Perfect Last God

Perfect Last God
Little Progress! - Ch : 4


__ADS_3

‘Beberapa Anime dan serial yang kutonton, Mana adalah sumber Sihir, tapi yang paling penting untuk menggunakan Sihir adalah Imajinasi, kan. Tapi sepertinya tidak semudah itu.’


Zeyn sedang mencoba-coba menggunakan Sihir di kamarnya, karena dia terlalu penasaran dan juga bersemangat mengingat dunia yang ia tinggali sekarang adalah dunia Fantasi penuh Sihir dan Pedang.


Beberapa kali percobaan, tidak ada hasil, tetapi Zeyn jelas bisa merasakan keberadaan Mana di dalam tubuhnya. Terasa hangat tapi juga dingin, seperti air yang mengalir tetapi keras dan berat untuk dikendalikan.


Dia menyentuh dadanya sendiri, fokus kepada inti mana di dalam tubuhnya, semakin lama dia memfokuskan, semakin dia bisa merasakannya.


“Sekali lagi...”


Zeyn menggunakan tangan kanannya yang diarahkan ke jendela, dia membayangkan sebuah bola Api yang cukup panas dan kuat untuk menghancurkan. Aliran mananya semakin terkendali, lebih lancar tanpa tersumbat.


“Ghk!” Zeyn terbatuk, tiba-tiba kepalanya mulai pusing.


Dia terjatuh ke lantai yang dingin. Merasa bingung dan heran, dia mencoba berdiri tetapi tidak cukup kuat. Matanya sedikit melebar sesaat ketika melihat cipratan darah di lantai, kemudian dia menyentuh bibirnya.


‘Basah..’


Benar saja. Zeyn barusan batuk darah. Dia terkejut, tetapi tubuhnya semakin lemas, membuatnya pingsan seketika.


 


“Ughh...”


Zeyn terbangun di tempat yang sama. Dia bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit dan pusing, tapi entah mengapa tubuhnya terasa lebih ringan.


“Sial. Bajuku terkena noda darah itu. Bisa gawat jika orang-orang melihat ini.”


Zeyn langsung melepas bajunya, melemparnya ke lantai dan mencari baju ganti di lemari. Lemari yang besar dan di dalamnya penuh dengan pakaian miliknya, banyak sekali dan mewah-mewah.


Dia mengambil salah satunya, mengenakannya dan merapihkan penampilannya. Dia melirik ke arah baju kotor, memegang dagunya sambil berpikir.


“Jika memang bisa... Maka...”


Zeyn mengarahkan tangan kanannya ke arah baju kotor tersebut, mengaliri dengan Mana sambil membayangkan sebuah Api yang panas yang bisa membakar baju kotor tersebut.


‘Apa aku harus merapal Mantra juga? Tidak, tidak. Itu merepotkan dan aku tidak tahu apa Mantranya. Tapi, setidaknya dengan menyebut Sihirnya, apakah bisa?’


“Fire Burns!”


‘Berhasil!’


Si jago merah yang panas itu, muncul di baju kotor dan secara perlahan membakar baju tersebut. Api yang cukup besar dan cukup untuk membakar kamarnya. Memang berbahaya, jadi Zeyn akan mengamati Api itu hingga membakar habis baju kotornya.


“Aku akhirnya bisa menggunakan Sihir. Huft~ Butuh banyak percobaan, tapi setidaknya membuahkan hasil. Lalu bagaimana caranya aku mengembangkan kekuatan Sihirku? Hmm... Pasti ada beberapa buku yang bisa memanduku.”

__ADS_1


Zeyn tidak yakin di Kediaman Keluarganya ini terdapat Perpustakaan pribadi atau tidak, tapi dia harus mencari tahu sendiri. Jika tidak ada, pastinya Orang Tuanya memiliki buku-buku dan pengetahuan agar kemampuannya berkembang.


Baju kotornya telah habis terbakar. Kemudian, Zeyn langsung keluar dari kamarnya dengan niat untuk menelusuri Rumah atau Mansion besar ini sambil berharap dia tidak tersesat di tengah jalan.


Zeyn berjalan di lorong, setiap lorong, dan membutuhkan banyak waktu untuk menemukan ruangan yang dia inginkan. Semuanya terlihat sama, membuatnya agak pusing dan bingung, tapi dia tetap terus melangkah ke depan.


“Sial. Rumah besar memang merepotkan, tapi harus aku akui ini sangat mengagumkan.”


Entah beruntung atau apa, di tengah jalan, Zeyn melihat Charlotte yang sedang berjalan. Dia merasa senang dan lega pada saat yang bersamaan karena bertemu dengan gadis itu.


“Charlotte...”


“Hmm..?” Charlotte menoleh kebelakang, melihat Zeyn yang mendekatinya.


“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Zeyn.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kamu ada di sini? Tidak biasanya.”


“Aku bosan. Tapi, jawab dulu pertanyaanku.”


“Aku ingin ke perpustakaan.” Jawab datar Charlotte.


‘Itu dia!’ Pikir Zeyn dengan bahagia. “Aku juga ingin ke sana. Bisa pergi bersama ke sana?” Ucapnya.


“Hmm...” Charlotte menatap Zeyn dengan tatapan curiga.


“Sangat tidak biasa. Mengapa kamu mau ke Perpustakaan? Apa yang ingin kamu lakukan? Bermain-main di sana?”


“Aku cuma bosan. Itu saja.”


“Jika kamu bermain-main saja di sana, lebih baik tidak usah. Tempat yang tenang dan nyaman, tidak cocok untuk anak sepertimu. Padahal biasanya, kamu selalu berada di Kamp Latihan untuk melihat Prajurit Tuan Geiur berlatih.”


‘Gadis ini...’ Zeyn tersenyum kesal. “Aku ingin mencoba suasana lain. Aku tidak akan bermain-main di sana. Aku berjanji. Niatku cuma ingin membaca buku saja.” Ucap Zeyn dengan tenang.


“Baiklah. Kita bisa pergi bersama ke sana.”


Dengan begitu, mereka berjalan bersama menuju perpustakaan.


Namun, setelah berjalan bersamaan, Charlotte melangkah dengan lambat, membuat Zeyn kesal sendiri karena kalau begini terus akan lama sampainya.


“Apa kamu bisa mempercepat langkahmu?”


“Tidak.”


“Hmm? Kalau begini terus, lama sampainya.”

__ADS_1


“Ya, memang begini...”


“Apanya?”


“Kondisiku. Jika aku berlari, aku akan kelelahan. Paling tidak, aku akan pingsan sampai malam.”


“...” Zeyn terdiam untuk sesaat. Tetapi dia memikirkan saat dia bertemu dengan Charlotte pertama kali.


“Bukankah saat kamu memanggilku saat itu kamu berjalan cukup cepat?”


“Itu... Karena itu penting.”


‘Jadi dia memaksakan, ya. Pantas saja Ibunya saat itu bilang kalau tubuh Charlotte gemetar dan tak tahan berdiri lama-lama. Jadi... Huft~’


Zeyn berdiri membelakangi Charlotte, lalu dia berjongkok. Charlotte bingung apa yang dilakukan Zeyn.


“Ayo.”


“Hah? Apa–”


“Naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu agar kita bisa cepat sampai ke Perpustakaan. Aku penasaran dengan buku-buku di sana.”


“A–Apa..” Charlotte tersipu malu mendengarnya.


“Ayolah. Cepat naik.”


“K–Kamu..”


“Ayo.”


Dengan wajah malu yang sedikit memerah, Charlotte naik ke punggung Zeyn dan menyandarkan tubuhnya. Dia merasa sangat malu, karena ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan lawan jenis.


Zeyn berdiri dan melangkahkan kakinya. Ternyata tubuh Charlotte memang ringan dan mudah digendong, tapi sepertinya memang karena faktor tubuh Zeyn sendiri yang sudah kuat dan sering berlatih.


Pemilik tubuh sebelumnya memang anak nakal dan jarang menggunakan Sihir, tetapi sangat rajin berlatih fisik dan memang sangat tertarik dengan Seni Pertarungan jarak dekat.


“Kenapa kamu bisa sekuat ini..?” Tanya Charlotte.


“Aku sering berlatih.”


“Apa.. jika aku juga sering berlatih sepertimu, aku bisa sekuat ini?”


“Tidak. Kamu akan mati.”


“Umh.... Benar.”

__ADS_1


“Tapi... jika kamu mempunyai niat untuk menjadi berguna, berlatihlah dari para Pelayan agar suatu saat kamu bisa mengurus masalah rumah tangga.”


“Aku mengerti.”


__ADS_2