
...~•Selamat Membaca•~...
...~•-•~...
Reana menghela napas pasrah mendengar pembelaan Julia, ia juga tak ingin terlalu bicara dan membela diri. Apapun yang ia katakan, kepala sekolah pasti akan memihak Julia karena Julia adalah anaknya. Satu-satunya cara untuk membela diri dengan menampilkan bukti yang jelas.
"Jika memang kamu ingin membahas tentang pertengkaran yang dulu, mari kita bahas." Ucap Reana melirik ke arah Julia.
Melihat sikap Reana yang tenang membuat senyuman yang terukir di bibir Julia mulai memudar. Reana mengeluarkan ponselnya dan membuka salah satu video lalu meletakkannya di atas meja.
"Bapak bisa lihat sendiri saat saya datang ke sekolah dan kursi saya diolesi lem membuat rok saya robek" Jelas Julia sambil menunjukkan video tersebut, kepala sekolah mengangguk setuju.
"Lalu Bapak bisa melihat video selanjutnya saat saya hanya sedang duduk tiba-tiba Julia melempari saya dengan telur" Lanjut Reana melirik ke arah kepala sekolah yang sedang berkeringat dingin melihat tingkah anaknya.
"Tapi setelah itu lo kan nampar gue!" Teriak Julia tak terima jika Reana membela diri.
"Bukankah itu bentuk perlindungan diri? Jika saya hanya duduk diam sama saja menganggap saya menerima diperlakukan seperti itu kan?" Tanya Reana menatap ke arah kepala sekolah yang hanya diam seribu kata.
"Apa saya tak boleh membalas penindasan yang saya terima hanya karena dia adalah anak anda, Pak?" Tanya Reana lagi membuat kepala sekolah sedikit mengelap keringat gugup.
"Lo jangan asal ngomong ya! Kapan gue nindas lo!" Teriak Julia emosi tak mau kalah.
"Kenapa kamu emosi dan gugup? Kalau kamu tak merasa menindasku ya sudah, aku punya bukti untuk membuktika itu" Jawab Reana dengan tenang.
Reana menoleh lagi ke arah kepala sekolah,
"Tadi Bapak menuduh saya mengganggu Julia tanpa adanya bukti yang jelas, tapi hanya karena ucapan Julia itu Bapak langsung ingin memutuskan untuk mengeluarkan saya,"
"Dan sekarang saya ingin tanya kepada Bapak, saya difitnah mengganggu Julia, faktanya saya yang diganggu dan ditindas oleh Julia, bahkan ada bukti video Julia mengganggu saya. Apakah Bapak akan mengambil keputusan itu juga untuk mengeluarkan Julia?"
"Bagai-"
"Tepat!" Reana memotong ucapan kepala sekolah.
"Bapak pasti tak mungkin mengeluarkan Julia karena dia adalah anak Bapak kan? Dan bagaimana pun sekolah ini akan menjadi miliknya juga."
__ADS_1
"Lo tuh gak sopan tahu motong ucapan kepala sekolah!" Emosi Julia semakin memuncak.
"Gue gak pernah ganggu lo dan justru lo yang ngeganggu gue!" Teriak Julia lagi
"Pak, kalau Bapak butuh bukti Elena mengganggu saya, Bapak bisa cari di CCTV dekat toilet lantai satu, pasti terlihat jelas saat Elena masuk maupun keluar toilet itu dengan membawa ember berisi air selokan!" Teriak Julia memerintahkan ayahnya.
Reana melirik geram ke arah Julia yang bersikeras untuk mengeluarkannya dari sekolah, sebenci apa dia dengan Elena?
Seperti perintah Julia, kepala sekolah langsung mencari CCTV untuk melihat siapa saja yang masuk ke dalam toilet, petugas langsung mengirimkan datanya saat mendapatkan telepon langsung dari kepala sekolah.
"Rasain! Sekarang lo mampus!" Batin Julia senang
"Pak, jika saya terbukti masuk ke toilet itu membawa ember seperti ucapan Julia, apakah Bapak sungguh akan mengeluarkan saya dari sekolah?" Tanya Reana kepada kepala sekolah.
"Tentu saja, mengganggu teman itu bukan hal yang dibenarkan di sekolah ini!" Tegas kepala sekolah.
Reana menghela napas kesal mendengar ucapan kepala sekolah, sepertinya bagaimana pun kelakuan Julia ia akan tetap melindunginya.
Mereka akhirnya menonton video itu bersama, video diawali saat Julia dan teman-temannya masuk ke dalam toilet kemudian setelah menunggu beberapa saat tak ada Reana maupun orang lain yang masuk ke dalam toilet. Julia dan teman-temannya keluar dari toilet dengan wajah kesal karena disiram Reana, tapi dalam video tak ada jejak Reana sama sekali.
"Pak? Kok gak ada Reana yang masuk maupun keluar dari toilet? Pasti rekamannya dipotong!" Teriak Julia tak mempercayai apa yang ia lihat.
"Videonya sama sekali gak dipotong, waktu terekam tetap berjalan dan tak ada keganjalan sama sekali, memang yang masuk ke dalam toilet hanya kalian saja" Jelas kepala sekolah memegang kepalanya frustasi karena menghabiskan waktu untuk hal sepele seperti ini.
Reana menyunggingkan senyum kemenangan, ia bisa melihat Julia terdiam dengan ekspresi kebingungan.
"Kalian berdua bisa kembali ke kelas kalian" Perintah kepala sekolah kemudian beranjak pergi dari hadapan mereka berdua.
Julia menatap Reana kesal,
"Ini pasti ulah lo kan? Lo pasti edit videonya!!" Julia tak ingin kalah.
"Bukannya lo lihat sendiri? Cuma lo dan temen-temen lo yang ada di toilet, lo mimpi ketemu gue ya?" Ejek Reana keluar dari ruangan.
Reana tersenyum penuh kemenangan, ia senang melihat ekspresi Julia yang tadinya senang menjadi kesal. Bukan sulap maupun sihir, Reana sudah mempersiapkan rencana balas dendamnya sejak ia masih berada di rumah sakit.
__ADS_1
Reana tak mengambil keputusan dengan gegabah, ia merencanakan dan melihat sekeliling sekolah untuk mencari tempat yang tepat untuk membalas dendam. Di sekitar toilet lantai dua dan satu Reana berjalan dan mencoba mencari letak posisi CCTV apakah ia akan terekam atau tidak, Reana menemukan di toilet lantai satu terdapat sebuah jendela di dekat pintu masuk yang terhubung menuju belakang sekolah. Kebetulan Reana bisa memanjat sehingga ia mencoba keluar dari jendela itu dan melihat tak ada CCTV di belakang sekolah.
Reana menetapkan target untuk menggiringnya menuju toilet lantai satu dengan cara mengunci toilet lantai dua. Langkah pertama yang Reana lakukan adalah mengolesi seluruh kursi teman sekelasnya sebagai peringatan karena mereka sama sekali tak pernah memperdulikan Reana yang ditindas oleh Julia, sekarang Reana ingin mereka merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
Setelah rencana pertama berjalan lancar, Reana mulai menempel tanda toilet rusak pada lantai dua agar Julia dan teman-temannya memakai toilet di lantai satu, rencananya benar-benar berjalan dengan lancar.
Setelah mereka masuk ke toilet lantai satu, Reana bergegas menuju gudang mengambil seember air yang sudah ia sediakan dengan hati gembira. Setelah itu ia langsung berjalan menuju belakang sekolah dan masuk melalui jendela toilet, rencananya dilaksanakan saat itu juga. Ketika rencananya selesai ia kembali ke kelas dengan cara melewati jendela itu lagi sehingga ia benar-benar tak terekam CCTV, Reana melakukan rencananya dengan sempurna, sepertinya ia cocok menjadi penjebak profesional.
...*...
Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan kemenangan, Reana berlari kecil dengan gembira menuju kelasnya.
Ting Tong Ting Tong
Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi, Reana yang berlari riang dengan gembira tadi seketika raut wajahnya semakin gembira.
"Waktunya masuk ke dalam kelas"
"Gak nyangka baru aja rencana berhasil dengan sukses sekarang langsung ke rencana berikutnya lagi"
"Felix kayaknya nyesel masukin gue ke dalam novelnya, soalnya gue hancurin jalan ceritanya hahaha" Reana tertawa gembira membayangkan raut wajah Felix jika ia marah dengan sikap Reana, karena bisa terlihat jelas perbedaan sifat antara Reana dan Elena. Elena gadis pendiam dan tak suka berbaur dengan siapapun, sedangkan sifat Reana berkebalikan dengan Elena, Reana memiliki sikap yang angkuh dan tak ingin kalah dengan siapapun, siapapun jika melihat Reana dan Elena berdampingan ia bisa membedakannya dari kelakuannya.
Reana berdiri di depan pintu sebelum masuk,
"Sudah saatnya..."
"3..."
"2.."
"1!"
"Akhh!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kelas, Reana yang berdiri di depan pintu menahan tawanya mendengar teriakan ketakutan itu, itu adalah rencana Reana selanjutnya. Entah apa yang ia rencanakan tapi sepertinya Reana ingin membalas semuanya satu per satu.
...~•-•~...
__ADS_1
...^^^~•To be Continued•~^^^...