Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 10: Itu Kewajiban Ku


__ADS_3

Pasha mendorong pintu kaca transparan itu dan masuk kedalam minimarket untuk membeli pembalut wanita seperti yang di sarankan dokter berkacamata tadi. Mendatangi salah satu karyawati yang duduk di meja kasir, tanpa sungkan Pasha berkata, "Saya butuh pembalut wanita"


Beberapa saat karyawati itu terperangah, sempat terpesona dengan pria tampan di depannya, "Ah, sebentar!"


Wanita itu pun keluar dari meja kasir dan menyuruh salah satu rekannya yang lain untuk berganti jaga. Sebelum wanita itu pergi mengambil barang yang diinginkan Pasha, wanita itu berbalik untuk bertanya, "Apa ada ukuran khusus? Sayap atau non-sayap?"


Tampak sepasang mata elang Pasha berkedip tiga kali tak mengerti, "Siapkan saja semuanya"


Karyawati itu mengulum rapat bibirnya, menahan senyum. Sepertinya itu adalah kali pertama pria tampan itu membeli benda seperti ini, "Baik"


Di rumah sakit, Hana baru saja menelpon kakak keduanya untuk segera datang ke rumah sakit membawakan pakaian ganti dan tak lupa dengan pembalut. Bagaimanapun ia tidak dapat pergi meninggalkan rumah sakit dengan kekacauan ini.


Meletakkan ponselnya di bawah bantal, Hana menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Syukurlah ia tidak ada jadwal matkul pagi atau kalau tidak harinya ini sungguh tidak tertolong lagi. 


Pintu terbuka dan Pasha berjalan masuk kedalam. Hana terkejut melihat Pasha lagi-lagi muncul di depannya, 'Kenapa dia masih belum pergi sih?' Hana rasanya ingin menangis.


"Kenapa tidak bilang kalau menstruasi mu tembus?" Pasha berjalan mendatangi ranjang dan meletakkan sekantong plastik belanjaannya di atas pangkuan Hana.


"A'aa.." Hana tidak tau harus merespon seperti apa. Wajah putihnya lagi-lagi memerah panas menahan malu. Ingin rasanya Hana berteriak...


'Apakah harus se-lugas itu?'


"Cepat ganti!" Pasha menepuk plastik putih yang penuh dengan pembalut itu. Lalu berjalan pergi mendatangi meja.


Hana mengambil kantong besar plastik putih yang ada di pangkuannya. Ketika ia melihat isi didalamnya, terus mata Hana terbelalak kaget. Tak menyangka kantong besar itu dipenuhi dengan berbagai macam bungkusan pembalut, "Bapak yang beli semua ini?"


"Ya, dokter bilang kau butuh itu" Pasha kembali berjalan mendatangi ranjang Hana dan meletakkan sebotol air mineral serta bubur di meja samping ranjang, "Ini sarapan mu, jangan lupa dimakan!"


Hana kehilangan kata untuk berbicara. Sesaat ia melihat isi kantong plastik dan sekilas melirik ke meja samping ranjang yang sudah ada sebotol air mineral dan bubur.


"Saya pergi" Pamit Pasha, mengambil mantel hitam panjangnya yang ada di lengan sofa. Ia langsung melangkah pergi. Hanya tepat sebelum menarik pintu...

__ADS_1


"Terimakasih"


Suara kecil Hana mengetuk Indra pendengarannya. Pasha terus menoleh sekilas kearah Hana dan berkata, "Itu kewajiban ku" Jadi lebih tepatnya, gadis itu tidak perlu berterimakasih. Sebagai pemilik barang, sudah sewajarnya ia merawat dan mengurus barang itu dengan baik.


Setelah Pasha pergi meninggalkan bangsal, Hana merasakan kepalanya seakan mau pecah, "Kewajiban katanya?"


                             —••—


"Jadi sekantong besar ini semua si pangeran malam itu yang beli?" Sepanjang jalan keluar dari rumah sakit, Keira tidak henti-hentinya tertawa mendengar kisah memalukan Hana yang sungguh tragis.


Membuka pintu mobil, Hana duduk di samping bangku pengemudi. Mendapati kakak keduanya yang tidak berhenti tertawa, Hana hanya diam saja dan pergi memasang seatbelt. Setelahnya ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menghela nafas lirih.


Keira duduk di bangku pengemudi, langsung memasang seatbelt. Memegang setir, sekilas ia melirik adiknya yang tampak tak berdaya menatap keluar jendela. Terus kedua pipinya menggembung menahan tawa, mengingat cerita adiknya tadi, "Tapi kok bisa ya dia ngiranya kamu ambeien?"


"Entah lah kak" Jawab Hana lemas.


Keira sebenarnya sangat ingin tertawa, karena cerita yang dialami adiknya itu benar-benar mengocok perutnya sampai sakit. Tapi di sisi lain ia merasa kasihan, adiknya yang mengalami semua itu juga demi membantu dirinya.


"Tapi, kenapa dia mau repot-repot ngelakuin semua itu ya?" Keira menghentikan mobilnya, tepat setelah mereka berada di depan gedung fakultas Hana.


"Maksud kakak?" Hana melepas seatbelt nya.


"Setau kakak dia itu bos besar toxic yang gak punya sedikitpun rasa empati dan apa lagi simpati" Tukas Keira, "Tapi kok bisa dia ngelakuin sejauh itu untuk kamu Han? Gak mungkin karena dia peduli kan? Secara kalian berdua baru ketemu semalam"


Memikirkan penuturan kakak keduanya itu, Hana hanya berkedik bahu tak tau. Akan tetapi ia kembali teringat dengan pertemuan semalam, "Kak, dia tau kalau aku bukan kakak"


"Apa?" Keira memekik tak percaya, "K-kok bisa?" Dirinya tidak seterkenal itu kan? Karena sejauh ini nama yang paling sering dibawa-bawa ke berbagai macam artikel itu adalah Ratna. Kakak tertuanya, wanita cantik yang sukses besar, mengurus perusahaan besar di usia muda.


"Dan kata kakak, dia gak suka wanita yang tampil glamor atau elegan kan?"


"Em" Keira menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi kenapa dia minta aku untuk menikah dengannya?"


"Apaa?" Pekik Keira jauh lebih keras dari sebelumnya, "Dia minta kamu untuk nikah sama dia?"


Hana mengangguk lemah membenarkan. Lebih tepatnya pria itu meminta pertanggungjawabannya atas kejadian penipuan semalam dengan cara menikahinya.


"Harusnya kakak sadar Han, betapa mempesonanya kamu semalam. Pria normal mana yang gak jatuh hati liat penampilan kamu yang secantik itu?" Keira menghela nafas berat, "Sepertinya pangeran malam itu love at first sight sama kamu Han, sampai-sampai dia bisa lupa kalau seleranya itu wanita berpenampilan kasual" Keira menepuk pundak adiknya dengan perasaan bersalah. Jika tau kejadiannya begitu, harusnya semalam ia menyewa orang saja untuk menggantikannya.


"Kakak salah paham" Hana menurunkan tangan Keira dari pundaknya, "Dia begitu itu karena minta pertanggungjawaban Hana karena sudah melakukan penipuan konyol itu semalam"


"Hah, dasar pria licik. Itu cuma alasan dia aja Han. Kenapa sih kamu polos banget?"


Hana hanya diam, tidak menjawab apa-apa lagi.


"Kakak benar-benar minta maaf ya, sebenarnya tadi malam itu kakak ngebut mau ketemuan sama pacar kakak. Jika tau ceritanya bakal begini, kakak aturannya sewa orang aja buat gantiin kakak" Keira menarik tangan Hana dan meremasnya pelan, sedang matanya menatap Hana dengan perasaan bersalah.


"Sudahlah kak, udah kejadi juga. Pokoknya kakak harus bantu aku untuk nyelesain masalah ini" Hana menepuk punggung tangan Keira dan matanya menatap tegas kakak keduanya itu, "Hana gak mau nikah sama dia kak"


"Pasti" Keira menganggukkan kepalanya, balas menatap Hana serius, "Pokoknya kamu tenang aja ya. Kamu gak bakal nikah sama dia koq"


"Ya udah kalo gitu, Hana mau masuk kedalam ni. Lima menit lagi kelasnya udah di mulai" Hana mendorong pintu mobil terbuka.


"Oh iya ini tas kamu" Keira segera mengambil tas samping yang ada di jok belakang dan menyerahkannya pada Hana, "Buku-buku yang kamu sebutin udah kakak masukin semua kedalam"


"Oke kak, makasih" Hana menyampirkan tas samping itu ke bahu kanannya.


"Sama-sama" Keira menegang setir dan tersenyum.


Menurunkan kaca jendela, Keira berseru keluar pada Hana yang hendak melangkah masuk kedalam gedung, "Yang semangat belajarnyaa!"


Hana menoleh kebelakang, tersenyum, "Siapp"

__ADS_1


                            —••—


__ADS_2