
Esok harinya, Hana sarapan seorang diri di meja makan yang sunyi. Ratna yang terbiasa sarapan di jalan, itu sudah pergi meninggalkan kediaman untuk bergegas ke perusahaan. Keira yang masih sensitif karena kejadian semalam, sudah pergi di awal pagi buta entah kemana. Sedang ayahnya selalu jarang sarapan pagi, karena terburu-buru bekerja.
Biasanya Hana melewati sarapan pagi dengan kakak keduanya. Karena hanya Keira lah yang paling luang di antara para anggota lainnya yang terjerat dalam kesibukan. Tapi pagi ini, Hana menyelesaikan aktivitasnya melahap sepotong roti dan menghabiskan segelas susu hangat itu seorang diri.
Hana mengambil tasnya dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan yang sunyi. Berjalan ke ruang tamu, beberapa maid muda menyapanya dengan ramah.
"Pagi, non Hana"
"Pagi" Hana membalas sapaan mereka dengan tersenyum simpul.
Mereka adalah sekelompok maid yang di pekerjakan seminggu tiga kali, untuk membersihkan kediaman keluarga Hana yang luas dan besar. Berjalan keluar dari rumah, beberapa maid lainnya yang tengah menyapu halaman, terus menghentikan aktivitas mereka sejenak dan menyapa Hana sopan, "Pagi nona Hana"
"Pagi" Hana merekah kan senyum manis diwajahnya. Membuat beberapa maid itu tak tahan untuk tidak mengagumi betapa cantik dan anggunnya Hana kala tersenyum.
Hana berjalan masuk kedalam garasi, di sana telah berjejer rapi sepuluh mobil mewah yang beraneka jenis warna dan sudah tentunya berkelas. Empat milik Ratna, tiga milik ayahnya, dua milik Keira dan satu milik Hana. Belum lagi di tambah dengan mobil yang sedang dipakai oleh mereka, pada malam harinya garasi itu menampung full tiga belas mobil.
Hana langsung mengeluarkan mobil Porsche merahnya dan bergegas menuju kampus.
Ketika mobil merah menyala yang dikendarainya itu mencapai pekarangan kampus, selalu saja berhasil menarik perhatian banyak mata yang langsung menyorot kearah kedatangannya.
Singkatnya, orang-orang mengenalnya dengan sebutan 'putri kampus', tapi Hana yang cenderung pendiam dan menjauhi pusat perhatian itu, selalu bersikap seakan-akan tidak menyadari setiap tatapan yang tertuju kearahnya.
Baru selangkah Hana turun dari mobil, teriakan keras dari dua sahabatnya terus saja membuat dirinya terkejut.
"Hanaa.." Chaca dan Miftah berseru keras mendatangi Hana.
"Astagfirullah.." Hana mengelus dadanya pelan, "Kalian berdua ni ngagetin aja ah!" Hana menutup pelan pintu mobil.
Miftah dan Chaca terus merangkul Hana hangat, "Kangenn.." Tukas Chaca, menghimpit kan wajahnya ke pipi tirus Hana yang terasa dingin. Itu karena wajah Hana terkena pendingin di dalam mobil.
Miftah yang mendengar itu terus saja membuat gerakan mulut seakan-akan seperti mau muntah, "Ugh!"
__ADS_1
"Apaan sih? Emang salah ya kalo aku kangen sama calon kakak ipar aku" Cibir Chaca kesal, sembari memeluk manja lengan Hana.
Mendengar kata 'calon kakak ipar' keluar dari mulut Chaca, kedua belah pipi Hana terus saja memerah.
"Ih kepedean, Hana belum setuju kali jadi kakak ipar kamu..." Balas Miftah, terkadang mengusik Chaca yang kanak-kanakan itu cukup menyenangkan.
"Loh emangnya kenapa? Gak ada salahnya kan? Siapa tau aja jadi do'a.." Chaca melebarkan kedua sudut bibirnya, tersenyum positif.
Lagi, penuturan Chaca itu membuat pipi Hana kian memerah rekah seperti kelopak mawar. Detak jantungnya berdegup kencang dan sekelebat pria tampan yang terbungkus dalam snelli yang menawan membayangi benaknya.
"Kamu demam Han?" Chaca menempelkan punggung tangannya di belahan pipi tirus Hana yang terasa hangat.
"E-engga"
"Lalu pipi kamu kok merah gitu?" Sambung Miftah, yang menangkap jelas kedua belah pipi Hana tampak memerah panas seperti orang demam.
"Ah, mungkin karena mataharinya kali ya?" Hana berdalih. Tepat Saat itu, pas sekali secercah sinar matahari yang hangat jatuh membelai kedua belah pipi Hana.
Diam-diam Hana menghela nafas pelan. Hampir saja ia ketahuan. Bukannya karena Hana tidak ingin berbagi, tapi jika menyangkut perasaan. Hana memilih untuk bungkam dan menyimpan untuk dirinya sendiri.
—••—
Malam harinya, Hana berkali-kali menghubungi kakak keduanya yang masih saja belum pulang ke rumah padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Jika ayah dan kakak pertamanya pulang telat, Hana sudah memaklumi kebiasaan mereka yang sama-sama gila kerja.
Tapi tidak dengan Keira. Kakak keduanya itu selalu sudah berada di rumah tepat pukul enam lewat atau paling lambat pukul tujuh malam.
"Kak Kei kemana sih?" Hana berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan perasaan cemas. Ia takut karena kejadian semalam, Keira pergi menghabiskan beberapa botol alkohol di bar.
Itu adalah kebiasaan buruk kedua kakaknya ketika tertekan atau terhimpit masalah. Beberapa botol minuman yang memabukkan itu selalu menjadi tempat pelarian mereka.
"Halo" Tepat panggilan yang kesepuluh kalinya, akhirnya itu di angkat oleh suara seorang pria. Terdengar sayup-sayup hingar-bingar musik yang keras dari seberang.
__ADS_1
Tidak salah lagi. Tebakan Hana kalau kakak keduanya itu pergi bar adalah benar.
"Apa di sana ada kakak saya?"
"Ah, jadi kau adiknya. Kakak mu sudah mabuk berat di sini. Segera lah datang kemari untuk membawanya pulang. Terlalu berbahaya bagi wanita mabuk seorang diri berada semalaman di bar.." Jelas seorang pria di seberang sana yang Hana tebak pasti itu adalah salah seorang bartender yang bekerja di bar itu.
"Bisa anda beri tau alamatnya?"
Setelah Hana mendapatkan alamat bar tempat di mana kakak keduanya itu berada. Hana bergegas naik ke lantai atas untuk berganti baju. Gamis polos merah marun membungkus tubuh mungilnya tak lupa dengan pasmina abu-abu melilit wajah tirusnya.
Mengambil kunci mobil, malam itu juga Hana langsung bergegas pergi ke salah satu pusat bar ternama kota X, untuk menjemput Keira pulang. Itu bukan kali pertama ia melakukannya.
Setiba di bar, Hana berjalan masuk kedalam. Di dalam sana tidak begitu ramai, hanya sekelompok kecil orang menari ria menikmati lantunan musik dari seorang DJ profesional. Beberapa lainnya duduk di meja melakukan pertemuan bisnis.
Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan Keira yang duduk berayun-ayun tepat di depan meja bartender yang sibuk mencampur beraneka macam minuman.
"Tolong satu botol lagi" Keira melambaikan tangannya lemah kearah Bartender.
"Sudah cukup kak" Hana langsung melarang bartender itu untuk memberikan apa yang Keira minta.
"Eh, kamu anak kesayangan papa. Ngapain kemari huh?" Wajah Keira yang sudah memerah karena alkohol itu, berbicara dengan setengah sadar.
"Kak Kei.." Panggil Hana lirih. Hatinya sakit melihat kakak keduanya dalam keadaan kacau dan mabuk-mabukan begitu.
"Sana cepat pergi!" Keira mendorong tubuh Hana menjauh, "Nanti papa marah lagi sama kakak karena kamu datang kemari.."
"Kak Kei, kita pulang ya" Hana terus melangkah mendekat, mengalungkan tangan Keira di lehernya.
Hana sama sekali tidak sadar, sejak tadi sudah ada seorang pria paruh baya berkemeja putih yang berdiri di belakangnya. Itu mengulurkan tangannya ke bawah, diam-diam hendak membelai bokong Hana.
Tapi sebelum itu, keributan besar terjadi.
__ADS_1
Brukk!