Perjalanan Zhen Xions

Perjalanan Zhen Xions
Memasuki Hutan Ferobeast


__ADS_3

pagi menjelang, Zhen bangun dari tidurnya lalu melangkah keluar dari gubuk tua.


Setibanya diluar, Zhen menghirup udara pagi yang segar dan sejuk.


"Hah...., pagi yang indah." ucap Zhen dengan senyum riang.


"Apa yang harus kulakukan hari ini?." pikirnya.


Setelah berpikir sejenak, Zhen memutuskan untuk berlatih di hutan untuk menguji kekuatannya.


"Baiklah, sudah kuputuskan, aku akan berlatih didalam hutan. Aku akan mencari Elemental Beast untuk menguji kekuatanku." ucap Zhen dengan penuh tekad.


Zhen lalu berjalan menuju hutan, letak hutan tersebut tak jauh dari desa. Sehingga, tak butuh waktu lama Zhen telah berada dipinggiran hutan tersebut. Hutan itu juga dikenal dengan sebutan 'Hutan Ferobeast'.


Hutan Ferobeast terbagi menjadi tiga wilayah, yakni wilayah luar, wilayah dalam, dan tentu saja wilayah inti.


Zhen langsung saja memasuki hutan, dan tiba di wilayah luar hutan tersebut.


Baru saja Zhen memasuki hutan, sebuah bola api melesat kearahnya dari balik semak belukar. Secara reflek, Zhen menghindari bola api tersebut lalu menarik pedangnya.


Dari balik semak belukar, muncul seekor kadal api yang langsung melemparkan bola api dari mulutnya kearah Zhen. Zhen berputar ke samping menghindari bola api tersebut.


Zhen lalu mengangkat pedang keatas, lalu mengalirkan mana pada pedang tersebut.


"Tebasan pedang sang penguasa angin." teriak Zhen.


ya, kitab yang dipelajari Zhen adalah 'Teknik Pedang Sang Penguasa Angin'.


Zhen lalu mengayunkan pedangnya kearah Kadal api tersebut. Cahaya biru cerah membelah angin, melesat ke arah kadal api membuatnya terbelah menjadi dua bagian.


Zhen menatap tubuh kadal api yang terbelah menjadi dua bagian dengan ekspresi terkejut.


"Wah..., teknik pedang ini sangat kuat....." ucap Zhen.


Zhen lalu melanjutkan perjalanannya memasuki hutan, dia terus berjalan hingga seekor ular daun menghadang jalannya.


Ular daun tersebut melayangkan ekornya kearah Zhen sambil melemparkan sisik daunnya yang tajam. Zhen menghindari sisik daun itu lalu mengayunkan pedangnya menangkis ekor ular tersebut.


Saat ekor ular daun itu bersentuhan dengan pedangnya, Zhen terpental hingga terbaring di tanah.


Melihat itu, ular daun tak tinggal diam. Ular daun melemparkan sisik-sisik daunnya kearah Zhen. Zhen berguling-guling di tanah untuk menghindari sisik-sisik daun tersebut.


Zhen lalu bangkit berdiri kemudian mengalirkan mana pada pedangnya. Dia menarik pedangnya lalu menusukkannya ke depan.

__ADS_1


"Tusukan pedang sang penguasa angin." teriak Zhen dengan keras.


cahaya biru cerah melesat ke arah ular daun menciptakan luka tusukan di tubuhnya. Seketika darah hijau keluar dari luka tusukan tersebut dengan deras.


'Ssshhhhh.....'


Ular daun mengerang kesakitan. Ular daun menatap Zhen dengan tatapan tajam, lalu melesat, kemudian mengayunkan ekornya kearah Zhen.


Zhen melompat kesamping lalu mengayunkan pedangnya kearah ular daun tersebut menciptakan luka goresan di tubuh ular itu.


'Sssshhhhh....'


Sekali lagi, erangan ular daun terdengar. dia berbalik menatap Zhen dengan tatapan tajamnya.


Saat ular daun baru saja berbalik, Zhen mengayunkan pedangnya sambil berputar di tempatnya.


"Tebasan melingkar sang penguasa angin." teriak Zhen.


Cahaya biru cerah melesat memotong tubuh ular daun menjadi beberapa bagian. Darah hijau muncrat keluar dari tubuh ular daun menyebar ke segala arah.


Zhen melompat kebelakang menghindari cipratan darah ular daun tersebut.


"Hah... hah... hah..., sangat melelahkan, aku perlu mengembalikan tenagaku lalu melanjutkan kembali perjalananku." ucap Zhen dengan lemah, terlihat wajahnya tampak kelelahan.


Zhen lalu menyimpan kembali pedangnya, kemudian berjalan kearah pohon yang tak jauh dari tempatnya bertarung dengan ular daun.


Perlahan-lahan, tenaga Zhen mulai pulih kembali. Wajahnya yang tampak lelah kini menjadi segar kembali. Zhen membuka matanya lalu bangkit berdiri.


"Aku merasa tubuhku segar kembali, saatnya melanjutkan perjalanan." ucap Zhen dengan senyuman cerah.


Zhen melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan. Selama perjalanan, dia bertemu banyak elemental beast, namun semuanya bisa diatasi dengan mudah. Menggunakan teknik pedangnya, dia bisa membunuh mereka dan membelahnya menjadi beberapa bagian.


Hingga beberapa saat, Zhen menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara pertempuran tak jauh dari tempatnya berhenti.


Zhen lalu berlari kearah suara pertempuran tersebut. Sesampainya disana, dia melihat gadis yang dia lihat sebelumnya, tengah terdesak oleh serangan seekor singa gunung.


Singa gunung mengayunkan cakarnya kearah gadis tersebut. cahaya coklat tua melesat kearah gadis tersebut dan mengenainya, membuatnya terpental.


Zhen melompat kearah terpentalnya gadis tersebut, lalu menangkapnya. Zhen mendarat di tanah dengan mulus sambil menggendong gadis tersebut.


Tatapan mata mereka bertemu sejenak sebelum Zhen menurunkan gadis tersebut dari gendongannya.


Zhen berbalik lalu melesat kearah singa gunung tersebut. Dia mengayunkan pedangnya dua kali membuat gerakan silang.

__ADS_1


"Tebasan ganda sang penguasa angin." ucap Zhen dengan tatapan tajam.


Cahaya biru cerah melesat ke arah singa gunung. Singa gunung yang menyadari itu mengayunkan kedua cakarnya membentuk gerakan silang.


Cahaya coklat tua melesat bertemu dengan cahaya biru cerah menciptakan ledakan dahsyat. Kabut tebal memenuhi tempat itu.


Zhen mengayunkan pedangnya mengusir kabut tebal. Saat kabut tebal telah menghilang, singa gunung sudah berada dihadapannya lalu mengayunkan kedua cakarnya.


Cahaya coklat tua mengenai tubuh Zhen, menciptakan luka goresan menyilang yang dalam di dadanya. Zhen terpental ke belakang dengan seteguk darah keluar dari mulutnya, darah kental mengalir keluar dari luka goresan di dadanya.


Melihat keadaan Zhen, gadis yang diselamatkannya tadi berniat menghampiri Zhen. Zhen yang melihat gadis tersebut berniat menghampirinya berteriak dengan keras.


"Jangan mendekat, aku masih bisa melawannya." teriak Zhen.


Mendengar teriakan Zhen, gadis tersebut mengurungkan niatnya menghampiri Zhen. Terlihat air mata mulai menetes dari matanya yang indah.


Zhen lalu bangkit berdiri, lalu mengangkat pedangnya kemudian melompat dan berputar di udara.


"Tarian pedang sang penguasa angin." teriak Zhen dengan sangat keras.


Zhen mengayunkan pedangnya sambil menari di udara, cahaya biru cerah terus melesat dari setiap ayunan pedangnya melesat ke arah singa gunung.


Singa gunung yang menyadari hal itu, mengumpulkan mana di mulutnya. Bola energi berwarna coklat tua tercipta dihadapannya.


Singa bulan menembakkan bola energi itu kearah cahaya biru cerah tersebut. Cahaya biru cerah membelah bola energi tersebut menciptakan ledakan dahsyat di ikuti kabut tebal.


Cahaya biru cerah tersebut, terus melesat hingga menembus tubuh singa gunung. Seketika, tubuh singa gunung terbelah menjadi dua bagian dengan rapi.


Cahaya biru cerah yang lainnya terus berdatangan menghantam tubuh singa bulan membuat tubuhnya terpotong-potong hingga tak bersisa.


Zhen menghentikan gerakannya, dia terjatuh dari udara lalu terkapar di tanah. Dia mengangkat tangannya keatas lalu tersenyum kearah gadis tersebut menyatakan kemenangannya.


Zhen kemudian pingsan, tangannya yang diangkat keatas terjatuh ketanah. Gadis yang diselamatkannya berlari kearahnya lalu berusaha menyadarkannya.


Karena Zhen tak kunjung sadar, gadis tersebut memangku tubuh Zhen, lalu membawanya kedalam gua yang tak jauh dari tempat pertempuran.


Gua tersebut adalah rumah bagi singa gunung yang telah lenyap tak bersisa akibat serangan Zhen.


Sesampainya didalam gua, dia meletakkan Zhen di lantai gua lalu duduk disampingnya. Dia lalu meletakkan tangannya di dada Zhen yang terluka.


Cahaya hijau terang menyinari tangannya lalu perlahan menyebar ke seluruh tubuh Zhen. Luka di dada Zhen kembali menutup hingga tertutup sepenuhnya.


Melihat luka Zhen telah tertutup, gadis tersebut mengangkat tangannya dari dada Zhen. Dia lalu memangku tubuh Zhen, membawanya ke dekat tembok gua.

__ADS_1


Gadis itu lalu meletakkan Zhen di lantai gua kemudian duduk bersila. Dia lalu mengangkat kepala Zhen kemudian menaruhnya dipangkuannya.


Dia lalu bersandar ke dinding gua lalu menutup matanya.


__ADS_2