Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu

Perjalanan Dari Cupu Menjadi Suhu
Perubahan


__ADS_3

...~•Selamat Membaca•~...


...~•-•~...


Reana melotot menatap Felix yang menghela nafas pasrah mendengar ocehan Reana.


"Lo denger kan kata gue? Pokoknya gue udah gak tahan lagi!" Teriak Reana, seorang anak kecil yang berada di samping ranjangnya menatapnya aneh karena Reana berbicara sendiri.


Reana melirik ke anak kecil itu,


"Apa liat-liat?!" Ucap Reana ketus, seketika anak kecil itu mulai menampilkan raut sedih bersiap untuk menangis.


"J-jangan-"


"Huaaaaa" Anak kecil itu menangis kencang membuat Reana bingung harus melakukan apa, saat terdengar suara langkah kaki berlari mendekat Reana langsung berpura-pura tertidur.


"Ada apa sayang?" Tanya ibu anak kecil itu berlari lalu langsung memeluk anaknya.


"Caca idu memalahicu (Kakak itu memarahiku" Ucap anak kecil itu sesunggukkan, ibunya melirik dan mendapati Reana yang sedang tertidur.


"Ayo kita pergi" Ajak ibu anak kecil itu lalu menggendongnya dan membawanya pergi.


Reana perlahan membuka matanya pelan melihat situasi, saat situasinya sudah aman ia terbangun lagi.


Reana melirik ke arah Felix yang masih berdiri di sampingnya.


"Gue bakal bales dendam, lo harus bantu gue!"


Felix hanya menghela nafas pasrah menerima tatapan amarah Rean.


...*...


Beberapa bulan sejak Reana di rumah sakit, hari ini ia sudah diberi izin oleh Dokter untuk pulang karena tangannya sudah sembuh total. Bukannya langsung pulang ke rumah untuk istirahat, Reana justru pergi ke salon.


Reana masuk ke salah satu salon yang lumayan rame, ia duduk di salah satu kursi sambil menunggu gilirannya.


"Apa yang anda butuhkan?" Tanya karyawan mendekati Reana.


"Saya ingin mewarnai rambut" Ucap Reana melirik ke arah karyawan tersebut.


"Silahkan lewat sini" Ucap karyawan itu mempersilahkan.


Reana berjalan mengikuti ke mana karyawan itu membawanya pergi, mereka berjalan menuju tempat paling pojok di ruangan itu.


"Silahkan duduk di sini" Ucap karyawan itu sopan, Reana langsung duduk saat dipersilahkan.


Tak beberapa lama karyawan lain berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Warna rambut seperti apa yang Nona inginkan?" Tanya karyawan itu.


Reana tersenyum,


"Warna merah gelap, tapi warna itu akan menyala merah terang ketika berdiri di terik matahari" Jelas Reana.


"Baiklah, tunggu sebentar Nona" Ucap karyawan itu kemudian permisi.


Reana menatap dirinya di depan cermin, ia menyeringai


"Gue bakal ngebuat sekolahan gempar karena kehadiran gue, tunggu aja"


...*...


Keesokan harinya Reana bersiap berangkat menuju sekolah, sekarang ia benar-benar berbeda dengan penampilan Elena, bahkan penampilannya mirip seperti dirinya di dunia nyata.


Reana menggerai rambutnya yang ia warnai dengan warna merah gelap kemarin. Jika ia berdiri di ruangan tanpa cahaya rambutnya akan tetap berwarna hitam, tetapi jika ia berdiri di terik matahari maka rambutnya akan berganti warna menjadi merah menyala, Reana ingin menggemparkan sekolah.


"Selamat tinggal penampilan Elena dan selamat datang kembali Reana" Ucapnya menatap dirinya di depan cermin.


Reana menyimpan kacamata yang ia gunakan untuk menyamar menjadi Elena, ia berjalan keluar rumah.


"Penampilanmu benar-benar berubah 100 drajat" Ucap Felix yang berdiri di ambang pintu.


Reana melirik sinis,


"Kenapa kamu gak balas dendam dengan cara diam-diam? Kenapa harus sampai merubah penampilanmu seperti ini? Kamu tahu kan karena penampilanmu ini alur menjadi berubah?" Felix berjalan mengikuti Reana dari belakang.


"Ahh! Udah deh! Dari kemarin lo cuma bilang alur berubah alur berubah! Yaudah kalau berubah gue gak peduli! Dari pada gue mati tanpa ngelakuin apa-apa kayak Elena!" Reana kesal mendengar ocehan Felix.


"Hmmm terserah kamu deh" Sahut Felix mengalah.


"Lo udah persiepin apa yang gue minta kemarin kan?" Tanya Reana menoleh ke arah Felix.


Felix hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Oke, ayo berangkat!"


...*...


Reana berjalan anggun masuk melewati gerbang sekolah, ia menggunakan payung untuk menutupi rambutnya agar tak terkena sinar matahari. Sejak dari luar sekolah seluruh siswa maupun siswi menatapnya ketika berjalan menuju sekolah. Siswi-siswi tak percaya dengan penampilannya karena mereka terbiasa melihat Reana dengan penampilan cupu.


Reana mengibaskan rambutnya ketika ia berjalan melewati sekumpulan siswa yang memperhatikannya.


"Wow..." Ucap salah satu siswa menatap kagum ke arahnya, Reana melirik ke arah siswa itu lalu mengedipkan matanya dan tersenyum.


Seketika suasana menjadi berubah, Reana yang dulu berpenampilan cupu dan tak dianggap sekarang menjadi perhatian sekolah, Reana benar-benar cantik dengan penampilannya yang sekarang.

__ADS_1


"Hahaha terpesona kan kalian semua karena ngeliat kecantikan gue" Reana tersenyum jahil


Reana berjalan menuju kelasnya dengan perasaan gembira, ia melihat pintu kelas tertutup rapat. Tanpa basa basi, ia membuka pintu lalu berjalan masuk dengan payung yang masih ia gunakan. Tepat saat ia berjalan masuk, sebuah ember berisi air dari atas pintu tumpah tapi tak mengenainya karena ia mengunakan payung, malahan air itu mengenai siswa yang duduk dekat dengan pintu.


Seluruh siswa maupun siswi di dalam kelas mengeluarkan raut wajah kecewa karena mereka menantikan ketika melihat Reana basah karena tersiram.


"Terlalu mudah terbaca"


Reana melirik ke arah semuanya dengan senyuman


"Selamat pagi semuanya! Akhirnya gue bisa masuk ke sekolah juga, kalian pasti kangen banget ya sama gue?"


Reana melirik ke arah siswa yang terkena percikan air tadi, Reana berjalan mendekatinya


"Lo basah kuyup ya? Makanya jangan lupa sediakan payung sebelum kesiram ya" Ucap Reana tersenyum sambil berjalan menuju kursinya. Terlihat Julia menatap Reana dengan tatapan kesal.


Reana belum duduk, ia menatap kursinya lalu ia menaruh kain di kursinya dan duduk.


"Quotes pagi ini, jangan melakukan sesuatu untuk yang kedua kalinya, cukup sekali saja, karena orang itu akan terbiasa" Ucap Reana lagi-lagi tersenyum dengan wajah yang begitu mengesalkan bagi Julia yang terlihat menahan emosi.


Alasan Reana menaruh kain di kursinya dan mengatakan itu karena kursinya dilapisi lem lagi seperti kemarin.


Semua orang kembali ke tempat duduk karena pelajaran akan dimulai kembali.


"Kalian pikir gue semudah itu dikerjai lagi? Sungguh lucu, kalau bukan karena alur udah gue hancurin nih kelas!"


"Tapi yah.. sekarang gue bisa ngehancurin kelas ini"


"Lihat ekspresi Julia! Dia benar-benar kesal! Hahaha" Reana tersenyum puas melihat ekspresi mereka semua, terutama Julia.


Pelajaran telah usai, saatnya jam istirahat.


Sebelum pergi, Reana kembali mengepel lebih dulu lantai di pintu belakang, karena tumpahan seember air tadi pagi membuat lantainya menjadi licin dan basah, ia tak ingin disalahkan lagi seperti sebelumnya.


"Kira-kira sekarang dia udah nerima hadiah dari gue gak ya?" Reana tersenyum misterius, entah apa yang sedang ia rencanakan


...*...


Seorang siswi berjalan menuju belakang kelas berniat untuk mengambil buku di dalam lokernya.


"Akhhh!!" Siswi itu berteriak ketika membuka loker miliknya, ia gemetar ketakutan melihat isi lokernya, di dalam terdapat foto-fotonya yang robek dan berantakan beserta coretan cat dengan warna darah, coretan itu bertuliskan.


"AKU TAHU KAMU PELAKUNYA. TUNGGU AKU!"


...~•-•~...


...~•To be Continued•~...

__ADS_1


__ADS_2