
pagi menyingsing memperlihatkan daratan yang indah dengan rumput hijau nan segar dan pepohonan yang asri serta rimbun tak ketinggalan juga kegembiraan penduduk zheng mengawali aktivitas mereka.
namun berbeda dengan putri Li yang semenjak menginjakkan kaki menjadi keluarga kerajaan kebebasan,senyum, pertemanan semuanya berasa direnggut secara paksa.
jangan kan bebas keluar masuk istana pangeran bertemu dengan ayah tercinta juga harus mendapatkan izin dari sang suami,kalau suami tidak mengizinkan maka jangan berharap dapat bertemu dengan sang ayah.
berlain pula halnya dengan selir Jiu yang setiap hari disungguhkan kasih sayang berlebih dari pangeran nan menjadikannya sebagai aturan yang harus dipatuhi setiap yang tinggal di kediaman pangeran bahkan sang permaisuri pun harus tunduk kepada selir.
"permaisuri,makan lah sedikit kamu sudah kehilangan banyak darah kemarin" meimei
"apakah dia tidak datang mengunjungi ku?" ratap putri Li setelah kejadian yang menyiksa hati itu
"jangan pikirin dia permaisuri,pikirkan kesehatan mu. bahkan mati kelaparan pun kamu di kamar ini dia tidak akan datang" ucap Mei dengan intonasi penuh nada kebencian
"apakah salah bagiku untuk meminta perhatiannya?" kata kata lirih kembali keluar dari mulut putri Li
"salah" nada dingin yang mengintimidasi yang keluar dari mulut manusia yang kini berdiri di pintu kamar putri Li
"aku membantu mu hanya karena kasihan dan kalau tidak di minta oleh Jiu aku juga tidak akan menggendong mu ke kamar"
"su suami,a apa yang kamu katakan" terbata bata karena tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sang suami
"aku membencimu. semua kebaikan yang aku tunjukkan hanya untuk membuat hati Jiu merasa senang. jadi jangan menjadi kerikil diantara rumah tangga kami"
duarrr bak disambar petir di siang bolong. mematung?
tentu saja putri Li mematung setelah mendengar kata kata dingin dan kejam dari sang suami. bagaimana tidak pertama semua kebaikannya hanya untuk menyenangkan hati selirnya kedua dia dianggap sebagai kerikil di rumah tangganya??
"tidak ini tidak benar suami. aku permaisuri mu sedangkan dia hanya seorang selir bahkan latar belakang keluarganya tidak cemerlang" kata demi kata yang keluar dengan suara bergetar
"tidak benar? biar ku ulangi aku membencimu kau hanya kerikil perusak rumah tangga bahagia ku" intonasi nan jelas serta dingin dan penuh dengan nada kebencian dan penekanan
__ADS_1
"hiks suami ku.. aku istrimu hikss.. aku pilihan orang tuamu hikss.. kenapa? apa salahku? kenapa kau begitu membenciku??" bersimpuh di kaki sang suami agar mendapatkan sedikit iba dari hati nan dingin itu tapi yang ia dapat malah lebih kejam
"salahmu?" berbicara dengan nada tinggi dan mencekik putri Li
"karena dirimu kebahagiaan ku harus lenyap" suara menggelar keluar dari mulut pangeran
"yang mulia,kau bisa membuat permaisuri mati" ucap Mei berusaha melepaskan cekikan pangeran
bughh...
terdengar hempasan tubuh Mei mengenai lemari karena di kebaskan oleh pangeran
"kau hanya pelayan,beraninya ikut campur urusan ku" penuh amarah
"y yang mu lia,jang an sakiti Mei"suara terbata bata keluar dari putri Li karena hampir kehabisan oksigen
"hehh kau sangat menyayangi pelayan itu rupanya"
deg..
"put putriiii" pekik Mei histeris
dengan sigap pangeran menggendong tubuh putri Li yang sudah pucat itu untuk keluar dari kamarnya untuk menemui tabib
"berhenti kau" ucap mei dengan berani menghadang pangeran dan langsung menggendong putri Li dan menidurkannya di kasur
"dia sudah pucat seperti itu dan kau menghalangi ku untuk membawanya ke tabib" suara menggelar dan khawatir keluar dari mulut pangeran
"panggikan tabib"ucap mei diiringi kepergian pengawal kediaman permaisuri.
"dibawa langsung maka lebih baik" ucap pangeran
__ADS_1
"hahahah" tawa keluar dari Mei
"kau ingin membawanya?? lebih baik kau pergi dari kamar ini pangeran. karena kau tak dibutuhkan di sini dan juga bukankah kau bilang kau membenci nonaku dan ia hanyalah kerikil. lebih baik simpan kekhawatiran mu untuk berlian berhargamu" kata kata kebencian yang selamat ini tertahan akhirnya terucap juga
"aku suaminya, keselamatannya juga prioritas ku" entah kenapa melihat Li dalam keadaan demikian membuat hatinya berada tersaya sayat.
"hormat pada yang mulia pangeran" ucap tabib yang datang terburu buru
"kau.. kaluar.. nonaku tak ingin melihat mukamu saat ia siuman nanti" ucap mei mengusir pangeran.
sedangkan sang tabib langsung memeriksa kondisi putri Li karena terlihat sangat pucat dari kemarin.
"astaga" ucap tabib dengan penuh khawatir dan rasa terkejut
"kenapa?" ucap mei dan pangeran bersamaan
"sebelumnya hamba mohon ma-"
"langsung pada intinya" ucap pangeran menggelegar
"kondisi permaisuri pangeran sangat kritis. ia kemarin telah kehilangan banyak darah dan sekarang seharusnya ia beristirahat. hamba tidak tahu apa yang membuat putri kehilangan oksigen untuk bernafas saat ini"ucap tabib seakan tutup mata dengan bekas cekikan di leher putri Li
"lalu???"
lalu lalu bapak kau
tadi bilang benci benci
kalau putri mati langsung kan lo bisa senang hidup ama berlian lo
hmpp dasar otak udang😤😤
__ADS_1
author juga kesel ehh ama pangerannya
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers 😊