
"lalu?"
"Permaisuri pangeran sepertinya sudah terkena racun yang dapat membunuhnya tiba tiba" ucap tabib lirih dengan kondisi putri Li
"racun??" ucap mei dengan curiga
"di kediaman perdana menteri aku yang memasak makanan untuk nona,tidak ada racun apapun"
"maaf, sepertinya racun itu baru ada di tubuh putri beberapa bulan belakangan ini" ucap tabib yang tetap fokus memeriksa keadaan putri Li
"kau dengar beberapa bulan belakangan ini"ucap mei menunjukkan pangeran
'jadi saat dia memasuki kediaman ku ini ia diracuni' gumam pangeran tidak percaya.
yah sudah hampir satu tahun putri Li menjadi permaisuri pangeran dan sudah hampir satu tahun pula ia diracuni. memikirkan hal tersebut membuat hati pangeran berasa tercabik-cabik mengingat keadaan permaisurinya yang selamat ini sehat dan ceria,setibanya di kediamannya menjadi penyakitan dan mengemis kasih sayangnya.
"kekhawatiran mu tidak diperlukan" ucap mei dengan kebencian mendalam pada pangeran
"apa katamu" pangeran yang tidak percaya
"haiss ini resep untuk mengurangi racun di tubuh Putri"
"apa maksudnya resep mengurangi?? aku ingin resep untuk menghilangkan racunnya"
"maaf pangeran,hamba harus mencari dulu racun macam apa ini baru bisa kita Carikan penyembuhannya pangeran. dan putri butuh ketenangan sepertinya malam nanti putri akan sadarkan diri" ucap tabib penuh rasa hormat
"hmm pergilah dan kau rebus obat obat ini segera"
"lebih baik kau segera meninggalkan kamar ini" kata kata penuh intimidasi dari Mei
'pergi? tidak. aku akan menjaganya sampai ia siuman' batin pangeran
......................
malam pun datang namun tidak ada tanda tanda putri akan siuman.
"kau pergilah ke kamarmu,aku bisa menjaga nonaku sendiri"
"panggil ia permaisuri,ia istri ku.kau ingat itu"
"puftt permaisuri? Istri? hahah. maaf pangeran Mungkin panggilan nonaku yang pas bagimu adalah kerikil "
__ADS_1
"kau berjaga saja diluar aku yang akan menemaninya" mendorong mei keluar dan mengunci pintu agar ia tidak masuk
"heyy kau.. pria br*ng*e*" ucap mei penuh amarah
"aku tak ingin berdebat dengan mu" ucap pangeran acuh dan duduk si tepi kasur putri Li
......................
tengah malam di kamar putri Li
"hmm"
"kamu sudah siuman?" ucap pangeran berbinar melihat Li membuka matanya perlahan
"ayah,mei" yah itu kata kata Pertama yang diucapkan putri y saat siuman
deg..
sedih dan perih di hati terasa oleh pangeran
kenapa tidak ia yang dipanggil pertama sekali??
dengan mendudukkan putri Li dengan hati hati dan menyuguhkan obat untuk segera di minum
"yang mulia?" ucap putri Li dengan nada datar
deg.. kembali rasa sakit dihati pangeran.
yang mulia? dia biasanya memanggil ku suamiku kenapa sekarang yang mulia?
tunggu kenapa hati ku terasa perih mendengarnya??
"hamba ingin mei yang mulia,dimana dia?
"kamu baru sadar, pelayanan mu masih di dapur untuk menghangatkan obat"
"jadi kenapa yang mulia ada di sini? sebaiknya yang mulia kembali ke kamar yang mulia,di sini tidak pantas untuk yang mulia" ucap putri Li bertubi-tubi dengan nada datar
"aku ingin menjagamu,dan sebelumnya aku minta maaf atas perlakuan ku" ucap pangeran lirih mengingat kejadian tadi pagi yang memilukan
"tidak apa apa,semua salah ku"
__ADS_1
"mei" ucap putri Li dengan nada bahagia dan diiringi senyuman
"nona? nona sudah siuman" ucap mei dengan mata berkaca-kaca, bagaimana tidak ia bahkan tidak di izinkan untuk menjaga nonanya saat kritis
"Iyah😊" ingin beranjak dari tempat duduk
"kamu masih butuh istirahat istri ku" dengan spontan pangeran mengucapkan kata kata istri sebagai panggilan untuk putri Li
"maaf yang mulia, telinga ada di setiap dinding. hamba mohon yang mulia menari kata kata yang mulia kembali"
"bukankah selama ini,ini yang kamu inginkan" ucap pangeran tidak percaya dengan jawaban putri Li
"hamba tidak pantas yang mulia" memberi hormat pada pangeran
hati pangeran berasa tersayat sayat melihat perlakuan hormat putri Li padanya. ia merasa menjadi majikan dari putri Li yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"apa yang kau lakukan" ucap pangeran seraya menyentuh putri untuk tidak memberi hormat seperti itu.
dengan cepat Putri Li menghindar
"maaf pangeran"di sertai senyum pahit
"aku suami sah mu, apakah menyentuh mu saja tidak boleh" ucap pangeran menahan amarah
"hamba tidak pantas untuk pangeran. dan setelah hamba merenung dalam tidur hamba tadi,hamba minta kita sama sama menjaga jarak saja"
"apa maksudmu??" suara menggelar pangeran kembali terdengar
"hamba hanya kerikil pangeran,hamba juga tidak pantas untuk pangeran. hamba juga memohon untuk memindahkan aula hamba ke rumah belakang"
"rumah belakang memang bagus dan luas namun itu jauh dari kediaman utaman. aku tidak akan memindahkan kamu ke sana. dan juga berhenti memanggilku yang mulia dan mengulang kata kata ku"
"hamba mohon yang mulia,agar selir Jiu tidak merasa risih dengan kehadiran hamba"
"kau permaisuri ku,dan dia hanya selir. apakah pantas kau begitu hormat padanya?? hahhhh?" kata kata pangeran yang penuh amarah
"maaf yang mulia,selir Jiu pantas. karena istri yang mulia adalah selir Jiu"
"kau juga istri ku Li,dan kau nyonya di kediaman ini" amarah pangeran yang memuncak karena setiap kata yang ia lontarkan dijawab dengan jawaban bak pisau tajam oleh putri Li di sertai senyum pahit.
tidak ada yang mengetahui apa yang dialami oleh putri Li saat kritis tadi sehingga membuatnya berbeda setelah siuman.
__ADS_1