
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Reana melotot kesal ke arah Julia, ia benar-benar ingin menjabaknya sekarang juga tanpa perduli resiko.
Julia yang dipelototi membalas tatapan Reana,
"Apa lo? Kalau marah sini kita berantem! Biar lo tahu siapa terkuat di kelas ini!" Ucap Julia bersikap angkuh, Reana memutar bola matanya malas mendengar ucapan Julia.
"Kalau lo ngelawan gue, bisa-bisa anggota tubuh lo ada yang patah!"
"Akhhh! Kenapa? Kenapa gue harus masuk sebagai Elena dan mendapatkan perlakuan buruk dan menahannya seperti ini?!"
"Kenapa diem? Lo takut ya sama gue?" Julia menyeringai.
Brakk
Reana meletakkan keranjang sampah di atas mejanya dengan kasar sehingga mengeluarkan bunyi yang besar membuat seluruh kelas terkejut termasuk Julia yang berdiri di depannya.
"Hahaha lo pikir gue takut sama lo? Hahaha ngaco banget lo! Bahkan lo bisa mati kalau berantem sama gue!"
"Inginnya aku berkata begitu.."
"Lo bisa minggir gak? Gue mau pungut sampah" Ucap Reana menahan kesal.
Reana menghela nafas pasrah, ia mengambil keranjang sampah itu lagi lalu memungut sampah-sampah yang berserakan di bawah mejanya. Saat Reana ingin mengambil kertas sampah Julia langsung menginjak kertas itu beserta tangan Reana.
Julia menyilangkan tangannya di depan dada,
"Huh! Dasar pengecut!"
"Kalau lo gak berani sama gue seharusnya lo gak bertingkah dulu saat pertama masuk sekolah!" Bentak Julia,
Reana tak ingin merespon, ia merasa lelah kalau harus berdebat hebat dengan Julia yang sama sekali tak ia sukai, ia mencoba menarik tangannya tetapi Julia semakin menguatkan pijakan sehingga Reana merasakan sakit di telapak tangannya.
"Lo bisa minggirin kaki lo gak? Gue mau pungut sampah!" Ucap Reana sedikit berteriak.
Julia menyunggingkan senyum, ia mengangkat kakinya lalu membiarkan Reana memungut sampah lagi.
"Lo emang pantes jadi pemulung!" Julia menendang keranjang sampah kuat sehingga sampah yang sudah dikumpulkan Reana tadi terjatuh kembali.
"Sabar sabar Reana, mohon bersabar ini ujian.."
Reana berusaha untuk bersikap tenang dan menerima perlakuan Julia dengan pasrah padahal emosinya sudah bergejolak ingin menjambak rambut Julia hingga botak.
Setelah selesai mengumpulkan sampah, Reana langsung berjalan untuk membuang sampah tersebut tanpa memperdulikan Julia yang berdiri di depan menatapnya dengan angkuh.
__ADS_1
Reana tak ingin mendapatkan ceramah dari guru lagi sehingga ia langsung membersihkannya tanpa menunggu perintah, walaupun dalam hal ini bukan kesalahan Reana, tetap saja pada akhirnya Julia selalu benar dan kesalahan akan selalu menimpanya jika ia berurusan dengan Julia.
Saat berjalan keluar kelas, Reana melihat Ethan bersama teman-temannya berniat berjalan melewati kelasnya.
"Ini semua gara-gara lo!" Reana menggenggam telapak tangannya kesal.
Saat Ethan berjalan semakin dekat menuju ke arahnya, Reana berjalan mendekati Ethan dan langsung menendang keras lutut Ethan dengan sepatunya, bahkan walaupun Reana hanya seorang wanita tapi ia memiliki tenaga yang kuat, ditendang keras oleh Reana membuat Ethan merasakan kesakitan.
"Akhh!!" Teriak Ethan memegang lututnya yang ditendang keras
"Apa? Lo harusnya gak permainin dan nipu gue! Huh!" Reana melotot kesal ke arah Ethan.
"Maksud lo apa sih! Tiba-tiba nendang lutut orang tanpa permisi!" Ucap Ethan kesal sambil mengusap lututnya menahan sakit.
Reana menyilangkan tangannya di depan dada,
"Lo gak inget apa yang terjadi di perpustakaan tadi hah? Ini semua gara-gara lo tahu! Lo harus tanggung jawab!" Teriak Reana tak mau kalah.
Ethan mengangkat sebelah alisnya,
"Di perpustakaan? Emang gue ngapain?" Tanya Ethan memberikan pertanyaan.
"Lo kan-"
Deg deg deg
"Gue ngapain hmm? Sampe harus tanggung jawab?" Tanya Ethan lagi sedikit menunduk ke arah Reana membuat perasaan Reana semakin tak karuan
"Tau ah! Lo rese banget!" Reana menjitak kepala Ethan kemudian ia berjalan angkuh meninggalkan Ethan dan teman-temannya yang menatap dia bingung.
"Aishhh!" Ethan mengusap kepalanya
"Woah.. ada hubungan apa lo sama Elena?" Tanya Rendy penasaran melihat interaksi mereka
"Hubungan apaan! Gila kali gue ngejalin hubungan sama dia!" Ucap Ethan sinis
"Eeey, kalau gak ada hubungan terus kenapa bisa-bisanya Elena yang gak berani deketin lo di depan umum sekarang tiba-tiba ngehampirin lo bahkan berani bicara sama lo di depan kita semua?" Tanya Rendy memperjelas pertanyaannya.
"Gue mana tahu! Kalau penasaran tanya Elena sendiri sono!" Sahut Ethan kesal kemudian berjalan mendahului Rendy.
"Hahaha dasar, pasti ada yang kalian sembunyikan ya?" Rendy tersenyum jahil, ia berjalan pergi mengikuti Ethan.
...***...
Reana berjalan malas menuju tempat sampah, ia membuang sampah bahkan sebelum balik kelas ia menyapu sedikit sampah itu agar terkumpul di satu tempat.
"Kayaknya semenjak gue jadi Elena, gue jadi lebih sering ngelakuin pekerjaan rumah!"
__ADS_1
"Padahal biasanya kalau di dunia gue ada pelayan yang menyiapkan semuanya" Reana mengeluh, sepertinya ia ingin pulang.
Reana meletakkan tangannya di dada mencoba mendengar detak jantungnya, sekarang jantungnya berdetak seperti biasa.
"Kenapa sih jantung gue harus berdetak karena Ethan! Iya dia emang ganteng tapi cuma ganteng doang!" Reana mengoceh sendirian
"Walaupun dia serba bisa di segala bidang, tetap aja kenapa harus dia!" Reana menghela nafas lagi, sepertinya hari ini ia kebanyakan menghela nafas untuk mengurangi setresnya.
Reana berjalan kembali ke kelas setelah membuang sampah ke belakang sekolah, tetapi saat ia berniat membuka pintu kelas tatapannya tak sengaja tertuju ke arah Hanny dan Sean yang sedang mengobrol asik bersama.
"Gawat! Mereka ngobrol bareng! Ini gak boleh terjadi! Gue harus pisahin mereka!"
Reana berlari menuju kelas 2-1 untuk ikut nimbrung dipercakapan mereka dan memisahkan moment berdua mereka, tanpa permisi ia langsung berdiri di tengah-tengah mereka hingga membuat mereka terkejut dan kaget karena kehadirannya.
"Kalian ngapain nih berdiri berduaan di sini?" Tanya Reana ngos-ngosan berlari sedikit jauh karena jarak kelas mereka yang ujung ketemu ujung.
"Elena, lo kenapa kok lari-lari gitu?" Tanya Hanny melirik Reana
"Ahhh.. tadi gue lari-larian karena olahraga jadi larinya kelolosan sampai sini heheh" Reana mencoba mencari alasan.
"Padahal lo tipe yang males olahraga bahkan yang paling lo benci adalah lari, tapi kok bisa-bisanya malah lari sekarang" Sahut Sean, Reana melirik Sean tak suka mendengar ucapannya.
"Gue udah berubah! Sekarang gue suka olahraga!" Ucap Reana memperjelas
"Yakin nih? Kalau gue ajak lari pagi gimana? Tanya Sean membuat Reana mengubah ekspresinya tak berminat
"Eh kalian ngapain nih ngobrol berdua di sini? Gak belajar ya kalian berdua? bolos kelas?" Tanya Reana bertubi-tubi.
"Kita lagi bahas pelajaran selanjutnya, kebetulan gurunya gak hadir jadi kita diskusi tentang apa yang harus di isi di jam pelajaran ini" Jawab Hanny
"Kita? Kenapa harus pake kata kita sih! Jadi malah keliatan akrab!"
"Terus lo ngapain di sini? Gak belajar?" Tanya Sean.
"Ohh guru gue belum dateng jadi masih bisa keluar-keluar kelas" Sahut Reana
"Pelajaran lo Matematika?" Tanya Hanny dan Reana hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Tadi beberapa menit yang lalu pak Dio udah masuk kelas lo" Sahut Hanny membuat Reana bergidik ngeri, karena di novel guru paling killer di sekolah ini adalah pak Dio siapapun yang membuat masalah di pelajarannya akan langsung dikeluarkan dari kelas.
"Mampus gue!"
"K-kalau gitu gue permisi dulu!!" Reana langsung berlari kembali menuju kelasnya tanpa memperdulikan Hanny dan Sean lagi.
"Gue harus ngerelain mereka berdua untuk berduaan, hiks!"
...~•-•~...
__ADS_1
...~•To be Continued•~...