirimu sendiri untuk datang kemari." ]
“Apa maksudnya itu?”
[ "Pikirkan sendiri! Intinya, kau harus mengambil langkah cepat untuk membungkam mereka, jatuhkan mereka dengan apa yang kau punya." ]
“Jatuhkan? Memusuhi mereka? Kenapa..?”
[ "Kau banyak bertanya, cerewet sekali." ]
“Bukankah itu hal wajar? Bagaimanapun, Saya hanyalah orang awam yang tidak tahu menahu soal apapun di sini.”
[ "Jawaban yang masuk akal, sampai-sampai membuatku kesal karena jawabanmu memang benar. Biar kuberi tahu. Setiap dunia di seluruh kemungkinan dan alam semesta, pasti mempunyai Dewa. Masing-masing dari mereka mempunyai kekuatan maha kuasa, tapi tidak maha kuasa." ]
“Saya.. semakin tidak mengerti.”
[ "Mereka bisa disebut Dewa, tapi juga tidak. Karena pada dasarnya mereka disebut Dewa, karena mereka mewakili dunia itu sendiri agar dunia itu menjadi seimbang. Jadi, eksistensi yang kalian sebut Dewa banyak tersebar di dunia ini." ]
“Lantas, apa yang membuat Anda memerintahkan Saya untuk memusuhi utusan Dewa ini?”
[ "Aku tidak peduli dengan niat mereka baik atau tidak, ingin menjadi Pahlawan atau menjadi Penjahat kelas kakap, asalkan tidak ada hubungannya denganku, aku akan membiarkan mereka hidup. Namun, berbeda alasannya jika mereka suatu saat mengusikku." ]
“Suatu saat? Di masa depan?”
[ "Ya." ]
“Baiklah. Agaknya Saya bisa memahami niatan Anda.”
[ "Baguslah kau mengerti." ]
“Tapi sebelum ini berakhir, bisakah Saya bertanya beberapa hal yang menggangu di pikiran Saya?”
[ "Katakan. Tanyakan apapun selagi aku berbaik hati." ]
“Baiklah. Pertama-tama, Saya penasaran soal... mengapa Saya tidak bisa melihat sosok Anda dengan jelas.”
[ "Jiwa bodoh. Apa kau mengerti soal perbedaan Dimensi?!" ]
“Apa itu?”
[ "Kau mungkin sudah bisa melihat dan merasakan Dimensi ke-4, tapi selebihnya kau tidak menyentuhnya. Alasan mengapa kalian para manusia tidak bisa merasakan eksistensi Dewa yang selama ini selalu memantau kalian, karena kalian hanya berada dan melihat di Dimensi ke-3." ]
“I–Itu... Terdengar rumit.”
[ "Memang benar. Kalian bisa melihat sosok Dewa, karena para Dewa sering menggunakan dan menampakkan wujud di Dimensi ke-3 agar bisa mengobrol dengan nyaman, dengan kalian para manusia dan makhluk rendahan lainnya." ]
“Jika begitu, bukankah Anda bisa melakukannya juga?”
[ "Apa kau pikir aku adalah Dewa?" ]
“Eh..? Bukan?”
__ADS_1
[ "Bukan. Lebih tepatnya tidak. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya. Eksistensi yang kau sebut Dewa sebenarnya juga bukan Dewa, mereka hanya mewakili setiap dunia yang mereka tinggali. Artinya, mereka hanyalah makhluk yang beruntung bisa lebih kuat dan lebih tinggi dari makhluk fana seperti Manusia." ]
“...”