Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu

Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu
Pelakunya


__ADS_3

...~•Selamat Membaca•~...


...~•-•~...


Brukkk


"Akhhh!!"


Seisi lapangan berteriak ketika melihat Reana terjatuh dari lantai dua, seketika pertandingan langsung dihentikan.


Dengan samar Reana bisa melihat beberapa orang berlari ke arahnya, begitu juga dengan Ethan dan Sean berlari menghampiri Reana dengan wajah khawatir.


"Apa aku.. akan mati?"


Reana kehilangan kesadarannya, Ethan berlari langsung menggendong Reana membawanya keluar sekolah.


"Cepat hubungi 119!!" Teriak Ethan khawatir menggendong Reana yang mana kepala Reana sepertinya terbentur keras sehingga mengeluarkan darah.


"Biar gue yang bawa" Ucap Sean berusaha merebut Reana.


"Bukan saatnya untuk meributkan hal itu! Elena harus segera dibawa ke rumah sakit!" Bentak Ethan pada Sean yang berusaha mengambil alih Reana.


Ethan langsung berlari keluar lapangan berniat membawa Reana ke rumah sakit. Karena jarak rumah sakit dengan sekolahnya tak terlalu jauh, ambulans segera datang dan membawa Reana menuju rumah sakit.


"Dokter, tolong periksa keadaan teman saya!" Ucap Ethan ketika mereka sampai di ruang UGD.


Salah satu Dokter langsung berjalan menghampiri mereka dan memeriksa keadaan Reana.


"Tak ada luka yang serius, hanya saja tangan kanannya patah sehingga ia harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit untuk penyempuhan" Ucap Dokter itu menjelaskan ke Ethan.


Ethan sedikit lega karena hanya lengan Reana yang patah, karena bagaimanapun ia jatuh dari lantai 2, itu adalah sesuatu yang bahaya.


"Kenapa dia selalu dalam bahaya?"


Ethan melirik ke arah Reana yang terbaring tak sadarkan diri, ini pertama kalinya ia melihat dengan jelas wajah Reana, padahal selama ini ia selalu mengabaikannya ketika ia mendekati atau bahkan mengajaknya bicara.


...*...


Di sekolah, Sean dan Hanny pergi menuju ruang kepala sekolah untuk melapor kejadian itu. Kepala sekolah memegang kepalanya frustasi karena kejadian ini membuat pertandingan dihentikan padahal pertandingan ini sudah disusun beberapa hari.


"Pak, tolong cari pelaku yang melukai Elena!" Pinta Sean berdiri sopan menghadap kepala sekolah.

__ADS_1


"Apakah ada bukti?" Tanya kepala sekolah, Sean dan Hanny bingung maksud pertanyaannya.


"Kalian bisa lihat, di lapangan tak ada CCTV dan juga tempat Elena berdiri berada di pojok ruangan sehingga tak ada yang menyadarinya di sana kan?" Tanya kepala sekolah


Sean dan Hanny hanya saling pandang, mereka tak mengerti arah pembicaraan kepala sekolah.


"Karena tak ada bukti, Bapak pikir bahwa kecelakaan ini murni karena kelalaian Elena yang tak hati-hati hingga terjatuh, siapa yang berniat mencelakainya?" Jelas kepala sekolah.


"Kenapa Bapak berpikir begitu? Beberapa hari yang lalu juga ada yang mengunci Elena di kamar mandi dan melepaskan gas kimia di dalam, jika bukan karena ada yang mau mencelakainya lalu apa Pak?" Ucap Hanny tak menerima penjelasan kepala sekolah, tapi Hanny masih mengontrol nada ucapannya dan bersikap sopan.


Sean terkejut dan menatap Hanny seperti ingin mendengar lebih jelas perkataan Hanny tadi.


"Bagaimana jika itu hanya rencana Elena sendiri? Bukankah dulu Elena melompat dari atas gedung untuk bunuh diri? Bagaimana jika dia melompat lagi dengan sengaja?" Ucap kepala sekolah membuat Hanny terkejut.


"Pak!" Hanny merasa tak percaya dengan jawaban kepala sekolah.


"Lebih baik kamu mengurus pertandingannya, bagaimanapun pertandingan ini harus selesai, jangan menyia-nyiakan waktuku, silahkan keluar" Perintah kepala sekolah.


"B-" Baru saja Hanny ingin mengatakan sesuatu, Sean langsung menghentikannya.


"Kalau begitu kami permisi Pak" Ucap Sean pamit dengan sopan dan membawa Hanny keluar dari ruangan kepala sekolah.


Saat di luar ruangan, Hanny langsung menepis tangan Sean kasar.


"Kita gak tahu kebenarannya, bagaimana jika perkataan kepala sekolah benar? Bagaimana jika Elena memang sengaja melompat dari lantai dua?" Ucap Sean menatap Hanny. Hanny tersenyum hambar mendengar ucapan Sean.


"Bagaimana bisa lo berpikir begitu sedangkan lo sahabat Elena? Lo paling kenal dengan Elena tapi kenapa lo berpikiran begitu?" Tanya Hanny kecewa.


"Gue memang sahabat Elena, tapi mungkin hanya gue yang nganggep begitu! Bahkan saat Elena terluka karena berusaha bunuh diri, gue gak tahu apapun! Gue hanya tahu setelah dia terbaring di rumah sakit!" Jelas Sean dengan raut wajah sedih, dia benar-benar merasa jauh dari Elena, Elena sama sekali tak pernah menceritakan apapun kepadanya, ia hanya memendam sendiri.


Tiba-tiba ponsel Hanny berdering tanda panggilan masuk, Hanny merogoh ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.


... *...


Di rumah sakit Ethan menghubungi Hanny untuk mengetahui situasi di sekolah, saat menelpon Hanny panggilan langsung dijawab.


"Hallo? gimana situasi di sekolah?" Tanya Ethan pada Hanny yang berada di seberang telpon.


"Huh.. situasinya gak baik, kepala sekolah nganggep ini kecelakaan murni" Jawab Hanny.


"Apa maksud lo?!" Ucap Ethan sedikit berteriak.

__ADS_1


Reana perlahan membuka kedua matanya, ia melihat sekeliling ruangan.


"Apa aku masih hidup?" Reana melirik ke arah kanan, terlihat punggung Ethan yang membelakangi Reana sambil menelpon.


"Ethan? Apa dia lagi yang menyelamatkanku?"


" Bukankah kecelakaan gas kimia itu juga bisa dijadikan alasan? Bagaimana bisa kepala sekolah menganggap Elena sengaja melompat untuk bunuh diri?" Ethan frustasi mendengar penjelasan Hanny.


Reana yang mendengar ucapan Ethan terkejut, padahal jelas-jelas ia merasa di dorong seseorang tetapi sekolah menganggap bahwa itu kecelakaan murni bahkan memanfaatkan situasi saat Elena berusaha bunuh diri sebagai alasan.


"Sepertinya guru-guru di sekolah memang tak berlaku adil pada Elena"


"Gue ke sana sekarang, gue bakal ngomong sama kepala sekolah" Ucap Ethan mematikan telpon.


Saat Ethan berbalik untuk melihat keadaan Reana, Reana langsung memejamkan matanya berpura-pura tidur.


Ethan menatap Reana yang terbaring lemah.


"Gak mungkin kan.. lo berusaha bunuh diri lagi?" Gumam Ethan kemudian berjalan keluar ruangan.


Reana membuka matanya kembali, ia melihat Ethan yang sudah keluar dari ruangan ini,


"Mana mungkin gue berusaha bunuh diri lagi!" Sahut Reana kemudian bangun dari tidurnya, ia mencoba bersandar.


"Akhh!" Reana merintih kesakitan ketika ia menggerakkan tangan kanannya.


"Lagian kalau gue emang pengen bunuh diri, ngapain melompat dari lantai 2!"


Reana mencoba mengambil ponselnya dengan tangan kiri, setelah itu ia seperti membuka sesuatu. Tiba-tiba Reana mengeluarkan hawa amarah yang besar dari sekujur tubuhnya, ia menatap layar ponselnya emosi.


Reana menonton video di layar ponselnya, sebuah video ketika seseorang membuka pintu masuk lalu berdiri di belakang Reana. Reana sudah memiliki firasat bahwa ia akan celaka lagi, karena itu untuk berjaga-jaga saat ia memeriksa tempat yang cocok untuknya menonton, ia memasang kamera kecil dan menempelkannya di sela-sela pagar tempatnya bersender.


Reana mengetahui siapa yang masuk lewat pintu itu, dia adalah salah satu yang memukuli Elena dulu saat mengetahui bahwa Elena menembak Ethan, Reana tahu modus ia melakukan itu. Reana tak tahan lagi, ia benar-benar tak ingin menahan dirinya lagi.


Reana melirik tajam ke arah kanan, Felix sudah berdiri di sana memandang ke arah Reana.


"Gue gak tahan lagi! Gue gak bisa duduk diem nunggu kematian gue! Mulai sekarang gue bakal ngebales perlakuan buruk yang udah gue terima selama ini!" Teriak Reana melotot ke arah Felix.


"Huft.. aku juga gak mau ngeliat kamu dalam bahaya, Rea.."


...~•-•~...

__ADS_1


...~•To be Continued•~...


__ADS_2