
Pagi telah tiba, Zhen dan Lyan telah berada di luar gua. Mereka menghirup udara pagi yang segar, lalu menghembuskannya kembali.
Lyan kemudian memulai pembicaraan.
"Apa kita akan melanjutkan latihan?." tanya Lyan memulai pembicaraan.
"Tidak, kita akan kembali ke desa." jawab Zhen membalas pertanyaan Lyan.
"Benarkah?." tanya Lyan lagi, terlihat senyuman cerah menghiasi wajahnya.
"Hmm." Zhen menganggukkan kepalanya.
"Yee...." ucap Lyan lalu melompat-lompat.
Lyan kemudian memeluk erat Zhen, dia begitu senang mengetahui mereka akan kembali ke desa. Zhen yang merasakan pelukan Lyan, tersenyum senang lalu tertawa kecil. Zhen kemudian membalas pelukan Lyan dan mengelus kepalanya.
"Baiklah, mari kita kembali ke desa." ucap Zhen sambil melepaskan pelukannya.
"Ya." jawab Lyan dengan senyum lebar.
Mereka lalu melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri jalanan hutan yang menuju desa. Sambil bergandengan tangan, mereka menikmati pemandangan hutan yang indah, menampakkan kelestarian alam.
Tak terasa waktu berlalu, sampailah mereka diluar hutan. Tampak, sebuah gubuk tua berdiri tegak diluar gerbang desa.
"Mari kita kesana." ajak Zhen menunjuk gubuk tua.
"Baik tapi setelah itu, kita pergi kerumahku. Bagaimana, kau setuju?." ucap Lyan sambil tersenyum.
"Oke, lagipula aku berencana memasuki desa." ucap Zhen menganggukkan kepalanya.
Zhen lalu berjalan menuju gubuk tua tersebut diikuti Lyan dibelakangnya. Sesampainya disana, Zhen menatap gubuk tua itu dengan senyum lebar.
"Mari kita masuk." ajak Zhen.
"Hmm." Lyan menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu memasuki gubuk tua itu. Zhen lalu merapikan gubuk tua itu, Lyan yang melihatnya ikut membantu. Setelah selesai merapikan gubuk tua itu, mereka beranjak keluar.
"Aku belum pernah memasuki desa. Jadi, kau bisa memimpin jalan." ucap Zhen sambil berbalik menatap Lyan.
"Baik, ikuti aku." angguk Lyan dengan semangat.
Lyan menggandeng tangan Zhen lalu berjalan menuju desa. Baru saja mereka melewati gerbang desa, suara teriakan seorang pria paruh baya menghentikan mereka.
"Tuan putri..." teriak pria paruh baya sambil berlari menghampiri mereka.
"Paman Shaun." ucap Lyan menjawab teriakan pria paruh baya tersebut.
"Tuan putri, darimana saja kau?." tanya pria paruh baya yang dipanggil paman Shaun.
"I... itu.. itu.." ucap Lyan tergagap sambil memainkan jarinya.
"Jangan-jangan tuan putri pergi ke hutan lagi." ucap paman Shaun.
Lyan hanya memalingkan wajahnya kesamping. Zhen yang melihat itu mencoba berbicara.
__ADS_1
"Memangnya mengapa jika dia memasuki hutan?." tanya Zhen.
"Siapa kau?." Jenderal Shaun menatap Zhen dengan alis terangkat.
'Ugh sialan, jika aku tau begini, aku tidak akan bertanya.' Zhen berkata dalam hati.
"Dia kekasihku." ucap Lyan sambil memeluk erat tangan Zhen.
"Hah!!!." Jendral Shaun nampak terkejut.
Lyan lalu berjalan sambil memeluk tangan Zhen meninggalkan Jenderal Shaun yang masih terkejut.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah kediaman yang cukup megah. Lyan langsung saja memasuki kediaman tersebut sambil terus menggenggam tangan Zhen.
Di dalam kediaman tersebut, terdapat sepasang pria dan wanita yang duduk bersebelahan.
Lyan menarik Zhen membawanya di hadapan pasangan tersebut, kemudian menyuruhnya duduk lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Akhirnya kau kembali. Hmm, siapa pemuda yang kau bawa?." ucap seorang pria paruh baya lalu menatap Zhen dengan tatapan bertanya.
"Hohoho..., sepertinya putri kita telah dewasa. Dia kembali membawa seorang pemuda bersamanya, bahkan memeluk tangannya dengan erat." ucap seorang wanita cantik di sebelah pria paruh baya tersebut sambil tersenyum.
Lyan yang mendengar itu segera melepaskan tangan Zhen lalu menundukkan kepalanya. Terlihat wajahnya memerah.
Sedangkan Zhen tersenyum kecut setelah mendengar perkataan wanita itu. Ditambah dengan Lyan yang melepaskan pelukannya, membuat ekspresi masam muncul di wajahnya.
'Sialan...' teriak Zhen dalam hati.
"Lyan, jawab pertanyaanku, siapa pemuda ini?." ucap pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah ayahnya, Lyder Astron.
"Tidak mungkinkan pria ini adalah kekasihnya." ucap ayah Lyan.
'Aku memang kekasihnya.' jawab Zhen dalam hati.
'Dia memang kekasihku.' batin Lyan.
"Seperti yang kau katakan Lyder, dia adalah kekasihnya." ucap paman Shaun yang baru saja tiba.
"Darimana kau tau?." tanya ayah Lyan.
"Lyan sendiri yang mengatakannya." jawab paman Shaun sambil melihat kearah Lyan.
"Hentikan dulu perbincangan kalian, kita harus menjamu tamu kita ini dulu." ucap ibu Lyan menyela pembicaraan mereka dengan suara keras lalu menatap mereka dengan tajam.
"Baik." ucap keduanya dengan patuh.
Zhen yang melihat itu terkejut, berbeda dengan Lyan yang tersenyum kecil.
"Baiklah anak muda, siapa namamu?." tanya ibu Lyan kepada Zhen.
"Zhen, Zhen Xions." jawab Zhen santai.
"Nama yang bagus, tapi aku baru mengetahui ada nama keluarga bermarga Xions." ucap ayah Lyan.
"Darimana kau berasal?." tanya paman Shaun.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberitahukannya." jawab Zhen.
"Mengapa?." kali ini ibu Lyan yang bertanya.
'Ugh, aku merasa sedang diinterogasi, tidakkah mereka membiarkanku beristrahat.' ucap Zhen dalam hati.
"Itu rahasia." jawab Zhen.
"Bisakah kalian berhenti, kalian terlalu banyak bertanya." ucap Lyan sedikit kesal.
Mereka semua terdiam mendengar ucapan Lyan. Keadaan hening seketika, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berbicara.
Hingga beberapa saat, Zhen mengutarakan keinginannya.
"Oh ya, maaf sebelumnya, tapi bisakah aku beristrahat disini?." tanya Zhen.
"Oh tentu, Lyan tunjukkan kamar untuknya. Jika kau mau, kau boleh membawanya kekamarmu." ucap ibu Lyan sambil tersenyum lalu menggoda Lyan.
"Ibu." ucap Lyan sambil memayunkan bibirnya.
"Hahaha...." ibu Lyan, ayah Lyan dan paman Shaun tertawa melihat tingkah Lyan tersebut.
Lyan lalu berdiri kemudian meraih tangan Zhen lalu membawanya menuju kamarnya.
Sesampainya dikamarnya Lyan lalu menyuruh Zhen untuk beristrahat.
"Istrahatalah, kau lelah kan." ucap Lyan dengan lembut.
"Hmm, apa kau yakin, aku bisa beristrahat disini." ucap Zhen membalas perkataan Lyan.
"Ya, kenapa kau tidak mau?." tanya Lyan cemberut.
"Baiklah, aku akan beristrahat disini." ucap Zhen lalu mengelus kepala Lyan.
Zhen lalu merebahkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang, Lyan lalu ikut merebahkan diri disebelahnya.
"Hmm." Zhen yang melihat itu mengangkat sebelah alisnya.
"kenapa?." tanya Lyan.
"Tidak, tidak apa-apa." jawab Zhen dengan cepat.
Zhen lalu membalikkan tubuhnya menghadap Lyan, kemudian mengarahkan tangannya memeluk Lyan yang terbaring di sebelahnya.
"Lyan, kau tau, aku sangat mencintaimu." ucap Zhen sambil tersenyum.
"Aku juga." jawab Lyan.
Mendengar itu, Zhen sangat senang lalu mempererat pelukannya.
"Baiklah Lyan, aku ingin beristrahat, aku sangat lelah." ucap Zhen dengan lemah.
"Hmm, istrahatlah, aku akan menemanimu." ucap Lyan.
Zhen lalu menutup matanya, diapun tertidur dengan tangan yang masih memeluk Lyan. Lyan yang melihat itu tersenyum senang, lalu berbalik menghadap Zhen kemudian memeluknya.
__ADS_1
"Selamat tidur." ucapnya lalu menutup matanya dan ikut tertidur.