
...•~Selamat Membaca~•...
...~•-•~...
...Flashback On...
Reana dengan anggun berjalan masuk ke sekolahnya, seperti biasa para pengawal mengantarnya hingga gerbang sekolah lalu hormat dan pergi meninggalkan Reana.
Saat perjalanan masuk ke kelas, ia tak sengaja melihat para brandalan sekolah sedang membully seorang siswa .
"Astaga, pagi-pagi udah ada aja brandalan kayak mereka!"
"Hmm gimana kalau gue coba jurus terbaru gue sama mereka aja?"
Reana berpikir sebentar, kemudian ia berjalan mendekati brandalan tersebut.
"Siniin duit lo, Cepet gak!" Teriak salah satu brandalan itu.
"G-gue gak punya uang, ini uang buat biaya SPP gue.." Rintih siswa yang dibully itu menahan sakit karena pukulan mereka.
"Alahh! Lo kan tinggal minta lagi ke orang tua lo!" Bentak brandalan yang lain.
"Woy! Kalian ini murid sekolah apa preman sih?! Bisa-bisanya sekolah ini nerima brandalan kayak kalian!" Teriak Reana berdiri di belakang mereka.
"Lo mau mati ya?!!" Teriak salah satu brandalan itu sambil menoleh ke arah Reana.
Brandalan itu terkejut karena yang berbicara dengannya itu adalah Reana, cucu dari pengusaha terkaya di kota ini.
"Ohh~, lo mau ngebunuh gue?" Sindir Reana tersenyum sambil berjalan mendekat.
Mereka langsung menunduk dan berdiri gemetar ketakutan. Bukan tanpa alasan mereka takut, karena siapapun yang berani membuat masalah dengan Reana maka sama saja mereka mencari cara untuk mati.
"Loh.. kok malah diem, padahal tadi kalian teriak-teriak" Sindir Reana lagi.
"M-maaf!!" Ucap mereka berlutut serempak meminta maaf.
"Bangun! Gue gak nyuruh kalian berlutut! Gue tanya harusnya kalian jawab bukan berlutut!" Teriak Reana menatap mereka
"M-maaf, gue gak bermaksud bilang gitu ke lo..."
"T-tolong jangan bilang ke Kakek lo kalau kita buat masalah sama lo..." Pinta salah seorang brandalan itu menunduk takut.
"Oke gue gak bilang ke Kakek gue tentang ini,"
"Tapi ada syaratnya" Ucap Reana tersenyum misterius.
"A-apa syaratnya? Kita bakal ngelakuin apapun asal lo gak ngadu ke Kakek lo!"
"Emangnya selama ini semua orang tahunya gue tukang ngadu apa?! Padahal gue sama sekali gak pernah cerita sama Kakek, tiba-tiba aja semua yang bermasalah sama gue pindah sekolah" raut wajah Reana tampak kesal karena mendengar ucapan mereka, seakan-akan terdengar Reana adalah tukang ngadu.
"Gue gak bakal permasalahin ini kalau kalian bisa ngalahin gue" Ucap Reana percaya diri.
__ADS_1
"N-ngalahin.. maksudnya?" Tanya salah satu brandalan bingung
"Kalian berantem sama gue, kalau kalian menang gue gak bakal ngadu ke Kakek gue" Jelas Reana.
"G-gue angkat tangan! Lebih baik gue dikeluarin dari sekolah dari pada harus mukul lo!" Ucap salah satu brandalan itu takut, ia langsung berlari pergi.
"Eh.. kok kabur??" Reana melirik ke arah brandalan yang kabur.
"G-gue juga.. lebih baik gue dibully dari pada nyentuh lo!" Semua lelaki itu berlari pergi meninggalkan Reana, karena memang tak ada yang berani menyentuhnya.
Walau Reana terlihat sendirian di sekolah, pasti ada satu maupun beberapa mata-mata Kakeknya yang memperhatikan dari jauh. Karena takut kecelakaan saat Reana kecil dulu terulang kembali, Kakeknya memerintahkan beberapa orang untuk memperhatikan Reana, karena Reana adalah cucu satu-satunya, ia tak ingin kehilangan maupun melihat cucunya terluka.
Saat ada yang membuat masalah dengan Reana di sekolah, besoknya yang bermasalah dengan Reana akan langsung di keluarkan.
Reana sama sekali tak pernah mengadu, tapi mereka semua berpikir bahwa Reana selalu mengadu sehingga mereka berbuat baik pada Reana dan tak ada yang berani berbuat jahat padanya.
Siswa yang dibully tadi menatap Reana, Reana yang ditatap langsung menoleh ke arahnya,
"Apa liat-liat?" Ucap Reana membalas tatapan siswa itu, siswa itu terkejut dan langsung menunduk.
"T-terima kasih" Ucap siswa itu berterima kasih.
"Bukan masalah, kalau lo gimana?" Tanya Reana
"G-gimana apa?" Tanya siswa itu bingung.
"Lo berani lawan gue?" Tanya Reana lagi.
"G-gue gak bisa kelahi, kalau gue bisa gak mungkin dibully kan.." Ucap siswa itu lirih.
"Novel? Emang apa yang lo pelajari?" Tanya siswa itu penasaran.
"Hmm? Gue pelajari jurus detektif saat menangkap penjahat! Tapi gue gak bisa jelasin karena jurusnya harus di praktekin" Ucap Reana menjelaskan.
"K-kalau gitu sebagai rasa terima kasih, lo bisa jadiin gue penjahat dan cobain jurus lo" Tawar siswa itu, Reana menggeleng.
"Gue cuma pengen pakai jurus ini ke penjahat sebenarnya" Ucap Reana tersenyum menatap siswa itu, siswa itu termenung melihat senyuman Reana.
Tanpa basa-basi Reana langsung berjalan pergi meninggalkan siswa itu.
"T-tunggu..." Gumam siswa itu melihat punggung Reana yang semakin menjauh, tetapi Reana tak mendengar ucapannya.
...*...
Semenjak hari itu, siswa itu selalu memperhatikan Reana dari jauh, bahkan ia sesekali menyapa Reana saat tak sengaja bertemu, sebenarnya bukan tak sengaja, bisa dibilang siswa itu sengaja melewati jalan itu agar bertemu Reana.
Reana tak merasa aneh sama sekali, ia selalu membalas sapaan siswa itu ketika siswa itu menyapa.
Siswa itu mulai berpikir bahwa Reana menolongnya bukan karena kebetulan, tapi karena Reana memiliki perasaan padanya, ditambah lagi Reana selalu membalas sapaannya membuat ia semakin yakin.
Akhirnya siswa itu mencoba membelikan boneka spesial hanya untuk Reana, ia pergi menemui Reana untuk memberikannya.
__ADS_1
"B-boneka untuk lo.." Ucap siswa itu menyodorkan bonekanya pada Reana.
Reana melirik bingung ke arah siswa itu, ia sama sekali tak berharap mendapatkan hadiah.
"Lo gak perlu ngasih gue hadiah segala" Ucap Reana ke siswa itu.
"Huft.. karena tanpa lo kasihpun Kakek gue udah lebih dulu beliin gue kalau gue suka" Batin Reana menghela nafas pelan.
siswa itu mengartikan ucapan Reana lain, ia berpikir Reana mengatakan itu karena tak ingin membebaninya, siswa itu tersenyum merasa bahwa ia semakin diperhatikan.
"Lo terima aja, ini sebagai tanda terima kasih gue, kalau lo nolak gue merasa sedih.." Pinta siswa itu.
"Duh gimana nih, kalau gue terima boneka ini dan bawa pulang, bisa-bisa Kakek ngira kalau gue lagi pengen boneka,"
"Nanti Kakek malah beliin gue lagi, astaga... boneka di kamar aja masih banyak!!"
Reana terdiam tak merespon, siswa itu memegang tangan Reana dan memberikan boneka itu, Reana terkejut karena siswa ini berani memegang tangannya tanpa takut.
"Berani banget ni bocah pegang tangan gue!!"
"Lo terima aja, gue gak merasa terbebani kok" Siswa itu tersenyum menatap Reana.
"Gue yang merasa dibebani tahu gak!"
Reana menghela nafas pasrah, akhirnya ia menerima boneka itu dan berniat membawanya pulang.
"Nanti gue cari alesan deh sama Kakek biar gak dibeliin"
Sepulang sekolah, Reana membawa boneka itu bersamanya naik ke mobil. Pak Supir memperhatikan boneka itu dari kaca spion depan saat perjalanan pulang.
"Maaf Nona Reana, kalau boleh saya bertanya, itu boneka dari siapa?" Akhirnya setelah memperhatikan cukup lama, Pak Supir mulai bertanya, Reana menoleh.
"Ahhh.. ini tadi ada anak-anak kecil yang jual Pak, karena kasihan Reana beli" Jawab Reana berbohong,
Pak Supir itu terlihat berpikir sebentar sebelum mulai berbicara lagi,
"Ohh kebetulan di rumah anak Bapak pengen boneka, boleh gak bonekanya buat Bapak aja, Nona?" Pinta Pak Supir itu.
Reana menatap Pak Supir bingung, karena baru kali ini Pak Supir meminta sesuatu padanya, padahal biasanya ia tak berani walaupun Reana menawarkan.
"Yaudah deh dari pada bohong nanti sama Kakek"
"Yaudah Pak, kebetulan di rumah Reana juga udah banyak boneka, tapi jangan kasih tahu Kakek ya kalau Reana beli boneka ini?" Pinta Reana.
"Iya Nona, Bapak bakal diem, sstt" Pak Supir menaruh tangan telunjuk dibibirnya tanda ia tak akan memberitahu siapapun.
Reana tersenyum kemudian memberikan boneka itu pada Pak Supir.
Pak Supir memperhatikan mata boneka itu,
"Kalau Nona Reana beli, kenapa di mata boneka ini ada kameranya? Pasti ada yang berniat gak baik ke Nona Reana.." Batin Pak Supir, ia menaruh boneka itu di sampingnya dan menutup wajah boneka itu dengan jaketnya.
__ADS_1
...~•-•~...
...•~To be Continued•~...