
pagi hari, saat matahari baru saja menampakkan dirinya sambil memancarkan kehangatan sinarnya menerangi bumi.
Di sebuah rumah, terlihat seorang pemuda tengah tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya. Terlihat sebuah alarm diatas sebuah meja tepat disebelahnya.
pemuda tersebut tak lain adalah Zhen Xions.
'kring..... kring..... kring.....'
Bunyi alarm berdentang, Zhen terbangun dari tidurnya lalu memukul alarm tersebut.
Pada saat tangannya menyentuh alarm, cahaya yang sangat menyilaukan terpancar dari alarm tersebut. Seketika Zhen menutup matanya.
Saat Zhen kembali membuka matanya, dia terkejut melihat tempatnya berada sekarang adalah sebuah gubuk tua.
"Mengapa aku bisa berada disini? dan juga cahaya apa itu tadi." ucap Zhen sambil memperhatikan sekelilingnya.
di sudut ruangan, Zhen melihat seorang kakek tua tengah duduk bersila dengan mata tertutup. Zhen lalu menghampiri kakek tua tersebut.
Merasakan ada yang sedang menghampirinya, kakek tua itu membuka matanya. Dia melihat seorang pemuda tengah berjalan kearahnya.
"Hahaha..., akhirnya kau datang juga anak muda, sudah lama aku menunggumu." ucap kakek tua sambil tersenyum.
"Hah, maaf kek, apa yang kakek maksud itu aku?." tanya Zhen sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, siapa lagi jika bukan kau, apa kau melihat ada orang selain kita berdua disini?." Kakek tua itu balik bertanya.
"Ahahaha..., ngomong-ngomong mengapa kakek menungguku?." tanya Zhen sambil menggaruk kepalanya.
"Untuk menyelesaikan tugasku." jawab kakek tua itu dengan santai.
"hmm, kalau boleh tau tugas apa itu kek?." tanya Zhen.
"Kau akan tau nanti, baiklah karena kau sudah disini aku akan memberimu sesuatu. Maukah kau menerima apa yang akan aku berikan?." ucap kakek tua sedikit serius.
"Tentu akan kuterima jika itu hal yang baik, tapi sebelum itu bisakah kakek memberitahuku dimana kita berada sekarang?." ucap Zhen dengan sopan.
"Tentu, kita sekarang berada di sebuah gubuk tua hahaha....." ucap kakek tua lalu tertawa terbahak-bahak.
"aku juga tau itu, tapi maksudku ada di negeri apa ini?." ucap Zhen dengan senyum yang dipaksakan. Terlihat jelas dia tengah menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Hahaha...., aku hanya bercanda, kau tidak perlu kesal begitu hahaha...." ucap kakek tua sambil tertawa.
"cepatlah jelaskan kepadaku dimana ini?." Ucap Zhen kesal.
"Baiklah, baiklah, akan ku jelaskan. Hmm, kita sekarang berada di sebuah negeri bernama Zhronteds, tepat pada zaman kegelapan, dimana sihir menjadi sumber kekuatan untuk bertahan hidup. Dimana berbagai ras hidup untuk menunjukkan siapa yang terkuat."
"Wilayah kita saat ini berada di desa Astrend, sebuah desa kecil yang dikuasai oleh keluarga Astron." ucap kakek tua.
"Baiklah, aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang kau harus menerima pemberianku." lanjut kakek tua sambil mengeluarkan sebuah kitab dari jubah yang dikenakannya.
"Ambillah kitab ini dan pelajari, bukalah setelah aku pergi. Oh ya, aku hampir lupa ini pedang yang menjadi pendamping kitab itu." ucap kakek tua lalu menyerahkan kitab dan pedang yang ada di tangannya.
"Kuharap kau bisa menjaganya dengan baik." lanjut kakek tua.
Zhen lalu mengambil kitab dan pedang tersebut, lalu mengucapkan terima kasih kepada kakek tua itu.
"Terima kasih kek, aku pasti akan menjaganya meskipun nyawa sebagai taruhannya." ucap Zhen lalu mengambil kitab dan pedang tersebut.
"Aku percaya padamu." ucap kakek tua sambil tersenyum.
"Baiklah, sudah saatnya aku kembali, aku harap kau bisa bertambah kuat." lanjut kakek tua itu.
"Hahaha...., aku membuat gubuk ini hanya untuk sementara saja." jawab kakek tua dengan santai.
"Ohhh, lalu kemana kakek akan pergi?." tanya Zhen lagi.
"Kau akan tau nanti." ucap kakek tua sambil tersenyum.
"Hah.., baiklah sebelum kakek pergi, bisakah kakek memberitahukan siapa kakek sebenarnya?." tanya Zhen dengan penuh harap.
"Hahaha... tidak, belum saatnya kau mengetahuinya." ucap kakek tua itu sambil menatap Zhen.
"Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama lagi, masih ada tugas lain yang harus kukerjakan. Bersiaplah, tutup matamu." lanjut kakek tua tersebut.
Zhen lalu menutup matanya, kakek tua tersebut meletakkan jari telunjuknya di dahi Zhen. Seketika, sebuah cahaya muncul membungkus tubuh keduanya.
"Zhen Xions, dimanapun kau melangkah junjunglah keadilan, lindungilah mereka yang dekat denganmu, disetiap langkah yang kau ambil, banyak rintangan yang akan kau hadapi, teruslah melangkah dan jangan menyerah, kau adalah harapan kami." ucap kakek tua lalu menghilang bersama dengan cahaya.
Zhen lalu membuka matanya, dia menyadari kakek tua tersebut telah pergi. Zhen lalu memikirkan perkataan kakek tua itu.
__ADS_1
"Darimana dia mengetahui namaku?, kurasa aku belum memberitahunya. Apa maksudnya dengan aku adalah harapan. mereka?." pikir Zhen dengan serius.
Setelah lama memikirkan perkataan tersebut, Zhen menghela napas sebab tidak dapat menemukan jawaban.
"Hah... sudahlah, nanti saja kupikirkan." ucap Zhen lemah.
Zhen lalu berjalan ke sudut ruangan lalu mengambil posisi duduk. Dia memperhatikan pedang yang diberikan kakek tua itu kepadanya.
"Sepertinya aku harus berlatih pedang, kuharap aku mampu memainkan benda ini." ucap Zhen sambil mengelus pedang tersebut.
Pedang tersebut berwarna biru dengan corak keemasan selaras dengan kitab yang diberikan kakek tua itu.
Zhen lalu menyimpan pedang ditangannya lalu mengambil kitab yang diberikan kakek tua itu.
"Apakah aku mulai saja mempelajarinya atau menunggu esok hari saja." ucap Zhen sambil memandangi kitab tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Zhen memutuskan membaca kitab tersebut lalu berlatih pada esok hari.
"Baiklah, aku akan mempelajarinya lalu berlatih esok hari. Lagipula, sepertinya sebentar lagi malam akan tiba." ucap Zhen sambil melihat keluar.
Zhen lalu mulai membaca kitab tersebut. Semakin lama dia membaca kitab itu, dia semakin tertarik dengan isi dari kitab tersebut.
Beberapa saat kemudian, Zhen selesai membaca kitab tersebut. Terlihat, sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Kitab ini sangat menarik, tidak hanya berupa jurus pedang, tapi juga berisi tata cara pengendalian energi alam. Dengan ini aku sangat yakin mampu menguasai sihir lalu menjelajahi negeri ini." ucap Zhen dengan penuh semangat.
"Aku sangat berterima kasih pada kakek itu, suatu saat aku akan mencarinya. Aku tidak akan mengecewakannya." lanjut Zhen dengan penuh tekad.
Zhen lalu menutup kitab itu lalu mengarahkan pandangannya keluar, dia terkejut melihat hari telah malam.
"Hmm, sepertinya aku terlalu asyik membaca kitab ini sehingga tidak sadar hari telah malam." ucap Zhen sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya aku beristrahat untuk persiapan esok hari." lanjut Zhen lalu berjalan ke tempat tidur yang ada di salah satu sudut ruangan.
Ditempat tidur tersebut terdapat sebuah cincin yang terletak diatas sebuah bantal. Zhen lalu mengambil cincin tersebut lalu memakainya ditangannya.
'sepertinya kakek sengaja meninggalkan cincin ini untukku, terima kasih kek." ucap Zhen dalam hati.
Merasakan tubuhnya lelah, Zhen segera membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur tersebut lalu menutup matanya. Perlahan diapun tertidur.
__ADS_1