Perjanjian Dengan Iblis

Perjanjian Dengan Iblis
Bab 22


__ADS_3

"What!" umpat Erick dalam hati dengan kesal.


Ia benar-benar kebingungan harus dengan cara apa membantu Nancy untuk turun dari atas sana.


"Ce-pat-lah ..." rintih Nancy dengan bergelantungan.


"Apa kau ingin aku mati Erick!" umpatnya dengan nafas sengal.


Dengan wajah kaku namun juga panik ia mengamati barang sekitarnya untuk bisa dijadikan alat penolong Nancy.


Setelah berhasil menemukan sebuah anak tangga yang tersimpan di ujung dapur , Erick dengan cepat meraih tubuh Nancy dan perlahan menurunkannya dengan baik.


Sesampainya di lantai, gadis itu masih terlihat sibuk mengatur nafasnya meski amat ketakutan.


"Ayo kita pergi ..." ajak Erick yang sudah tak sabar ingin segera pergi dari tempat itu.


Belum sempat ia mengajak Nancy masuk kedalam mobil, gadis itu melihat dengan kesal atas aksi Erick yang sudah kelewat batas. Rumahnya rusak begitu parah, entah apa jadinya jika hal itu akan diketahui oleh Christian .


"Kau menolongku tapi juga merusak rumahku, kau gila Erick!" maki Nancy dengan kebingungan.


Kini dirinya beralih pada gudang rumah yang bertempat persis disebelah rumahnya , sejak tadi tempat itu telah menarik perhatiannya disana. Bahkan Nancy sendiri begitu gelisah setiap kali menatap gudang kosong tersebut.

__ADS_1


"Mau kemana lagi..."


"Arrghh! " Celah Erick dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


Dirinya sudah hampir gila dengan semua rentetan peristiwa dirumah itu, ditambah lagi dirumahnya kemarin. Rasanya ruang gerak dan nafasnya sudah hampir habis.


Erick berjalan dengan hati yang begitu berat, karena terpaksa harus menjaga Nancy disana. Ia sendiri juga tak mau bernasib tragis seorang diri setelah jauh dari Nancy.


Kini tangan Nancy sudah berada tepat didepan pintu gudang tersebut , hanya cukup satu kali tekanan pintu itu kembali terbuka lebar dan jelas disana jika ke dua orang tuanya tengah tidur terbujur dengan kedua mata tertutup tapi deru nafasnya masih jelas terdengar.


"Ayah ibu ..." teriaknya dengan panik dan berupaya memberikan pertolongan sigap untuk keduanya.


Masih dengan tubuh yang kaku tanpa kesadaran penuh, kini keduanya telah berhasil dibawa pergi oleh anak beserta menantunya.


"Eh maksudku..."


"Plak!" Semua pernyataan sembrono Erick mendapatkan balasan setimpal dari Nancy yang cepat menampar pipinya.


"Auww sakit..." rintih Erick dengan kesal.


"Mereka kedua orang tuaku , dan tentunya juga mertua mu. Apa tidak bisa sedikit saja mulutmu berbicara sopan pada keduanya!" maki Nancy bertubi-tubi.

__ADS_1


Tapi memang benar apa yang dibilang Erick, keduanya seperti orang yang telah tak memiĺiki nyawa.


Tamparan itu membuatnya terdiam sepanjang jalan. Dan sampai waktunya Nancy menunjuk salah satu rumah sakit yang begitu besar dan bagus untuk kedua orang tuanya dirawat.


"Kau serius?" tanya Erick dengan melebarkan kedua matanya setelah mendapati nominal yang harus ia keluarkan untuk kedua orang tua Nancy.


"Yah, apa itu terlalu berat bagimu Erick Taslim?"


"Merawat orang tua yang notabene adalah mertua mu sendiri." maki Nancy.


Ia tak percaya jika Erick begitu perhitungan dengan semua hal itu. Sedangkan disisi lain Erick kesal karena biaya yang tak main-main harus ia keluarkan untuk hal yang tak pasti.


Flashback Erick dan Nancy.


Sesaat sebelum kedua orang tua Nancy ditangani oleh tim medis , keduanya sempat dipanggil ke ruangan dokter untuk diberikan sebuah penjelasan setelah pengamatan yang telah dilakukan disana.


"Kasus seperti ini jarang sekali terjadi, bahkan tidak ada indikasi penyakit apapun . Saya harap apapun hasilnya kedepan ibu dan bapak bisa menerimanya dengan baik." ujar seorang dokter spesialis.


Sepanjang penjelasan , Nancy hanya tertunduk lemas sambil membayangkan semua peristiwa buruk ini terjadi. Yah dia teramat menyesal telah melakukan semua ini dengan brutal.


Mendapati penjelasan yang sama sekali tak bisa dicerna dengan baik oleh pikirannya, saat itu Erick hendak memutuskan untuk lebih memilih merawat kedua mertuanya dirawat dirumah saja. Apalagi mengingat biaya yang begitu besar harus ia keluarkan. Tapi rupanya jalan pikiran itu tak senada dengan Nancy.

__ADS_1


Ia hanya bisa pasrah dan tunduk kembali dengan semua permintaan Nancy.


Bersambung💛


__ADS_2