Perjalanan Zhen Xions

Perjalanan Zhen Xions
Kejadian Di Dalam Gua


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Zhen tersadar dari pingsannya. Dia lalu memperhatikan sekelilingnya dan menyadari jika kepalanya berada dipangkuan gadis yang di selamatkannya.


"Kau sudah bangun." ucap gadis tersebut dengan suara lembutnya.


Suara lembut gadis tersebut, memasuki telinga Zhen membuatnya merasa sangat nyaman. Zhen lalu menatap wajah gadis itu, membuatnya terhanyut dalam pikirannya.


'Apakah ini mimpi, aku terbaring dipangkuan seorang gadis cantik'


Tanpa dia sadari, tangannya bergerak menyentuh wajah gadis itu.


"Sangat cantik." ucap Zhen tanpa sadar.


Mendengar ucapan Zhen, rona merah muncul di wajah gadis itu ditemani senyuman manis. Detak jantung gadis itu berpacu dengan cepat.


"Te... terima kasih." ucap gadis tersebut malu-malu.


Zhen tersadar dari pikirannya saat mendengar ucapan gadis itu. Zhen segera bangkit dari pangkuan gadis itu sambil tersenyum canggung.


"Ma... maaf, aku ti... tidak sadar sa... saat melakukannya." ucap Zhen terbata-bata. Ekspresi malu muncul di wajah tampannya.


"Tidak apa-apa, terima kasih atas pujiannya." timpal gadis tersebut sambil tersenyum.


"Oh, i... iya, hahaha." Zhen tertawa canggung.


Setelah Zhen menyelesaikan ucapannya, suasana hening menyelimuti tempat itu. Kecanggungan muncul diantara keduanya, sebelum akhirnya Zhen memulai pembicaraan.


"Oh ya, kau gadis yang melihatku di balik pohon itu kan?." ucap Zhen memulai pembicaraan.


"Hmm." gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Bisakah aku tau siapa namamu?, jika tidak ingin menjawabnya, tidak apa-apa." tanya Zhen dengan sopan.


"Lyan, Lyan Astron. Lalu siapa namamu?." jawab gadis itu lalu balik bertanya.


"Zhen Xions, panggil saja aku Zhen." jawab Zhen sambil tersenyum.


"Nama yang bagus." ucap gadis bernama Lyan itu.


"Benarkah, hahaha... terima kasih." balas Zhen lalu tertawa.


Mereka terus mengobrol, suara tawa sesekali terdengar di tengah obrolan tersebut.


"Hahaha...."


"Hahaha..."


Obrolan mereka terus berlanjut. Karena keasyikan mengobrol, mereka tidak menyadari diluar gua, hujan turun dengan deras.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?." tanya Lyan pada Zhen.


"Melanjutkan latihan, bagaimana denganmu?." jawab Zhen lalu balik bertanya.


"Aku tidak tau." ucap Lyan memayunkan bibirnya.


Zhen terpaku sejenak sebelum kembali ke keadaannya semula.


"ehm, jika begitu, maukah kau menemaniku besok?." ajak Zhen.


"Apakah boleh?." tanya Lyan memastikan.


"Tentu saja, tapi jika kau tidak mau..." ucap Zhen.


"Aku mau." ucap Lyan dengan cepat sehingga Zhen tidak dapat menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Hmm, benarkah?." tanya Zhen memastikan.


"Ya, besok dan selamanya." jawab Lyan sebelum menutup mulutnya.


'apa yang aku katakan.' ucap Lyan dalam hati.


"hmm, o...oke." ucap Zhen terkejut.


"ma... maksudku..." ucap Lyan.


"Aku mengerti, kau ingin selalu bersamaku bukan. Baiklah, aku mau jika itu kau." ucap Zhen dengan senyum lebar.


Lyan yang mendengar ucapan Zhen melebarkan matanya, sebuah senyuman indah terlukis di wajah cantiknya.


"Kemarilah." panggil Zhen sambil membentangkan kedua tangannya.


Lyan mendekat kearah Zhen dengan malu-malu, lalu duduk di sampingnya. Zhen mengangkat Lyan kepangkuannya kemudian memeluknya.


"Haha..., kau senang." ucap Zhen sambil mengusap puncak kepala Lyan.


"umm." jawab Lyan singkat.


Mendengar jawaban Lyan, Zhen tersenyum lembut sambil terus mengusap puncak kepala Lyan.


"Sepertinya kita harus menunda latihannya." ucap Zhen sambil memandang keluar gua.


"Mengapa, apa karena aku?." tanya Lyan


"Lihatlah, diluar sedang hujan dan juga, malam telah tiba." ucap Zhen sambil menunjuk keluar gua.


"Begitu..." ucap Lyan lalu tersenyum manis.


"Hah..., senyumanmu itu sangat indah, aku jadi ingin selalu melihat senyumanmu itu." ucap Zhen sambil mempererat pelukannya.


Saking kecilnya suara yang dikeluarkannya, Zhen hanya dapat mendengar suaranya dengan samar.


"apa yang kau katakan?." tanya Zhen.


"tidak ada." ucap Lyan dengan cepat.


"Hmm benarkah, aku merasa mendengar sesuatu." ucap Zhen dengan sebelah alis terangkat.


"Mungkin itu suara angin." ucap Lyan membalas perkataan Zhen.


"Mungkin saja." ucap Zhen.


"Baiklah, sebaiknya kita beristrahat untuk persiapan esok hari. Tidurlah, aku akan menjagamu." Lanjut Zhen lalu meletakkan kepala Lyan di bahunya. Zhen kemudian semakin mempererat pelukannya.


"Selamat malam." ucap Zhen.


"Hmm, selamat malam." balas Lyan sambil tersenyum lalu memeluk Zhen dengan tangan lembutnya.


Mereka menutup mata lalu tertidur dengan posisi duduk sambil berpelukan. Aura kehangatan muncul dari pasangan tersebut, sehingga udara dingin dari gua itu tak mampu menembus tubuh mereka.


Malam pun hilang, pagi yang cerah muncul membawa matahari bersamanya yang memancarkan cahaya terang.


Zhen terbangun dari tidurnya, lalu melihat Lyan dipangkuannya yang masih tertidur pulas.


Zhen tersenyum lalu mengelus kepalanya dengan lembut. Dia terkadang menyentuh pipi gadis tersebut lalu tertawa kecil.


"Dia sangat cantik saat tertidur seperti ini." ucap Zhen sambil terus mengelus lembut kepala gadis itu.


Baru saja dia menyelesaikan ucapannya, Lyan terbangun dari tidurnya. Zhen yang melihat itu ,berhenti mengelus kepala Lyan.

__ADS_1


"Mengapa berhenti." ucap Lyan yang baru saja sadar.


Mendengar itu, Zhen melanjutkan kembali mengusap kepala Lyan.


"Kau sudah bangun." ucap Zhen dengan lembut.


Lyan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah jika begitu, selamat pagi." ucap Zhen sambil tersenyum.


"Selamat pagi." ucap Lyan balas tersenyum.


"Baiklah, persiapkan dirimu. Kita akan melanjutkan latihan." ucap Zhen lalu menghentikan tangannya mengelus kepala Lyan.


"Biarkan aku istrahat sejenak." ucap Lyan dengan manja.


"Ya sudah, jika begitu biarkan aku untuk bersiap." balas Zhen.


"tetaplah seperti ini, sebentar saja. Kumohon." ucap Lyan memohon.


"Baiklah, baiklah." balas Zhen dengan lembut lalu tersenyum.


Beberapa menit berlalu, Lyan melepaskan pelukannya lalu berdiri dari pangkuan Zhen. Zhen yang melihat itu ikut berdiri.


"Baiklah, aku sudah siap." ucap Lyan tersenyum cerah.


"Hmm, apa kau sudah puas?." tanya Zhen.


"Iya." jawab Lyan singkat.


"Dan juga, kau sudah siap?." tanya Zhen lagi.


"Begitulah." jawab Lyan lagi.


Zhen menggaruk kepalanya, terlihat ekspresi keheranan muncul di wajahnya.


"kenapa?." tanya Lyan.


"tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan latihannya." ucap Zhen sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka lalu berjalan keluar gua. Sesampainya mereka di luar gua, cahaya matahari yang hangat menyambut mereka.


Udara pagi yang sejuk menerpa mereka. Mereka menghirup udara segar lalu menghembuskannya kembali.


"Hah.... pagi yang indah, benarkan." ucap Zhen sambil berbalik menatap Lyan.


"Hmm, kau benar." ucap Lyan tersenyum manis.


"Baiklah, latihan dimulai." teriak Zhen semangat.


Lyan yang melihat itu, terkekeh pelan.


Mereka lalu berjalan menyusuri hutan sambil menikmati suasana pagi. Mereka terus berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya.


Hingga beberapa saat, mereka dihadang oleh kawanan serigala Angin yang keluar dari balik semak belukar. Kawanan serigala angin menatap mereka dengan tatapan buas.


Melihat itu, Zhen mengeluarkan pedangnya lalu mengarahkannya kedepan. Melihat Zhen telah mengeluarkan pedangnya, Lyan juga ikut mengeluarkan pedangnya.


Pedang biru keemasan ditemani pedang putih keperakan bersinar saat terkena sinar matahari.


"Apa kau sudah siap, Lyan." ucap Zhen sambil menatap Lyan.


"Hmm, tentu." jawab Lyan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2