
"Astaga bau apa ini..." batin Nancy sambil terus menutup hidungnya rapat-rapat.
Tapi semua hal itu tak mengurungkan niat hatinya untuk tetap masuk kedalam rumah itu, meski sejak tadi terlihat begitu hening dan tak ada orang satupun yang terlihat disana.
Rumahnya terlihat begitu sepi dan bahkan begitu kotor dibagian depan teras rumah, debu yang mulai menebal dan beberapa daun gugur berserakan .
"Apa iya mereka semua pergi , tapi pintu pagar terbuka lebar."
"Apa mungkin rumah ini sudah dijual?" gumamnya seorang diri.
Kini tanganya telah menyentuh ujung handle pintu dan mulai menekanya hingga terbuka lebar. Masih tak percaya jika rumah itu tidak dalam kondisi terkunci saat ia datang. Didepan kakinya sudah ada setumpuk belatung yang menyambut kedatangannya. Rasa mual dan jijik kembali menyeruak dalam dirinya. Nancy hanya bisa berlalu dan melangkah pergi dari tempat tersebut.
Entah kemana perginya semua orang dalam rumah itu, karena didalam begitu sepi dan kosong . Hanya terlihat rumah yang lusuh dan sedikit berantakan.
"Pa ..."
"Ma ..." Panggilnya sambil terus berjalan lirih dengan mata mencari-cari.
Bahkan dalam bayangnya, baik Christian dan Alma kini harusnya sudah dalam kondisi membaik lalu beraktifitas seperti sedia kala.
__ADS_1
Nancy terhenti disana , setelah suara langkah kaki mulai terdengar berderap menghampiri dirinya.
Masih belum terlihat jelas, siapa kira-kira sosok yang sedang melangkah berjalan di lantai atas. Karena sejauh mata memandang rumah itu kosong tak berpenghuni.
*
*
*
"Brak!" pintu rumah itu kembali tertutup saat derap langkah kaki terdengar seperti orang berlari .
"Tolong aku!" teriaknya berulang.
Beruntung teriakan itu dapat didengar oleh Erick dan pemuda itu dengan cepat berlari untuk berancang-ancang menggunakan tubuhnya mendobrak pintu tersebut.
"Nancy apa kau mendengarku?" teriaknya, seolah memastikan jika Nancy masih berada dalam kondisi yang baik .
"Yah, cepat tolong buka pintu ini ..." sambung Nancy dari dalam dengan suara ketakutan.
__ADS_1
Setelah mencoba berulang kali, bahkan sebanyak lima kali Erick berusaha sekuat tenaga tapi tetap pintu itu tak terbuka sedikitpun. Jika pada umumnya pintu lain akan mudah terbuka mungkin setelah satu hingga dua kali percobaan. Entah mengapa terasa berbeda dengan pintu rumah itu.
"Ayo lah Rick, gunakan semua tenagamu aku mohon!" imbuhnya dengan tangisan kali ini.
Nancy benar-benar takut hingga jantungnya berdegup kencang bukan main, ini adalah kali kedua setelah dirinya terkunci didalam kamar mandi rumah Erick.
Sedangkan diluar, tak kehabisan akal Erick kembali kedalam mobil. Ia membawa mobil itu hingga ke depan bagian pintu rumah dan kini Erick bersiap dengan menginjak gas sekencang mungkin untuk mendobrak rumah .
Hal gila yang sama sekali tak pernah dibayangkan olehnya , karena memang tak ada pilihan lain lagi dari pada ia harus terkena amarah Nancy untuk yang kedua kalinya.
Suara deru mobil dan hantaman kuat dari luar terdengar begitu keras hingga kini mobil itu berhasil merangsak masuk, dan tak lupa kondisi rumah itu kini menjadi lebur berantakan. Tapi hal itu terasa begitu kecil ditangan seorang Erick Taslim, bahkan dengan uangnya ia bisa membelikan satu unit rumah baru untuk kedua mertuanya dengan senang hati.
Tak berhenti sampai disana, meski mobil itu telah berhasil masuk tapi kini Erick malah kehilangan jejak Nancy didalam rumah.
Dengan masih berada didalam mobil ia mengamati kondisi sekitar dan memanggil nama Nancy berulang. Karena tak mendapatkan jawaban, Erick menekan klaksonnya berulang kali hingga menimbulkan suara bising dirumah sepi dan senyap itu.
Sampai akhirnya, ia dikejutkan dengan sebauh pemandangan tak lazim. Yah Nancy telah berada di lantai atas dengan menjerit sekuat mungkin karena ia telah digantung disana. Tanganya terlihat berpegang erat pada tali yang menjerat lehernya, agar mendapatkan ruang nafas agar tidak terbelit .
Erick terkejut dan juga Shock dengan pemandangan gila Itu.
__ADS_1
Bersambung π