
Keesokan harinya, di dalam kamar sebuah penginapan, Zhen telah memakai pakaian yang di belinya.
Terlihat, Zhen tengah menatap Lyan yang sedang berdiri dihadapannya dengan sebelah alis terangkat serta tangan didagunya.
"Hmm, pakaian itu sangat cocok untukmu." ucap Zhen menganggukkan kepalanya.
"Kau terlihat sangat cantik mengenakan pakaian itu, rasanya aku ingin terus memandangmu." lanjut Zhen sambil tersenyum sambil terus menatap Lyan.
Lyan yang mendengar ucapan Zhen, seketika wajahnya memerah, sebuah senyum gembira terukir diwajahnya. Dia lalu menundukkan kepalanya menatap lantai.
Zhen yang melihat itu tertawa kecil, lalu menghampiri Lyan kemudian memeluknya.
"Bagaimana denganku, apakah pakaian ini sangat cocok untukku?." tanya Zhen sambil melepaskan pelukannya.
"Kau meragukan pilihanku?." Lyan balik bertanya, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Eh, bu...bukan begitu Lyan, aku hanya ingin tau saja." jawab Zhen dengan cepat sambil melambaikan tangannya.
"Benarkah?." tanya Lyan memastikan.
Zhen menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Lyan.
"Hmm, kau memang terlihat sangat cocok memakai pakaian itu. Kau terlihat semakin tampan." ucap Lyan dengan wajah merona.
"Hahaha..., aku memang sangat tampan." ucap Zhen dengan nada sombong. Terlihat kedua tangannya di letakkan di pinganggnya.
"Hmmhh."
Lyan mendengus kesal mendengar ucapan Zhen, dia lalu mencubit perut Zhen dengan keras membuatnya berteriak kesakitan.
"Aaa..... aduh.... sakit...." teriak Zhen dengan keras sambil memegang tangan Lyan yang mencubit perutnya.
"Hmmhh, rasakan itu dasar sombong." ucap Lyan dengan kesal sambil melepaskan cubitannya.
"Aduh... sakit..." ucap Zhen sambil mengusap perutnya yang terkena cubitan.
"Hmmhh."
Zhen lalu mendengus kesal, sambil terus mengusap perutnya yang masih terasa sakit. Hingga beberapa saat, dia berhenti mengusap perutnya.
"Baiklah Lyan, mari kita keluar." ucap Zhen lalu berjalan menuju pintu kamar kemudian membukanya.
Lyan mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamar disusul Zhen sambil menutup pintu kamar tersebut.
Mereka lalu melangkah pergi meninggalkan kamar itu, kemudian berhenti di depan meja yang dekat dengan pintu penginapan. Zhen lalu mengembalikan kunci kamar yang ditempatinya, kemudian berjalan keluar diikuti Lyan disampingnya.
Sesampainya diluar penginapan, Lyan bertanya pada Zhen sambil berjalan.
"Sekarang kita akan kemana?." tanya Lyan sambil menatap Zhen.
"Kita akan pergi menuju desa besar yang menjadi pusat dari desa-desa kecil termasuk desa ini." Jawab Zhen lalu melingkarkan tangannya di pinggang Lyan.
"Lyan, apa nama desa itu?." tanya Zhen.
"Desa itu bernama Rostend." jawab Lyan.
__ADS_1
"Rostend ya, lalu siapa nama baron yang memimpin desa itu?." tanya Zhen lagi.
"Kalau tidak salah, namanya adalah Shoran Roside." jawab Lyan.
Saat Lyan baru saja selesai menjawab pertanyaan Zhen, suara teriakan keras terdengar tidak jauh dari mereka.
"Itu mereka ayah." suara teriakan keras terdengar.
Zhen dan Lyan mengarahkan tatapannya kearah suara tersebut. Terlihat, pemuda dengan satu tangan tengah menunjuk kearah mereka. Pemuda itu adalah pemuda yang tangannya dipotong oleh Zhen saat berada di sebuah restoran.
"Hei kau bajingan, ayahku akan membalas perbuatanmu karena telah memotong tanganku." teriak pemuda itu dengan keras sambil memendam amarahnya.
"Hehehe... asal kau tau, ayahku adalah pemimpin di desa ini, dia juga yang terkuat disini. Ayahku adalah pemimpin desa Fristend." ucap pemuda itu membanggakan ayahnya.
"Ohh..., jadi kau yang sudah memotong tangan putraku." ucap seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam.
"Memangnya kenapa jika aku yang melakukannya." ucap Zhen dengan santai.
"Sialan kau..." teriak pria itu dengan keras.
Pria itu mengeluarkan senjatanya yang berupa sebuah tombak, lalu melesat kearah Zhen dengan kecepatan tinggi kemudian menebaskan tombaknya.
Zhen yang melihat itu mengeluarkan pedangnya, dia lalu melompat kedepan sambil mengangkat pedangnya kemudian mengayunkannya kedepan.
Pedang dan tombak saling berbenturan di udara, menciptakan ledakan keras. Zhen terlempar kebelakang dengan jauh lalu terjatuh di tanah.
"Hanya segitukah kekuatanmu, dasar lemah." ucap pria itu dengan keras.
Lyan yang melihat Zhen terlempar, hendak berlari kearahnya. Namun pemuda yang tangannya dipotong oleh Zhen, menghadang jalannya.
"Heh..., memangnya mengapa jika aku tidak mau." ucap pemuda itu.
"Maka aku akan membunuhmu." ucap Lyan sambil mengeluarkan pedangnya.
"Coba saja jika kau mampu." ucap pemuda itu sambil menyiapkan tinjunya.
Lyan melesat kearah pemuda itu lalu menebaskan pedangnya, pemuda itu juga mengarahkan tinjunya kearah Lyan. Pertarungan antara mereka pun berlangsung.
Zhen bangkit berdiri lalu menatap pertarungan Lyan kemudian berbalik kearah pria yang membuatnya terlempar.
"Heh, kau ternyata tidak begitu kuat." ucap Zhen meremehkan kekuatan pria itu.
"Beraninya kau meremehkanku." teriak pria itu.
Pria itu kembali melesat kearah Zhen. Zhen melompat kedepan lalu berputar di udara.
"Tarian pedang sang penguasa angin." teriak Zhen dengan keras.
Zhen mengayunkan pedangnya ke depan, cahaya biru cerah terus tercipta dari setiap ayunan pedangnya, lalu melesat kearah pria itu.
Pria itu memegang tombaknya dengan kedua tangan, lalu mengarahkannya ke depan kemudian memutarnya.
"Pelindung tombak air." ucap pria itu.
Sebuah pelindung air tercipta di depan pria itu. Pria itu terus memutar tombaknya, sehingga pelindung air semakin membesar.
__ADS_1
Cahaya biru cerah membentur pelindung air tersebut, menciptakan bunyi ledakan yang keras. Cahaya biru cerah yang terus bermunculan membentur pelindung air hingga membuatnya hancur.
Saat pelindung air telah hancur, cahaya biru cerah melesat kearah pria itu membuatnya terlempar. Pria itu berputar di udara lalu mendarat di tanah dengan posisi berlutut.
Tombak pria itu terjatuh dari tangannya, bersamaan dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Pria itu memegang dadanya lalu menatap Zhen dengan tajam. Dia menggertakkan giginya, kemudian mengambil tombaknya lalu berdiri.
Dia kembali melesat kearah Zhen sambil menusukkan tombaknya kedepan lalu berteriak.
"Tusukan tombak air." Teriak pria itu disertai amarah.
Cahaya biru gelap melesat kearah Zhen. Zhen yang melihat itu, mengayunkan pedangnya dua kali membuat gerakan silang.
"Tebasan ganda sang penguasa angin." Teriak Zhen dengan keras.
Cahaya biru cerah melesat, bertabrakan dengan cahaya biru gelap menciptakan ledakan dahsyat disertai kepulan asap.
'Boooom'
Tanah bergetar saat ledakan terjadi, retakan di tanah mulai terbentuk di tempat ledakan itu terjadi.
Saat kepulan asap menghilang, Zhen dan pria itu melesat secara bersamaan kemudian mengayunkan senjatanya. Pedang dan tombak beradu di udara.
'Tring'
'Trang'
'Tring'
Mereka terus bertarung, benturan senjata terus terdengar. Tubuh pria itu dipenuhi dengan luka tebasan, sedangkan Zhen hanya mendapatkan luka goresan kecil.
'Trang'
'Tring'
'Trang'
"Tebasan tombak air." ucap pria itu sambil menebaskan tombaknya.
Pertarungan pun terhenti saat sebuah kepala terlepas dari tubuh salah seorang dari mereka, lalu menggelinding di tanah. Darah segar meluncur keluar dari tubuh yang kepalanya menggelinding, lalu terjatuh ke tanah.
"Tebasan pedang sang penguasa angin."
Sebuah suara terdengar saat tubuh tanpa kepala itu telah terkapar di tanah. Suara tersebut tak lain berasal dari Zhen, sedangkan kepala itu adalah milik pria yang menjadi lawan Zhen.
Zhen menyimpan pedangnya lalu jatuh terbaring di tanah. Terlihat napasnya memburu, mananya terkuras habis akibat pertarungan itu membuatnya kelelahan.
Tak berselang lama saat pertempuran itu selesai, Lyan telah menyelesaikan pertarungannya. Terlihat pemuda yang melawannya terkapar tak berdaya di tanah dengan luka bekas sayatan pedang di sekujur tubuhnya.
Dia lalu menyimpan pedangnya, kemudian berjalan kearah Zhen yang terbaring di tanah. Sesampainya di tempat Zhen terbaring, Lyan meletakkan tangannya di dada Zhen.
Cahaya hijau terang menyelimuti tangannya lalu menyebar keseluruh tubuh Zhen. Luka yang ada di tubuh Zhen perlahan menghilang, mananya juga kembali terisi.
Lyan lalu melepaskan tangannya kemudian membantu Zhen untuk duduk. Saat Zhen telah duduk, Lyan memeluk Zhen dengan sangat erat. Zhen membalas pelukan Lyan dengan mengelus punggungnya sambil tersenyum.
__ADS_1