Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu

Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu
Apa mungkin..


__ADS_3

...​​•~Selamat Membaca~•...


...~•-•~...


Seorang guru berjalan memasuki kelas 2-10 untuk mengisi jam pelajaran. Guru itu melirik ke arah lantai di pintu belakang banjir oleh genangan air yang menimpa Reana tadim


Guru itu menatap ke arah Reana yang duduk bersila di lantai kelas dengan pakaian basah.


"Elena! Kenapa kamu duduk di bawah? Duduk di kursimu!" Perintah guru itu membentak Reana


"Dan kenapa ada genangan air di belakang? Lalu kenapa juga kamu basah kuyup seperti itu? Bukannya hari ini cuacanya cerah tidak hujan?"


"Tadi Elena main air Bu di belakang, katanya dia belum mandi di rumah jadi dia mandi di sekolah hahahaha" Sahut Clara tertawa cekikikan, ia adalah salah satu bawahan Julia.


Tiba-tiba seluruh murid kelas ikut tertawa mendengar ucapan Clara.


Reana terdiam tak merespon, ia tahu pasti akan disalahkan lagi seperti waktu itu walaupun ia membela diri sekarang.


Guru itu berjalan menghampiri Reana, ia melirik ke arah bangku Reana yang penuh lem.


"Huft.. Apa kamu membuat masalah lagi?" Guru itu menatap Reana,


Reana mendongak, ia menatap guru itu dengan raut tanpa ekspresi, sedangkan rasa kesalnya menggebu-gebu ingin meledak keluar.


"Seperti dugaanku, aku pasti disalahkan"


Reana membuang muka lalu melirik sinis ke arah guru itu


"Benar! Karena saya malas untuk duduk di kursi jadi saya menumpahkan lem di meja maupun kursi saya agar saya tak perlu duduk di meja sial itu lagi!" Teriak Reana kesal.


"Dan saya juga sedang menghemat air di kost.an jadi saya menggunakan air sekolah untuk mandi!" Lanjut Reana bangun dari duduknya, ia berdiri sejajar dengan Guru itu.


"Hmm.. kalau begitu sekarang kamu pel lantai ini, bersihkan genangan air ini dan juga mejamu!" Perintah guru itu berjalan kembali ke depan.


"Apa Ibu merasa lega?" Gumam Reana, Guru itu menghentikan langkahnya.


"Apa penjelasan saya membuat Ibu merasa puas? Karena Ibu tak perlu mencari cara untuk menyalahkan saya. Ibu mengabaikan saya yang diperlakukan buruk demi kebaikan Ibu, lalu apa Ibu tak memikirkan apakah saya baik-baik saja diperlakukan begini?" Reana menatap ke arah guru itu yang sama sekali tak menoleh ke arahnya walaupun Reana mencoba mengetuk pintu hati nuraninya tapi itu sama sekali tak berhasil.


Reana berjalan keluar berniat mengambil pel di gudang, Guru itu melirik punggung Reana yang berjalan keluar.


"Maafkan Ibu Elena, Ibu memang tak pantas di sebut guru.."


Setelah mengambil alat pel di gudang, Reana mulai mengepel lantai sambil mendengar penjelasan guru di depan.


Reana tak merasa rugi hanya mendengar pelajaran, karena apa yang dijelaskan di depan pernah ia pelajari saat di kehidupan nyata.


Reana sesekali melirik ke depan kelas dan melihat seisi kelas menertawai dan mengejeknya diam-diam, bahkan mereka dengan sengaja melempar robekan kertas agar lantai tetap kotor.


"Tertawalah kalian sepuasnya, gue tandai kalian semua! Kalau gue ketemu yang mirip kalian di dunia nyata siep-siep pembalasan gue!" Batin Reana menatap mereka satu persatu dengan kesal.


...**...


Jam pelajaran guru itu berakhir, berganti ke guru berikutnya.


Reana masih sibuk mengepel lantai karena genangannya yang memang tersebar banyak, ditambah badannya yang basah membuat rintikan air jatuh dari roknya.


Ini juga pertama kali Reana mengepel, di dunia nyata ia sama sekali tak pernah melakukan pekerjaan rumah, bahkan hanya sekedar membereskan kamarpun ia tak pernah, pelayan yang melakukan semuanya.

__ADS_1


"Ternyata gini rasanya ngepel lantai, gue cuma ngepel di depan pintu sampe dalem kelas aja udah capek banget, apa kabar sama pelayan di rumah gue yang ngepel rumah seluas dan setinggi menara?"


Reana merasa bersalah dengan pelayan di rumahnya, karena ia yang paling sering mengotori lantai hingga pelayan harus mengepelnya berkali-kali.


"Kalau gue kembali ke dunia nyata, gue harus suruh Kakek naikin gaji pelayan-pelayan di rumah!"


Setelah bel istirahat berbunyi, akhirnya Reana selesai mengepel, ia berjalan menuju gudang untuk mengembalikan alat pel.


Gudang bertepatan di samping lapangan basket, saat Reana melewati itu, ia bisa melihat banyak siswa yang sedang bermain basket.


Saat Reana berjalan masuk ke gudang, ia tak sengaja bertemu dengan Ethan yang baru saja keluar dari gudang, Ethan melirik baju Reana yang terlihat basah.


Reana bingung ia harus menyapa atau tidak, tapi ternyata Ethan berjalan acuh melewatinya tanpa menyapa.


"Yahh kenapa gue harus bingung harus nyapa atau nggak, Ethan kan benci banget sama Elena.. Udah jelas dia bakal cuekin gue"


Reana berjalan masuk dan meletakkan alat pel lalu keluar dari gudang, ia bisa melihat Ethan berjalan menuju lapangan dan mulai ikut bermain basket bersama yang lain.


"Di novel gue mulai suka karakter Ethan saat dia bermain basket, dan ini pertama kalinya gue liat dia main basket secara langsung,"


"Apa gue nonton sebentar aja ya?"


Reana menyenderkan punggungnya di pintu gudang, ia memperhatikan Ethan yang sedang bermain basket, ia dengan lihai mendribble bola lalu menipu lawannya dan mencetak angka 3 point berturut-turut


"Ternyata kalau nonton secara langsung lebih seru juga dibanding hanya membaca dan membayangkannya sendiri" Batin Reana tersenyum menatap Ethan.


Tiba-tiba bola basket melayang ke arahnya, untungnya dengan cepat Reana bisa menangkap bola itu.


"Untung aja gue tangkep, kalau gak gimana nanti kalau gua kena bola dan pingsan kayak di novel-novel romansa? Bisa-bisa gak ada yang nyelametin gue karena cuma karakter sampingan"


"Gimana nih, gue harus nyapa apa gimana? Kenapa juga harus Ethan yang dateng ambil bolanya!" Reana gelisah karena Ethan semakin dekat.


"I-"


"Bukannya gue udah bilang jangan muncul di hadapan gue lagi?"


"Apa perkataan gue gak jelas lo denger?"


"Lo ngeganggu pandangan gue, tolong menyingkir!" Tegas Ethan merebut kasar bola yang di pegang Reana.


Reana yang berniat menyapa Ethan tadi terdiam mematung, sekarang ia tahu bahwa Ethan benar-benar membencinya, tak ada belas kasihan lagi.


Reana menatap punggung Ethan yang semakin menjauh, ia menghela nafas pasrah lalu berjalan santai kembali menuju kelas.


Dari jauh seseorang yang melihat pemandangan itu menatap Reana dengan tatapan kesal.


...***...


Reana masuk ke dalam kelasnya. Ia melirik ke seisi kelas, siswa maupun siswi sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Reana melirik ke lantai tak ada buku-bukunya, ia mencoba mencari ke dalam tasnya tapi ia tak menemukannya, ia juga mencari ke loker mejanya juga tak ada.


"Di mana buku gue? Kok gak ada di lantai?? siapa yang sembunyiin?!" Teriak Reana ke seisi kelas, tapi tak ada yang merespon.


Brakk


"Siapa yang sembunyiin?!" Teriak Reana lagi sambil menggebrak meja di sebelahnya.

__ADS_1


"Yaelah buku doang dicari, sepenting itukah?" Ucap Julia masuk ke kelas diikuti Elsa dan Clara.


"Lo kan? Lo yang sembunyiin buku gue?!"


"Di mana buku gue?!" Reana mengepalkan tangannya menahan emosi.


Mungkin jika hanya buku pelajaran biasa Reana tak akan marah dan seemosi ini, tapi karena diary Elena dan novel Journey to Love berada di tumpukan buku-buku pelajarannya itu yang membuatnya marah, bagaimana jika novel itu rusak dan berakibat buruk pada keberadaannya?


"Gue tanya sekali lagi! Di mana buku gue?!" Reana tetap mencoba menahan emosinya, Julia memutar bola matanya malas.


"Kenapa gak lo coba cari aja di loker lo?" Jawab Julia sambil menunjuk loker Elena dengan dagunya.


Tanpa pikir panjang Reana langsung berjalan mendekati lokernya, ia memutar kunci yang sudah berada di sana ke arah kanan kemudian membuka pintu loker.


Plakk


"Uhukk uhukk!!"


Sebuah bungkusan tepung keluar melecat dari loker dan menimpa wajah Reana, seketika bungkusan tepung itu pecah menimpa wajah Reana hingga wajahnya dipenuhi tepung membuat ia terbatuk-batuk.


"Ahahhahha"


Lagi-lagi seisi kelas menertawai Reana, Julia sudah merencanakan ini saat Reana pergi menaruh alat pel ke gudang.


Julia beserta teman-temannya menaruh semua buku Reana di loker dan juga membuat jebakan menaruh satu tepung di dalam, jadi saat pintu loker dibuka tepung itu akan melecat keluar dan mengenai wajah Reana, rencananya berjalan sempurna.


Reana melirik ke dalam lokernya, diary dan buku novel itu berada di dalam loker membuat Reana menghela nafas lega.


Ia melirik ke pakaiannya, karena pakainnya belum kering sehingga tepung itu menempel lekat di pakaiannya dan juga wajahnya, sekarang ia benar-benar berantakan.


Reana melirik ke lantai, lantai yang ia pel tadi belum kering sehingga tepung itu berserakan dan lengket di lantai.


"Astaga.. baru aja udah selesai ngepel sekarang kotor lagi..."


Reana menatap tajam ke arah Julia.


"Awas aja kalian!"


Reana tak memperdulikan seisi kelas yang menertawakannya, karena yang ia pikirkan adalah lantai yang sudah susah-susah ia pel dengan bersih sekarang kotor kembali.


Reana yang menatap tajam Julia tak sengaja melirik ke arah luar kelas, terlihat Ethan yang melewati kelasnya berdiri menatap dirinya sekarang.


"Astaga! Ethan ngeliat gue dengan penampilan berantakan gini!!"


Ethan melirik Reana dari atas hingga bawah yang dipenuhi oleh tepung, ia lalu berjalan acuh melewati kelas Reana.


Reana melirik Ethan yang berjalan menjauh perlahan.


"Kok gue ngerasa deja vu ya? Perasaan situasi ini pernah terjadi tapi ka-"


Reana terdiam mematung, tiba-tiba sebuah ingatan terlintas dalam benaknya.


"Apa mungkin...."


...~•-•~...


...•~To be Continued•~...

__ADS_1


__ADS_2