
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Winaya menutup kedua matanya gemetar, teman-temannya langsung menghampirinya dan menanyakan ada apa dengannya.
"Winaya, lo kenapa sih dari tadi aneh banget? Lo sakit ya?" Tanya siswi yang membantu Winaya saat di loker tadi.
Winaya perlahan membuka matanya, ia melirik ke arah Reana terjatuh tadi tak ada siapapun.
"G-gue gapapa" Lirih Winaya.
"Lo kalau ada masalah cerita sama gue, jangan lo pendem gini, lo kan punya gue" Nasihat temannya, Winaya hanya tersenyum simpul.
Winaya melirik ke arah lantai 2 tempat Reana melompat tadi, ia melihat Reana berdiri lalu berjalan masuk lewat pintu yang Winaya lewati saat mencelakai Reana dulu, dengan cepat Winaya pergi keluar lapangan.
"Winaya! Lo mau ke mana?!" Teriak temannya tetapi Winaya tak menggubrisnya sama sekali.
Winaya berlari menuju tempat yang tertembus ketika melewati pintu, sesuai perkiraannya Reana berdiri menunggu Winaya.
Reana melirik ke arah Winaya,
"Ternyata lo tahu pintu itu tersambung ke mana" Sindir Reana.
"Tentu aja gue tahu, karena gue udah sekolah di sini bertahun-tahun!" Ucap Winaya.
"Bertahun-tahun? Kita kan baru kelas 11, gimana bisa bertahun-tahun?" Reana mengangkat sebelah bibirnya.
"Lo gak perlu berpura-pura lagi, lagian cuma kita di sini, kenapa lo harus takut buat ngaku?" Ucap Reana memanasi.
Winaya menyeringai,
"Apa lo pengen denger jawaban gue? Kalau gitu matiin rekaman ponsel lo" Ucap Winaya melirik ke arah ponsel Reana yang menyala terang benderang.
Reana memutar bolanya malas lalu mematikan ponselnya, bahkan ia juga meletakkan ponselnya agar Winaya percaya.
"Sekarang lo puas?"
"Cepet kasih tahu gue! Gue gak punya waktu lama-lama buat bales dendam sama lo!" Ucap Reana kesal.
"Haha bales dendam? Kenapa? Apa gue punya kesalahan?" Tanya Winaya.
"Lo masih pura-pura gak ngerti apa yang terjadi? Apa sungguh gue harus ngejelasin lo satu-satu?
"Gue tahu insiden kunci toilet dan lo ngunci gue di dalem sana sambil naruh gas kimia di dalam, itu ulah lo kan?!" Teriak Reana tak ingin kedamaian ini berhenti.
"Oh soal itu, iya itu emang gue, sekarang lo puas karen ngedenger jawaban itu?" Ucap Winaya menatap tajam Reana.
"Kenapa lo ngelakuin itu? Apa salah gue sana lo sampe-sampe lo berniat bunuh gue, ini udah termasuk hukuman berat tahu!
__ADS_1
"Tentu aja lo punya kesalahan besar! Kenapa lo ngedeketin Ethan kalau lo udah deket sama Sean dan Zayn hah? Apa lo cewek murahan yang selalu bergonta-ganti saat malam?!" Sahut Winaya tak kalah kesal.
Plakk
Reana menampar pipi kiri Winaya keras saat selesai mendengar ucapan Winaya.
"Gue gak suka mulut kotor lo bicara ngehina gue"
Plakk
Sekarang Reana menampar pipi kanan Winaya.
"Gue gak suka dengan sikap lo yang angkuh setelah lo berusaha ngebunuh gue!"
Reana berjalan mendekat sehingga Winaya tak ada pilihan lain selain berjalan mundur, Winaya sekarang sudah bersandar pada tembok, ia tak bisa menghindar lagi.
"Sebenernya gue berniat nemuin lo cuma untuk nyuruh lo ngaku karena ngedorong gue, tapi ucapan lo ngebuat gue berpikir dua kali untuk ngelepasin lo" Reana menatap tajam ke arah Winaya, tatapannya berbeda ia seperti berniat menerkam Winaya sekarang juga.
"Kenapa dia semudah itu untuk berniat ngebunuh orang hanya sekedar cowok?"
"Apa hidup seseorang sebercanda ini?!"
Reana mengepalkan tangannya erat berusaha menahan emosi karena bahkan saat Reana bersikap seperti inipun Winaya tak mengubah raut wajahnya menjadi takut, ia tetap kokoh dengan raut wajah angkuhnya.
"Udah berhenti, ini udah kelewatan batas. Lo jangan pernah berpikir untuk pukul dia, oke?" Ucap Felix yang sedari tadi berdiri di samping Reana.
Reana mengatakan itu bukan tanpa alasan, ia bisa dengan jelas mengingat ketika Elena di pukuli habis-habisan oleh kelompoknya, bahkan walaupun Elena sampai mencoba bunu diripun ia sama sekali tak merasa bersalah.
Bukkh
Satu pukulan tepat mendarat ke pipi kanan Winaya membuat matanya terbelalak kaget mendapat perlakuan itu.
"Lo mungkin berpikir kalau gue masih Elena yang dulu, penyendiri, mau menurut bahkan suka rela untuk menjadi samsek tinju lo,"
"Lo liat pakaian gue kan? Lo liat penampilan gue? Gue udah berubah! Dan lo tahu kenapa gue berubah? Itu karena adanya manusia seperti kalian!" Reana mendorong kepala Winaya dengan tangannya.
"Gue gak peduli apakah lo berniat ngelaporin gue atau nggak terserah lo, tapi lo harus inget ini.." Reana menghidupkan ponselnya dan memutar percakapan mereka dari awal.
Winaya terkejut, ia kaget karena saat Reana menaruh ponselnya tadi jelas-jelas ponsepnya ia matikan, ia tak tahu bahwa di samping Reana berdiri seorang Felix yang bersedia membantu Reana, ia merekam percakapan mereka sedari awal, tentu saja ia akan menghapus saat ucapan Reana mulai kasar.
"Awalnya gue berniat bales dendam sama lo, tapi kayaknya gue harus urungkan niat gue dulu, karena lo sama sekali gak menarik!" Reana menyeringai lalu pergi meninggalkan Winaya yang masih melamun.
"Apa lo gak keterlaluan? Lo kelihatan jahat banget tadi, itu malah menjadi lo berperilaku seperti mereka" Tanya Felix berjalan mengekori Reana.
"Gue emang jahat sejak dulu, gue gak punya sifat baik," Sahut Reana berjalan tanpa menoleh ke arah Felix.
"Lagian mereka pembully, mereka gak akan nyerah tanpa ada yang membuatnya takut,"
"Gue takut ada korban lagi selain Elena, walaupun ini hanya sebuah novel tetap saja di sini ada kehidupan, dan mereka semua berhak hidup"
__ADS_1
Reana berjalan memasuki kelas, Felix terdiam di depan kelas, ia melirik ke arah Reana yang langsung duduk di kursinya lalu memasang earphone.
"Lo bener-bener gak berubah ya Rea, lo tetep peduli sama orang lain walaupun sikap lo kadang ngebuat orang salah paham.."
Reana membaca buku pelajaran sambil mendengarkan musik, sudah beberapa bulan ia tak sekolah sehingga banyak pelajaran yang tertinggal walaupun Reana sudah mengerti semuanya karena ia pernah mempelajarinya dulu di dunia nyata.
Seketika teman sekelasnya berjalan masuk bersamaan, mereka mengobrol-ngobrol asik, Reana melirik lalu menyeringai seperti menyembunyikan sesuatu.
Beberapa saat setelah itu guru berjalan menuju kelasnya seketika seluruh siswa maupun siswi berlari dan langsung duduk di tempat masih-masing.
"Pfft!" Reana menahan tawanya ketika mereka serempak duduk di bangku masing-masing.
"Kenapa nih kok lengket!"
"Siapa yang olesin lem di kursi gue?!"
"Akhh! Celana gue ketempel!"
"Apaan? Siapa yang iseng?!"
"Kenapa gue juga kena!!" Teriak Julia marah, ia baru sadar bahwa kursinya juga diolesi lem, tepat saat itu guru memasuki kelas.
Guru itu bingung karena melihat murid-muridnya menampilkan wajah kesal dan tak bisa diam.
"Ada apa ini?" Tanya guru itu menatap mereka satu per satu.
"Bu! Ada yang iseng olesi lem dikursiku!"
"Iya Bu saya juga!"
"Saya juga Bu!"
"Bagaimana bisa seisi kelas terkena? Siapa yang iseng berani melakukannya?!" Tanya Guru itu tak habis pikir.
"Bu, Elena yang melakukannya! Dia orang pertama berada di kelas dan dia bahkan terlihat tak kena!" Tuduh Julia walaupun tuduhannya memang benar.
"Elena, apa kamu yang melakukannya?!" Tanya Bu Guru menatap Reana.
Reana menghela nafas kemudian bangun dari duduknya, ia memegang kursi dan ikut mengangkatnya karena roknya pun terkena lem.
"Bu saya masuk duluan dan saya yang kena duluan Bu, jika saya yang mengolesi lem kenapa saya juga harus mengolesi di kursi saya sendiri?" Jelas Reana.
"Duduklah, semuanya kalian fokus aja di pelajaran, soal rok maupun celana yang tertempel kita bicarakan setelah pelajaran selesai".
"Pftt! Rasain noh ketempel kursi!" Reana tertawa dalam hati, ia tak bisa tertawa sekarang pasti mereka akan curiga.
...~•-•~...
...~•To be Continued•~...
__ADS_1