
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Siswi itu terduduk lemas melihat isi lokernya.
"S-siapa.. siapa yang melakukannya?!" Teriaknya sambil mengedarkan pandangannya takut ke sekeliling arah.
Seorang siswi berlari menghampirinya yang terduduk di lantai,
"Winaya! Lo kenapa?" Tanya siswi itu memanggil nama siswi yang sedang gemetar ketakutan itu.
"L-loker gue! Siapa yang ngelakuin itu?!" Tanya siswi yang bernama Winaya itu menatap temannya tajam.
Dari jauh terlihat Reana menonton pertunjukkan seru itu, ia senang melihatnya dan baginya itu pembalasan di tingkat rendah
Reana melirik ke arah Felix yang berdiri di sampingnya.
"Lo ngelakuin sesuai yang gue suruh kan?" Tanya Reana, Felix menoleh ke arah Reana.
"Hmm? Ngelakuin apa?" Tanyanya bingung menatap Reana
"Lo tuh gak bisa serius apa? Gue nanya serius nih" Sahut Reana kesal mendengar jawaban Felix.
"Gue kan minta tolong ke lo pas kita masih di rumah sakit" Ucap Reana memperjelas.
"Ohh tentang lo bikin nangis anak kecil itu?" Tanya Felix sedikit mengerti.
"Bukan!! Lo tuh bener-bener deh! Setelah itu kan gue minta tolong sama lo"
...Flashback On...
"Gue harus bales dendam, lo harus bantu gue!"
Felix menghela nafas pasrah,
"Apa yang perlu gue bantu?" Tanya Felix sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Bantu gue teror cewek yang berusaha ngebunuh gue agar dia mengaku kalau di lapangan adalah ulahnya"
"Kalau gue bantu lo neror, bisa-bisa siswi lain tahu kalau lo neror dia agar mengaku, bagaimana kalau itu dianggap pemaksaan?"
"Kita tinggal hilangkan buktinya" Reana menatap Felix dengan senyuman misterius, Felix yang di tatap sudah bisa merasakan firasat buruk, ia benar-benar tak ingin membantu Reana sama sekali.
__ADS_1
"Lo gak perlu merasa terbebani, gue bakal ngelakuin semuanya sendiri, lo sebagai penulis hanya perlu ngebantu gue sedikit" Ucap Reana.
Seperti ucapannya, saat pagi-pagi setelah sampai di sekolah Reana langsung mencari loker milik Winaya, saat ia menemukannya ia langsung merobek-robek foto-foto milik Winaya yang sudah di cetak olehnya dan juga menulis tulisan dengan cat warna darah agar ia tahu bahwa itu benar-benar darah. Sedangkan tugas Felix adalah membuat apa yang Reana taruh di loker itu menjadi hilang.
...Flashback Off...
"Ada apaan di loker lo?" Siswi itu berjalan dan membuka loker Winaya, saat membukanya yang ia lihat hanya buku-buku yang tertata rapi, tak ada selain itu.
"Di loker lo ada buku doang kok" Ucap siswi itu menunjukkan isi loker.
Winaya bangkit dari duduknya lalu melihat isi loker sekali lagi, apa yang ia lihat sebelumnya sama sekali tak ada di sini.
"S-sepertinya gue salah lihat.." Gumam Winaya lega.
"Gimana? Udah baikan? Yok balik ke kelas, bentar lagi jam olahraga" Ajak siswi itu menggandeng tangan Winaya.
"Lo ngapain di sini?" Suara Zayn tiba-tiba membuat Reana terkejut, ia menoleh dan mendapati Zayn terdiam tepat di tempat Felix berdiri sehingga wajahnya tertutup dengan pundak Felix karena memang Felix memiliki tinggi sekitar 180an cm sedangkan Zayn setinggi pundaknya.
"Gue sama sekali gak lihat wajahnya, cepet minggir!" Batin Reana berbicara dengan Felix.
Felix melangkah dengan malas untuk menyingkir, ia berdiri di samping Reana dengan tatapan mengimintidasi.
"Emang ada masalah kalau gue di sini? Tanya Reana balik.
"Lo gimana? Kenapa lo dari kelas 2-10 nongkrong di tempat yang bukan wilayah lo?" Tanya Reana mengcopy ucapan Zayn.
Zayn melihat Reana dari atas hingga bawah, ia baru saja menyadari jika penampilan Reana berbeda.
"T-tunggu.." Zayn memegang pundak Reana lalu memutarnya agar Reana membelakanginya, ia memperhatikan rambut Reana lalu memegangnya.
"Apaan sih!" Sahut Reana menepis tangan Zayn yang ada di pundaknya.
"Kenapa lo berubah drastis gini? Di mana Elena dengan rambut kepang dua dan berkacamata kayak siswi culun?" Tanya Zayn masih tak percaya.
"Kenapa? Lo gak suka liat penampilan gue sekarang hmm?" Reana menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Gue malah suka banget sama penampilan lo yang sekarang,"
"Nih coba lo pegang dada gue, sedari tadi jantung gue berdetak kencang seperti ingin meledak" Zayn memukul dadanya pelan sambil mendengar suara detak jantungnya yang memang berdetak kencang.
"Bilang aja itu modus lo! Biar gue nyentuh lo kan? Huh! gak mempan!" Reana berjalan meninggalkan Zayn sambil mengibaskan rambutnya hingga terkena wajah Zayn, tanpa merasa bersalah sekalipun Reana berjalan pergi diikut Felix di belakangnya.
...*...
__ADS_1
Jam pelajaran olahraga untuk kelas 2-1, Reana berdiri di lantai 2 sambil menonton mereka berolahraga, karena memang jam pelajaran Reana sedang kosong sehingga ia berjalan-jalan mengelilingi sekolah dan tujuannya terhenti di lapangan.
"Felix!" Reana memanggil nama Felix tapi tak ada jawaban sama sekali,
"Felix ke mana sih?!" Reana melihat sekeliling mengedarkan pandangannya mencari Felix.
"Gue di sini"
"Akhh!" Reana berteriak kencang, ketika ia menoleh ke arah kanan tiba-tiba wajah Felix terpampang jelas di depannya.
Plakk
Reana dengan respon yang cepat ia tak sengaja memukul wajah Felix.
"Maafin gue, harusnya lo tuh jangan ngagetin gue tahu!" Bentak Reana menatap Felix dengan wajah kesal.
"Gue gak ngagetin lo, lo aja yang kagetan. Gue udah manggil lo dari tadi tapi gak ada jawaban sama sekali!" Felix sedikit emosi karena di tuduh.
" Oke-oke, lo udah persiepin semuanya kan?" Tanya Reana menatap Felix.
"Lo tuh gak sabaran banget dah!" Keluh Felix tapi ia tetap berusaha untuk mengikuti ucapan Reana.
Reana rersenyum,
"Felix, saatnya beraksi!"
...*...
"Baiklah anak-anak, untuk pelajaran kali ini kita cukupkan sampai di sini, tapi sebelum jam olahraga usai kalian bisa bermain maupun berlomba untuk mengisi kekosongan jam pelajaran" Ucap pak guru pamit undur diri karena harus segera pergi sebab ada urusan penting.
Sesuai yang di katakan pak guru tadi, semua siswa maupun siswi lebih memilih untuk berdiam diri di lapangan untuk santai-santai dibanding kembali ke kelas karena cuacanya sangat panas.
"Duh.. panas banget ya" Ucap salah satu siswi sambil mengibas-ibaskan rambutnya.
Winaya hanya melirik tak peduli, ia tak merespon dan hanya terdiam sambil terus melamun, siswi-siswi berbicara tentang banyak hal sedangkan Winaya hanya menyimak.
Winaya mengedarkan tatapannya ke sekeliling lapangan, tanpa sengaja ia melirik ke lantai 2 terlihat Reana dengan rambut berkepang dua berjalan pelan menuju pojok tempat ia terjatuh kemarin, Winaya melihat dan mengikuti arah tujuan Reana.
Saat sampai ia berdiri di tempatnya terjatuh kemarin, Reana mengangkat wajahnya sedikit lalu matanya bertatapan dengan Winaya. Reana tersenyum kemudian langsung melompat seperti yang ia alami kemarin.
"Akhh!!" Winaya yang melihatnya langsung merinding dan memejamkan mata ketakutan, ia bisa melihat gerak bibir Reana, ia mengatakan bahwa ia tahu pelakunya.
...~•-•~...
__ADS_1
...~•To be Continued•~...