
Saat ini Ayu dan Ria sedang berbincang-bincang masalah perjodohan tentang Melly dan Leo, pak Pajar datang ikut bergabung bersama mereka.
"Kamu sudah tanya Leo kapan melamar Melly?" tanya pak Pajar ingin tau, karena ia sudah sangat berharap kalau Melly dan Leo segera menikah.
"Sudah Pa, kata Leo tunggu hutangnya lunas baru ia malamar Melly," jawab Ayu.
"Itu masih lama, takutnya Leo berubah pikiran membatalkan perjodohan mereka kalau terlalu lama, papa takut kalau sampai Elsa datang Leo kembali pada Elsa dan membatalkan perjodohannya dengan Melly, itu yang membuat papa ingin segera mereka menikah, kalau masalah biayaya papa yang bayar semua biayaya pernikahan mereka," kata pak Pajar.
"Iya, bude setuju apa yang di katakan papamu, lebih cepat lebih baik, sebelum Elsa datang dan kembali mendekati Lao," kata Ria menimpali perkataan suaminya.
"Papa saja yang bicara kepada Leo," kata Ayu meminta papanya.
"Ya sudah, nanti malam papa coba bicara kepadanya," jawab pak Pajar.
**
Malam harinya pak Pajar meminta Leo bicara berdua dengannya. Dengan hati bertanya-tanya Leo menghampiri Opanya.
"Ada apa Opa?" tanya Leo.
"Opa, ingin membicarakan masalah perjodohanmu dengan Melly," jawab pak Pajar.
"Kami sudah sepakat sama sama menerima perjodohan kami," jawab Leo.
"Kalau kalian sudah menerima perjodohan kalian, ya di segerakan kalian menikah, apalagi yang mau ditunggu?" tanya pak Pajar.
"Aku harus melunasi hutangku dulu kepada papa, setelah itu baru memikirkan arah kesana," jawab Leo sesuai apa yang ada di pikirannya.
"Kalau masalah biayaya, Opa yang bayar biayaya pernikahan kalian, hutangmu juga Opa yang melunasi kepada papamu, kamu cicil saja berapa mau kamu bayar perbulan kepada Opa, yang penting kalian segera menikah! Opa sudah tidak sabar ingin punya cicit, takutnya Opa tidak sempat melihat cicit Opa, kalau kalian masih lama menikah," kata pak Pajar dengan nada sedih.
"Opa jangan bicara seperti itu, aku akan tanya Melly, takutnya ia belum siap menikah dalam waktu dekat ini," jawab Leo.
"Ya sudah, Opa keluar dulu, kabari Opa kalau kalian sudah mengambil keputusan!" kata pak Pajar.
"Iya, Opa," jawab Leo. Setelah pak Pajar keluar dari kamarnya Leo memikirkan perkataan Opanya.
"Ya Allah apa aku harus secepatnya menikah dengan Melly? agar bayang bayang Elsa tidak terus menghantuiku," gumam Leo. Sambil terus berpikir, setelah lelah berpikir akhirnya Leo tertidur.
**
Leo kembali mengajak Melly membicarakan perjodohan mereka.
__ADS_1
"Mal," kata Leo.
"Iya, Kak," jawab Melly.
"Apa kamu siap kalau kita menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Leo ingin tau.
"Melly setuju apapun keputusan kaka, kalau kakak mintanya kita menikah dalam waktu dekat ini Melly setuju karena menikah dengan kakak adalah kebahagiaan Melly," jawab Melly.
"Ya sudah, kamu kabari ayah dikampung kalau kak dan keluarga akan datang melamar kamu dalam Minggu ini!" kata Leo memberitahu, ia sudah memutuskan akan menikah dengan Melly secepatnya.
"Iya, Kak," jawab Melly. Dalam hati Melly sangat senang karena karena ia akan menikah dengan orang yang ia cintai.
**
Malam harinya Melly menghubungi ayahnya yang berada di kampung.
"Assalamualaikum, Nak, bagaimana kamarmu?" tanya pak Faisal setelah mengangkat telepon dari sebrang sana.
"Aku baik baik saja, ayah gimana kabarnya?" tanya Melly balik.
"Ayah juga baik baik saja," jawab pak Faisal.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Nak? Sepertinya serius," tanya pak Faisal mulai gusar, ia takut kalau anaknya menyampaikan kabar buruk.
"Keluarga Kak Leo ingin berkunjung Minggu ini ke rumah kita," ujar Melly memberitahu.
Sedangkan pak Faisal merasa aneh mendengar perkataan anaknya.
"Mereka datang hanya untuk berkunjung atau mengantar kamu pulang?" tanya pak Faisal, karena dalam pikiran pak Faisal hanya dua kemungkinan itu keluarga Leo datang kerumahnya.
"Keluarga Kak Leo datang ingin melamar Melly," jawab Melly.
Pak Faisal terkejut sekalian senang mendengarnya.
"Ayah bersyukur kamu telah menemukan jodohmu," kata pak Faisal dengan nada gembira.
"Iya, Ayah, Ayah doakan ya! semoga rencana pernikahan kami tidak ada halangan sampai kami menikah," kata Melly.
"Tentu saja Ayah akan mendoakan kamu," jawab pak Faisal.
"Bagaimana pendapat Ayah? Apa kak Leo bisa jadi imam yang baik untuk Melly?" tanya Melly meminta pendapat Ayahnya.
__ADS_1
"Ayah lihat Leo orangnya sopan, tapi ayah juga tidak tau bagaimana pribadinya karena ayah hanya sebentar bertemu dengannya, kamu yang tiap hari bertemu dengannya kamu pasti lebih mengenalnya di banding ayah," jawab pak Faisal.
"Kalau dilihat sikap kak Leo selama ini sangat baik, tapi aku juga tidak tau kak Leo seperti apa, doakan saya agar kak Leo tidak berubah sampai kami menikah," kata Melly.
"Iya, Nak, kita Doakan saja Leo memang tulus ingin menjadikan kamu istrinya! Ayah saja yang kesana, keluarga Leo tidak usah repot-repot datang ke sini," kata pak Faisal.
"Kenapa seperti itu Ayah?" tanya Melly heran.
"Tidak apa-apa, Ayah hanya tidak ingin merepotkan mereka, kamu kan tau sendiri bagaimana keluarga kita, mereka tidak pernah menganggap kita ada, papa tidak mau keluarga Leo mengetahui bagaimana kelakuan keluarga kita, itu sama saja membuka aib keluarga kita," jawab pak Faisal dengan nada sedih.
Keluarga pak Faisal menjauhi mereka karena mereka orang susah, sebab itu pak Faisal tidak mau keluarga Leo tau kelakuan keluarganya.
"Ya sudah, Melly setuju dengan keputusan Ayah, aku ngikut saja," kata Melly.
"Iya, Nak, kamu beritahu mereka dengan alasan apa saja, yang penting kamu jangan ceritakan bagaimana kaluarga kita!" ujar pak Faisal.
"Iya, Melly tutup dulu teleponnya, ayah istirahat yang cukup! jaga kesehatan Ayah! jangan sampai Ayah sakit sebelum datang kesini," kata Melly menasehati Ayahnya.
Pak Faisal tersenyum menanggapi perkataan anaknya, ia senang melihat anaknya begitu perhatian kepadanya.
"Iya, Nak," jawab pak Faisal. Telepon terputus.
**
Pagi harinya saat sarapan di meja makan, Melly memberitahu kalau papanya yang datang.
"Seharusnya kita yang mendatangi Ayahmu, karena kamu yang mau dilamar," kata Ayu merasa tidak enak kalau calon besannya yang harus datang.
"Tidak apa-apa Ma, Ayah yang meminta seperti itu," jawab Melly.
"Padahal Oma sudah bersemangat mau pergi ke kampungmu," kata Ria merasa kecewa.
"Iya, aku juga tadinya sudah semangat mau pergi ke kampung kak Melly, itung-itung liburan, tapi sayang gagal deh," kata Adela menimpali.
"Kalian berdua cocok, sama sama suka liburan," ujar pak Pajar sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan sikap istrinya seperti anak anak.
"Sudah tau Mama suka liburan, tapi papa tidak mau bawa mama liburan," jawab Ria dengan nada tidak senang.
Semua orang yang di meja makan tertawa mendengar perdebatan pasangan suami istri itu.
"Sudah, tidak usah berdekat lagi, kita sarapan!" kata pak Pajar mengakhiri pembicaraan agar tidak semakin panjang urusannya.
__ADS_1