Perjalanan Menjadi Dewa

Perjalanan Menjadi Dewa
Ch 2. Tak memiliki Spirit Root


__ADS_3

CH 2. Tak memiliki Spirit Root.


Dengan menyenderkan tubuh nya di tiang Gazebo lalu mendongakkan kepala nya ke atas sambil menatap langit - langit Gazebo, Varel mencoba memahami informasi yang ia dapat kan dari seluruh penjelasan Jovan tadi. Setelah menjelaskan tentang semua yang harus di ketahui oleh Varel, Jovan dan Alena meninggalkan bocah kecil itu sendirian di gazebo dan pergi untuk mengurus pekerjaan mereka masing-masing.


Varel menyadari bahwa dunia yang dirinya tinggali dalam kehidupan sebelum nya, dan kehidupan yang sekarang memiliki persamaan dan perbedaan nya sendiri.


kesamaan nya adalah, mau di kehidupan sebelum nya ataupun di kehidupan yang sekarang, kekuatan menjadi penentu hidup seseorang. Yang di mana yang kuat di hormati, dan yang lemah akan ditindas. Hukum rimba selalu berlaku mau di mana pun dunia itu berada.


Sedang kan perbedaan nya adalah, nama energi alam yang berada di kehidupan nya yang sekarang di sebut Cakra, sedang kan untuk di kehidupan sebelum nya di sebut Qi. Selain itu, sebutan untuk tingkat kultivasi juga berbeda, Jovan menyebut kan tingkat kultivasi di mulai dari yang terlemah adalah Spirit Realm


Origin Realm


Profound Realm


Heaven Realm


Masing-masing ranah di bagi menjadi 9 gerbang, namun Jovan juga meyakini bahwa masih ada ranah yang lebih tinggi di atas Heaven Realm. Jovan juga memberi tahu dirinya bahwa tak semua orang bisa menjadi Cultivator, untuk bisa menjadi Cultivator seseorang harus menggunakan sebuah teknik manual yang cocok dengan Spirit Root yang di miliki nya.


Hal tersebut yang membuat banyak orang beramai-ramai untuk memasuki sebuah Academy, pasal nya tak semua orang memiliki sebuah teknik manual hanya Keluarga dan Academy yang sudah memiliki sejarah yang panjang yang memiliki berbagai teknik manual yang cocok bagi Cultivator. Teknik Manual juga memiliki tingkatan nya sendiri, yaitu rendah, tengah dan tinggi, semakin tinggi tingkatan yang di gunakan semakin baik juga hasil yang di dapat kan.


Seseorang bisa di katakan telah menjadi seorang Cultivator, apa bila dirinya telah membuka gerbang pertama Spirit Realm.


" Aaahhh ... Tak terasa waktu sudah mau menjelang malam, lama juga aku berada di sini. Waktu nya masuk pasti ayah dan ibu sudah lama menunggu ...?" Gumam Varel seraya melakukan perenggangan badan agar tubuh tak lagi kaku karena kelamaan duduk. Setelah selesai melakukan perenggangan bada nya ia segera meninggalkan Gazebo dan masuk ke dalam.


..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_...


Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi Kota Sungai Putih dan Kerajaan Sungai Putih pasal nya pengetesan bakat yang akan di lakukan hari ini akan menentukan bagi masa depan keluarga Bangsawan besar maupun kecil yang berada di Kota Sungai Putih. Banyak anak - anak kecil yang sudah berusia 5 tahun memenuhi lapangan alun-alun kota yang sudah di persiapkan untuk acara tersebut, mayoritas anak -anak yang ada di alun-alun kota adalah anak-anak para tetua keluarga dan anggota keluarga lain nya.

__ADS_1


Dari yang memiliki status kecil hingga memiliki status yang tinggi di dalam keluarga, selain dari para tetua, anak -anak tersebut juga merupakan anak -anak dari anggota biasa seperti pelayan hingga prajurit yang di bina oleh keluarga dan sisanya adalah anak-anak penduduk Kota Sungai Putih dan sekitarnya yang mencoba keberuntungan nya agar bisa di bina oleh suatu keluarga.


Di salah satu sudut lapangan alun-alun juga terlihat seorang anak dengan rambut putih nya sedang duduk dengan malas dalam diam, seraya memejamkan mata seolah tak terganggu dengan keramaian yang ada di sekitarnya.


Di barisan kursi Raja dan para kepala keluarga serta tetua yang tadinya kosong kini sudah mulai terisi, setelah menunggu beberapa saat dan semua kursi telah terisi acara pengetesan bakat pun di mulai.


"Selamat datang semuanya ... Terimakasih telah meluangkan waktu nya untuk menghadiri tradisi yang setiap tahun kita laksanakan yaitu tradisi pengetesan bakat, bagi anak-anak yang sudah berusia 5 tahun. Semoga di tahun ini Kota Sungai Putih kita akan melahirkan dan memunculkan babat-bakat yang mampu membawa Kerajaan kita ke kasta yang lebih tinggi lagi. " Ucap seorang pria paruh baya yang berdiri dari tempat duduk nya. Pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah Kepala Keluarga Addison dan sekaligus Raja kerajaan Sungai Putih, Parles.


" Bagi anak-anak yang memiliki bakat akan di pilih dan di bina oleh suatu keluarga, dan bila waktu nya telah tiba kalian yang telah di bina akan dikirim untuk mengikuti turnamen seleksi memasuki Academy Seribu Pedang. "


Lapangan alun-alun yang tenang mendadak menjadi ramai akibat perkataan terakhir yang di ucap kan oleh Parles, siapa yang tak mau memasuki Academy Seribu Pedang dan menjadi murid nya...? Academy Seribu Pedang, merupakan Academy besar dan kuat yang berdiri di Kerajaan Sungai Putih.


Dengan memiliki sejarah yang panjang Academy Seribu Pedang memiliki dasar yang kokoh, bahkan menjadi salah satu dari lima Academy besar yang ada di Benua Areon. Dengan sumber daya yang melimpah, Academy Seribu Pedang telah menghasilkan Cultivator -Cultivator kuat yang biasa di rekrut oleh kerajaan Sungai Putih untuk menjadi abdi Kerajaan.


Setelah mengucapkan kata sambutan nya Parles segera kembali duduk di kursi kebesaran nya. Selain Parles, terlihat dua orang yang duduk di kanan dan kirinya yang tak lain adalah kepala keluarga Janice dan kepala keluarga Weasley Jovan yang menjadi tiga keluarga besar Bangsawan Kerajaan Sungai Putih.


Pertama - tama aku akan memanggil nama kalian satu persatu, nama yang di panggil akan maju ke panggung dan menyalurkan Cakra kalian ke atas bola kaca yang ada di hadapan ku ini. " Ucap nya seraya menunjukkan sebuah bola kaca yang ada di hadapan nya itu. Bola kaca tersebut memiliki ukuran sebesar buah melon dengan seluruh nya berwarna putih pucat, bola kaca tersebut di letakan di atas meja dengan kayu yang berbentuk tangan serta kain sutra sebagai alas nya.


" Kalian sudah mempelajari bagaimana caranya mengalir kan Cakra bukan...? " Tanya Zoma kepada anak-anak yang ada depan panggung.


" Sudah Tetua...!!! " Jawab mereka serempak.


"Bagus jika kalian sudah mempelajari nya, jadi aku tak harus menjelaskan nya lagi. Setelah kalian mengalir kan Cakra kedalam bola kaca, bola kaca tersebut akan merespon dengan mengeluarkan berbagai warna cahaya yang melambangkan Spirit Root kalian masing-masing. "


Setelah mengatakan cara melakukan pengetesan bakat, lalu Zoma mulai memanggil satu persatu nama peserta yang mengikuti pengetesan bakat pada tahun ini.


Waktu berjalan dengan cepat tak terasa hari sudah menjelang malam hampir semua peserta sudah melakukan pengetesan bakat, dari sekian banyak nya peserta yang telah di tes hanya lima anak yang memiliki bakat yang cukup bagus yakni bakat tiga warna yang berarti mereka memiliki tiga jenis Spirit Root di dalam tubuh mereka. Sedang kan untuk sisa nya mereka memiliki bakat yang biasa - biasa saja yakni bakat empat dan lima warna.

__ADS_1


Semakin sedikit orang memiliki Spirit Root, maka semakin di anggap jenius pula orang itu. Memang orang yang memiliki banyak Spirit Root mampu mengendalikan banyak elemen, namun untuk menunjang nya membutuhkan banyak Cakra hal tersebut dapat membuat nya lambat dalam menaikkan tingkat kultivasi orang tersebut apa bila tak di tunjang dengan sumber daya yang cukup banyak.


Berbeda dengan orang yang memiliki banyak Spirit Root, orang yang hanya memiliki sedikit Spirit Root mampu menaikkan tingkat kultivasi dengan lebih cepat dari orang dengan orang yang memiliki Spirit Root yang lebih banyak dengan sumber daya yang sama. Hal itu menyebabkan kebanyakan Keluarga maupun Academy lebih memilih mengembangkan bakat dengan Spirit Root yang lebih sedikit, toh siapa juga yang mau menghabiskan sember daya hanya untuk satu orang sedangkan mereka bisa mendapatkan lebih dengan jumlah sumber daya yang sama.


Dengan jumlah sumber daya yang sama Keluarga maupun Academy dapat membina lebih banyak Cultivator yang memiliki lebih sedikit Spirit Root, orang yang memiliki sedikit Spirit Root juga mampu mempelajari sebuah teknik dengan lebih cepat dan lebih kuat, karena tingkat kecocokan nya akan lebih tinggi.


"Peserta terakhir Varel Weasley...!!!" Teriak Zoma dengan keras.


Setelah nama itu di panggil, seisi alun-alun menjadi hening pasal nya nama Varel cukup terkenal di Kota Daun Perak. Selain menjadi anak Jovan seorang yang di akui kejeniusan nya, penampilan Varel juga cukup unik yang membuat ia berbeda dengan anak yang lainnya.


Dengan rambut nya yang berwarna putih dan mata nya yang berwana biru sudah membuat dirinya berbeda dengan anak-anak yang lain nya, di tambah dengan memiliki wajah yang tampan dan memiliki poster tubuh yang cukup atletis bagi anak seusianya menambah pesona Varel di kalangan masyarakat terutama bagi para gadis -gadis yang seumuran atau yang lebih dewasa dari dirinya.


Setelah Varel sampai di atas panggung dengan cepat ia mulai mengulurkan tangan nya ke atas bola kaca dan mengalir kan Cakra yang di miliki nya, semenit dua menit setelah mencapai lima menit Varel mengeluarkan semua Cakra yang dimiliki nya, namun bola kaca tersebut tak kunjung mengeluarkan cahaya nya.


"Apakah bola kaca ini telah rusak...? " Gumam nya pelan. Pasal nya dirinya sudah lima menit mengalir kan cakra yang dimilikinya, namun bola kaca tersebut tak kunjung mengeluarkan cahaya.


Zoma yang juga bingung segera mengecek bola kaca tersebut, namun setelah mengecek nya dan mengalir kan sedikit Cakra nya bola kaca tersebut mengeluarkan empat cahaya, yang menandakan bola kaca tersebut masih berfungsi.


Varel yang melihat itu kini mulai menundukkan kepala nya, tak perlu pandai untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aula yang tadi nya sepi senyap kini kembali riuh tak hanya para peserta yang membicarakan Varel, tetapi dari para kepala keluarga dan para tetua dari masing-masing keluarga juga banyak yang mulai membicarakan dirinya bahkan ada yang mulai mengungkit tentang asal usul nya.


"Suami bagaimana ini, pasti Varel sangat sedih." Ucap seorang wanita cantik yang duduk di samping pria muda yang tak lain adalah Jovan, sedangkan wanita cantik itu adalah Alena yang saat ini sedang menatap sedih ke arah panggung.


"Kamu tenang saja, putra kita tak selemah itu."


Varel yang menjadi pusat perhatian hanya bisa terdiam, saat hendak turun dari panggung di angkat kepala nya dan melihat ke tempat di mana para kepala keluarga duduk. Di lihat nya wajah sang ayah Jovan dan sang Ibu yang tak memperlihatkan perubahan yang berarti di wajah nya, masih memperlihatkan senyum tipis yang terlihat hangat di wajah kedua orang yang telah merawat dirinya itu.


Varel yang melihat Jovan yang tak menunjukkan perubahan dan wajah sang ibu yang sedikit ada kesedihan sedikit terkejut, masih terlihat dengan jelas senyuman yang selalu terukir di wajah mereka saat menatap dirinya. Dengan tersenyum pahit Varel menundukkan kepala nya lalu dengan cepat meninggalkan alun-alun kota, tak lama setelah itu para tetua dan peserta yang ada di alun-alun kota juga mulai membubarkan diri. Berita tentang Varel yang tak mempunyai Spirit Root juga mulai tersebar di seluruh Kota Sungai Putih bahkan di setiap kota yang ada di Kerajaan. Hal itu menyebabkan banyak yang menyebut Varel sebagai aib Bangsawan

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2