Perjalanan Zhen Xions

Perjalanan Zhen Xions
Serangan Goblin


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, saat hari menjelang malam. Zhen menatap Lyan yang sedang melihat ke langit sebelum menghela napas.


"Hah, sebenarnya apa yang kau lihat di atas sana." ucap Zhen penasaran.


"Melihat bulan, kau ingin menemaniku." balas Lyan sambil terus melihat ke langit.


"Tidak, terima kasih." ucap Zhen singkat.


Zhen lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Saat dia baru saja menutup matanya, suara teriakan keras terdengar membuatnya membuka kembali matanya.


"Tuan, tuan, para goblin itu telah datang...."


Suara teriakan terdengar.


Zhen bangkit dari ranjang tersebut sambil mendengus kesal.


"Hmh sialan, aku baru saja akan tertidur." ucap Zhen mendengus kesal.


"Sepertinya para goblin itu telah datang." ucap Lyan sambil menghampiri Zhen.


"Ya kau benar, aku akan melenyapkan mereka." ucap Zhen dengan kesal.


Zhen lalu bergegas keluar dari kediamannya diikuti Lyan dibelakangnya.


Baru saja mereka keluar dari kediaman, sebuah panah kecil melesat ke arah mereka yang tak lain berasal dari salah satu kawanan goblin yang ada di depan mereka.


Zhen memeluk Lyan lalu berputar ke samping sambil mengeluarkan pedangnya, dia lalu mengayunkan pedangnya ke depan.


"Tebasan pedang sang penguasa angin." teriak Zhen dengan keras.


Cahaya biru cerah melesat ke depan, menembus tubuh kawanan goblin di depannya, membuatnya terbelah menjadi beberapa bagian. Darah hijau bertebaran di udara bersama potongan daging.


"Ini adalah saat yang tepat untuk menguji teknik pedang yang baru saja ku pelajari." ucap Zhen sambil menyimpan pedangnya.


"Tapi sebelum itu, aku akan menguji kekuatan teknik tombakku." lanjut Zhen dengan semangat sambil mengeluarkan tombak.


Zhen melompat ke arah salah satu goblin yang tak jauh darinya sambil mengayunkan tombaknya dari samping kanan.


Tubuh goblin tersebut terbelah menjadi dua bagian saat terkena ayunan tombak Zhen. Zhen lalu melompat ke arah sekelompok goblin sambil menebaskan tombaknya.


Melihat Zhen masuk ke dalam pertempuran, Lyan tak tinggal diam. Dia juga mengeluarkan pedangnya lalu menyerang para goblin di sekitarnya.


Para dwarf yang melihat itu, bersorak keras. Mereka lalu melesat ke dalam pertempuran dengan semangat yang membara.


"Hancurkan para goblin itu..." Teriak Daren dengan keras.


"Ooo..." Teriak para dwarf dengan semangat.


Pertempuran pun terjadi antara pasukan goblin melawan para dwarf. Zhen dan Lyan yang ikut dalam pertempuran juga merasa bersemangat.


Zhen terus mengayunkan tombaknya, setiap ayunan tombaknya akan membunuh dua hingga tiga goblin yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Baiklah, ini sudah cukup, sekarang waktunya menggunakan teknik pedangku." ucap Zhen sambil menganggukkan kepalanya lalu menyimpan tombaknya.


Zhen lalu mengeluarkan pedangnya kemudian melompat ke udara sambil mengalirkan mana pada pedang tersebut.


Dia kemudian menusukkan pedangnya ke depan lalu berteriak.


"Tusukan pedang pengikis kehidupan sang penguasa udara." Teriak Zhen dengan keras.


Cahaya putih melesat dengan kecepatan tinggi ke arah kumpulan goblin


"Aakhhhh...."


"Aaakkhhhh...."


"Aakkhhh.."


Seketika, suara teriakan para goblin yang memilukan terdengar sebelum berhenti. Saat teriakan itu terhenti, terlihat tubuh para goblin itu hanya menyisakan tulang belulang.


Para dwarf yang melihat itu terkejut, mereka bergidik ngeri melihat efek dari teknik Zhen. Mereka berpikir, siapapun yang terkena teknik tersebut, sudah dipastikan akan mati dengan menyisakan tulang belulangnya saja.


Berbeda dengan para goblin, melihat kejadian itu membuat mereka berkeringat dingin. Pemimpin goblin yang melihat kejadian itu menatap Zhen dengan tajam.


Pemimpin Goblin lalu melesat ke arah Zhen sambil mengayunkan kapak besarnya, Zhen yang melihat itu mengayunkan pedangnya menangkis kapak besar tersebut.


'Trang'


Zhen lalu menarik pedangnya kemudian berputar lalu menebaskan pedangnya sambil berteriak.


Pemimpin goblin tak sempat bereaksi, sehingga pedang Zhen menghantam tubuhnya lalu membelahnya menjadi dua bagian.


Tubuh pemimpin goblin yang terbelah tiba-tiba menyusut hingga menyisakan tulang belulang saja. Para goblin yang melihat itu menarik napas dingin.


Melihat pemimpinnya telah terbunuh, para goblin yang tersisa meletakkan senjatanya ke tanah, lalu berlutut dengan kepala tertunduk ke arah Zhen.


Salah satu dari mereka lalu berkata.


"Kami menyerah, kami para goblin bersedia menjadi bawahanmu tuan." ucap goblin tersebut.


Para dwarf bersorak dengan keras penuh kemenangan.


"Ooo...."


Zhen yang melihat kejadian itu mengangkat sebelah alisnya.


"Mengapa kau berlutut padaku, dan bersedia menjadi bawahanku?." tanya Zhen.


"Jika pemimpin sebuah pasukan telah dikalahkan, maka otomatis pasukan tersebut akan menjadi bawahan dari orang yang mengalahkan pemimpinnya." jawab Cloris.


"Itupun jika mereka bersedia, jika tidak, mereka akan terus menyerang hingga titik darah penghabisan." sahut Lyan.


"Begitu ya." ucap Zhen sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dia lalu menatap para goblin itu dengan tatapan tajam.


"Apa yang terjadi jika aku tidak menerima mereka?." tanya Zhen pada Cloris.


"Itu sama saja tuan merendahkan reputasi mereka, bagi kami itu sangat tidak bermoral." ucap Cloris dengan tatapan tajam.


Zhen yang mendengar itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kecil.


"Baiklah kalau begitu, kalian kuterima menjadi bawahanku." ucap Zhen sambil tersenyum.


"Terima kasih tuan." ucap para goblin berterima kasih.


"Hmm, dimana tempat tinggal kalian?." Zhen menganggukkan kepalanya sebelum kembali bertanya.


"Kami tinggal di sebuah gua yang tak jauh dari sini." jawab salah satu dari para goblin itu.


"Baiklah, besok salah satu diantara kalian mengantarku kesana, untuk sementara kalian boleh tinggal disini, apa kalian keberatan." ucap Zhen.


"Tidak tuan." ucap para goblin serempak.


"Bagus." ucap Zhen sambil tersenyum.


"Cloris apa kau setuju jika mereka tinggal disini?." tanya Zhen sambil berbalik menatap Cloris.


"Tidak masalah tuan." jawab Cloris.


"Kami juga akan membantu mereka membangun kediamannya." ucap salah satu dwarf.


"Ya kami akan membantu." ucap dwarf lainnya bersamaan.


Melihat itu Zhen tersenyum senang.


"Baiklah, karena hari semakin larut, aku akan beristirahat, ayo Lyan." ucap Zhen lalu meraih tangan Lyan.


Dia lalu berjalan menuju kediamannya.


"Oh ya, jangan lupa membereskan bekas pertempuran itu ya." ucap Zhen sedikit keras.


Para dwarf dan goblin yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Zhen dan Lyan.


Setibanya si kediamannya, Zhen langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Lyan yang melihat itu, juga ikut berbaring di samping Zhen.


Zhen tersenyum lalu memeluk Lyan dengan erat. Lyan yang merasakan pelukan Zhen juga berbalik memeluk Zhen.


Mereka berbincang selama beberapa saat sebelum menutup mata lalu tertidur.


Sementara itu, para dwarf dan goblin bekerja sama mengumpulkan jasad-jasad para goblin yang telah terbunuh. Setelah semuanya telah terkumpul, mereka lalu membakarnya.


Para dwarf lalu menuju kediamannya untuk beristirahat. Sedangkan para goblin membuat kamp untuk tempat tinggalnya sementara di sekitar kediaman para dwarf.


Tak butuh waktu lama, para goblin telah selesai membangun kamp, mereka lalu masuk kedalam kamp kemudian beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2