Perjalanan Zhen Xions

Perjalanan Zhen Xions
Kekesalan Zhen


__ADS_3

Keesokan harinya, didalam sebuah restoran, Zhen tengah menikmati hidangan yang baru saja dipesannya ditemani Lyan di sampingnya.


Mereka menikmati hidangan dengan tenang. Terkadang Lyan akan menyodorkan makanan lalu menyuapi Zhen, Zhen membalas perlakuan Lyan dengan menyuapinya kembali.


Aksi saling suap antar mereka, membuat orang di sekelilingnya merasa iri. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab seorang pemuda datang menghampiri mereka.


"Hai nona cantik, siapakah gerangan nona cantik ini?." tanya pemuda itu kepada Lyan sambil tersenyum.


"Pergi kau dasar pengganggu." teriak Lyan dengan kesal.


"Sepertinya kau ingin merasakan pukulanku." ucap Zhen dengan wajah suram.


Mendengar ucapan Zhen, pemuda itu menunjukkan ekspresi jelek. Dia lalu menunjuk Zhen dan berteriak dengan keras.


"Sialan..., beraninya kau..., apa kau tau siapa aku." teriak pemuda itu dengan keras sambil menunjuk Zhen.


Semua orang yang melihat kejadian itu, memandang jijik pemuda itu. Mereka lalu mulai berbisik-bisik sesama mereka.


Zhen yang melihat semua itu, merasa marah. Terlihat wajahnya, semakin bertambah suram.


"Bagaimana kami tau, jika kau belum memberitahukan namamu, dasar bodoh!." ucap Lyan masih dengan ekspresi kesalnya.


"apa kau bilang, beraninya kau mengatakan aku bodoh." teriak pemuda itu berbalik menunjuk kearah Lyan.


Zhen yang melihat itu, merasa geram. Dia mengeluarkan pedangnya dengan cepat lalu menebas tangan pemuda itu, membuatnya terlepas dari tubuhnya.


"Arrrggghhh...." teriak pemuda itu kesakitan.


"Itu akibatnya, jika kau berani menunjuk kerarahnya dengan tangan kotormu." ucap Zhen sambil menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.


Seketika semua orang terdiam, sebelum seorang pria di antara mereka berteriak dengan keras.


"Di...di...dia memotong tangannya." teriak pria itu dengan keras.


Seketika, suasana tempat itu menjadi kacau. Zhen merasa pusing mendengar keributan tersebut, dia menggenggam tangan Lyan lalu berjalan keluar dari tempat itu.


Sebelum keluar, Zhen sempat melemparkan sekantong koin emas ke meja resepsionis yang berada dekat dengan pintu.


Sesampainya diluar, Zhen menghirup napas kemudian menghembuskannya kembali. Dia berusaha menenangkan amarahnya.


Zhen berjalan menjauh dari tempat itu sambil menggenggam tangan Lyan, membuat Lyan berjalan mengikutinya.


Zhen terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Lyan yang berjalan bersamanya kemudian menanyakan kemana tujuan mereka.


"Zhen, sebenarnya kita akan kemana?." tanya Lyan sambil menatap Zhen.


Zhen yang mendengar pertanyaan Lyan menghentikan langkahnya. Dia tidak tau kemana tujuannya, dia hanya terus berjalan sambil berusaha melupakan kejadian di restoran tadi.


Zhen lalu memperhatikan sekelilingnya, dia melihat sebuah toko perhiasan tak jauh dari lokasinya berdiri.

__ADS_1


"Kita akan kesana." ucap Zhen sambil menunjuk toko perhiasan itu.


Zhen lalu menggenggam tangan Lyan, kemudian berjalan menuju toko perhiasan itu. Baru saja dia melangkahkan kakinya, lima orang pemuda menghadang jalannya.


Salah satu dari mereka, memegang sebuah kipas yang menutupi wajahnya.


"Menyingkirlah." ucap Zhen merasa kesal.


"Kau yang menyingkir, dan tinggalkan wanita itu disini." ucap pemuda itu sambil menunjuk Zhen dengan kipasnya.


Merasa sangat kesal, Zhen mengeluarkan pedangnya lalu mengacungkannya ke depan mengarah pada pemuda itu.


"Karena kau tidak mau menyingkir, akan kutebas kau dengan pedangku." ucap Zhen dengan marah.


"Apa!!!, beraninya kau..., kalian serang dia." teriak pemuda berkipas itu dengan keras.


Keempat pemuda yang bersamanya segera mengeluarkan senjatanya, mereka lalu melompat kearah Zhen sambil menebaskan senjatanya.


Zhen melompat ke belakang menghindari serangan mereka, dia lalu berputar di tempatnya kemudian mengayunkan pedangnya.


"Tebasan melingkar sang penguasa angin." teriak Zhen dengan keras.


Cahaya biru cerah melesat, menghantam tubuh keempat pemuda itu membuatnya terlempar ke segala arah dengan luka bekas tebasan pedang terukir didadanya.


Salah satu pemuda terlempar di dekat Lyan. Melihat itu, Lyan mengeluarkan pedangnya lalu mengayunkan kearah leher pemuda itu, sehingga kepalanya terpisah dari tubuhnya.


Lyan merasa mual melihat itu, dia lalu berbalik mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil menutup mulut dengan tangannya.


"Kau tidak apa-apa Lyan?." tanya Zhen dengan perasaan cemas.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mual saja." jawab Lyan dengan tangan menutup mulutnya.


Baru saja Lyan menyelesaikan ucapannya, sebuah cahaya merah membentur tubuh Zhen, membuatnya terlempar.


"Zhen." teriak Lyan.


"Hahaha..., bagaimana rasanya hah, hahaha..." ucap pemuda berkipas itu sambil tertawa keras.


Zhen bangkit berdiri lalu menatap tajam pria tersebut. Dia lalu berlari dengan kecepatan tinggi, kemudian melompat dan menebaskannya pedangnya kearah pemuda berkipas itu.


"Tebasan ganda sang penguasa angin." teriak Zhen dengan sangat keras.


Cahaya biru cerah melesat dari pedang Zhen menuju pemuda berkipas. Pemuda berkipas yang masih tertawa keras tidak menyadari itu, sehingga cahaya biru cerah itu menembus tubuhnya membuatnya terbelah menjadi beberapa bagian.


Ketiga pemuda yang masih hidup, berniat melarikan diri. Mereka lalu saling menatap lalu menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian berbalik dan hendak berlari sebelum cahaya biru cerah melewati tubuh mereka membuatnya terpotong menjadi beberapa bagian.


"Heh... heh... heh..., sepertinya mereka tidak bisa menghindari tebasan pedangku." ucap Zhen sambil menyimpan pedangnya.


Zhen lalu menghampiri Lyan lalu memeluknya dengan erat. Hingga beberapa saat, Zhen melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita kesana." ucap Zhen kembali menunjuk toko perhiasan yang ditunjuknya tadi.


"Hmm." Lyan menganggukkan kepalanya, lalu memeluk tangan Zhen.


Mereka kemudian melangkahkan kakinya menuju toko perhiasan tersebut. Sesampainya mereka di depan toko itu, wajah Lyan seketika memerah. Lyan terkejut, melihat toko yang ditunjuk oleh Zhen adalah toko perhiasan.


Zhen kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Lyan, lalu melangkah memasuki toko tersebut bersama Lyan di pelukan tangannya.


Zhen lalu memperhatikan sekeliling toko tersebut, kemudian menuju ke tempat pakaian digantung. Zhen lalu menyuruh Lyan memilih pakaian yang disukainya.


"Silahkan cari pakaian yang kau sukai." ucap Zhen sambil tersenyum kepada Lyan.


"Kau juga harus mencari pakaian." ucap Lyan membalas perkataan Zhen.


"Aku tidak pandai memilih pakaian." ucap Zhen sambil menggaruk kepalanya.


"Aku akan memilihkannya untukmu." ucap Lyan sambil tersenyum.


"Baiklah." Zhen menganggukkan kepalanya.


Lyan lalu memilih pakaian untuknya di temani Zhen di sampingnya. Beberapa menit berlalu, Lyan belum menemukan pakaian yang menarik minatnya.


Lyan terus mencari dibantu oleh Zhen yang memasang ekspresi bosan di wajahnya. Beberapa jam kemudian, Lyan baru menemukan pakaian yang menarik minatnya lalu menunjukkannya pada Zhen.


"Zhen pakaian ini sangat bagus kan?." tanya Lyan pada Zhen.


"Hmm, ya kurasa pakaian itu memang cocok untukmu." jawab Zhen.


"Kau boleh mengambil beberapa lembar pakaian itu, jika kau menyukainya." lanjut Zhen lalu tersenyum.


Lyan lalu mengambil beberapa lembar pakaian lagi yang sama persis dengan yang di tunjukkannya kepada Zhen.


Dia kemudian mencari pakaian untuk Zhen. Tak butuh waktu lama, Lyan telah mengumpulkan beberapa lembar pakaian yang sangat cocok dikenakan Zhen.


Zhen lalu menggenggam tangan Lyan, membawanya menuju tempat perhiasan di letakkan kemudian menyuruh Lyan memilih perhiasan yang disukainya.


Tak lama kemudian, Lyan sudah mendapat perhiasan yang disukainya. Mereka lalu berjalan menuju meja salah seorang pelayan, kemudian menunjukkan barang yang telah mereka pilih kepada pelayan itu.


"Berapa harga semuanya?." tanya Zhen kepada pelayan itu.


Pelayan itu mulai menghitung harga barang yang mereka pilih.


"Semuanya..., 1700 koin emas tuan." ucap pelayan sambil tersenyum.


Zhen lalu memberikan pelayan itu dua kantong koin emas, kemudian mengambil barang yang telah dia bayar.


Zhen lalu melingkarkan tangannya di pinggang Lyan, memeluknya dengan erat, kemudian berjalan keluar dari toko itu.


"Mari kita kembali ke penginapan." ucap Zhen sambil tersenyum menatap Lyan.

__ADS_1


Lyan menganggukkan kepalanya membalas perkataan Zhen. Mereka lalu berjalan menuju penginapan tempat mereka beristrahat sebelumnya.


Sesampainya mereka didepan penginapan, mereka langsung saja masuk lalu menuju ke kamar yang telah mereka pesan. Setelah sampai didalam kamar, Zhen meletakkan barang yang dibawanya diatas kasur.


__ADS_2