
Pagi hari di kediaman keluarga Astron.
Zhen berjalan keluar dari kediaman lalu berhenti di sebuah halaman. Dia kemudian mengeluarkan pedangnya lalu mulai memperagagakan teknik pedangnya.
Zhen terus melakukannya berulang kali, berharap dengan melakukannya, teknik pedangnya akan semakin dia kuasai.
Di tengah gerakan pedangnya, sebuah ranting melesat dari arah samping kanannya. Zhen dengan reflek bergerak memutar lalu mengayunkan pedangnya menebas ranting tersebut menjadi dua bagian.
Baru saja ranting itu tertebas, seorang pria paruh baya melesat dengan sebuah pedang yang di ayunkan kearah Zhen. Zhen dengan sigap kembali mengayunkan pedangnya menahan ayunan pedang pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah paman Shaun.
Paman Shaun kembali mengayunkan pedangnya, Zhen yang melihat itu ikut mengayunkan pedangnya menahan ayunan pedang paman Shaun.
Mereka terus melakukannya, sehingga bunyi benturan pedang menghiasi tempat itu. Zhen terlihat kewalahan menghadapi ayunan pedang paman Shaun yang terlihat tanpa celah.
Pertukaran pedang tersebut akhirnya terhenti, saat pedang paman Shaun telah berada di leher Zhen. Zhen menjatuhkan pedangnya lalu mengangkat tangannya ke atas.
"Aku kalah." ucap Zhen sambil tersenyum masam.
Paman Shaun menarik kembali pedangnya lalu menyimpannya.
"Kau hebat juga anak muda, teknik pedangmu sangat kuat. Jika gerakanmu lebih cepat, akan sulit untuk mengalahkanmu dengan beradu pedang." ucap paman Shaun menilai teknik pedang yang dimainkan Zhen.
"Panggil aku Zhen, soal teknik pedangku, aku berterima kasih atas penilaiannya." ucap Zhen sambil menyimpan kembali pedangnya.
"Hmm..., baiklah aku akan memanggilmu Zhen mulai sekarang, kau juga bisa memanggilku paman." ucap paman Shaun sambil tersenyum.
"Baik paman." ucap Zhen membalas perkataan paman Shaun.
"Hmm, ngomong-ngomong Zhen, apa istrahatmu menyenangkan?." tanya paman Shaun.
"Ya, aku merasa segar setelah terbangun." ucap Zhen menjawab pertanyaan paman Shaun.
"Benarkah, itu bagus." ucap paman Shaun sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Zhen, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, aku pergi dulu ya dah..." lanjut paman Shaun lalu melangkah pergi meninggalkan Zhen.
Zhen hanya menganggukkan kepalanya, mengantar kepergian paman Shaun dengan matanya.
"Zhen."
Suara lembut seorang gadis mencapai telinganya, membuatnya mengalihkan pandangannya.
Terlihat Lyan sedang berlari kecil menuju kearahnya. Zhen tersenyum melihat itu lalu melebarkan tangannya menyambut Lyan dalam pelukannya.
Mereka berpelukan beberapa saat, sebelum melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Zhen, kupikir kau meninggalkanku." ucap Lyan dengan cemberut.
"Hah... apa yang kau pikirkan Lyan, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau tau bukan, aku sangat mencintaimu." ucap Zhen membalas perkataan Lyan.
"Zhen terima kasih, aku juga mencintaimu." ucap Lyan dengan malu-malu. Terlihat rona merah menghiasi wajahnya.
"Hmm, hahaha.... aku senang mendengarnya." jawab Zhen membalas perkataan Lyan kemudian tertawa senang.
Lyan yang mendengar itu tersipu malu, dia lalu kembali memeluk Zhen yang masih tertawa. Beberapa saat kemudian, Zhen menghentikan tawanya lalu memandang wajah Lyan yang baru saja melepaskan pelukannya.
"Lyan, apa ada desa lain yang dekat dengan desa ini?." tanya Zhen pada Lyan.
"Setahuku, ada desa kecil yang tak jauh dari desa ini, juga ada desa besar yang menjadi pusat dari lima desa kecil, salah satunya desa ini. Desa itu diperintah oleh seorang baron." ucap Lyan menjawab pertanyaan Zhen.
"Begitu ya, kalau begitu kita akan ke desa kecil itu terlebih dahulu." ucap Zhen.
"Itu berarti, kita akan meninggalkan desa ini." ucap Lyan sambil memandang wajah Zhen, terlihat wajahnya tampak sedih.
"Hmm yah, untuk itulah habiskan waktumu dengan keluargamu." ucap Zhen sambil memegang wajah Lyan.
"Kau tidak perlu sedih Lyan, kita akan kembali lagi nanti." lanjut Zhen berusaha menghilangkan kesedihan Lyan.
'Yah, meskipun aku tidak tau kapan waktunya.'' ucap Zhen dalam hati.
"Kapan kita akan pergi?." tanya Lyan masih dengan tatapan sedihnya.
"Seminggu dari sekarang. Maka dari itu, habiskanlah waktumu dalam seminggu ini bersama keluargamu." ucap Zhen menjawab pertanyaan Lyan.
"Jika begitu, aku pergi dulu." ucap Lyan lalu berbalik melangkah kembali memasuki kediaman.
Zhen menghela napas lemah, lalu melanjutkan latihan pedangnya. Dia terus berlatih hingga hari menjelang malam.
Dia baru menghentikan latihannya, saat Lyan memanggilnya.
"Zhen." panggil Lyan.
Zhen menghentikan latihannya lalu berjalan kearah Lyan.
"Sudahi dulu latihannya, ini sudah malam. Bersihkan dirimu lalu kita beristirahat." ucap Lyan.
Mereka lalu melangkahkan kakinya memasuki kediaman dan langsung menuju kamar Lyan.
Sesampainya di kamar Lyan, Zhen memasuki kamar mandi yang ada didalam ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan pakaian yang telah rapi.
Dia lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tepat di sebelah Lyan yang sudah tertidur.
__ADS_1
"Hah..., aku merasa bersalah membuatnya bersedih." ucap Zhen sambil memandang wajah Lyan yang tengah tertidur.
Zhen menggelengkan kepalanya lalu menutup matanya. Tak lama kemudian, dia tertidur.
Keesokan harinya, di sebuah halaman di kediaman tersebut, Zhen tengah berlatih pedang dengan paman Shaun yang menemaninya.
Mereka terus bertukar serangan, mengadu pedang mereka hingga pedang paman Shaun berada di lehernya. Setelah itu mereka berbincang sebentar sebelum paman Shaun meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian paman Shaun, Zhen kembali mengayunkan pedangnya. Dia terus berlatih hingga hari menjelang malam. Dia baru berhenti saat Lyan memanggilnya.
Hari demi hari berlalu, Zhen terus melatih teknik pedangnya ditemani paman Shaun. Sementara Lyan menghabiskan waktunya bersama keluarganya.
Zhen terus berlatih, hingga dia merasa bosan. Zhen lalu duduk di halaman tersebut sambil melihat kearah kediaman.
"Hah..., membosankan." ucap Zhen dengan ekspresi malas.
'Apa yang harus kulakukan?." tanya Zhen dalam hati.
Zhen berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk berkeliling desa.
"Baiklah, aku berkeliling desa saja, siapa tau ada hal yang menarik." ucap Zhen lalu berdiri kemudian merapikan pakaiannya.
Zhen lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju keluar kediaman. Dia terus berjalan sambil memperhatikan sekeliling desa, berharap ada sesuatu yang menarik.
Zhen terus memperhatikan sekelilingya, namun tidak mendapatkan hal yang menarik perhatiannya. Hingga hari menjelang malam, Zhen kembali menuju kediaman keluarga Astron.
Sesampainya disana, dia melihat Lyan tengah menunggunya, raut wajah sedih terpancar dari wajahnya.
"Darimana saja kau?." tanya Lyan, terlihat matanya hampir mengeluarkan air mata.
Zhen yang melihat itu segera memeluknya lalu berusaha menenangkannya, kemudian menjawab pertanyaannya.
"Aku habis berkeliling desa." jawab Zhen.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?." tanya Lyan yang sudah terisak di pelukannya.
"A... ak... aku, aku hanya ti... tidak ingin menganggumu, bu... bukankah kau sedang menikmati waktu bersama keluargamu." ucap Zhen dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Lyan yang mendengar itu hanya terdiam, dia terus menangis dipelukan Zhen. Zhen mencoba menenangkan Lyan yang menangis dipelukkanya.
"Tenanglah Lyan." ucap Zhen sambil mengelus pelan punggung Lyan.
Setelah berusaha dengan waktu yang cukup lama, akhirnya suara tangisan Lyan tak lagi terdengar. Ternyata, Lyan telah tertidur di pelukannya.
Zhen lalu menggendong tubuh Lyan. Dia memperhatikan wajah Lyan sejenak sebelum berjalan membawanya memasuki kamar Lyan.
__ADS_1
Zhen lalu membaringkan tubuh Lyan di atas ranjang, kemudian ikut berbaring. Zhen memeluk tubuh Lyan lalu tersenyum, kemudian menutup matanya.