
Setelah pertarungan itu, mereka kembali berjalan hingga tiba diluar gerbang desa. Setibanya diluar desa, mereka melihat jalan menuju desa itu hanyalah hutan yang ada dihadapannya.
"Lyan, kita akan memasuki hutan ini." ucap Zhen sambil menunjuk ke arah hutan.
Lyan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Zhen, yang membuat Zhen memperlihatkan ekspresi malas di wajahnya.
Zhen berniat melangkah memasuki hutan, namun sebuah bayangan melesat dari dalam hutan lalu berhenti beberapa langkah dihadapannya menciptakan debu yang bertebaran di udara.
Saat debu menghilang, terlihat seorang pria berjubah hitam dengan tudung jubah menutup kepalanya tengah tersenyum kearah Zhen.
"Hah, apa lagi ini." ucap Zhen dengan malas.
"Heheh anak muda, sebelum kau melewati hutan ini, hadapi aku dulu." ucap pria berjubah hitam tersebut sambil tersenyum.
"Kenapa aku harus menghadapimu?." Tanya Zhen sambil menatap pria berjubah hitam tersebut.
"Karena aku menginginkannya." jawab pria berjubah hitam itu dengan santai.
"Jika aku tidak mau?." tanya Zhen lagi.
"Kau tidak mau ya, maka rasakan ini." ucap pria berjubah hitam itu lalu melesat kearah Zhen dengan kecepatan tinggi.
Pria berjubah hitam melesatkan tinjunya mengenai dada Zhen, sehingga Zhen terpental di udara hingga menabrak tembok desa. Darah segar keluar dari mulutnya.
"Zhen...." Teriak Lyan dengan keras kemudian berlari menghampiri Zhen dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
"Berhenti, atau aku akan membunuhnya." ucap pria berjubah hitam tersebut agak keras.
'Hah, belum lama aku meninggalkannya, dan dia sudah memiliki wanita. Sialan, aku akan memberimu pelajaran.' gumam pria berjubah hitam tersebut dalam hati sambil memperlihatkan ekspresi kesal diwajahnya.
Lyan berhenti berlari saat mendengar ucapan pria berjubah hitam itu, air matanya kini mengalir deras membasahi wajahnya disertai suara isak tangis.
Zhen yang melihat kejadian itu, mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia lalu bangkit berdiri, kemudian mengeluarkan pedangnya dan mengacungkannya ke depan.
"Beraninya kau membuatnya menangis, akan kuhancurkan, akan kuhancurkan kau......." ucap Zhen dengan suara rendah sebelum berteriak dengan keras.
Bersamaan dengan itu, cahaya biru cerah yang bercampur dengan cahaya putih keluar dari dalam tubuhnya lalu membungkus tubuhnya.
Mata pria berjubah hitam itu melotot melihat itu.
__ADS_1
"Darimana bocah ini mempelajari teknik berelemen udara, sepertinya saat itu aku hanya memberikannya kitab sihir dengan teknik berelemen angin." ucap pria berjubah hitam itu terkejut.
Lyan yang melihat kejadian itu terkejut, tangisannya juga menghilang saat itu juga. Matanya melebar tak percaya, melihat Zhen memiliki kekuatan sebesar itu.
"Tebasan melingkar sang penguasa angin." teriak Zhen sambil berputar di tempatnya.
Cahaya biru cerah melesat kearah pria berjubah hitam itu. Pria berjubah hitam melambaikan tangannya ke depan, membuat cahaya biru cerah berbalik melesat kearah Zhen.
Zhen mengayunkan pedangnya dua kali, membuat gerakan silang.
"Tebasan ganda sang penguasa angin." teriak Zhen dengan keras.
Cahaya biru cerah saling bertabrakan di udara tepat dihadapan Zhen, menciptakan ledakan yang membuat Zhen terlempar kebelakang dengan darah segar keluar dari mulutnya.
"Sialan." Teriak Zhen sambil meninju tanah.
Zhen lalu bangkit berdiri, kemudian melompat dan berputar di udara sambil mengayunkan pedangnya.
"Tarian pedang sang penguasa angin." Teriak Zhen dengan marah.
Cahaya biru cerah terus tercipta dari setiap tebasan pedang Zhen lalu melesat kearah pria berjubah hitam tersebut.
Cahaya biru cerah membentur dinding transparan dan lenyap seketika tanpa menimbulkan ledakan.
Zhen terkejut melihat serangannya menghilang tanpa bekas, sedangkan pria berjubah hitam tersenyum kecil sambil terus melambaikan tangannya.
"Hehehe... Zhen, sebaiknya kau menenangkan amarahmu. Jika kau bertarung dengan amarah yang menguasaimu, kau sendiri yang akan merasakan kehancuran." ucap pria berjubah hitam itu sambil melepaskan tudung jubah yang menutup kepalanya.
"Ka... kakek." teriak Zhen terkejut.
Lyan yang mendengar teriakan Zhen melebarkan matanya lalu menatap pria berjubah hitam itu.
"Hehehe..., kau sudah bertambah kuat Zhen. Tapi darimana kau mendapatkan teknik berelemen udara?." tanya pria berjubah hitam itu yang ternyata adalah kakek tua yang memberikannya kitab dan pedang yang digunakannya sekarang.
"Ahahaha..., aku mendapatkannya dari seseorang. Tapi aku belum mempelajari tekniknya, aku hanya belajar mengubah mana menjadi elemen udara." tanya Zhen sambil tersenyum sedikit sombong.
"Aku tarik kembali kata-kataku, kau belum bertambah kuat. Lihatlah, hanya dengan lambaian tanganku saja kau sudah babak belur." ucap kakek tua itu meremehkan yang membuat Zhen tersenyum pahit.
"Hmh, setidaknya aku sudah berusaha." ucap Zhen mendengus kesal.
__ADS_1
Zhen lalu berjalan menghampiri kakek tua itu setelah menyimpan kembali pedangnya.
"Zhen, bisakah aku melihat kitab itu?." tanya kakek tua itu.
"Tentu." jawab Zhen singkat lalu mengeluarkan kitab itu kemudian memberikannya pada kakek tua itu.
Kakek tua itu mengambil kitab yang diberikan Zhen lalu memperhatikan kitab tersebut. Tak lama kemudian, dia mengembalikan kitab itu. Zhen mengambil kembali kitab itu lalu menyimpannya.
"Kau boleh mempelajari kitab itu, tapi itu tidak akan membawa perubahan pada kekuatanmu. Kitab itu hanya dapat digunakan oleh seorang pengguna tombak." ucap kakek tua itu.
"Tidak apa-apa kek, aku akan mempelajarinya. Dengan begitu, aku tidak hanya memiliki satu teknik saja. Aku juga sudah dapat bermain tombak." balas Zhen dengan tegas.
"Hahaha..., aku suka itu. Ambillah ini Zhen, kitab ini akan sangat cocok untukmu." ucap Kakek tua itu sambil mengeluarkan sebuah kitab dari jubahnya.
"Terima kasih kek." ucap Zhen sambil mengambil kitab tersebut.
"Pedang ini adalah pasangan kitab itu." ucap kakek tua itu sambil menyerahkan pedang yang ada ditangannya.
"Hah, aku belum mempelajari kitab itu dan harus menerima kitab lainnya, melelahkan." ucap Zhen sambil mengambil pedang itu lalu menyimpannya.
Setelah Zhen menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan menghantam kepalanya membuatnya tersungkur di tanah.
"Hmh, bangun atau aku akan melakukannya lagi." ucap pria itu dengan kesal.
Zhen lalu bangkit berdiri sambil mengelus kepalanya, lalu menatap kakek tua itu dan mendengus kesal.
"Baiklah Zhen, pelajari kitab itu, dan saat kau telah menguasainya, aku akan menguji kekuatanmu." ucap kakek tua itu sambil memasang kembali tudung jubah menutupi kepalanya.
"Baik kek." ucapnya dengan malas.
"Pastikan kau benar-benar menguasainya, atau aku akan memberimu pelajaran." ucap kakek tua itu lalu melesat kembali ke dalam hutan.
Setelah kepergian kakek tua itu, Zhen menggerutu hingga membuat Lyan tertawa kecil. Lyan lalu menghampiri Zhen lalu menyuruhnya berbaring.
Setelah Zhen berbaring di tanah, Lyan meletakkan tangannya didada Zhen. Cahaya jika terang mulai membungkus tubuh Zhen.
Beberapa saat kemudian, Zhen dan Lyan berdiri sambil menatap hutan.
"Mari kita pergi." ucap Zhen lalu menggandeng tangan Lyan sambil tersenyum.
__ADS_1
Lyan menganggukkan kepalanya lalu tersenyum menjawab ucapan Zhen. Mereka lalu berjalan memasuki hutan dengan senyuman menghiasi wajah mereka.