
Keesokan harinya, didepan gubuk tua, terlihat Zhen telah bersiap dengan pedang dan sebuah kitab di genggaman tangannya.
"Baiklah, waktunya berlatih...." ucap Zhen penuh semangat.
"Tapi sebelum itu, sebaiknya aku melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum memulai berlatih pedang." lanjut Zhen sambil meregangkan tangannya.
"Tapi apa yang harus kulakukan?." pikir Zhen.
Setelah beberapa saat, Zhen akhirnya memutuskan untuk berlari mengelilingi gubuk tua.
Zhen lalu mulai berlari mengelilingi gubuk tua dengan penuh semangat. Hingga beberapa saat, dia akhirnya selesai dan berhenti di tempatnya berdiri sebelumnya.
"Hah.. hah.. hah.., oke baiklah sudah cukup, ini cukup melelahkan. Waktunya berlatih pedang." ucap Zhen dengan nafas yang mulai tidak teratur.
Zhen mengatur napasnya lalu mulai membuka kitab ditangannya kemudian membacanya. Di halaman pertama kitab tersebut berisi tata cara menyerap energi alam lalu merubahnya menjadi mana yang dapat dialirkan ke seluruh bagian tubuh.
Tidak hanya itu, mana juga bisa dialirkan pada senjata atau dipadatkan, sehingga menciptakan bola energi yang bisa dirubah sesuai dengan jurus yang dikuasai penggunanya.
Zhen lalu menarik pedangnya dan mulai memperagakan isi kitab tersebut. Dia duduk bersila diatas sebuah batu lalu menutup matanya. Zhen mulai merasakan energi alam di sekitarnya.
Setelah merasakan energi alam di sekitarnya, Zhen lalu mulai menyerap energi alam tersebut kemudian mengubahnya menjadi mana yang berpusat pada inti energi yang ada di dalam tubuh.
Beberapa saat kemudian, Zhen merasakan mana terkumpul dengan cepat di dalam inti energi. Zhen lalu membuka matanya,terlihat senyuman cerah menghiasi wajahnya.
"Wah, aku merasakan tubuhku semakin kuat dan berenergi. Kupikir akan sulit untuk menyerap energi alam, ternyata itu sangat mudah." ucap Zhen dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Sekarang melangkah ke tahap selanjutnya, mengedarkan mana ke seluruh tubuh." lanjut Zhen sedikit serius.
Zhen lalu merasakan mana didalam tubuhnya kemudian berusaha mengedarkannya ke seluruh bagian tubuhnya.
Perlahan-lahan, mana mulai menyebar di seluruh tubuh Zhen. Zhen merasakan energi di tubuhnya terkuras dengan cepat, tak lama kemudian mana di seluruh tubuhnya menghilang.
Zhen terbaring di rerumputan, terlihat napasnya memburu dengan keringat memenuhi tubuhnya membuat pakaian yang dikenakannya basah.
"Hah... hah... hah..., ini... sangat... melelahkan... hah... hah.. hah..." ucap Zhen terengah-engah.
Zhen lalu menghirup udara untuk menstabilkan napasnya lalu bangkit berdiri. Dia mengambil pedangnya lalu mengacungkannya kedepan.
"Baiklah, selanjutnya ilmu berpedang." ucap Zhen.
Zhen lalu mulai memperagakan teknik pedang yang tertulis pada kitab yang dibacanya.
Saat memperagakan teknik pedang tersebut, Zhen merasa sedikit kesulitan. Dia terus memperagakannya berulang kali hingga dia mulai terbiasa.
Perlahan-lahan, Zhen mulai menguasai gerakan teknik pedang tersebut. Seiring waktu berjalan, gerakannya mulai bertambah cepat dan halus.
__ADS_1
Zhen terus melakukannya hingga dia benar-benar menguasai gerakan pedang tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menghentikan gerakannya lalu mengusap keringat yang sudah memenuhi wajahnya.
"Hah... hah..., akhirnya aku menguasai teknik pedang ini. Aku merasakan langkahku menjadi lebih ringan." ucap Zhen tersenyum sambil melangkahkan kakinya.
"Baiklah tahap selanjutnya, mengedarkan mana pada senjata, aku rasa ini akan sulit." lanjut Zhen sambil mengatur napasnya.
Setelah merasa siap, Zhen lalu merasakan mana dalam tubuhnya, lalu mengedarkannya pada pedang yang sedang dia genggam.
Cahaya terang memancar dari pedang tersebut, terlihat energi berwarna biru cerah mengelilingi pedang itu.
"Wah...., ternyata tidak sesulit yang kubayangkan.Tapi ini sangat menguras energiku...." ucap Zhen tersenyum lalu tiba-tiba berteriak dengan keras.
'Bugh'
'trang'
"Aww, sakit..." erang Zhen.
Zhen terjatuh dari posisinya membuat pedang yang digenggamnya terlepas lalu ikut jatuh bersama dengannya.
"Hah... hah..., aku... sangat... lelah...." ucap Zhen terbata-bata.
"Aku... merasakan energi... didalam... tubuhku... hah... terkuras habis... hah... hah..." lanjut Zhen sambil berusaha menggerakkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Zhen berhasil menggerakkan tubuhnya. Dia lalu mengambil posisi duduk bersila kemudian menutup matanya, lalu menyerap energi alam dan merubahnya menjadi mana.
Beberapa jam terlewati, Zhen membuka matanya dan merasakan tubuhnya kembali kuat dan berenergi. Bahkan lebih baik dari sebelumnya.
"Baiklah, mari lanjutkan latihannya." ucap Zhen penuh semangat.
Zhen bangkit berdiri lalu mengambil kembali pedangnya.
"Akan kucoba lagi." ucap Zhen.
Zhen kembali mengedarkan mananya pada pedang tersebut. Cahaya terang bersama energi berwarna biru cerah menghiasi pedang tersebut.
"Hahaha...., akhirnya aku bisa melakukannya. Hahaha...." Zhen tertawa kegirangan.
Zhen lalu memperagakan kembali teknik pedang yang baru saja dikuasainya. Pada saat ia mengayunkan pedangnya, dia merasakan teknik pedang yang dimainkannya bertambah kuat.
Tak hanya itu, gerakan Zhen juga bertambah cepat dan halus. Setiap dia melangkah, dia terlihat seperti angin yang berhembus. Begitu pula saat dia mengayunkan pedangnya, kekuatan teknik pedangnya semakin bertambah, bahkan mampu membelah angin.
Zhen terus melakukannya berulang kali, hingga dia merasa cukup. Zhen lalu menghentikan gerakannya lalu menyimpan pedang tersebut.
"Hahaha..., aku merasa sangat bersemangat." ucap Zhen tersenyum lebar.
__ADS_1
Zhen kembali membuka kitab yang berisi teknik pedang tersebut.
"Hmm, tersisa satu tahap lagi. Memadatkan mana." ucap Zhen sambil membaca kitab tersebut.
Setelah beberapa saat, Zhen menutup kitab tersebut lalu menyimpannya.
"Mari kita coba." ucap Zhen.
Zhen merasakan mana didalam tubuhnya, lalu berusaha memadatkannya. Sebuah bola energi berukuran kecil seperti kelereng, tercipta dihadapannya.
Baru saja bola energi itu tercipta, seketika itu juga menghilang menyisakan hembusan angin.
"Hah, apa-apaan ini." ucap Zhen sedikit kesal.
Zhen lalu kembali memadatkan mananya, namun kejadian itu terus berulang membuatnya sangat kesal.
"Haaahhh....., sialaaaan..., mengapa tidak bisa....." Teriak Zhen dengan keras.
Zhen kembali memadatkan mananya, namun kejadian itu kembali terulang.
Karena merasa sangat kesal, Zhen berhenti memadatkan mananya. Dia lalu duduk dan berusaha menenangkan dirinya.
"Sialan..., kenapa sangat sulit." ucap Zhen sambil mengusap kepalanya dengan kasar.
Setelah merasa tenang, Zhen kembali berdiri. Dia kembali memadatkan mananya, seketika bola energi seukuran tangan manusia dewasa terbentuk ditangannya.
"Akhirnya aku bisa melakukannya..... hahaha...." ucap Zhen lalu tertawa kegirangan.
Zhen kemudian memikirkan sebuah pedang, seketika bola energi itu berubah menjadi sebuah pedang berwarna biru cerah yang melekat di tangannya.
"Hahaha...., aku bisa melakukannya hahaha..." Zhen tertawa sambil melompat-lompat.
Tak jauh dari sana, dibalik sebuah pohon besar, terlihat seorang gadis cantik tertawa sambil melihat kearah Zhen yang tengah melompat-lompat kegirangan.
"Hahaha..., dia lucu sekali. Hahaha..." ucap gadis tersebut.
Zhen yang mendengar suara tawa seseorang segera menghentikan aksinya. Pedang yang tercipta dari bola energi tersebut ikut menghilang.
Zhen kemudian berbalik kearah suara tawa tersebut dan melihat seorang gadis tengah tertawa sambil melihat kearahnya dari balik pohon besar.
Zhen lalu menggaruk kepalanya menahan rasa malu. Dia segera berbalik untuk menutupi wajahnya yang terlihat memerah.
Gadis yang tertawa tersebut, menyadari tatapan Zhen mengarah kepadanya, segera menghentikan tawanya. Diapun berlari meninggalkan pohon tersebut menuju kedalam desa.
Zhen kembali berbalik menatap pohon besar tersebut, namun tidak menemukan gadis tadi disana.
__ADS_1
Zhen menggaruk kepalanya, lalu berjalan kembali memasuki gubuk tua sebab hari telah menjelang malam sambil memikirkan gadis yang dilihatnya.
'Siapa gadis itu?' tanya Zhen dalam hati.