
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Reina merasa puas melihat seluruh kelas mengeluh karena rok maupun celana mereka tertempel di kursi, Reana merasa senang bisa membalas perbuatan mereka yang sama sekali tak membantu Elena maupun dirinya saat ditindas Julia, ia merasa mereka pantas mendapatkannya.
"Lalalalaa~"
Reana bernyanyi riang sambil berjalan dengan melompat-lompat kecil keluar dari kelasnya. Ia berjalan menuju arah toilet, saat sampai ia masuk ke toilet dan memeriksa apakah ada orang lain, saat ia mengetahui tak ada orang lain di dalam, Reana menempelkan sebuah kertas bertuliskan *Toilet sedang masa perbaikan* di depan pintu toilet lalu berlalu pergi.
"Rencana segera dilaksanakan~"
Setelah beberapa menit berlalu, Julia beserta genknya berjalan menuju toilet.
"Lahh.. kok lagi masa perbaikan sih?!" Julia mendengus kesal melihat kertas tulisan itu, ia mencoba membuka pintu toilet tetapi terkunci.
"Ishh! Males banget kalau harus turun ke lantai satu!" Emosi Julia.
"Udah ah ke kamar mandi bawah aja yuk! Gue malu banget karena rok gue robek!" Pinta Elsa sambil menutupi belakang tubuhnya dengan jaket.
"Hmm ya udah ayo" Ajak Julia, mereka akhirnya berpindah ke toilet lantai satu.
Reana berjalan riang sambil membawa seember air yang entah apa isi dari ember itu.
"Sedang apa sedang apa sedang apa sekarang~"
Reana menari riang saat menuju toilet bahkan ia bernyanyi tanpa memperdulikan suaranya yang terdengar sumbang.
Reana masuk ke toilet lantai satu, ia bisa mendengar suara Julia dan teman-temannya sedang berganti pakaian di dalam ruangan.
"Ini pasti kerjaan Elena, udah pasti dia!" Kesal Julia berteriak di dalam ruangan.
Reana mendengar ucapan Julia dan hanya mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum menguping percakapan mereka.
"Udah pasti! Mana ada murid yang berani ngelawan lo selain dia!" Sambung Elsa yang berada di samping ruangan Julia.
"Pokoknya balik dari sini gue bakal bales perbuatan Elena sama gue, akh! Bisa-bisanya rok mahal gue malah robek" Keluh Clara dari ruangan paling pojok.
Reana tertawa pelan mendengar ocehan mereka yang membicarakan tentangnya.
__ADS_1
"Lo gak bakal bisa ngebales gue tahu! Karena gue bakal ngasih kalian pelajaran lebih dari ini!"
Reana tersenyum misterius, ia mengangkat ember berisi air itu lalu membawanya tepat di depan pintu Julia, ia langsung menumpahkan isi dari ember itu bergiliran dari ruangan Julia dilanjutkan Elsa dan terakhir Clara.
"Akhh!!" Teriak mereka dari dalam ruangan.
"Bau banget! Huek!" Teriak Elsa dari dalam ruangan.
"Ups! Sorry, gue pikir gak ada orang jadi gue ngebuang air bekas sampah di sini, ternyata gue ngebuang ke tempat yang tepat ya." Jawab Reana dari luar ruangan dengan nada mengejek.
"Elena?! Lo lagi lo lagi! Lo tuh maunya apa sih?!" Teriak Julia dari dalam ruangan, ia membuka pintu ruangan kasar kemudian mendapati Reana yang berdiri tepat di depan ruangannya.
"Gue mau apa? Setelah apa yang terjadi selama ini pertanyaan lo bilang mau apa? Lo pura-pura bodoh apa emang bodoh?" Sahut Reana menatap rendah ke arah Julia.
"Ups! Gue lupa, lo kan ada di kelas 2-10 jadi lo beneran bodoh ya?" Lanjut Reana tersenyum sinis.
Julia menatap Reana tak percaya, orang yang berdiri di depannya ini benar-benar bukan Elena yang ia kenal, Elena dulu sangat pendiam dan menerima perlakuannya tanpa melawan, tapi orang di depannya sekarang ini sangat angkuh dan sombong, mereka benar-benar berbeda.
"Lo siapa? Elena yang gue kenal gak pernah ngelawan gue!" Teriak Julia menatap tajam ke arah Reana.
Reana memutar bola matanya malas menanggapi,
"Kalau lo mau keluarin gue, keluarin aja. Tapi lo harus tetap inget, gue bakal selalu ngeganggu lo sampe lo bener-bener menderita, bahkan di luar sekolah sekalipun!" Ucap Reana menatap tajam Julia hingga membuat Julia merinding.
Elsa dan Clara yang masih di dalam ruangan hanya terdiam mendengarkan percakapan mereka.
"Sepertinya lo bener-bener gak ngerti ya? Hmm gue lupa kalau lo bodoh," Reana menyeringai.
"Bukankah gue udah bilang saat pertama kali masuk sekolah? Elena yang lo kenal udah meninggal! Dan Elena yang berdiri sekarang di depan lo adalah Elena yang lo ciptain malam itu,"
Reana mendekatkan wajahnya ke arah telinga Julia dan berbisik,
"Bisa dikatakan, gue hadir sebagai rasa kebencian dan keinginan Elena untuk membalas dendam!" Reana menjauhkan wajahnya lalu menutup hidungnya karena tubuh Julia mulai mengeluarkan bau busuk karena siramannya tadi.
"Ukhh! Lo bau banget tahu gak! Mending lo mandi dulu deh biar gak dijauhin sama murid yang lain, bye~"
Reana tersenyum mengejek lalu berjalan pergi berniat untuk keluar dari toilet.
"Elsa! Clara! Ayo ke ruangan kepala sekolah!" Teriak Julia menggenggam erat kedua tangannya menahan emosi.
__ADS_1
...*...
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti seragamnya, Julia dan teman-temannya berjalan menuju ruang kepala sekolah. Mereka mengetuk pintu pelan lalu berjalan masuk saat dipersilahkan masuk.
"Ada masalah apa di sekolah?" Tanya kepala sekolah ketika mereka berdua sudah duduk di sofa.
"Pa! Julia ingin Elena dikeluarkan dari sekolah!" Perintah Julia pada kepala sekolah lebih tepatnya adalah Papanya.
"Kenapa? Apa dia mengganggumu?" Tanya papanya terlihat khawatir.
"Lebih tepatnya dia melawan perintahku Pa! Pokoknya panggil dia sekarang dan keluarkan!" Perintah Julia lagi membuat Papanya langsung memerintahkan wakil kepala sekolah untuk membawa Elena menghadap ke arahnya.
Setelah beberapa saat Reana berjalan masuk ke ruangan kepala sekolah dengan santai, ia sudah menduga jika Julia akan mengadu dan mengeluarkannya dari sekolah.
Reana menunduk hormat ke arah kepala sekolah sebelum duduk.
"Apakah ada yang perlu Bapak diskusikan dengan saya hingga saya dipanggil menuju ruangan Bapak?" Tanya Reana sopan dan lembut membuat Julia melotot tak suka melihatnya.
"Ehm.. Kata Julia kamu mengganggunya, benar?" Tanya kepala sekolah memverifikasi.
"Maaf Pak, mengganggu dalam hal apa maksud Bapak? Maaf saya bertanya seperti ini karena saya kurang mengerti" Sahut Reana.
Kepala sekolah melirik ke arah Julia untuk memberitahunya hal apa yang dilakukan Reana padanya.
"Lo kan ngeganggu gue! Lo olesin lem di kursi seluruh kelas, bahkan lo juga nyiram gue, Elsa dan Clara dengan air bekas sampah!" Julia menjelaskan dengan nada emosi, ia lalu mengingat video saat pertengkaran pertama mereka itu bisa ia jadikan bukti kuat tambahan agar Reana dikeluarkan.
"Pak kepala sekolah, saat pertama masuk sekolahpun Elena menampar saya berulang kali dan mendorong saya ke belakang kelas hingga tubuh saya terbentur loker, Bapak bisa menonton videonya" Sahut Julia menjelaskan.
"Benarkah? Jika kamu memang terbukti bersalah, saya mungkin benar-benar akan mengeluarkanmu!" Ucap kepala sekolah menatap ke arah Reana.
Reana melirik ke arah Julia tak suka, ia menggenggam erat kedua tangannya menahan emosi karena di tuduh seperti itu, walaupun sebenarnya memang dia yang melakukan itu semua, tetapi ia pasti tak akan melakukan itu jika Julia tak mengganggunyakan?
Julia tersenyum puas melihat Reana yang menatapnya tajam.
"Lihat aja pembalas gue atas perlakuan memalukan yang udah lo lakuin ke gue! Ini akibatnya kalau lo ngejek gue, huh!" Batin Julia tersenyum mengejek.
...~•-•~...
...~•To be Continued.•~...
__ADS_1