
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
"Penulis!! Kita perlu bicara!!"
Saat Reana membuka tirai, bukan penulis yang ia temui, tapi Felix yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.
Reana berpikir sebentar, karena ia merasa tak asing dengan seseorang yang tertidur di depannya ini.
"Kenapa dia mirip seperti Felix yang kemarin kutolong?"
"Tapi jika dilihat lebih jelas, tidak juga sih... karena yang di depanku ini lebih terlihat keren" Reana tersenyum memandang setiap inci wajah Felix
Reana perlahan mengangkat tangannya dan mencoba memegang dahi Felix untuk mengetahui apakah ia sakit atau tidak, tetapi tiba-tiba Felix memegang tangannya membuat Reana terkejut
Felix tersenyum dan perlahan membuka matanya, ia tertawa kecil menatap Reana, Reana bingung karena Felix tiba-tiba tertawa tanpa ada pembicaraan yang lucu diantara mereka.
"Apa kau mengingatku?" Tanya Felix,
"Hmm.. apa lo orang yang semalam?" Tanya Reana memperhatikan wajah Felix.
Felix mengangguk mengiyakan ucapan Reana, Reana sekarang mengetahui bahwa orang di depannya benar-benar Felix yang ia selamatkan kemarin malam.
"Dia lebih ganteng tanpa kacamata"
Lagi-lagi Felix tertawa membuat Reana tersinggung.
"Apa yang lucu? Apa lo tertawain gue?" Tanya Reana kesal karena Felix yang tertawa setiap menatapnya.
"Apa kau mengingatku?" Tanya Felix lagi.
"Kenapa pertanyaan lo selalu begitu? Apa gue pelupa sampe gak inget sama lo? Buktinya sekarang gue tahu lo Felix kan?" Sahut Reana tak mau dikatakan pelupa.
"Apa kamu ingat pembicaraan kita di sini?" Tanya Felix kemudian.
"Di sini?"
"T-tunggu..."
"Apa lo yang kemarin di UKS dan bicara sama gue?" Tanya Reana tak percaya dengan pemikirannya bahwa Felix adalah penulis itu.
Felix tersenyum,
"Yahh, dan aku juga yang kau selamatkan kemarin"
"Tepatnya diriku dari masa lalu"
"Masa lalu? Tunggu.. Apa kamu seorang penjelajah waktu juga sepertiku??" Tanya Reana penasaran. mengubah panggilannya menjadi aku-kamu.
Felix tertawa kecil,
"Tidak, aku hanya mengujimu saat itu"
Reana bingung,
"Mengujiku?"
__ADS_1
"Iya, menguji apakah jika kamu melihatku, kamu akan mengingat hari itu atau tidak, tapi sepertinya kamu masih tak mengingatnya" Ucap Felix tersenyum masam.
"Hari itu? Hari apa?" Tanya Reana bingung dengan ucapan Felix.
"Suatu saat kamu pasti akan mengingatnya" Sahut Felix kemudian menidurkan tubuhnya lagi.
Reana berjalan dan duduk di samping ranjang Felix.
"Kenapa harus suatu saat? Kenapa tak langsung memberitahuku agar aku tahu?" Tanya Reana penasaran, ia tak bisa dibuat penasaran seperti ini.
Felix melirik ke arah Reana,
"Sepertinya bukan itu pertanyaan yang ingin kamu tanyakan jika bertemu denganku lagi" Sindir Felix membuat Reana tersadar.
"Apa kamu benar penulis itu? Penulis yang aku temui di UKS?" Tanya Reana lagi,
"Berapa kali harus kukatakan hmm?" Ucap Felix
Reana berdiri di depan Felix lalu menyilangkan tangannya di dada, ia menatap sinis Felix.
"Apa kamu yang merencanakan semuanya? Ingin membunuhku agar aku tak kembali ke duniaku lagi?!" Ucap Reana kesal, Felix membuka matanya terkejut lalu menatap Reana.
"Apa maksudmu?" Tanya Felix bingung.
"Kenapa pura-pura tidak tahu? Bukankah insiden gas kimia itu karenamu?"
"Insiden gas kimia? Apa yang terjadi?" Tanya Felix lagi
Reana memutar bola matanya malas menjelaskan.
"Insiden gas kimia di toilet, kamu sengaja mengunci pintu toilet lalu menaruh gas kimia di dalam untuk membunuhku!" Teriak Reana mengepalkan tangannya kesal, melihat Felix yang menatapnya terkejut seperti pura-pura tak tahu membuat Reana ingin memukul wajahnya sekali.
"Bukan kamu?"
"Bukan aku! Bukankah aku pernah mengatakan untuk tidak membuat alur berubah banyak kan? Bisa jadi karena perubahan alur membuat kamu dalam bahaya seperti itu" Jelas Felix lagi.
"Kalau bukan Felix.. lalu siapa yang ingin mencelakaiku?"
"Elena?" Tiba-tiba Sean masuk ke UKS.
Reana menoleh ke arah Sean yang berdiri di depan pintu UKS.
"Kenapa lo di sini sendirian?" Tanya Sean,
"Sendiri? Gue-" Reana kembali menoleh ke arah Felix, ia masih duduk di sana, ia melambaikan tangannya ke arah Reana sambil tersenyum, kemudian Reana menoleh lagi ke arah Sean.
"Apa gue tadi di sini sendirian?" Tanya Reana, Sean mengangguk.
"T-tunggu.. Apa ini artinya hanya aku yang bisa melihatnya??... Apa dia hantu??!!" Reana melirik Felix takut
Felix tiba-tiba tertawa.
"Aku bukan hantu, aku penulis novel ini. Karena aku membawamu, itu berarti hanya kamu yang bisa melihatku"
Reana menatap Felix terkejut.
"Apa kau bisa mendengar isi hatiku?"
__ADS_1
Felix mengangguk mengiyakan. Seketika Reana menahan malu, karena sedari tadi dalam batinnya ia memuji wajah Felix yang tampan.
"Berarti kamu mendengarkan apa yang ku katakan saat pertama melihatmu tadi? Memalukan!" Reana tersipu malu
Felix tertawa melihat ekspresi Reana yang menunduk menahan malu.
"Elena?" panggil Sean lagi, Reana langsung menoleh,
"Ayo kita keluar" Ajak Reana menarik tangan Sean keluar.
"Nanti kita bicara lagi"
Felix hanya tersenyum.
Reana dan Sean keluar dari UKS, Reana langsung berjalan pergi menuju kelasnya tetapi dengan cepat Sean mencegahnya.
"Mau ke mana? Bukannya lo dari tadi cari gue?" Tanya Sean menghentikan langkah Reana.
"Astaga lupa!"
Reana berbalik dan menggenggam tangan Sean.
"Gue cari lo karena pengen ngajak lo ke kantin, traktir gue ya hari ini!" Ucap Reana menarik Sean menuju kantin.
"Kirain apa, ternyata cari karena ada butuhnya" Sean memutar bola matanya malas
"Karena lo temen gue jadi cuma lo tempat gue minta kayak gini!" Sahut Reana cengengesan.
...***...
Mereka sampai di kantin, Reana langsung mengambil makanan dan beberapa snack.
"Terima kasih untuk makanannya!" Ucap Reana berterima kasih, tanpa menunggu jawaban Sean ia langsung menyantap makanannya.
Sean menatap Reana yang makan dengan lahap, perlahan ia menggerakkan tangannya ke arah Reana dan menyeka rambut kepang Reana, Reana menoleh
"Kalau makan tuh rambutnya dibenerin dulu biar gak ikut kemakan" Nasehat Sean, Reana hanya tersenyum kemudian lanjut menyantap makanannya.
"Gue mau kasih tahu lo berita baik" Ucap Sean tersenyum menatap Reana,
"Berita apa?" Tanya Reana tanpa menoleh
"Gue terpilih jadi anggota inti tim basket di pertandingan nanti, lo jangan lupa dateng nontonin gue ya " Jawab Sean antusias.
"Pertandingan basket?"
"Ohh!! Bukankah di novel dalam pertandingan itu Hanny terkena bola basket dan Ethan langsung berlari menggendongnya ke UKS?!"
"Saat itu Sean cemburu karena Ethan menggendong Hanny dan mereka mulai menjadi rival untuk mendapatkan Hanny"
"Gue pasti dateng nonton pertandingan lo" Sahut Reana tersenyum.
"Mana mungkin gue melewati scene perkelahian mereka nanti! Hohoho"
"Sekalian gue juga bisa cari tahu orang yang berniat ngelukain gue kemarin, pokoknya gue harus menemukan pelakunya!"
...~•-•~...
__ADS_1
...~•To be Continued•~...