
keesokan harinya, Zhen dan Lyan telah berada di depan kediaman keluarga Astron, bersiap meninggalkan desa. Di hadapan mereka, terdapat ayah dan ibu Lyan serta paman Shaun yang berniat mengantar kepergian mereka.
"Kami akan berangkat sekarang." ucap Zhen.
"Berhati-hatilah, aku titip Lyan padamu, jagalah dia untukku." ucap ayah Lyan memohon kepada Zhen.
"Aku pasti akan menjaganya, itu sudah menjadi tanggungjawabku, sebab dia adalah kekasihku." jawab Zhen dengan tegas.
"Apa kau bisa berjanji?, jika tidak, aku tidak akan mengizinkan Lyan untuk ikut bersamamu." ucap ibu Lyan sambil menggenggam tangan Lyan.
"Aku janji, sudah kukatakan bukan, itu sudah menjadi tanggungjawabku." ucap Zhen berjanji.
"Baiklah, kami percaya padamu." ucap ayah Lyan sambil menganggukkan kepalanya.
"Hei Zhen, bawalah kitab ini bersamamu, anggap saja hadiah dariku." ucap paman Shaun sambil memberikan kitab di tangannya kepada Zhen.
"Jangan menolaknya, dan juga jangan lupakan aku." lanjut paman Shaun.
"Baiklah, terima kasih paman, aku tidak akan melupakanmu." balas Zhen sambil tersenyum lalu mengambil kitab tersebut.
Zhen lalu menyimpan kitab itu, kemudian berterima kasih sekali lagi kepada paman Shaun.
"Oh ya, aku hampir melupakannya. Ini senjata yang menjadi pasangan dari kitab itu." ucap paman Shaun sambil mengeluarkan sebuah tombak berwarna putih keemasan lalu memberikannya pada Zhen.
"Aku sengaja memberikannya padamu sebab aku tidak dapat menggunakannya, senjata ini terlalu kuat." lanjut paman Shaun lalu tertawa kecil.
"Jika paman saja tidak dapat menggunakan senjata itu, apalagi denganku." balas Zhen sambil menatap aneh paman Shaun.
"Hahaha..., aku yakin kau bisa menggunakan senjata ini, firasatku mengatakan, bahwa kau pasti bisa menggunakannya." ucap paman Shaun sambil tersenyum.
"Hah..., bukankah senjata itu sangat kuat. Bagaimana mungkin aku bisa menggunakannya, sedangkan paman yang lebih kuat dariku tidak bisa menggunakannya." ucap Zhen sambil memandang senjata itu.
"Saat ini mungkin kau tidak bisa menggunakannya, tapi saat kau sudah bertambah kuat, aku yakin kau bisa menggunakannya." ucap paman Shaun dengan yakin.
"Hah... baiklah, aku akan mengambilnya." ucap Zhen lalu mengambil senjata tersebut kemudian menyimpannya.
"Baiklah kalau begitu, kami berangkat dulu." lanjut Zhen.
"Hmm, berhati-hatilah." ucap mereka bertiga serempak.
Zhen lalu menggenggam tangan Lyan, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Hingga beberapa saat, mereka telah berada di luar desa. Zhen lalu meminta Lyan untuk memimpin jalan, sebab dia tidak mengetahui jalan ke desa yang akan mereka tuju.
"Lyan, kau tau jalannya bukan, bisakah kau memimpin jalan, sebab aku tidak mengetahui jalan menuju desa itu." ucap Zhen sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku juga tidak tau jalan menuju desa itu." balas Lyan sambil memalingkan wajahnya.
"Apa...!!!." teriak Zhen dengan sangat keras.
"Kau tidak mengetahuinya?." tanya Zhen terkejut.
"Tentu saja aku tidak tau bodoh!, aku tidak pernah meninggalkan desa selain ke hutan itu." Teriak Lyan dengan wajah kesal.
"Hah!!!, lalu bagaimana kita akan kesana?." tanya Zhen sambil memegang kepalanya.
"Aku juga tidak tau." balas Lyan.
Zhen lalu berbalik menatap jalan, dia menatap jalan tersebut dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, datang seorang pria mendekati mereka.
"Hai anak muda, apa yang kalian lakukan disini?." tanya pria itu pada Zhen.
"Oh, hai paman." jawab Zhen dengan sopan.
"Apa paman tau jalan menuju desa terdekat?." tanya Zhen.
"Tentu saja, apakah kalian ingin pergi kesana?." pria itu balik bertanya.
Saat Zhen akan menjawab pertanyaan pria itu, Lyan lebih dahulu menjawabnya.
"Ya, kami ingin pergi kesana, tapi kami tidak mengetahui jalannya." jawab Lyan.
"Ehh, tu... tuan putri." ucap pria itu terkejut.
"Kau mengenalku?." tanya Lyan bingung.
"Tentu saja dia tau, kau kan tuan putri di desa ini." jawab Zhen sambil menatap Lyan dengan tatapan malas.
"Hmm, jangan menatapku seperti itu." Lyan mendengus kesal.
Melihat tingkah mereka, pria itu tertawa yang membuat kedua orang itu menatapnya.
"Baiklah tuan muda dan tuan putri, jika kalian ingin ikut bersamaku, sebaiknya kita bergegas. Aku harus mengantar daganganku." ucap pria tersebut sambil berbalik berjalan menuju kereta kuda yang ada di depan gerbang desa.
Zhen dan Lyan lalu mengikuti pria itu yang ternyata adalah seorang pedaganag. Mereka kemudian naik ke kereta kuda setelah dipersilahkan oleh pria tersebut.
Setelah mereka naik, kereta kuda bergerak meninggalkan tempat itu.
"Paman, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan menuju ke desa itu dengan kereta kuda?." tanya Zhen.
"Sekitar 3 jam tuan muda." jawab pria itu.
__ADS_1
"Ohhh." Zhen menganggukkan kepalanya.
'Hah, sudah kuduga waktunya akan lama.' ucap Zhen dalam hati.
Keadaan menjadi hening sebab tidak ada yang memulai pembicaraan. Karena merasa bosan, Zhen mulai mengelus rambut Lyan untuk menghilangkan rasa bosannya.
Lyan yang dielus rambutnya, merasa sangat senang. Senyuman cerah terbentuk di wajah cantiknya. Zhen yang melihat itu ikut tersenyum.
Sedangkan pria yang ada di hadapan mereka itu merasa iri melihat itu.
'Hah, indahnya masa muda. Aku merasa iri melihat mereka.' ucap pria itu dalam hati.
Pria itu lalu berbalik menatap keluar jendela kereta kuda tersebut. Zhen yang melihat itu terkekeh pelan.
Zhen terus mengelus rambut Lyan, dan terkadang menepuk pipinya membuat pria di depannya mendengus kesal. Dia terus melakukannya hingga mereka tiba di depan gerbang desa yang mereka tuju.
"Baiklah kita sudah sampai." ucap pria itu membuat Zhen menghentikan aksinya.
Kereta kuda lalu memasuki desa tersebut kemudian berhenti setelah berada di dalam desa. Zhen dan Lyan lalu bergegas turun dari kereta kuda itu, kemudian mengucapkan terima kasih kepada pria itu.
Pria itu menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan Zhen dan Lyan di tempat itu.
Setelah kepergian pria itu, Zhen menghela napas lega kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Lyan.
"Akhirnya sampai juga." ucap Zhen tersenyum lega.
"Umm." Lyan menganggukkan kepalanya membalas perkataan Zhen.
"Baiklah Lyan, mari kita mencari penginapan, kita akan berada di desa ini selama beberapa hari." ucap Zhen.
"Hmm." Lyan kembali menganggukkan kepalanya.
Zhen yang melihat Lyan hanya menanggapi ucapannya dengan anggukan kepala, menggaruk kepalanya.
"Tapi sebelum itu apa nama desa ini?, oh ya, aku juga belum tau apa nama desa tempat kediamanmu berada." ucap Zhen sambil menatap Lyan.
"Hah, kau tidak tau?." tanya Lyan heran.
"Begitulah, aku tidak pernah menanyakannya." ucap Zhen sambil memalingkan wajahnya.
"Baiklah akan kuberitahu, desa tempat kediamanku berada bernama Desa Astrend, sedangkan desa ini bernama Fristend." ucap Lyan menjawab perkataan Zhen.
"Hmm, sekarang aku tau, baiklah sekarang mari kita mencari penginapan." ucap Zhen lalu mengeratkan pelukan tangannya yang melingkari pinggang Lyan kemudian melangkahkan kakinya mencari penginapan.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba didepan sebuah penginapan. Zhen langsung memasuki penginapan tersebut dengan Lyan dipelukannya.
__ADS_1
Zhen lalu memesan satu kamar, lalu membayar tagihan kemudian mengambil kunci kamar. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar yang telah dipesannya bersama Lyan di pelukannya.