
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Reana berjalan mengelilingi luasnya lapangan basket, ia menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Hmm kira-kira posisi di mana ya enaknya"
Reana berdiri di tengah lapangan, ia memutar tubuhnya pelan sambil melihat ke segala arah.
Tatapannya terhenti di sebuah tempat di ujung lapangan di lantai dua.
"Sepertinya di sana lumayan.."
Reana mencoba pergi ke arah tempat yang ia tuju, saat sampai di sana ia melihat segala sudut tempat itu dan memeriksa apakah ia bisa menonton pertadingan dari sana atau tidak.
"Hmm kayaknya gak ada yang nonton pertandingan dari sini, tempat ini cocok buat nangkep pelakunya"
Reana melirik ke arah pintu di belakangnya, ia mencoba membukanya dan melihat ke dalam.
Pintu itu terhubung ke jalan koridor menuju ruang kelas, ia melihat sudut atas tak ada CCTV yang terpasang, tempat ini benar-benar cocok untuk memancing pelaku datang menemuinya.
"Pasti pelakunya bakal berpikir buat ngedeketin gue karena disekitar sini gak ada CCTV"
Reana tersenyum puas, ia berniat menangkap pelaku yang mencelakainya besok di saat pertandingan basket berlangsung. Ia benar-benar penasaran, siapa pelaku yang berani mencelakainya secara diam-diam, ia lebih kesal ketika harus bermain tebak-tebakan seperti ini.
Reana melirik ke arah lapangan, sepertinya tim basket sedang latihan persiapan untuk pertandingan beberapa hari lagi.
Tatapan Reana tertuju ke arah Ethan yang baru saja berjalan masuk ke lapangan, ia sudah memakai seragam basket bersiap untuk latihan.
"Woahh.. dia benar-benar tampan, kenapa gue gak nemuin cowok setampan dia di dunia nyata ya?" Reana terkagum-kagum menatap visual Ethan yang terlihat tidak nyata.
Siapa yang tak kagum dengan visual Ethan, ia memiliki wajah bak pangeran kerajaan, dengan hidung yang mancung, tatapan mata yang tajam tapi terasa hangat, bibir yang cantik hanya sekedar tersenyum kecil saja sudah membuat orang terpesona saking manisnya senyumannya, sayangnya Reana tak pernah melihat senyuman itu, senyuman yang tertuju karenanya.
Bukan hanya visual, dalam hal belajar ia adalah juara satu di sekolah, dengan prestasi di berbagai banyak bidang mulai dari menyanyi, menari, melukis, olahraga ia adalah juaranya, bahkan ia memiliki fans club perkumpulan orang yang menyukainya. Felix benar-benar menggambarkan karakter Ethan dengan sempurna tak ada kekurangan sama sekali.
Bukan hanya Ethan, Hanny juga digambarkan begitu menawan dan sempurna. Memiliki wajah yang cantik, senyum yang manis dan juga sifat yang ramah seperti malaikat. Dalam hal belajar ia adalah nomor ke dua di sekolah ini, bahkan ia adalah ketua Osis. Mungkin dalam hal nasib, Elena adalah karakter yang paling menyedihkan yang dibuat oleh Felix.
"Gue lupa tanya Felix, kenapa dia bisa menciptakan karakter Elena yang begitu menyedihkan? Sedangkan Ethan dan Hanny dibuat sesempurna mungkin. Felix memang pilih kasih! Kenapa dia gak ngebuat gue menjadi Hanny saja!"
__ADS_1
Mengingat karakternya membuat Reana kesal, ia tak perlu repot-repot menghindari bahaya dan mencari pelakunya jika ia masuk ke novel sebagai Hanny, mengingat kesempurnaan mereka berdua membuat Reana iri.
...***...
Reana berjalan kembali menuju kelasnya setelah melihat latihan tim basket selesai, ia menonton latihan dengan nyaman karena Ethan sama sekali tak melihatnya hingga ia tak bisa mengusir Reana lagi seperti kemarin. Saat ia hendak membuka pintu kelas tiba-tiba Zayn menghentikannya.
"Elena~" Panggilnya dengan suara menggoda, Reana meliriknya malas.
"Apaan sih!" Sahut Reana kesal.
"Ikut gue ke perpustakaan yuk, gue pengen cari buku pelajaran tapi gak tahu posisinya, lo bantu gue cari" Ajak Zayn
"Lo aja gak tahu apalagi gue! ke perpustakaan di sini aja gue gak pernah!"
"Kalau gak tahu posisinya harusnya lo tanya penjaga perpustakaanlah, kenapa malah ajak gue" Reana berniat membuka pintu tetapi lagi-lagi Zayn menghentikannya.
"Lo ikut gue! Gak boleh ada penolakan!" Perintah Zayn, tanpa menunggu jawaban Reana, Zayn langsung menarik tangan Reana pelan menuju perpustakaan.
Di balik pintu kelas, Julia sudah menunggu Reana datang, ia bersiap untuk mengerjai Reana lagi tanpa tahu bahwa Reana sudah pergi dari tadi, Zayn menyelamatkan Reana dari kejutan yang di siapkan Julia.
Zayn dan Reana sampai di perpustakaan, Zayn mengajak Reana untuk berkeliling melihat-lihat buku pelajaran.
"Ambilin itu tuh sebelah sana" Tunjuk Zayn ke arah buku di dekat Reana yang berada di rak paling tinggi.
"Duh ambil sendiri dong! Lo kan tahu kalau gue pendek!" Kesal Reana berusaha untuk mengambil buku yang ditunjuk Zayn.
Reana berjinjit dan melompat-lompat pelan berusaha untuk mengambil buku tersebut, tiba-tiba Zayn menarik tangan Reana membuat keseimbangannya hilang hingga Reana jatuh ke dalam pelukan Zayn.
"Hati-hati dong makanya" Sahut Zayn sambil tertawa cekikikan.
"Bilangnya hati-hati padahal lo yang buat gue jatuh!" Kesal Reana mendorong kuat tubuh Zayn yang menangkapnya agar menjauh.
Reana menatap Zayn lalu menyilangkan tangannya di dada
"Lo suka ya sama gue?" Tanya Reana to the point.
Zayn tersenyum kemudian melangkah mendekat lagi ke arah Reana
"Kenapa? Lo gak suka sama gue? Gue ganteng loh.. banyak yang suka" Jawab Zayn berjalan semakin dekat ke arah Reana
__ADS_1
Reana memutar bola matanya malas, ia tak merasa takut atau terintimidasi ketika Zayn berjalan mendekat bahkan sampai menutup jarak diantara mereka.
"Kalau lo ganteng terus kenapa? Gue harus suka sama lo gitu?" Tanya Reana mendongak menatap Zayn yang sudah berdiri tepat di depannya
Zayn tersenyum kemudian menyanggah tangannya di rak belakang Reana
"Tentu aja lo harus suka sama gue, karena kita udah ngelakuin..."
Zayn menghentikan ucapannya dan tersenyum jahil, ia menunduk dan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Reana berniat untuk menciumnya.
Reana menyunggingkan senyum meremehkan, ia sedikit berjinjit berniat untuk mendekatkan wajahnya juga ke arah Zayn, saat jarak wajah mereka semakin dekat, dengan tenaga penuh Reana menginjak kaki Zayn keras.
"Ak-" Reana menutup mulut Zayn dengan tangannya agar ia tak berteriak kencang.
Reana memutar tubuhnya ke belakang punggung Zayn lalu ia langsung memelintir tangan Zayn ke belakang.
"Berani banget lo mau cium-cium gue!" Bisik Reana ke telinga Zayn sambil mengeratkan genggamannya.
"Ampun! Ampun! Gue cuma bercanda aja tadi, kalau lo mau kan itu jadi bonus candaan gue" Sahut Zayn menahan tawa
Reana memelintir tangan Zayn semakin kencang,
"Akhh! Maaf! Maaf! Gue gak bakal ulangin lagi! Janji!" Rintih Zayn merasa kesakitan.
Reana melepaskan genggamannya kasar, ia menyilangkan kedua tangannya di dada
"Awas aja kalau lo berani macem-macem lagi sama gue!"
"Ngajak ke perpustakaan bukannya belajar malah modus! Awas aja kalau lo bertingkah lagi, Huh!" Reana berdecak kesal, ia berjalan pergi meninggalkan Zayn yang masih memegang lengannya menahan sakit.
Zayn tersenyum melihat punggung Reana yang semakin menjauh, ia menaruh tangannya di dadanya.
"Kenapa gue deg-degkan gini ya? Gak mungkin kan gue suka sama Elena?" Zayn menatap lekat ke arah Reana.
"Kok dia bisa berubah drastis gitu? Padahal malem itu dia gadis yang cengeng, gue gak tahu kalau sifat aslinya seperti ini.. Dasar gadis aneh!" Zayn tertawa kecil, sepertinya ia mulai tertarik kepada Reana. Apakah itu perasaan suka?
...~•-•~...
...~•To be Continued•~...
__ADS_1