
setelah selesai menelvon tantenya akhir nya Widy memutus kan untuk menelvon Frans, karena baru sadar akan sikap nya tadi dan merasa bersalah.
"halo assalamualaikum." jawab seseorang dari seberang telvon sana.
"waalaikumsalam, maaf ini siapa?" ta nya Widy yang mendapatkan suara perempuan yang mengangkat telvonnya.
"loh, kamu yang siapa? kamu yang telpon kok kamu tanya aku siapa." jawab orang itu dengan ketus dari seberang sana.
seketika jantung Widy berdegup tak beraturan, nafasnya memburu dengan cepat, emosi nya seketika memuncak seakan ingin meledak.
"oh maaf kalau begitu, saya salah sambung." ucap Widy judes yang langsung di sambut tawa dari seberang sana.
"hahahaha, ini aku kak Fitri. judes amat sih... pantesan mas Frans cinta mati." ledek Fitri.
namun Widy yang mendengar itu hanya diam tak merespon nya, dia malah langsung mematikan sambungan telvon.
Fitri yang mendapatkan respon seperti itu langsung merasa bersalah dan ketakutan. ia takut kejahilannya itu membuat hubungan Abang angkat nya akan berantakan.
Fitri langsung menangis sejadi-jadi nya, saat mendengar tangisan Fitri dari dalam kamar nya, Frans yang baru selesai makan dari dapur langsung berlari menuju kamar nya.
"ada apa dek? kenapa kamu nangis?" tanya Frans khawatir.
"mas mbak Widy..." jawab Fitri yang terpotong lantaran isakan nya.
"Widy, kenapa dia?" jawab Frans bingung.
"maafin aku mas, tadi aku ngerjain mbak Widy, hiks...hiks.." Fitri semakin menangis.
"terus apa Widy memarahi mu dek.?" tanya Frans semakin bingung.
"enggak mas, tapi seperti nya dia marah karena dia langsung mematikan telvonnya." jelas Fitri...
"oh, yaudah GPP. kenapa harus nangis?" tanya Frans.
__ADS_1
"aku takut mas, aku takut gara-gara keusilan ku tadi mbak Widy minta putus sama kamu mas, hiks..hiks..hiks" tangis Fitri semakin kencang.
degh...
seketika jantung Frans terasa seperti ada yang melempar batu, rasa nya sesak dan sakit sekali.
sesungguhnya Frans juga sangat menghawatirkan apa yang di katakan Fitri tadi, dia takut jika hubungan nya akan segera berakhir. namun Frans tidak ingin menunjukkan ketakutannya itu di depan adiknya, karena dia yakin itu akan membuat Fitri semakin menangis.
"udah, enggak kok. tenang aja, Widy pasti ngerti." ucap nya menenangkan Fitri sekali Gus berharap untuk dirinya sendiri.
akhirnya setelah setengah jam lebih Fitri menangis dapat tenang juga dengan segala bujukan Frans, dan Fitri memutuskan untuk keluar kamar Frans memberi Abang nya itu waktu menelvon kekasihnya.
setelah Fitri keluar, baru lah Frans sangat gelisah dan kebingungan.
"aduh gimana ini kalo sampe Widy bener-bener marah dan minta putus dari ku, ah aku tak kan sanggup menghadapi nya... aku harus bagaimana sekarang. ah aku telvon saja dia, biar bagaimana pun aku harus menghadapinya, yaallah tolong bantu aku." ucap Frans di dalam hati sambil menimang-nimang handphone yang di tangan nya
tuutt...tuutt...tuutt
suara panggilan Frans kepada Widy, tidak menunggu lama orang yang di telvon pun mengangkat panggilannya.
"waalaikum salam." jawab widy ketus.
aduh mati aku, keluar lagi sikap dinginnya. harus apa aku sekarang... gimana cara ngejelasinnya. Frans berkata-kata dalam hati.
"ada apa mas, kenapa diam aja. kalo gak ada yang mau di omongin matiin aja telvonnya." ucap Widy semakin kesal.
"eh jangan, emh kamu marah?" tanya Frans ragu.
"marah." niat Widy ingin bertanya maksud nya apa kenapa dia harus marah. namun nada yang di berikan salah, sehingga seperti sebuah jawaban kalo dia memang sedang marah.
"maaf sayank, Fitri gak bermaksud. sekarang dia menyesal. atas nama Fitri aku minta maaf ya." ucap Frans.
Widy langsung mengerti, dan ia pun mulai kembali merasa jengkel.
__ADS_1
"iya aku marah, maksud kamu apa ngerjain aku kayak gitu? gak lucu tau mas. aku gak suka ya sama candaan kamu." cerocos Widy mengingat kekesalan nya tadi.
"sayank kamu marah?" tanya Frans lagi dengan nada yang sedikit berbeda.
"ya iya lah, kamu fikir?" jawab Widy sedikit bingung dengan nada Frans yang kelihatan tidak khawatir sama sekali.
"Alhamdulillah ya Allah...." ucap Frans yang membuat Widy semakin bingung.
"mas kamu seneng aku marah?" tanya Widy dengan nada kesal nya.
"iya sayang aku seneng, karena itu arti nya kamu cemburu. dan kalo kamu cemburu berarti kamu beneran cinta sama aku." jelas Frans.
Widy hanya diam saja, danfrans tau kalo Widy sedang menanti kelanjutan perkataan Frans.
"kamu ingat gak, kalo kamu tidak pernah cemburu kepada Irfan dan mantan mu yang satu itu. meski pun kamu tau Irfan selingkuh namun sikap mu tetap acuh tak acuh. kamu biasa saja, sedangkan aku... kamu hanya di kerjai adikku sudah Semarah ini. bukan kah aku beruntung?" ucap Frans di akhiri dengan tanya.
"sok tau kamu mas." jawab Widy melupakan kekesalannya. kini wajah nya merah tomat dan merasa malu.
"heii sayang, apa kamu lupa? Irfan itu sahabat ku. tentu saja aku tau." ucap Frans di akhiri tawa nya.
Irfan sangat senangengetahui bawha Widy cemburu kepada nya, meski pun dia tidak melaku kan apa pun.
"mas, aku minta maaf. tadi aku sempet jutekin kamu. itu karena aku sedang kesal kepada Tante ku. maaf ya..." ucap Widy manja.
"iya gapapa, aku ngerti kok. aku juga minta maaf ya, tadi aku lagi makan dan gak tau kamu nelvon aku sehingga kamu harus merasa di usulin sama adik ku Fitri." jelas Frans.
"iya mas gapapa, bilang sama Fitri aku gak marah." ucap Widy
"benarkah? berarti aku harus berbohong dong.." ucap Frans lagi
"berbohong...? " ucap Widi sedikit bernada bingung.
"ya bohong, bukankah kamu tadi marah. dan kamu minta aku bilang kamu tidak marah, bukan kah itu sebuah kebohongan?" jawab Frans.
__ADS_1
"bilang sama dia aku gak marah lagi. puas mas" ucap Widy. danereka berdua langsung tertawa puas...