Perjalanan Zhen Xions

Perjalanan Zhen Xions
Kembali Berlatih


__ADS_3

Pagi hari di sebuah hutan, terlihat seorang gadis cantik tengah beradu pedang dengan seorang dwarf. Gadis itu tak lain adalah Lyan, sedangkan dwarf itu adalah Daren.


Mereka tengah berlatih pedang untuk menguji kekuatannya masing-masing.


Tak jauh dari sana, di dahan pohon besar, seorang pemuda tengah memegang dua kitab di tangannya. Pemuda tersebut adalah Zhen.


"Kitab mana yang aku pelajari lebih dulu ya." pikir Zhen sambil menatap kedua kitab ditangannya secara bergantian.


Setelah beberapa saat, Zhen telah mendapat kesimpulan.


"Baiklah, aku akan mempelajari kitab yang diberikan kakek terlebih dahulu lalu mempelajari kitab yang diberikan paman Shaun." ucap Zhen sambil menganggukkan kepala.


Zhen lalu menyimpan kitab yang diberikan paman Shaun kemudian mulai membaca kitab yang diberikan kakek tua kepadanya.


Tak lama kemudian, Zhen menutup kitab tersebut lalu menyimpannya kemudian melompat ke tanah.


Zhen mengeluarkan pedang yang menjadi pasangan kitab yang diberikan kakek tua itu. Dia lalu mulai mempraktekkan teknik yang terdapat dalam kitab tersebut.


Zhen mengalirkan mana pada pedang ditangannya, seketika pedang itu memancarkan sinar terang yang menyilaukan mata.


Tak berselang lama, sinar tersebut menghilang, menunjukkan pedang yang diselimuti cahaya putih. Pedang tersebut juga mengeluarkan aura kehidupan yang menenangkan, membuat Zhen merasa nyaman saat menggunakannya.


Zhen mengayunkan pedangnya, melakukan tebasan secara horizontal, membentuk tanda minus kearah pohon yang tak jauh dari posisinya berdiri.


"Tebasan pengikis kehidupan sang penguasa udara." ucap Zhen pelan.


Cahaya putih melesat dengan cepat menghantam pohon yang menjadi targetnya. Ledakan terdengar bersamaan dengan munculnya kabut tebal di tempat ledakan itu terjadi.


Lyan dan Daren yang mendengar suara ledakan itu, menghentikan latihannya lalu berbalik menatap ke arah ledakan itu terjadi dan melihat kabut tebal menyelimuti tempat itu.


Saat kabut tebal itu menghilang, terlihat pohon yang terkena cahaya putih itu menjadi layu. Energi kehidupan dari pohon itu tak lagi terasa.


Lyan dan Daren yang melihat itu, melebarkan matanya terkejut dengan mulut terbuka lebar hingga suara teriakan terdengar.


"Wah...., teknik ini sangat heba....t..., hahaha...."


Suara teriakan terdengar yang tak lain berasal dari Zhen, Zhen kini sedang melompat-lompat kegirangan sambil tertawa dengan mata terus menatap pohon itu.


Zhen terus tertawa hingga beberapa saat sebelum berhenti. Dia lalu melihat pedang ditangannya sebelum menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari kita coba lagi." ucap Zhen dengan semangat.

__ADS_1


Zhen mengangkat pedangnya, lalu melakukan tebasan membentuk tanda plus kemudian berteriak.


"Tebasan ganda pengikis kehidupan sang penguasa udara." teriak Zhen semangat.


Cahaya putih berbentuk tanda plus melesat menghantam pepohonan menciptakan kabut tebal. Saat kabut tebal menghilang, beberapa pohon menjadi layu sebab tak lagi memiliki energi kehidupan.


Zhen kembali melompat-lompat sambil tertawa kegirangan.


"Hahaha...., terima kasih kakek hahaha...., kau telah memberiku teknik ini hahaha...." ucap Zhen disertai tawa sambil melompat-lompat.


Lyan dan Daren yang melihat itu kembali terkejut lalu saling menatap satu sama lain.


"Teknik tuan sangat kuat ya." ucap Daren pada Lyan masih dengan ekspresi terkejut.


"Kau benar, aku tidak menyangka dia memiliki teknik sekuat itu." ucap Lyan membalas ucapan Daren sambil berbalik menatap Zhen.


"Hah, apa kau tidak tau tuan memiliki teknik sekuat itu?." tanya Daren pada Lyan dengan heran.


"Aku tidak tau, aku baru melihatnya tadi saat dia melakukannya." jawab Lyan.


Daren yang mendengar jawaban Lyan terdiam, dia lalu berbalik menatap Zhen dengan tatapan kagum sebelum kembali melanjutkan latihan bersama Lyan.


Zhen yang menyadari tatapan mereka kearahnya, kembali ke keadaannya semula. Dia menggaruk kepalanya menahan rasa malu.


"Baiklah, ayo lanjutkan." ucap Zhen pada dirinya sendiri.


Zhen lalu kembali memperagakan teknik pedang yang baru saja dia pelajari.


"Tusukan pedang pengikis kehidupan sang penguasa udara." teriak Zhen.


"Tebasan tanpa suara sang penguasa udara." teriak Zhen dengan keras.


"Tebasan menyilang pengikis kehidupan sang penguasa udara." teriak Zhen lagi.


Suara teriakan Zhen terus terdengar diikuti suara ledakan bersamaan dengan munculnya kabut tebal. Saat kabut tebal itu menghilang, pohon di tempat kabut tebal itu menghilang tampak layu.


Zhen terus mengulangi gerakan teknik pedang itu. Hingga beberapa saat, Zhen menghentikan gerakannya lalu menyimpan pedang di tangannya.


.


"Baiklah ini sudah cukup, sekarang aku akan mempelajari kitab yang diberikan paman Shaun." ucap Zhen lalu mengeluarkan sebuah kitab kemudian membacanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Zhen menyimpan kitab itu lalu mengeluarkan tombak dari cincin dijari tangannya, kemudian mulai memperagakan teknik yang ada pada kitab itu.


Zhen terus mengulangi gerakan teknik tersebut, hingga hari menjelang malam. Zhen menghentikan gerakannya lalu menyimpan kembali tombak itu.


Dia lalu menghampiri Lyan yang sedang menunggunya, mereka kemudian berjalan menuju kediamannya.


Tak jauh dari sana, seorang pria berjubah hitam tengah menatap kearah Zhen dari atas sebuah pohon.


"Anak itu, baru saja aku memberikan kitab itu kemarin, dia sudah dapat menguasai teknik didalamnya. Dia bahkan mempelajari kitab yang lainnya, dan juga berhasil menguasainya." ucap pria berjubah hitam tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah mengucapkan itu, pria berjubah hitam melesat menjadi bayangan meninggalkan pohon tersebut.


Zhen yang merasakan ada yang menatapnya, ingin berbalik. Namun dia mengurungkan niatnya sebab Lyan tiba-tiba memeluknya. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kediaman mereka.


Zhen dan Lyan lalu memasuki kediaman itu sambil tersenyum. Di dalam kediaman, Zhen menyuruh Lyan untuk membersihkan diri. Setelah Lyan selesai membersihkan diri, giliran Zhen yang membersihkan diri.


Setelah Zhen selesai membersihkan diri, dia menghampiri Lyan yang sedang duduk menatap keluar jendela, lalu duduk disampingnya.


"Apa yang kau lihat?." tanya Zhen.


"Aku sedang melihat bulan." jawab Lyan.


Zhen yang mendengar jawaban Lyan, ikut menatap keluar jendela lalu melihat ke langit.


"Indah kan." ucap Lyan sambil tersenyum.


"Entahlah." balas Zhen.


Lyan yang mendengar perkataan Zhen, mendengus kesal. Zhen yang melihat itu tertawa kecil sebelum mengelus kepala Lyan dengan lembut.


"Kau tau Lyan, aku tidak dapat menikmati indahnya bulan." ucap Zhen sambil terus mengelus kepala Lyan.


"Kenapa?." tanya Lyan penasaran sambil berbalik menatap Zhen.


Zhen lalu berbalik menatap Lyan yang sedang menatapnya.


"Entahlah, aku tidak tau. Sejak kecil aku sudah seperti itu tapi aku tidak menyesal sama sekali." jawab Zhen.


Lyan yang mendengar jawaban Zhen terdiam, dia lalu segera menutup jendela.


"Kalau begitu kita tidak perlu menatap bulan." ucap Lyan lalu memeluk Zhen kemudian menyandarkan kepalanya di dada Zhen.

__ADS_1


Zhen mengelus pipi Lyan dengan lembut sambil tersenyum hangat. Lyan yang merasakan Zhen mengelus pipinya, ikut tersenyum lalu menutup matanya mencoba merasakan kehangatan yang terpancar dari elusan tersebut.


Mereka terus dalam posisi itu hingga beberapa saat, sebelum beranjak untuk beristrahat.


__ADS_2