Perjanjian Dengan Iblis

Perjanjian Dengan Iblis
Bab 24


__ADS_3

Keesokan harinya , masih pagi-pagi buta rumah kediaman Taslim kembali gaduh atas ulah Nancy. Gadis itu berteriak histeris setelah ia keluar dari dalam dapur. Bagaimana tidak, Nancy yang awalnya hanya ingin menyeduh sebuah teh hangat berganti menjadi sebuah darah dalam cangkir.


"Praaakk pyarrr."


Suara gelas pecah juga menyusul kegaduhan itu berlangsung. Sontak saja suaranya yang begitu keras dan juga berisik memicu kedatangan kedua orang tua Erick, begitu juga dengan Erick.


"Astaga ..."


"Itu cangkir mahal ku pa!" seru Casandra geram bukan main setelah tahu koleksi cangkirnya berkurang satu.


Ibu satu anak itu tak kalah hebohnya dari sang calon menantu.


"Masih juga satu malam kau disini sudah buat onar!" maki Casandra dengan menunjuk batang hidung Nancy.


Sedangkan Nancy masih terdiam di sudut dapur dengan wajah ketakutan sambil memandangi darah yang sudah berserakan diatas lantai.


"Kemarilah dan ikut denganku!" sambung Erick dengan membela kembali wanitanya.


"ERICK!"


"Mau kemana kau, jangan dirimu bela terus wanita aneh itu Erick!" teriak Casandra dengan kesalnya.


Namun ia tahu jika teriakan itu tak kembali berarti bagi sang anak.

__ADS_1


Sementara didalam kamar, Erick masih berusaha untuk berbicara dengan Nancy.


"Ada apa ini?"


"Kenapa dimanapun kita berada sikapmu begitu aneh?" cecar Erick lirih.


"A-ku..." Nancy terbata-bata dengan suara bergetar.


"Kalau begini setiap hari, bisa saja mama akan membawamu ke rumah sakit jiwa!" sambungnya dengan tegas.


Tentu Erick kenal siapa ibunya, wanita yang tak mau berurusan dengan hal aneh dan konyol itu pasti tidak akan mau tinggal diam setelah kejadian ini.


Keadaan dibawah setelah kejadian Nancy.


"Sudah, diam dan jangan ikut campur masalah Erick lebih jauh lagi. Bukankah kita sudah sepakat dalam hal ini?" sambung Taslim dengan dua tangan mengepal.


Sebagai seorang kepala rumah tangga tentu ia juga sangat merasa risih dengan semua masalah silih berganti ini . Tapi lagi-lagi ia tak ingin jika sampai keputusannya kali ini akan membuat sang anak jauh lebih menderita.


"Tapi Erick pasti akan menderita jika ia tetap menikahi wanita itu pa. Bisa-bisa anak kesayangan ku itu jadi gila mendadak jika bersama denganya sepanjang hari !"


"Coba kau lihat , Erick baik-baik saja. Bahkan dia bisa kendalikan wanita itu dari pada kita. Jadi jangan ragukan dia !" timpal Taslim yang Kini sudah mulai bangkit dari duduknya karena tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan sang istri.


*

__ADS_1


*


*


Setelah kepergian sang suami, kini Casandra melihat Erick buru-buru pergi dari rumah itu seorang diri. Rasanya suara Casandra sudah tertahan didalam tenggorokanya dan ingin memanggil sang anak.


Terpaksa ia hentikan karena mengingat perkataan suami yang sudah memperingati dirinya sejak tadi.


Baru satu menit Erick meninggalkan rumah itu, kini rumah itu kembali gaduh dengan kejadian aneh berikutnya.


Persis tepat dimana jatuhnya air teh yang tadi Nancy buat didapur, kini beralih menjelma menjadi sebuah rambut usang begitu panjang tergerai.


Pembantu rumah itu begitu menjerit dengan sekuat mungkin ketika melihat air yang tadinya hendak ia bersihkan menjelma menjadi benda buruk mengerikan. Dan perlahan melilit sekujur tubuhnya.


Kali ini , Casandra tak bisa menepis jika hal itu adalah kehaluan dirinya semata. Karena kejadian itu jelas terjadi dihadapan kedua mata kepalanya sendiri.


Casandra juga begitu takut dan panik, bagaimana bisa ia menolong dan meraih tangan pembantu rumah tangganya yang sudah terlilit penuh tapi masih mengulur untuk mencari pertolongan.


Kini seluruh rambut itu beralih pada bagian wajah bahkan mulut wanita setengah baya yang sudah mengabdi dirumah Casandra bertahun-tahun kini mengangah lebar dan terpenuhi oleh sumpalan tebal rambut tersebut.


"Aaaakkkkk!" teriaknya yang semakin lama tenggelam dalam lilitan.


Casandra hanya bisa membaca do'a berulang kali yang dapat ia ucapkan saat itu. Bahkan dirinya juga membaca do'a makan disana karena sudah terlanjur gugup dan teramat ketakutan.

__ADS_1


BersambungšŸ’›


__ADS_2