
"Baiklah jika begitu, ayo mulai." ucap Zhen lalu melompat kearah salah satu serigala angin.
"Tebasan pedang sang penguasa angin." ucap Zhen lalu mengayunkan pedangnya.
cahaya biru cerah melesat membelah tubuh seekor serigala angin menjadi dua bagian.
Lyan yang melihat Zhen telah maju menyerang, segera ikut dalam pertempuran.
"Tebasan dewi udara." teriak Lyan dengan keras.
Cahaya putih melesat mengenai seekor serigala angin membuatnya terhempas hingga menabrak batu besar.
'Boom'
Ledakan dahsyat terdengar, debu beterbangan di tempat terhempasnya serigala angin.
Perlahan debu menghilang memperlihatkan tubuh serigala angin yang terbaring lemah. Tak lama kemudian serigala angin itu menghembuskan napas terakhirnya.
Melihat dua ekor dari mereka mati, kawanan serigala angin meraung keras kelangit lalu melompat, menerjang kearah Zhen dan Lyan.
Zhen mengayunkan pedangnya sambil berputar di tempatnya.
"Tebasan melingkar sang penguasa angin." ucap Zhen.
Cahaya biru cerah melesat menuju kawanan serigala angin yang menerjang kearahnya, membuatnya terbelah menjadi beberapa bagian.
Potongan daging dan darah bertebaran di udara sebelum jatuh ke tanah.
"Sangat mudah." ucap Zhen sambil mengibaskan pedangnya lalu menyimpannya.
"Kekuatanku semakin bertambah, keahlian pedangku juga meningkat." lanjut Zhen lalu tersenyum.
Zhen lalu mengarahkan pandangannya pada Lyan yang tengah menahan terjangan seekor serigala angin dengan pedangnya.
Terlihat disekelilingnya, tubuh kawanan serigala angin yang telah dipenuhi bekas sayatan pedang, terkapar tak berdaya.
'Dia hebat juga.' ucap Zhen dalam hati.
Tak berselang lama, serigala angin yang dihadapi Lyan terjatuh ke tanah dengan kepala yang hampir terputus.
Lyan mengibaskan pedangnya lalu menyimpannya, kemudian berjalan menghampiri Zhen. Dia terlihat sangat kelelahan.
"Apa ini... yang kau sebut... dengan latihan...." ucap Lyan terbata-bata.
Zhen menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Lyan.
"Mengapa kau menyebutnya latihan?, bukankah itu sebuah pertempuran?." tanya Lyan kebingungan.
"Hahaha... itu memang sebuah pertempuran, tapi juga bisa menjadi sarana latihan. Sebab, itu bisa meningkatkan kekuatan serta kemampuan seseorang." Jawab Zhen sambil menjelaskan.
"Tapi..., itu sangat melelahkan." ucap Lyan sambil memayunkan bibirnya.
"Latihan memang melelahkan." balas Zhen.
"Itu tidak hanya melelahkan, tapi juga berbahaya." ucap Lyan yang masih memayunkan bibirnya.
__ADS_1
"Tenanglah, ada aku disini. Kau tidak perlu khawatir, aku akan melindungimu. Percayalah padaku." balas Zhen dengan lembut lalu menyunggingkan senyumnya.
Lyan yang mendengar ucapan Zhen, merasa tersentuh. Hatinya merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, sebuah senyuman akhirnya tersungging di wajah cantiknya.
"Aku percaya padamu." ucap Lyan sambil tersenyum.
"Baiklah, pulihkan tenagamu, aku akan menjagamu." ucap Zhen senang.
"Hmm baik." balas Lyan.
Beberapa saat kemudian, Lyan telah memulihkan tenaganya. Mereka lalu berjalan kembali menyusuri hutan.
Belum lama mereka berjalan, seekor rusa petir melompat dari balik semak belukar menghadang jalan mereka.
Rusa petir tersebut melemparkan bola petir kearah mereka. Zhen dengan sigap mengeluarkan pedangnya lalu mengayunkannya ke depan, menebas bola petir tersebut.
'Booooom...'
Ledakan keras tercipta saat pedang Zhen bersentuhan dengan bola petir tersebut. Zhen terpental menabrak pohon membuatnya tumbang seketika.
Rusa petir melesat dengan kecepatan tinggi lalu mengarahkan tanduknya kearah Lyan. Saat tanduk rusa petir hampir menyentuh Lyan, cahaya biru cerah melesat kearahnya.
Rusa petir terpental kesamping lalu terbaring di tanah. Memanfaatkan hal itu, Lyan mengeluarkan pedangnya lalu menebaskannya kearah rusa petir tersebut.
"Tebasan dewi udara." teriak Lyan.
cahaya putih melesat kearah rusa petir. Rusa petir tak mampu menghindar, sehingga harus rela tubuhnya terkena cahaya tersebut. Luka tebasan pedang yang dalam tercipta di tubuhnya.
Baru saja rusa petir itu membuka mulutnya ingin berteriak, cahaya biru cerah melewati lehernya. Akibatnya, kepala rusa petir terpisah dari tubuhnya. Rusa petir itupun meregang nyawa.
Zhen yang melihat itu, menggertakkan giginya lalu berteriak keras.
"Sialaaan......" teriak Zhen dengan keras.
"Lyan, bantu aku mengalahkannya." ucap Zhen dengan serius.
"Baik." Lyan menganggukkan kepalanya.
"Tarian pedang sang penguasa angin" teriak Zhen dengan keras.
Zhen melompat lalu berputar di udara kemudian mengayunkan pedangnya.
"Tebasan penghancur." Lyan ikut berteriak.
Cahaya hijau terang melesat kearah monyet darah ditemani cahaya biru cerah yang terus bermunculan.
Monyet darah tak sempat bereaksi, sehingga harus rela terkena cahaya-cahaya tersebut. Tubuh monyet darah terpental sangat jauh lalu terjatuh di tanah tak berdaya dengan mata terbelalak. Terlihat, tubuhnya dipenuhi bekas sayatan pedang.
Zhen terjatuh dari udara membentur tanah, Lyan segera berlari mendekatinya dengan tergesa-gesa.
Lyan lalu memangku tubuh Zhen, membawanya menepi di bawah sebuah pohon. Setibanya disana, Lyan menyandarkan tubuh Zhen di batang pohon tersebut.
Tiba-tiba, setetes air mata jatuh mengenai wajah Zhen. Air mata kini membasahi wajah Lyan.
"Jangan menangis Lyan." ucap Zhen lalu mengusap air mata yang membasahi wajah Lyan.
__ADS_1
Zhen lalu memeluk Lyan, mencoba meredakan tangisannya. Namun bukannya berhenti, suara tangisan Lyan mulai terdengar.
Hingga beberapa saat, suara tangisan Lyan tak lagi terdengar. Zhen melepaskan pelukannya lalu tersenyum lembut menatap wajah Lyan.
"Pulihkan dirimu." ucap Lyan lalu duduk disampingnya.
"Baik." ucap Zhen.
Beberapa menit kemudian, Zhen bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya. Lyan meraih tangan Zhen kemudian berdiri.
Mereka lalu kembali berjalan menyusuri hutan. Selama perjalanan, mereka banyak bertemu dengan elemental beast. Mereka bertempur melawan elemental beast tersebut yang berakhir dengan kemenangan mereka.
Hal itu terus berlanjut, entah sudah berapa banyak elemental beast yang berhasil mereka kalahkan, tak ada satupun diantaranya yang dapat memberikan pertarungan dahsyat, sehingga mereka dapat menang dengan mudah.
Setelah puas, Zhen mengajak Lyan kembali ke gua yang mereka tempati sebelumnya. Lyan mengangguk, merekapun berjalan kembali menuju gua tersebut.
Selama perjalanan, mereka mengobrol untuk menghilangkan rasa lelah. Terkadang, suara tawa terdengar di sela-sela obrolan tersebut.
Hingga hari menjelang senja, mereka tiba didepan gua tersebut dan langsung memasukinya. Mereka lalu duduk kemudian menghembuskan napas lega.
"Akhirnya sampai juga." ucap Lyan dengan suara lemah.
"Apa kau lelah?." tanya Zhen.
"Iya." jawab Lyan singkat.
"Kemarilah." panggil Zhen sambil menepuk pahanya.
Lyan lalu mendekat kemudian duduk di pangkuan Zhen. Lyan meletakkan kepalanya di pundak Zhen kemudian memeluknya. Zhen pun membalas pelukan tersebut.
Mereka lalu melanjutkan obrolannya, hingga salah satu dari mereka merasa kantuk.
"Aku sangat lelah." ucap Lyan lemah.
"Jika begitu, istrahatlah." balas Zhen.
"Hmm." ucap Lyan sambil membetulkan posisi kepalanya.
"Apa kau kedinginan?." tanya Zhen dengan lembut.
"Sedikit." ucap Lyan mengangguk kecil.
Zhen mempererat pelukannya, lalu kembali bertanya.
"Apa kau masih merasa kedinginan?." tanya Zhen lagi.
"Tidak lagi, terima kasih." jawab Lyan sambil tersenyum.
"Itu sudah menjadi tugasku." balas Zhen santai.
"Baiklah, mari kita istrahat." lanjut Zhen lalu menutup matanya.
"Hmm, selamat malam." ucap Lyan lalu menutup matanya.
"Selamat malam." balas Zhen dengan mata tertutup.
__ADS_1
Tak lama kemudian, merekapun tertidur.